Showing posts with label Sayyidina Ali RA. Show all posts
Showing posts with label Sayyidina Ali RA. Show all posts

26 December 2012

Sayyidina `Ali (r), Gerbangnya Ilmu



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
14 Desember 2012    Burton, Michigan
Khotbah Jumat di As-Siddiq Institute and Mosque


Alhamdulillah, alhamdulillahii nasta`iinuhu wa nastaghfiruhu was nastahdiihi wa na`uudzuu billaahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati `amaalinaa wa nasyadu an laa ilaaha illa-Llah, wahdahu laa syariika lah, wa nasyadu anna Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh...
ayyuha ’l-mu’minuun al-hadhiruun.

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Ittaqullaha wa athi`uuh. Inn Allah ma`a ‘Lladzina at-taqaw wa ‘Lladzina hum muhsinuun.
Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Surat an-Nahl, 16:128)

Wahai Mukmin!  Nabi (s) tidak meninggalkan apapun tanpa beliau (s) jelaskan, dan beliau (s) membimbing kita melalui para Sahabatnya (r), khususnya Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r), Sayyidina `Utsman (r) dan Sayyidina `Ali (r).

Nabi (s) bersabda,
أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Ash-haabii ka 'n-nujuum bi ayyihim aqtadaytum ahtadaytum.
Sahabatku bagaikan bintang-gemintang (di malam yang gelap); siapapun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing.
(`Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.)

Bergunung-gunung ilmu dan tidak ada seorang pun yang mampu memahami Nabi (s) sebagaimana keempat khalifah ini.  Nabi (s) menjadikan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) yang menemaninya ketika hijrah dari Mekah ke Madinah, dan beliau (s) berkata bahwa iman Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) adalah lebih besar daripada semua Sahabat (r).  Dan mengenai Sayyidina `Umar (r), Nabi (s) bersabda, “Jika setelahku masih ada nabi, maka `Umar-lah yang akan menjadi nabi itu.”  Dan Sayyidina `Utsman (r) disebut sebagai “Dzi 'n-Nurayn,” Penerima Dua Cahaya, karena beliau menikah dengan dua di antara putri-putri Nabi (s).  Beliau juga menyusun Kitab Suci al-Qur’an dan menempatkan setiap ayat di posisinya masing-masing.  Dan untuk Sayyidina `Ali (r), yang merupakan topik dari khotbah Jumat hari ini, Nabi (s) bersabda,
أنا مدينة العلم و علي بابه
Anaa madinatu 'l-`ilmi wa `Aliyyun baabuha.
Aku adalah kotanya ilmu dan `Ali adalah pintu (atau gerbangnya). (al-Haakim, Tirmidzi)

Allah (swt) telah mengaruniai Sayyidina `Ali (r) dengan banyak hal.  Diriwayatkan oleh Sayyidina `Ali (r) di dalam Sahih Bukhari:

عن علي قال : أنا أول من يجثو للخصومة بين يدي الرحمن يوم القيامة قال قيس وفيهم نزلت هذان خصمان اختصموا في ربهم قال هم الذين بارزوا يوم بدر علي وحمزة وعبيدة وشيبة بن ربيعة وعتبة بن ربيعة والوليد بن عتبة
Anaa awwala man yajtsuu’l-khusuumata bayna yadaayi ’r-rahmaana yawm al-qiyamah. Qaala Qays wa fiihim nazalat haadzaan khashmaan ‘khtashamuu fii rabbihim. Qaala humu’Lladziina baarazoo yawma badrin: `aliyyin wa hamzata wa `ubaydata wa syaybata bin rabi`ata wa `utba bin rabi`ayata wa’l-waliid ibn `utba.

Nabi (s) bersabda, “Aku akan menjadi yang pertama di antara Tangan ar-Rahmaan pada Hari Kiamat.  

Pada saat itu, Allah (swt) akan memberinya kekuatan syafaat untuk membantu manusia.  Ibn `Asakir (r) menyebutkan bahwa Sayyidina `Ali (r) telah disebutkan di dalam kitab suci al-Qur’an lebih banyak daripada yang lainnya dan lebih dari 300 ayat diturunkan mengenai beliau, itu artinya Sayyidina `Ali (r) adalah seseorang yang dimuliakan oleh Allah!  Bagaimana tidak, beliau adalah menantu Nabi (s) dan merupakan salah satu dari ulama besar yang Allah kirimkan bagi manusia, karena setelah Nabi Muhammad (s) tidak ada lagi nabi lainnya.  Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu `ulama, ‘ar-Rabbaniyyuun,’ ulama-ulama besar yang muncul setelah Nabi (s).

Umm Salama (r) meriwayatkan dari Nabi (s), “Sayyidina `Ali (r) bersama kitab suci al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Sayyidina `Ali (r),” artinya beliau membawa al-Qur’an sepenuhnya di dalam kalbunya, bukan seperti kita membaca kitab suci al-Qur’an, tetapi beliau dapat mengekstrak makna dari setiap ayat al-Qur’an, dan dari setiap kata dan huruf, beliau dapat mengekstrak maknanya.  Kalian mungkin bertanya, “Bagaimana beliau dapat mengekstrak makna dari sebuah kata?”  Ada banyak huruf di dalam kitab suci al-Qur’an yang memulai beberapa surat dan huruf-huruf itu merupakan kode.  Demikian pula, setiap ayat dan setiap kata di dalam al-Qur’an mempunyai kode-kode dan Sayyidina `Ali (r) mampu mengekstrak rahasia-rahasia itu.  Kini kalian mempunyai kode untuk kartu plastik yang kalian gunakan di mesin-mesin ATM.  Serupa dengannya, huruf-huruf ini adalah kode-kode rahasia yang Allah (swt) turunkan kepada Nabi (s), yang kemudian menurunkannya kepada beberapa Sahabatnya dan kita tahu bahwa Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu yang dapat mengekstrak makna dari huruf-huruf itu.  

Suatu ketika orang bertanya kepada Sayyidina `Ali (r) mengenai `ilm dan beliau berkata,

العلم يرفع الوضيع والجهل يضع الرفيع.
Al-`ilmu yarfa`u 'l-wadhii` wa 'l-jahl yadha`u 'r-rafii`
Ilmu akan mengangkat mereka yang berada di derajat yang rendah.

Ketika kalian mempelajari ilmu duniawi, bahkan jika kalian berasal dari keluarga yang sangat miskin atau dari keluarga yang tidak memenuhi tugasnya dalam melaksanakan Syariah, dan setiap orang melihat kalian seolah-olah kalian berasal dari keluarga kelas bawah, tetapi bila kalian mempunyai ilmu, maka tidak ada orang yang dapat berkata apa-apa.  Kalian dapat menjadi seorang profesor, dan tak seorang pun yang dapat bicara buruk mengenai keluarga kalian, karena Allah (swt) mengangkat mereka dari kelas bawah ke kelas yang lebih tinggi.  Jadi bagaimana menurut kalian mengenai seseorang yang mempunyai ilmu tentang Islam dan hakikat, di mana Nabi (s) bersabda, “Aku adalah kotanya ilmu dan Sayyidina `Ali (r) adalah pintunya.” Ini artinya tidak ada seseorang yang dapat memberikan ilmu seperti yang diberikan oleh Sayyidina `Ali (r) dan tidak ada yang dapat menyerupainya!

Sayyidina `Ali (r) berkata:
Kebodohan dan kesombongan akan menjatuhkan derajat seseorang.
Itu artinya ilmu mengangkat kalian dan kebodohan menjatuhkan kalian.

Sayyidina `Ali (r) said:
العلم خير من المال
Al-`Ilm khayrun min al-maal.
Ilmu lebih baik daripada uang.

Suatu hari kalian akan mati dan tidak membawa apa-apa bersama kalian.  Di masa dulu, sebuah rumah dari tanah liat dianggap sebagai istana, sementara yang lain mempunyai rumah dari jerami; tetapi sekarang mereka tidak bisa menerima hal itu karena mereka menginginkan rumah-rumah yang bagus; namun demikian pergilah ke Afrika dan kalian masih dapat menemukan rumah-rumah dari tanah liat atau pergilah ke Siprus dan kalian akan melihat bahwa bahkan rumah Mawlana Syekh Nazim (q) pun dibuat dari tanah liat!  Itu adalah rumah yang sederhana dan sekarang orang-orang menginginkan istana karena mereka penuh dengan Setan jika mereka tidak mengikuti Syari`atullah.  Rumah-rumah dari tanah liat adalah rumah yang penuh kedamaian dan menentramkan dan ketika kalian tinggal di sana, kalian tidak mempunyai sifat sombong di dalam hati kalian, karena kalian tinggal di rumah yang sederhana, sementara orang yang tinggal di rumah yang besar mungkin berkata, “Aku lebih baik dari yang lain, aku kaya.”

