Showing posts with label Syah Naqsyband QS. Show all posts
Showing posts with label Syah Naqsyband QS. Show all posts

11 August 2022

Bagaimana Iblis Berkhidmah pada Syah Naqsyband (q) Selama 7 Tahun

 


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
Fenton, Michigan, 17 September 2009

A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-saluuk, lillahi ta'ala al-`Azhiim fii hadza 'l-masjid.
Athii`uullaha wa athii`uu 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.

Saya pikir kita harus memindahkan siaran langsung ini ke Siprus karena mereka akan menyiarkan Salat Jumat dari sana, jadi saya akan menceritakan sebuah kisah singkat dari Grandsyekh, kisah mengenai Iblis yang datang dan mengetuk pintu Sayyidina Syah Naqsyband (q) pada suatu hari, dan bagaimana beliau hidup dengan Iblis. Ada kisah lain juga mengenai Grandsyekh Syarafuddin (q) dan bagaimana beliau menggunakan Iblis untuk melimpahkan dosa-dosa manusia kepadanya. Kita akan menceritakan kisah kecil ini lalu memindahkan siaran langsungnya ke Siprus.

Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an,

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ
Inna `ibadii laysa laka `alayhim sulthan
"kamu tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku". (15:42)

Di sini Allah (swt) berbicara kepada Iblis. Dia mengatakan, “Kau tidak bisa mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, mereka yang berhak menyandang predikat penghambaan; kau dan tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuasaan atas mereka, karena mereka adalah hamba-hamba-Ku,” sebagaimana Allah menyebutkan Sayyidina Khidr (as) `abdan min `ibaadinaa, "salah seorang di antara hamba-hamba-Ku."

Jadi Iblis dengan segala kekuatannya, ia berusaha menjangkau di mana para awliyaullah melakukan pertemuan mereka, ia berusaha menjadi salah satu di antara orang-orang yang menghadiri pertemuan itu untuk mengganggu pertemuan itu dan ia bisa datang dengan berbagai cara yang berbeda, kalian bisa saja tidak mengenalinya dan siapa yang dapat mengenalinya? Ia bisa saja datang sebagai orang berpenampilan normal, dengan janggut islami dan bahkan memakai turban dan bahkan ia pun mengambil bay’at dan tinggal selama bertahun-tahun sehingga orang-orang mulai menyukainya. Setelah itu ia akan keluar dan membuat keributan, bukan dari mulutnya, tetapi dari bagian lain. Ia datang kepada orang-orang dan mengatakan, “Aku adalah perwakilan syekh.” Jika baginya mungkin untuk mendatangi Sayyidina Adam (as) dan mengatakan, “Aku akan menunjukkan kepadamu sebuah pohon yang membuat kehidupan menjadi kekal,” maka apakah ia tidak mungkin untuk mendatangi kalian? Apakah kalian lebih baik daripada Adam (as)?

Jadi, itulah sebabnya mengapa dalam setiap tarekat ada Iblis di dalamnya. Itulah sebabnya kalian lihat bahwa ketika ia mendapati bahwa kalian adalah seorang yang ikhlas, ia akan pergi dan mulai berbicara buruk mengenai zikir dan majelisnya. Jadi Iblis datang kepada Syah Naqsyband (q), mengetuk pintunya dan minta izin untuk masuk. Ia datang dalam bentuk seorang manusia--sangat tampan, enak dipandang, seorang yang tinggi besar, rajulun `azhiim. Dengan janggut hitam yang rapi, dan orang-orang menghormatinya, dan dengan turban yang sangat besar, jadi kalian melihat turban juga?... Ada banyak sekali di dalam tarekat ini, mereka mempunyai turban besar dan mereka adalah para pewaris Iblis. Tunggulah sampai kebenaran akan datang, inn Allaha yumhil wa la yuhmil...Allah akan membiarkan mereka dan kemudian akan menghukumnya. Rajulun `azhiim bi `amaamatun kabiira - Seorang pria besar datang dengan busana sunnah yang sempurna dan dengan turban besar meminta izin untuk masuk ke hadirat Syah Bahauddin Naqsyband (q) dan bersama Syah Naqsyband (q) hadir seorang murid senior, Syekh Muhammad Parsa dan salah satu khalifah pertamanya dari Persia, bukannya `Alauddin `Aththar. Beliau juga adalah orang yang mempunyai otoritas.

Jadi orang itu datang dan ia terlihat sangat saleh dan tulus… apakah Iblis saleh dan tulus? Ia telah dikutuk oleh Allah. Nabi (saw) berkata, “Berhati-hatilah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Jadi berhati-hatilah dengan orang yang menggunakan nama Mawlana. Jadi beliau (Syekh Muhammad Parsa) bertanya pada Sayyidina Syah Naqsyband (q), "Ada seorang syekh di pintu dan ia meminta izin untuk mendapat kehormatan untuk berada di hadiratmu,” dan Sayyidina Syah Naqsyband (q) berkata, “Biarkan ia masuk.” Ia masuk dengan tongkatnya… lihat, mereka semua membawa tongkat, memakai turban, pakaian yang bersih dan rapi, janggut panjang dan pandangannya direndahkan, baik sekali, dengan adab yang baik sekali, dan ia datang, dan Sayyidina Syah Naqsyband (q) menyambutnya dan ia datang dan duduk dengan posisi berlutut. Beliau berkata kepadanya, “santai saja,” dan ia menjawab, “Ya Sayyidii! Kita harus menjaga adab terbaik, aku merasa rileks dengan posisi berlutut ini,” jadi beliau meminta Muhammad Parsa untuk meninggalkan ruangan. Beliau khawatir bahwa murid bisa mempunyai keraguan mengenai apa yang akan terjadi.

Jadi Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan kekuatan kewaliannya, sebagaimana para awliyaullah mempunyai dua macam kekuatan: sebagian memiliki wilayah terhadap aspek fisik, mereka bisa bergerak menembus ruang, mereka dapat mengatakan kepada kalian apa yang terjadi besok, mereka membawa sesuatu yang tidak terduga, mereka dapat memberi penyembuhan, dan kemudian ada juga tipe lainnya di mana mereka dapat mengangkat derajat kalian dengan ilmu dan ini jauh lebih baik dan mereka mewarisinya dari Nabi (