Jadi Sayyidina `Ali (r) berkata, “Ilmu lebih baik daripada kekayaan,” karena kalian tidak bisa membawa kekayaan kalian ke dalam kubur tetapi ilmu adalah sesuatu di mana orang dapat mempelajarinya dan itu adalah Shadaqat al-Jariyyah, amal yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana Nabi (s) bersabda,
Amal dari anak cucu Adam terputus kecuali tiga: 1) Shadaqah al-Jariyyah, (misalnya membangun sebuah masjid, rumah bagi anak yatim, rumah sakit, dll); 2) Anak yang saleh, yang berdoa bagi kalian dan ketika anak itu mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” pahala mereka dalam membaca kitab suci al-Qur’an akan tertulis bagi kalian di dalam kubur; dan 3) ilmu yang bermanfaat bagi manusia.

Jadi untuk meninggalkan ilmu yang bermanfaat adalah dengan cara belajar dan mengajarkan orang lain, bukannya belajar lalu menyimpannya untuk diri sendiri.  Syariah memerintahkan kita untuk mengajarkan apa yang kita ketahui dan bukannya menyimpannya untuk diri sendiri.

Sayyidina `Ali (r) berkata, “`Ilm lebih baik daripada uang.”  Uang harus dijaga, kalian selalu melihat pada kotak penyimpanan uang atau khawatir apakah bank yang menyimpan deposit kalian aman, dan berbagai isu-isu lain yang masuk ke dalam pikiran kalian.  Kalian menjaga uang kalian.  Apa yang beliau katakan?  “Ilmu akan menjaga kalian agar selamat, sementara kalian harus menjaga uang kalian,” jadi di lain pihak, ilmu akan menjaga kalian agar tetap selamat.  Al`ilmu haakiman, “Ilmu akan memegang kendali,” dan seseorang dengan ilmu akan mampu memberi penilaian, meskipun tanpa uang.

Dan kita akan akhiri dengan yang satu ini.

قصم ظهري رجلان عالم متهتك وجاهل متنسك
qashurra zhahri rajulaan, `aalimu mutahattik wa jaahilun mutanassik
Dua tipe manusia yang mematahkan punggungku, seorang ulama yang bangga dan kasar terhadap orang dan seorang bodoh yang zuhud.

Tipe terakhir seperti orang yang dengan malas duduk di sudut hanya mengingat Allah.  Tetapi Allah ingin agar hamba-hamba-Nya untuk menolong, untuk bekerja dan menjadi baik, bukannya untuk duduk di sudut, menjadi orang yang malas, dan mengulurkan tangannya untuk meminta-minta!

Tipe pertama adalah seorang yang `alim, yang berilmu tetapi ia bangga terhadap dirinya.  Ia akan membuat orang lari darinya, karena ia sombong; dan orang yang duduk di sudut, di mana orang mengira ia seorang wali besar dan `alim, membuat orang menyimpang dari Jalan Syariah dan mengikuti jalannya.  Jadi, orang harus sangat berhati-hati, dan Sayyidina `Ali (r) tidak mengatakan sesuatu tanpa alasan, beliau mengatakan itu sebagai suatu peringatan!

Ilmu adalah reservoir bagi peradaban, bukannya peradaban seperti yang mereka definisikan sekarang, bukannya dunia yang sekarang, yang membawa kita entah ke mana.  Orang-orang terdahulu adalah orang-orang ‘beradab’ karena mereka mempunyai ilmu tentang akhirat dan mereka semua dijanjikan Surga.  Semua Sahaabah (r) akan masuk Surga, jadi kita harus mengikuti jejak mereka!

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna 'Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w 'Allaahu Ghafuuru 'r-Rahiim.
Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika engkau (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-`Imraan, 3:31)

Kini, banyak praktik di Barat yang berasal dari Islam tetapi kita tidak menggunakannya, misalnya kebebasan untuk bicara dan kebebasan beragama.  Nabi (s) memberi kebebasan kepada kaum Yahudi dan Nasrani selama bertahun-tahun di Madinah dan beliau (s) berusaha untuk membangun perdamaian dan hubungan yang baik, sebagaimana Allah (swt) berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
W `atasimuu bi hablillaahi jamiyy`an wa laa tafaraquu.
Berpegang teguhlah pada Tali Allah dan jangan bercerai-berai. (Surat Aali-`Imraan, 3:103)

Wahai Muslim! Tugas Islami kita adalah menjaga perdamaian, menuntut ilmu dan bersikap tawaduk.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

07 July 2010

Hikmah dari Sayyidina `Ali (r)

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
2 July 2010 Lefke, Cyprus
Jumu`ah Khutbah


Wahai Muslim! Wahai Mukmin! Allah, subhaanahu wa ta`ala, mengaruniakan kita menjadi Muslim. Dia membimbing kita.
Yahdii man yasyaa. Dia membimbing setiap orang menuju Islam, membimbing setiap orang untuk mencintai Nabi, Sayyidina Muhammad (s). Dia membimbing setiap orang untuk mencintai keluarga Nabi (s): Sayyidina `Ali (r), Sayyidatina Fatima az-Zahrah (r), Sayyidina Hussayn (r), Sayyidina Hassan (r). Wahai Muslim, kita harus menjaga hormat kita, dan orang-orang yang mengikuti keluarga Nabi (s) harus menjaga hormat dan mencintai Sayyidina `Umar (r) dan Sayyidina Abu Bakr (q); ini menunjukkan cinta terhadap Nabi (s).

Wahai Muslim! Kalian harus sedikit bicara. Jangan bicara terlalu banyak, jangan berdebat terlalu banyak, jangan masuk ke Internet, jangan membuat blog terlalu banyak. Jangan menghabiskan waktu terlalu banyak. Sebagaimana Sayyidina `Ali (r) telah berkata, "Ada empat unsur di mana, bila kalian menjaganya, Allah (swt) akan menjaga kalian: Pertama adalah as-samt, diam. Jangan bicara, jika kalian bicara, kalian akan membuat dosa, jadi jangan bicara. Jika bicara itu perak, maka diam adalah emas. Kalian akan beralih dari perak menuju emas, jadi marilah kita diam, jangan bicara.

Kemudian setelah kita berdiam diri, jangan membuat fitnah. Beliau berkata, setelah itu, gunakan telinga kalian untuk mendengar apa yang dikatakan orang. “Dengar baik-baik sebelum kalian bertindak.” Jadi dengarkan baik-baik, lalu timbang baik-baik dengan Syariah untuk melihat apakah kalian menciptakan fitnah. Jika ya, maka hindarilah hal itu, jangan dijawab, jika kalian menjawabnya, kalian melemparkan minyak ke dalam api.

Kemudian berikutnya, setelah diam dan mendengarkan, “Amati” sehingga kalian bisa menjadi an-nazhar, pengamat, mengamati perilaku sehingga kalian tidak terperangkap ke dalam tipu daya dan perangkap. Setelah kalian mengamati, kemudian haraka, bergerak maju menuju keputusan kalian. Jangan suarakan keputusan kalian dengan mulut yang marah, karena kalian akan jatuh ke dalam fitnah dan masalah baik dengan kalian maupun dengan lawan kalian dan itu tidak ada gunanya.

Fitnah adalah dorman, tertidur. Allah (swt) akan mengutuk orang yang membuat blog penuh dengan omong kosong di internet. Jangan biarkan Setan menjebak kalian dengan tipu daya dan perangkapnya, kalian akan gagal. Mereka akan meminta maaf dan mengatakan, “Maaf”, kemudian memeluk kalian. Kalian adalah pembohong; kalian melakukannya agar orang-orang melihat bahwa kalian baik, padahal tidak! Kalian tidak menyesali perbuatan kalian. Jangan bermain-main dengan kata-kata kalian. Buatlah agar tetap simpel, jangan mengatakan sesuatu pada suatu waktu, kemudian menggantinya di waktu yang lain. Kalian harus berada dalam haqq. Salafi berada pada baatil. Para syuyuukh kita telah mengangkat kita untuk menentang baatil dan untuk mendukung haqq.

Sayyidina `Ali (r) berkata bahwa Nabi (s) bersabda, hatta yamillu ... "Kalian harus beribadah sebanyak yang dapat kalian lakukan.” Setelah kalian meninggalkan fitnah, arahkan diri kalian menuju Nabi (s) dan Syekh kalian. Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kalian. Dan Syekh kita adalah pintu menuju Nabi (s) yang mengatakan, “Beribadahlah sebanyak yang kalian bisa lakukan.” Allah (swt) tidak akan jenuh dengan kalian, sebanyak apa pun kalian memuji-Nya, Dia akan memberi lebih banyak kepada kalian. Allah tidak akan jenuh dengan kalian sebelum kalian merasa jenuh dengan-Nya!

Nabi (s) bersabda, "Kalian harus mengagungkan-Nya setiap saat dalam hidup kalian." Itu bukanlah ghiiba dan namiima, bukannya mengutuk dan membuat blog di internet, menyerang kanan dan kiri! Tugas kalian adalah tidak menyia-nyiakan waktu kalian, tetapi untuk bertasbih, mengagungkan dan memuji Allah (swt)! Katakan, "Yaa Rabbii, Engkau adalah Tuhan kami, subhaanahu wa ta`ala, Allahu Akbar!"

(Melanjutkan hadis) Dan hitung dengan jari kalian, karena mereka akan bersaksi untuk kalian di Hari Kiamat. Jika kalian menuliskan sesuatu yang salah di internet, jari-jemari kalian akan bersaksi menentang kalian, dan jika kalian menghina dan menyerang seseorang, jari-jemari kalian akan bersaksi mengenai hal itu pada Hari Kiamat, dan pena yang kalian gunakan untuk menulis juga akan bersaksi. Hitunglah dengan jari-jemari kalian; mereka akan bersaksi, khususnya jari telunjuk kalian, karena ia mengandung kode yang unik. Allah memberi kode yang berbeda kepada setiap orang; itu adalah identitas kalian. Dan itu adalah jari syahadat. Tetapi lebih baik dari itu, jari-jemari kalian akan bersaksi, jadi lakukanlah tasbiih dengan jari-jemari kalian. Jari-jemari akan bertanggung jawab, mereka akan bicara. “Mereka akan mengatakan apa yang telah dilakukan oleh hamba-Ku dengan mereka.” Allah (swt) akan bertanya, "Apakah ia berdoa dan menghitung (tasbih, zikir, dll—penerj.) dengan kalian?" Mereka akan berkata, “Apa yang telah kalian lakukan dengan jari-jemari kalian?” Jangan lalai, jangan lupa untuk bermurah hati, sebab kalau tidak Allah (swt) akan menghentikan Rahmat-Nya pada kalian.

Wahai Muslim! Allah (swt) akan menerima tobat. Wahai para penyerang, Allah (swt) akan mengampuni. Dan sebagaimana sabda Nabi (s) dalam hadis Bukhari dan Tirmidzi, ...Anas ibn Malik zina wa tasyabul khamru wa la kil rijaluu... Beliau berkata, "Aku akan mengatakan kepada kalian sebuah hadis di mana tidak ada orang yang akan mengatakannya kepada kalian setelah aku. Aku mendengar dari Nabi (s) mengenai tanda-tanda Hari Kiamat. Bahwa ilmu akan diangkat dan tidak akan ada lagi. Para ulama akan meninggal dunia, para syuyuukh akan meninggal dunia dan hanya orang-orang bodoh yang ada, yang berpikir bahwa mereka adalah syuyuukh. Mereka ingin memimpin umat dan berpikir bahwa mereka akan melindungi umat dan akan mengubah Islam.” Seperti Salafi, mereka pikir mereka adalah suara Islam. Semoga Allah, subhaanahu wa ta`ala, mengubah mereka agar kembali kepada sunnah!

(Melanjutkan hadis) Dan Nabi (s) bersabda, "Kebodohan akan menyelimuti dunia. Orang-orang akan saling menyerang, ayah akan menyerang anak-anak dan anak-anak akan menyerang orang tuanya.” Akan ada banyak sekali fitnah. Kami melihatnya di internet setiap orang saling menyerang orang lainnya. Dan akan banyak terjadi perzinaan ke mana pun kalian pergi di seluruh dunia, dan terlalu banyak minum (mabuk-mabukan). Katakanlah, “Ya Allah, mudahkanlah bagiku!”

Wahai Muslim! Bertobatlah! (Melanjutkan hadis) Terlalu banyak laki-laki yang akan tewas dan terlalu banyak perempuan yang tersisa; laki-laki akan menjadi sedikit, qayyimun wahid
. Untuk setiap laki-laki terdapat 50 orang perempuan (bukan untuk menikah, tetapi itu adalah rasio antara laki-laki dan perempuan).

Wahai Mu'min! Sayyidina `Ali (r) memberi kita pesan yang sangat penting, yaitu: untuk berdiam diri, mendengar, mengamati sebelum bertindak. Muslim yang kuat akan mengikuti pesan itu. Sayyidina Jabir (r) mengatakan tentang Sayyidina `Ali (r), `Aliyun imaamun bararata mansuura. "Sayyidina `Ali (r) adlah imaam bagi orang-orang yang murni dan pembunuh orang-orang yang korup." Ini artinya rahasia itu dibawa oleh para syuyuukh tarekat. Syuyuukh kita membawa kekuatan itu, mereka dapat menghentikan korupsi/kerusakan yang menghalangi kita untuk masuk ke Surga. Khususnya Naqsybandi, melalui Jafar ash-Shiddiq (q), dan dengan Sayyidina `Ali (r) dan Sayyidina Abu Bakr (r); keduanya adalah para pemimpin dan imaam pada jalan menuju Surga. Mansuuran man nasara, "Kemenangan akan bersama orang yang mendukung mereka." Orang-orang yang merendahkan mereka, Allah (swt) akan merendahkan dan menjatuhkan mereka. Anas (r) berkata, sebagaimana Nabi (s) berkata kepadanya, `Aliyyun zahar Jannatii. " Di Surga, `Ali akan menjadi seperti bunga," dan beliau akan tumbuh lebih dan lebih banyak lagi hingga mengisi Surga dengan hembusan angin yang semerbak. Beliau akan muncul kepada orang-orang di dunia sebagai sebuah bintang yang terang benderang di kegelapan malam. Beliau akan menjadi seperti bintang di setiap Surga.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memanjangkan usia Syekh kita, memberkatinya dan membuat kita selalu bersamanya. Astaghfirullah.


02 August 2009

Menghadapi Cobaan dengan Bersyukur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Mercy Oceans Book 2

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Dengar dan jaga apa yang kalian dengar agar kalian memperoleh manfaat.  Grandsyekh kita berbicara tentang hal yang tidak disukai dan menggambarkan situasi dalam kehidupan.  Tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai dengan apa yang kita sukai dan tidak ada orang yang dapat mentahbiskan tujuannya.  Kita bukanlah pemerintah, melainkan orang yang diatur oleh pemerintah.  Hidup ini penuh dengan berbagai hal yang tidak kita sukai dan juga di dalam setiap kenikmatan terdapat sesuatu seperti racun dalam buah zaitun.  Mengapa hal ini diciptakan?  Di dunia ini, kita bagaikan orang yang tenggelam di dalam Samudra, yang digulung oleh satu ombak disusul ombak yang lain.  Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi ombak-ombak ini?  Kita harus bersabar.   Allah SWT mengirimkan gelombang-gelombang itu dan berkata, “Aku menciptakan hidup dan mati untuk menguji kalian kepada kebaikan.”  Bila kita sabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai, Allah SWT memberi kita pahala yang tak terhingga.  Mengetahui hal ini, kalian tidak hanya akan bersabar, tetapi kalian akan merasakan kenikmatan dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai, dengan berpikir, “Sekarang Tuhan sedang memandangiku, mengujiku.”  Untuk mencapai daerah yang disukai kalian harus melewati daerah yang tidak disukai.  Jika tidak setuju dengan kondisi ini, kalian tidak dapat mencapainya.  Tak seorang pun masuk surga hingga ia melewati jembatan menyebrangi neraka.  Ini adalah Hikmah Ilahi.  Seseorang yang memohon rida harus bersabar melewati semua hal yang tidak disukai.  Tetapi kita, orang-orang yang bodoh melarikan diri dari hal-hal yang tidak disukai dan mengejar hal-hal yang disukai dan tidak pernah mencapainya.  Ini adalah ujian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.  Kita tidak boleh melarikan diri, kita harus teguh dalam menghadapinya. 

Ujian kita sesuai dengan kekuatan iman kita.  Allah SWT tidak akan membebani kita melebihi apa yang dapat kita tanggung.  Jangan berpikir bahwa Dia akan menguji kalian dengan ujian yang dikirimkan kepada para nabi dan awliya-Nya.  

Suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq RA sedang duduk di masjid Nabawi, ketika seorang pendeta mendekatinya sambil memberi salam.  Sang Khalifah bertanya, “Untuk apa kau datang?”  Pendeta itu berkata, “Aku datang dari Syam.  Ada 100 pendeta lain bersamaku, membawa 100 pertanyaan yang akan kami tanyakan kepadamu dari apa yang telah kami baca dalam kitab suci.”  Jika engkau menjawabnya, kami siap untuk beriman kepada Nabimu SAW.”  Dalam menghadapi tantangan semacam itu, lihatlah sikap Abu Bakar RA.  Beliau berkata, “Tanyalah apa yang kalian suka.  Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas seizin Allah SWT.”  Itu artinya bahwa kita bukanlah apa-apa, tetapi bersama Allah SWT kita adalah segalanya.  Ini adalah jalan menuju kesuksesan, yaitu mengetahui bahwa kita adalah lemah, tetapi bila kita bersama Allah SWT, kita mempunyai kekuatan.  Ketika para pendeta itu tiba, Sayyidina Ali RA, KW hadir dan menjawab seluruh pertanyaan sebelum mereka sempat menanyakannya sehingga mereka semua masuk Islam.  Ini adalah berkah, dari seseorang yang mengetahui bahwa ia selalu memerlukannya.  Ini adalah suatu kehormatan bagi hamba.  Jangan takut.  Ada kehormatan yang tak terhingga bagi hamba-hamba yang bersama dengan Tuhan mereka.

03 November 2008

Pahami Hikmah dengan Hati sebelum Mencoba Mengajarkannya

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Grandsyekh kita berbicara tentang orang yang memberikan instruksi (semacam ustadz, mubaligh atau dai-red) di masyarakat mengenai agama Islam dan praktik yang berhubungan dengannya (wiazh).  Sesuai dengan perintah Allah SWT, pasti ada beberapa orang di masyarakat yang memberikan instruksi kepada orang lainnya tentang apa yang boleh dilakukan, yaitu yang diizinkan oleh Allah SWT (halal) dan memperingatkan mereka agar menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT (haram).  Kebanyakan orang menganggap berbicara kepada orang banyak adalah hal yang mudah: ambil buku dan baca, selesai!  Begitu banyak orang yang berpikir bahwa itu hanya dilakukan dengan duduk dan bicara, baik dengan membaca dari sebuah kitab atau menyampaikan hal-hal yang sudah dihafalkannya, sehingga orang mengira dia mengetahui tentang hal-hal yang besar.  Mereka membutuhkan waktu satu minggu untuk mempersiapkan khotbah selama setengah jam.  Pengajaran seperti ini hanyalah imitasi. 

Hal yang sangat penting bagi seorang instruktur dalam masyarakat adalah untuk memahami dulu hikmah dari apa yang mereka bicarakan.  Hikmah bersumber dari hati, bukan pikiran.  Jika kalian tidak dapat menggunakan hati kalian, kalian tidak akan merasa puas.  Selama kalian memberikan pelajaran dengan akal kalian, maka kalian dan orang yang kalian tuju berada pada level yang sama.  Dengan demikian kalian tidak dapat mengajarkan apa-apa pada mereka.  Untuk mengajarkan ajaran Allah SWT dan Nabi-Nya SAW, kalian harus belajar untuk mengajar dengan hati kalian, dengan demikian ajaran itu akan seperti madu.  Tetapi jika kalian hanya mengajar dari pikiran kalian saja, yakni dengan mencari informasi dari sejumlah buku lalu mereproduksinya, maka kalian menyerupai seorang yang terbang dari bunga ke bunga—seperti lebah—mengumpulkan ‘nektar’ dan meletakkannya dalam wadah dan menyebutnya madu.  Tetapi itu bukan madu, mengapa bukan?  Orang berkata, “Aku melihat seekor lebah terbang ke sana ke mari mengumpulkan nektar dari bunga-bunga, jadi aku melakukan apa yang dia lakukan.”  Tetapi tidak ada madu dalam wadahnya.  Karena untuk mendapatkan madu, lebah harus memakan nektar itu, dan madu dihasilkan olehnya.   

Oleh karena itu, kalian jangan membiarkan diri kalian dibodohi oleh orang-orang itu, yang berbicara selama berjam-jam, berpikir bahwa dia memberikan madu.  Padahal perbedaan antara apa yang mereka berikan dengan madu yang asli adalah seperti perbedaan antara langit dan bumi. 

Orang yang mengaku sebagai guru ada dua tipe:  pertama adalah seperti tawon yang pergi dari satu bunga ke bunga lain—seperti lebah—tetapi tidak pernah menghasilkan madu atau lilin (wax).  Bahkan jika mereka telah mencapai level tertinggi dari pengetahuan di mana akal dapat meraihnya, jika ajaran mereka tidak berasal dari hati, maka itu bukanlah madu.  Guru tipe lain adalah seperti lebah, ajaran mereka berasal dari hati dan seperti madu murni.  Bagaimana seseorang bisa menjadi seperti ‘lebah’?  Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang dapat menjaga keikhlasan kepada Tuhannya  selama 40 hari, maka Tuhannya akan membuka sumber hikmah baginya.”

Selama periode Kekhalifahan Sayyidina `Ali RA, KW di Kufa, beliau bepergian ke Basra dan mengunjungi semua masjid untuk mendengar orang yang memberi pengajaran di masjid-masjid.  Setelah mengunjungi mereka dan mendengar setipa instruktur berbicara dari mimbar, beliau mengeluarkan sebuah keputusan melarang semua instruktur untuk berkhotbah kecuali Hasan al-Basri QS dan Qadi Syureih QS.  Beliau melarang mereka berbicara kepada orang banyak di masjid.  Beliau berkata bahwa semua khatib tersebut kecuali kedua orang tadi hanyalah tukang dongeng, yang mengulang cerita tanpa memahami arti signifikan dari apa yang disampaikannya, bahkan walaupun mereka mengaku bahwa mereka mengajar dengan baik sekali, Sayyidina `Ali RA, KW memberi izin hanya kepada kedua orang itu untuk memberi khotbah di masjid—yang lainnya tidak!

Kalian dapat memakan makanan yang sudah rusak, mengakibatkan perut kalian sakit dan kalian terangsang untuk muntah, tetapi siapa pun yang mendengar sesuatu yang buruk, dia tidak dapat menghindarinya dengan mudah, dan itu akan tertinggal dalam dirinya hingga akhir hayatnya.  Untuk itulah Grandsyekh kita memperingatkan muridnya agar tidak mendengar para ulama atau cendikiawan yang menyangkal thariqat dan mursyid, karena bisa saja mereka akan meracuni kalian.  Jika seseorang duduk bersama mereka, dia harus siap untuk menanggung beban berat berupa kegelapan dan hidup dengan hati yang terluka selama setahun.

Grandsyekh kita bercerita tentang suatu kisah untuk melukiskan seseorang yang patut kalian dengar.  Beliau adalah Ibrahim bin Adham QS yang dikenal sebagai sultan az-zahidiin, raja dari kaum yang zuhud.  Beliau  adalah seorang raja yang agung dan suatu hari beliau mendengar sebuah suara yang menyeru agar beliau datang ke jalan Tuhan.  Beliau meninggalkan segalanya dan memberikannya kepada ratu, keluarga kerajaan, para jendral dan panglimanya.  Ketika beliau siap meninggalkan kerajaan, beliau memanggil salah satu budaknya yang merupakan tukang kebun istana.  Beliau lalu menyerahkan jubah kerajaan kepada budak itu dan meminta pakaian tukang kebun sebagai gantinya.  Budak itu tercengang dengan kejadian ini dan dengan perasaan takut, dia berkata, “Bagaimana mungkin seorang hamba rendahan memakai jubah kebesaran raja, sementara raja yang mulia memakai pakaian tua ini.”  Raja menjawab, “Wahai anakku, tidakkah engkau mendengar bahwa tadi malam sultanmu telah menjadi budak dari budak dari budak…?  Sekarang aku adalah budak dari 7 budak, yang tertinggi dari mereka menjadi hamba Allah SWT.”  Lihatlah betapa cepat beliau sampai pada level terendah, bagaimana beliau menganggap dirinya bukan apa-apa—sama dengan tanah.

Sekarang Grandsyekh berkata, “Wahai Nazim Effendi QS, siapa pun yang ingin mengajar orang lain di masjid dan zawiyah, maka dia harus sangat berhati-hati apalagi di masa sekarang, di masa kita hidup.  Pada masa Ibrahim bin Adham QS beliau hanya menghitung 7 tuannya.  Sekarang di masa kita, jika seseorang tidak menganggap dirinya lebih rendah dari ribuan orang, jika dia tidak menganggap dirinya sebagai budak dari orang banyak yang dia anggap lebih superior, maka dia tidak akan sanggup untuk mengemban tugasnya dengan efektif.  Dia tidak akan mampu membuat mereka percaya kepada Tuhannya, atau kalau mereka sudah percaya, dia tidak akan memperkuat keimanan mereka.

Sebagai contoh di sini, di Damaskus.  Jika seorang instruktur tidak dapat melihat dirinya sebagai budak dari setiap orang, itu berarti bahwa dia memiliki suatu egoisme dan egoisme itu akan menyebar melalui ajarannya kepada setiap setiap orang yang berhubungan dengannya.  Grandsyekh berkata bahwa jika seseorang yang berbicara kepada orang tidak merendahkan dirinya dan tidak menganggap dirinya sebagai seorang budak di depan pendengarnya yang ribuan, maka orang-orang yang dituju olehnya akan mengencingi dia dan ajarannya.  Yang saya maksud adalah bahwa orang akan mendengar nasihat yang baik dari instruktur tadi, tetapi mereka akan melakukan hal yang sangat berlawanan dari apa yang mereka nasihatkan.

Untuk mencegah hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.  Sebab setiap orang yang belajar dan belajar dalam banyak hal masih tetap bersifat egois dan ketika orang datang pada mereka dan mendengar mereka, mereka akan pergi dan melakukan sebagaimana apa yang dia lakukan.  Begitu banyak syekh besar tidak menyadari perlunya memerangi ego mereka, mereka hanya terus mengumpulkan pengetahuan yang tidak bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.  Pengetahuan mereka hanyalah mengenyangkan ego mereka.  Mereka tidak mempertimbangkan dan mereka tidak sanggup pula untuk memahami bahwa satu elemen penting telah hilang dari kehidupan beragama mereka.  Juga karena mereka tidak mau menerima pelatihan di tangan Grandsyekh, maka mereka menemukan bahwa diri mereka bersama ajaran yang mereka berikan menjadi tidak dihormati oleh orang-orang yang mereka pikir akan mereka tolong.  Oleh sebab itu, adalah hal yang sangat penting bagi seseorang yang ingin mengajarkan orang untuk benar-benar melihat dirinya sebagai pelayanan mereka untuk merendahkan dirinya di depan orang yang dia harapkan untuk diajarkan.

27 October 2008

Posisi Tarekat Naqsybandi

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Insya Allah kita akan berbicara mengenai suatu hal yang sangat penting.  Mengenai aliran tarekat.  Begitu banyak orang datang ke Damaskus dari berbagai negri asalnya untuk mengunjungi kami.  Beberapa di antara mereka sudah terikat dengan seorang Syekh dan mengikuti tarekat tertentu.  Mereka meminta bay’at yang baru.  Salah satu dari mereka, Syekh Salahuddin mengalami konflik mengenai hal ini dalam batinnya.  Kami harus memperjelas hal ini bagi setiap orang di seluruh dunia agar mereka mengetahui apa itu tarekat, apa itu Syekh, berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.

Allah SWT akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?”  Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?”  Allah SWT meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih.  Kalian hanya bisa mendapatkannya melalui tarekat.  Mereka yang tidak menjalani tarekat hanya memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, meninggalkan hatinya.  Ada 41 aliran tarekat, 40 di antaranya diturunkan melalui hati Imam ‘Ali RA, KW dan satu lagi, Tarekat Naqsybandi berasal dari Abu Bakar ash-Shiddiq RA.  Rasulullah SAW mempunyai 124.000 sahabat.  Siapa sahabat terdekatnya?  Beliau adalah Abu Bakar RA.  Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh hal yang Allah SWT percayakan kepadaku di malam ‘Isra, telah kutanamkan ke dalam hati Abu Bakar RA.”  Sayyidina Ali RA, KW dihubungkan dengan Abu Bakar RA sedemikian rupa sehingga Sayyidina Ali RA, KW mendapat gelar Kota Pengetahuan.  Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syekh pemegang tarekat yang sebenarnya.  Mereka semua menghormati Tarekat Naqsybandi sebagai yang pertama.  Syekh sejati, bukan mereka yang menyebut dirinya sendiri Syekh, seluruh Syekh yang termahsyur, seperti: Jilani QS, Rumi QS, Darqawi QS, Rifa’i QS mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari Tarekat Naqsybandi.  Sekarang jika seseorang berada dalam satu aliran tarekat, mereka bisa saja mengambil Tarekat Naqsybandi dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan seperti biasanya atau menjalankan amalan Tarekat Naqsybandi.  Jika hanya melakukan amalan Tarekat Naqsybandi saja itu sudah cukup.  Tidak menjadi masalah apabila kalian berasal dari tarekat lain kemudian mengikuti Tarekat Naqsybandi.  Beberapa orang merasa takut kalau Syekhnya mendengar bahwa dia telah menganut tarekat kedua lalu dia akan marah.  Jika dia adalah Syekh sungguhan, bagaimana mungkin dia bisa marah?  Seorang Syekh sejati harus mengetahui apakah muridnya bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) atau tidak.  Seorang penggembala mengetahui keadaan biri-birinya, satu dalam seribu, bahkan jika mereka semuanya berwarna putih.  Dia memiliki cahaya di matanya dan mengenal mereka tanpa membuat kesalahan.  Dalam tarekat tidak ada kepiluan bila seorang murid pergi ke Syekh yang lainnya.  Kami berterima kasih kepada Syekh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syekh yang sesungguhnya.  Abu Yazid QS berkata, “Selama melakukan pencarian, Aku bertemu 99 Syekh sebelum Aku bertemu Grandsyekh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq RA.”  Kalian bisa bertemu dengan banyak Syekh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya kalian menemui Grandsyekh kalian, lalu seperti sungai yang bertemu samudra.  Begitu banyak Syekh yang hanya menjadi pelatih, sampai akhirnya Grandsyekh memanggilmu.  Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan.  Jika seorang Naqsybandi Syekh memberi tarekat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Grandsyekh di Tarekat Naqsybandi saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

Begitu banyak orang dari Barat yang berdatangan sekarang, diundang melalui hatinya untuk menemui Grandsyekh.  Mata rantai para Masyaikh berakhir pada satu titik.  Grandsyekh adalah mata rantai terakhir dalam Mata Rantai Emas dan beliau memegang posisi itu, Saya (Syekh Nazim QS-red) hanyalah hambanya.  Untuk Masyaikh Naqsybandi, kita semua menunggu mereka untuk memperbarui bay’at-nya dengan kita, jika tidak mereka hanya menyematkan gelar di diri mereka sendiri.  Imam Mahdi AS dan ketujuh wazir (panglima) besarnya, 40 khalifah, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada di Tarekat Naqsybandi.  Di masa ini tidak ada kekuatan bagi tarekat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya.  Oleh sebab itu semuanya diundang untuk memperbarui bay’at-nya dari Grandsyekh dan semua akan merasakan adanya kemajuan pada dirinya.  Di masa kita, ada sekitar 1000 Syekh Naqsybandi, tetapi hanya satu Grandsyekh.  Membawa mereka semua, siapa yang akan menjadi Imam?  Jika 124.000 sahabat dibawa, siapa yang akan menjadi Imam?  Abu Bakar RA. 

Setiap Syekh harus menunjuk satu orang deputi.  Mawlana Khalid al-Baghdadi QS menunjuk Syekh Ismail QS, tetapi banyak sekali cabang Tarekat Naqsybandi yang menghilangkan namanya dari silsilah dan dengan demikian juga kehilangan rahasia Grandsyekh.  Sekarang banyak sekali Syekh Naqsybandi yang berada di Damaskus, Aleppo, dan Homs tidak dapat menemukan penerusnya.  Kecuali bagi Grandsyekh kita, tidak ada seorang pun yang ditunjuk sebagai deputi.  Hal ini karena kita mempunyai Syekh Ismail QS dalam silsilah kita.


30 July 2008

Tidak ada yang Diciptakan dengan Sia-Sia

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berbicara tentang Syekh Alauddin al-Bukhari QS, khalifah dari Syah Naqsyband QS pilar utama Tarekat Naqsyabandi. Grandsyekh mengatakan bila Syah Naqsyband QS tidak ada, maka Tarekat Naqsyabandi tidak akan pernah ada. Grandsyekh memuji Syekh Alauddin QS, dengan mengatakan bahwa beliau adalah seorang yang besar dan mengetahui rahasia hikmah dari keberadaan setan di alam semesta. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Beliau adalah salah satunya di antara para ulama di masanya. Semua awliya tahu, tetapi bagi ulama, hanya sedikit yang mengetahuinya. Grandsyekh bertanya, “Apa manfaatnya dengan mengetahui hikmah keberadaan setan?” Jika orang mengetahui hal ini, dia akan mampu menaklukan setan. Siapa pun yang tidak mengetahui hal ini, tidak akan bisa menaklukannya, dia pasti berada di bawah kekuasaannya. Ini adalah hal yang sangat penting dalam setiap agama. Setiap rasul dan awliya mengetahui hal ini dan menjadikan mereka mampu menghadapinya dan menjadikan setan di bawah kendalinya.

Ketika mengetahui hal ini, kalian bisa menjadi pemimpin bagi setan, ego, dunia, dan keinginan untuk menonjolkan diri, bukan mereka yang memerintah kalian. Keempat musuh ini jika tidak dikontrol mereka akan sangat berbahaya. Jika kalian dapat mengontrolnya, mereka akan memberi manfaat yang tidak terhingga. Sebagaimana halnya dengan listrik, jika tidak dibungkus dengan kabel pelindung, dia sangat berbahaya, bisa membunuh. Jika bisa mengontrol keempat musuh tadi, mereka akan sangat berguna bagi kalian. Kalian bisa mengendarainya menuju surga. Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Orang-orang Amerika meminta rahasia dari kekuatan listrik, Allah SWT memberikannya kepada mereka. Kepada orang yang meminta, Allah SWT berjanji untuk mengabulkannya. Jika kalian mengetahui cara menggunakannya, segala sesuatu akan bermanfaat.

Banyak sekali ciptaan Allah SWT, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Setan adalah salah satu yang tidak terlihat, tidak terlihat oleh mata biasa, tetapi rasul dan awliya dapat melihatnya. Sebelumnya, setan benar-benar tampak di hadapan manusia, tetapi setelah masa Rasulullah SAW, setan dicekal untuk tampak.

Sayyidina ‘Ali RA, KW adalah salah seorang tokoh yang terhormat bagi seluruh orang. Beliau tidak akan berjalan di depan orang yang lebih tua. Suatu kali di masa Rasulullah SAW, beliau membuka pintu rumahnya dan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh. Baru saja keluar beliau melihat seorang tua yang berjalan dengan lambat di depannya. Untuk menghormatinya Sayyidina ‘Ali RA, KW berjalan lambat di belakangnya sampai mencapai masjid. Tetapi melihat orang itu tidak masuk ke masjid dan malah menghindarinya, dan melihat di dalam Rasulullah SAW telah bangkit dari sujud di rakaat pertama, Sayyidina ‘Ali RA, KW mengerti bahwa orang tua itu adalah setan, datang untuk membuatnya terlambat mengikuti salat berjamaah. Dengan cepat beliau merenggut lehernya dan meletakkannya di bawah sebuah batu besar. Setelah salat Rasulullah SAW bertanya, “Wahai ‘Ali RA, KW apa yang terjadi?” Beliau menjawab, “Wahai Rasulku, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Musuh Allah SWT telah menipuku sehingga Aku kehilangan satu rakaat.” Rasulullah SAW dan para Sahabat keluar untuk melihat setan yang menggeliat di bawah batu, Sayyidina ‘Ali RA, KW sangat marah. Baginya satu rakaat di belakang Rasulullah SAW lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Beliah berkata, “Aku berniat untuk meninggalkannya di sini sampai hari kiamat, tetapi Aku tunduk kepada perintahmu wahai Rasulku.” “Wahai ‘Ali RA, KW jangan menjadi perampok. Jika engkau membiarkannya di sini, berarti engkau telah memotong jalan bagi seluruh umatku dalam mecapai maqam mereka di Hadirat Ilahi, menghilangkan derajat berperang mereka. Jangan cemaskan dia, dia hanyalah seorang budak bagi umatku. Akan banyak yang mencapai derajat yang tinggi karena memeranginya.” Maksud beliau kita sekarang lebih kuat daripada setan dan beliau mengisyaratkan kepada kita hikmah yang tersembunyi bahwa setan adalah alasan utama untuk peningkatan kehidupan spiritual. Kalian dapat menerimanya dan mendapat manfaat darinya. Kendarai dia dan pergilah, kalian bisa mencapai maqam mana saja dalam Hadirat Ilahi.

Grandsyekh berkata bahwa jika kalian mengetahui bahwa dalam setiap kejadian selalu ada hikmah yang tersembunyi, dan kalian mencarinya setalah kejadian itu, maka kalian akan menemukan kedamaian dan kepuasan. Jika orang tahu bahwa setiap kejadian ada hikmahnya, maka tidak ada kesulitan bagi mereka di bumi. Allah SWT tidak pernah mengizinkan sesuatu muncul tanpa mengandung hikmah. Grandsyekh berkata bahwa Sayyid Jamaluddin al-Ghumuqi QS suatu ketika sedang duduk, di hadapannya ada seorang murid dan sepiring apel. Beliau mengambil satu apel dan melemparkannya ke udara, dan sebelum jatuh beliau melemparkan lagi yang lain, lalu menangkap keduanya dan meletakkannya kembali. Murid itu berkata, “Wahai tuanku, Aku tahu bahwa engkau tidak sedang bermain, tidak ada perbuatanmu yang tidak mengandung hikmah. Apa hikmah di balik peristiwa tadi wahai tuanku?” Baliau berkata, “Wahai anakku, baru saja kemurkaan Allah SWT datang bersama malaikat pencabut nyawa kepada dua orang yang kita kenal. Dengan melemparkan apel membuat kemarahan Allah SWT hilang dan kasih sayang turun ke tempat ini. Sekarang mereka akan datang memberitahu kita.” Kemudian ada sebuah ketukan di pintu, orang itu memberitahu bahwa dua orang baru saja meninggal, apakah beliau berkenan untuk menghadiri upacara pemakaman. Ketahuilah bahwa dalam setiap tindakan terdapat kehendak dari Sang Pencipta. Kalian harus menjaga perilaku baik ini, dengan demikian perilaku baik itu akan menjagamu. Setiap orang yang mencari hikmah di balik setiap peristiwa, Allah SWT akan menjaganya, tidak ada kejahatan yang akan menimpanya. Setiap saat mintalah diberikan hikmah atas segala peristiwa yang terjadi di sekeliling kalian. Ketika orang mengambil hikmah ini, dia akan menemukan kedamaian dalam dirinya, tidak ada hal yang mengganggu.


21 July 2008

Tasawuf: Dulu dan Sekarang

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Di masa Nabi SAW tasawuf adalah sebuah realitas tanpa nama; kini tasawuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitasnya.”

Umat Islam sekarang memerlukan ulama-ulama yang baik yang melaksanakan ajaran Islam dengan benar (‘alimun ‘aamil), mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengembalikan apa yang telah rusak dalam agama Islam selama bertahun-tahun ke belakang dan mereka yang mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, yang percaya kepada yang haqq dan melawan yang batil, serta tidak menakut-nakuti siapa pun yang berada di jalan Allah SWT.

Umat Muslim sekarang tidak mempunyai orang yang bisa memberi nasihat atau membimbing mereka dalam mempelajari agama dan perilaku atau kebiasaan yang terpuji yang diajarkan dalam Islam. Sebaliknya, kita hanya melihat para ulama yang pura-pura mengetahui sesuatu, lalu berusaha menerapkan ide-ide dan akidah Islam yang telah mereka kotori kepada setiap orang. Pada setiap kesempatan konferensi misalnya, mereka memberikan ceramah mengenai Islam dari perspektif yang sangat sempit dan terbatas, tidak berdasarkan bimbingan para sahabat Nabi SAW atau para Imam besar Islam dan tidak pula berdasarkan konsensus (ijma dan qiyas) sebagian besar para ulama Islam.

Jika para ulama itu mau mendengar nuraninya lebih dalam dan kembali kepada loyalitas dan kejujuran dalam Islam tanpa campur tangan pemerintah atau kekuatan lain yang mengontrol negara-negara Muslim dengan uang mereka, mengabdikan dirinya hanya untuk berdakwah dan irsyad (memberi petunjuk ke jalan yang lurus) dan berzikir kepada Allah SWT dan Nabi SAW, barulah situasi di dunia Islam akan berubah dan kehidupan Muslim akan meningkat dengan pesat. Harapan kita pada tahun 1416 H ini, Muslim di Amerika dan di seluruh dunia akan bersatu kembali, saling berhubungan dalam satu tali, yaitu Tali Allah SWT untuk memantapkan sunnah dan syariah Nabi SAW.

Jika orang-orang ingin meninjau sejarah lebih dalam lagi, mereka akan menemukan bahwa setelah perjuangan para sahabat yang gagah berani, Islam tersebar ke seluruh penjuru Timur dan Barat serta Timur Jauh melalui dakwah dan irsyad para ulama dan para pengikut tasawuf (sufisme). Mereka mengikuti jejak yang benar dari para Khalifah Rasulullah SAW. Mereka adalah para ulama sufi yang sejati, yang menopang pengajaran al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pernah menyimpang dari keduanya.

Sifat zuhud dalam Islam berkembang pada abad pertama Hijriah dan dikembangkan dalam sekolah-sekolah yang mempunyai fondasi yang kuat dan menjadikan al-Qur’an dan syariah sebagai dasar pengajarannya, dan dijalankan oleh para ulama zahid yang dikenal sebagai sufi. Mereka di antaranya adalah keempat Imam pertama, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifa, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, begitu pula al-Imam Abi ‘Abdallah Muhammad Al-BUKHARI, Abul Husain MUSLIM bin al-Hajjaj, Abu ‘Isa TIRMIDZI. Yang lainnya di antaranya Hasan al-Basri QS, al-Junaid QS, Imam Awzai’ termasuk at-Tabarani, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Hajar al-Haythami, al-Jardani, Ibnu Qayyim al-Jawzi, Imam Muhyiddin bin Syaraf bin Mari bin Hassan bin Husain bin Hazam bin NAWAWI, Imam Abu Hamid GHAZALI, Sayyid Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi QS. Dunia Muslim telah mengenal Islam melalui usaha para ulama zahid ini yang dikenal sebagai sufi karena loyalitas mereka, ketulusan dan kemurnian hatinya.

Kita tidak menyembunyikan fakta bahwa pada saat itu, beberapa musuh Islam datang dan mengadakan pendekatan yang ekstrim, menggunakan nama sufisme dan berpura-pura menjadi seorang sufi pada saat menyebarkan ide-ide anehnya dengan tujuan untuk memusnahkan ajaran sufi yang sejati dan meracuni pikiran Muslim mengenai tasawuf yang telah dianut mayoritas Muslim. Tasawuf sejati berlandaskan zuhud dan ihsan (kemurnian hati). Imam-Imam besar umat Muslim yang ajarannya diikuti di semua negri Muslim, dikenal mempunyai guru-guru sufi. Imam Malik, Imam Abu Hanifa (berguru kepada Ja’far ash-Shadiq AS), Imam Syafi’i (yang mengikuti Syayban ar-Rai’QS) dan Imam Ibnu Hanbal (gurunya adalah Bisyr al-Hafi QS) yang semuanya menganut tasawuf.

Semua pengadilan dan universitas di negri-negri Muslim menerapkan ajaran dari keempat Imam tersebut hingga sekarang. Misalnya: Mesir, Libanon, Yordania, Yaman, Djibouti, dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Syafi’i. Sudan, Maroko, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Libya dan Somalia mengikuti mazhab Maliki. Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Hanbali. Turki, Pakistan, India, Myanmar dan beberapa republik di Rusia mengikuti mazhab Hanafi. Negri-negri Muslim di Timur Jauh mengikuti mazhab Syafi’i. Sebagian besar pengadilan di negara-negara Muslim bergantung kepada fatwa-fatwa dari keempat mazhab ini dan keempatnya diterima. Imam Malik dalam ucapannya yang terkenal mengatakan, “man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq.” Yang artinya, “Barang siapa yang mempelajari tasawuf tanpa fiqih, dia adalah seorang kafir zindik, dan barang siapa yang mempelajari fiqih tanpa tasawuf, dia adalah seorang yang fasik (korup), dan barang siapa yang mempelajari tasawuf dan fiqih, dia akan menemukan kebenaran dan realitas dalam Islam.”

Ketika sarana transportasi masih sulit, Islam dapat tersebar dengan cepat melalui usaha yang tulus dari para musafir sufi yang telah terdidik dengan baik sekali dalam disiplin zuhud yang tinggi (zuhud ad-dunya) yang memang diperlukan oleh mereka yang telah dipilih Allah SWT untuk melaksanakan tugas suci itu. Hidup mereka adalah dakwah dan mereka bertahan hidup hanya dengan roti dan air. Dengan cara hidup seperti itu mereka mampu mencapai Barat dan Timur Jauh dengan keberkahan Islam.

Di abad ke-6 dan 7 Hijriah, tasawuf berkembang dengan pesat karena diiringi kemajuan dan usaha yang keras dari para guru sufi. Setiap kelompok dinamai menurut nama gurunya, untuk membedakan dengan kelompok yang lain. Sama halnya dengan sekarang, setiap orang memegang gelar dari universitas di mana dia menjadi lulusannya. Walau demikian tentu saja Islam tetap sama, tidak pernah berubah dari satu guru sufi ke guru sufi yang lain, seperti halnya Islam tidak pernah berubah dari satu universitas ke universitas yang lain.

Namun demikian di masa lalu murid sangat dipengaruhi oleh perilaku dan moral yang baik dari guru-guru mereka. Oleh sebab itu mereka mempunyai sifat tulus dan loyal. Tetapi sekarang para ulama kita ‘kering’ dan Islam diajarkan kepada mereka di universitas non-Muslim oleh para profesor non-Muslim (Jika kalian pandai, kalian bisa mengerti).

Guru-guru sufi meminta muridnya untuk menerima Allah SWT sebagai Pencipta mereka dan Nabi SAW sebagai hamba dan utusan-Nya, menyembah Allah SWT pada saat sendirian, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, bertobat kepada Allah SWT, mengikuti Sunnah Nabi SAW, memurnikan hati mereka, membersihkan ego mereka dari kesalahan dan untuk memperbaiki akidah mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga mengajarinya untuk bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam segala hal yang mereka lakukan, bersabar dan takut kepada Allah SWT, mencintai sesama, bergantung kepada Allah SWT, dan segala sifat atau perilaku terpuji lainnya yang dianjurkan dalam Islam.

Untuk mencapai seluruh tingkatan yang tulus dan murni, mereka memberi murid-muridnya doa yang berbeda-beda seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan para tabi’iin. Mereka mengajarkan zikrullah, mengingat Allah SWT dengan membaca al-Qur’an, doa-doa dan tasbih dari Hadis serta dengan membaca Nama-Nama Allah SWT dan sifat-sifatnya yang terdapat dalam tahlil, tahmid, takbir, tamjid, tasbih menurut ayat-ayat dan Hadis Nabi SAW mengenai zikir (ini dapat ditemukan pada semua buku Hadis termasuk Bukhari, Muslim, Tabarani, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain di bagian ‘Zikir dalam Islam’ di mana setiap orang dapat merujuk ke sana).

Guru sufi ini (ulama sejati) menolak ketenaran, jabatan tinggi, uang, dan kehidupan yang materialistik, tidak seperti ulama sekarang yang mengejar ketenaran dan uang. Mereka bersifat zahid dan hanya bergantung kepada Allah SWT, tunduk kepada firman-Nya, “ma khalaqtul Jinni wal Insi illa li ya’ buduun.” “Kami tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Sebagai hasil dari perilakunya yang baik dan sifat zuhudnya itu, mereka mampu meyakinkan orang-orang kaya untuk membangun masjid dan panti (khaniqah, zawiyyah) untuk seluruh umat Islam, juga membagikan makanan gratis dan penginapan gratis. Dengan demikian Islam dapat tersebar dengan cepat dari suatu negara ke negara yang lain melalui khaniqah dan masjid tersebut. Tempat seperti itu, di mana setiap orang miskin dapat makan dan menginap serta para tuna wisma dapat berteduh merupakan tempat pembersihan hati bagi orang miskin dan merupakan tempat terjalinnya hubungan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang hitam dengan yang kuning, merah, putih, Arab dan non-Arab.

Nabi SAW bersabda dalam suatu hadis, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal kebajikan.” Tempat ini membuat orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul bersama. Sufi memegang teguh sunnah dan syariah. Sejarah mereka penuh dengan keberanian dan perjuangan di jalan Allah SWT, jihad fi-sabiil-illah, meninggalkan negri mereka untuk menyebarkan Islam dengan satu metode, yaitu cinta. Mereka mengajarkan manusia untuk mencintai sesamanya tanpa perbedaan ras, usia dan gender. Mereka memandang setiap orang berhak untuk dihormati terutama wanita, orang yang teraniaya, dan fakir miskin. Sufi bagaikan bintang yang terang yang menyinari seluruh dunia, memberi semangat kepada semua orang untuk berjihad fi sabiil-illah, berjuang di jalan Allah SWT, menyebarkan Islam, menolong fakir miskin, tuna wisma, dan mereka yang membutuhkan pertolongan baik jauh maupun dekat. Dengan Imannya, mereka bisa mencapai Asia Tengah sampai India, Pakistan, Tashkent, Bukhara, Daghestan, dan daerah-daerah lain seperti Cina, Malaysia, Indonesia dan lain-lain. Orang-orang sufi sejati tidak pernah menyimpang dari syariah dan sunnah Nabi SAW serta al-Qur’an.

Dua sumber utama tasawuf adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang disampaikan lewat pemahaman Islam Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW yang dianggap sebagai dua guru utama seluruh aliran sufi. Sayyidina Abu Bakar RA mewakili satu aliran tasawuf. Nabi SAW bersabda mengenai beliau, “Apa yang Allah SWT tuangkan ke dalam hatiku, Aku tuangkan pula ke dalam hati Abu Bakar RA.” ma sab-Allahu fii sadrii syayan illa wa sabatuhu fii sadrii Abi Bakrin RA.” (Hadiqa Nadiah, diterbitkan di Kairo, 1313 H. hal.9). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [QS 9:40], “…sesungguhnya Allah SWT telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah), dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang teman dan keduanya berada dalam gua.” Nabi SAW bersabda dalam hadis lain, “Matahari tidak pernah bersinar lebih cerah pada orang-orang selain Abu Bakar RA, kecuali pada para Nabi.” (lihat Suyuti, Sejarah para Kalifah, Kairo, 1952. Hal. 46). Banyak hadis lain yang menerangkan posisi Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Aliran lain dalam tasawuf berasal dari Sayyidina ‘Ali RA, KW, mengenai beliau banyak sekali hadis yang bila dipaparkan akan memakan banyak halaman.

Sunnah Nabi SAW dan syariah yang melambangkan kewajiban, serta Ihsan yang melambangkan perilaku baik, semuanya melekat menjadi karakter para ulama sufi, mulai dari Sayyidina Abu Bakar RA yang menjadi khalifah Nabi SAW pertama, sampai sekarang.

Pada abad ke-13 Hijriah (± 19 M) sebuah mazhab yang dipengaruhi oleh ajaran dua ulama Islam dari abad ke-7 Hijriah (± 14 M) muncul. Mazhab ini adalah mazhab baru dalam Islam, yang walaupun mempunyai dasar mazhab Hanbali tetapi ternyata terdapat perbedaan akidah. Walaupun mazhab ini juga menerima tasawuf, tetapi dia lebih banyak mempunyai batasan dan mempunyai interpretasi yang sempit tentang apa yang dibolehkan dalam Islam dibandingkan dengan keempat madzhab yang pertama. Akhir-akhir ini para pengikut mazhab ini melakukan penyimpangan terhadap ajaran asli dari sang pendiri mazhab dan sering membesar-besarkan secara ekstrim dan membuat tuduhan kepada umat Muslim berdasarkan fatwa dari ulama-ulama modern yang hanya memiliki pemahaman Islam secara harfiah dengan sudut pandang yang terbatas, namun menjadi penentang bagi kelompok mayoritas Muslim. Keyakinan baru ini sekarang berkembang dengan pesat dengan dukungan minoritas Muslim yang mempunyai keyakinan sendiri dan interpretasi sendiri terhadap al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Orang-orang ini sekarang menentang sufisme dan mencoba untuk meremehkan semangat dan usaha keras para sufi sejati dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia selama kurun waktu 1300 tahun ke belakang.

Sebagai umat Muslim, kita menghormati semua mazhab dalam Islam tanpa diskriminasi. Tetapi sebaliknya kita tidak menerima orang yang memaksakan ide-idenya kepada kita, karena kita mengikuti keyakinan yang telah diterima oleh mayoritas Muslim, yang menerima tasawuf.

Di Amerika, kita terkejut melihat sejarah dan kebudayaan Islam selama 1400 tahun disangkal dan ditolak oleh sebagian kecil ulama dengan cara pandang mereka sendiri, seolah-olah selama 1400 tahun para ulama pengikut sufi dan keempat mazhab tidak ada dan tidak pernah ada.

Sebagai informasi bagi saudara-saudari, kami sampaikan beberapa nama dari sekian nama ulama modern yang mengikuti aliran sufi dan keempat mazhab, yang mewakili mayoritas Muslim di seluruh dunia. Mereka adalah:

Mufti Mesir, Hassanain Muhammad al-Mukhloof, anggota Liga Muslim Dunia,
Muhammad at-Tayib an-Najjar, Presiden Sunnah dan Syariah Internasional dan Rektor Universitas al-Azhar,
Syekh ‘Abdallah Qanun al-Hassani, ketua Majelis Ulama Maroko dan Deputi Liga Muslim Dunia,
Dr. Hussaini Hashim, Deputi Universitas al-Azhar Mesir dan Sekjen Institut Penelitian Makkah,
as-Sayyid Hashim al-Rafai, mantan Mentri Agama Kuwait,
as-Syekh Sayyid Ahmad al-Awad, Mufti Sudan,
asy-Syekh Malik al-Kandhalawi, Presiden Liga Muslim Pakistan dan Rektor Universitas Asyrafiya,
Ustaz Abdul Ghafoor al-Attar, Presiden Komunitas Penulis Sudi Arabia,
Qadi Yusuf bin Ahmad as-Siddiqui, Jaksa Pengadilan Tinggi Bahrain,
Muhmammad Khazraji, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zabara, Mufti Yaman,
asy-Syekh Muhammad asy-Syadzili an-Nivar, Rektor Universitas Syariah Tunisia,
asy-Syekh Khal al-Banani, Presiden Liga Muslim Mauritania,
Syekh Muhammad Abdul Wahid Ahmad, Mentri Agama Mesir,
Syekh Muhammad bin Ali Habsyi, Ketua Liga Muslim Indonesia,
Syekh Ahmad Koftaro, Mufti Syria,
Syekh Abu Saleh Mohammad al-Fattih al-Maliki, Ondurman, Sudan,
Syekh Muhammad Rasyid Kabbani, Mufti Libanon,
asy-Syekh as-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hassani, Professor Syariah dan guru di dua Masjid Suci, Mekah dan Madinah,

dan masih banyak lagi yang berada di sekitar Arab dan negri-negri Muslim lainnya.

Wahai saudara-saudariku yang tercinta, juga ayah, ibu, dan anak-anak sekalian, Islam bersifat toleran (hilm), Islam adalah cinta, Islam adalah Kedamaian, Islam adalah rendah hati, Islam adalah kesempurnaan, Islam adalah zuhud, Islam adalah Ihsan. Islam berarti hubungan antar sesama, Islam berarti keluarga, Islam adalah persaudaraan, Islam berarti persamaan, Islam adalah satu tubuh, Islam adalah ilmu pengetahuan, Islam adalah spiritualitas. Islam mempunyai pengetahuan lahir dan batin yang sama baiknya. ISLAM ADALAH SUFISME, SUFISME ADALAH ISLAM.

Terakhir, Islam adalah Cahaya yang diturunkan Allah SWT melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan simbol kebenaran Allah SWT. Tanpa keraguan, beliau adalah perantara bagi semua orang, dan ini telah disebutkan dalam semua buku fiqih.

Semoga Allah SWT mengampuni kita atas kesalahan dan kekurangan dalam presentasi ini.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Yang terlemah di hadapan Allah SWT, hamba yang melaksanakan sunnah Nabi SAW,


Syekh Muhammad Hisyam Kabbani:
Presiden As-Sunna Foundation of America
607 A West Dana

Mountain View, CA 94041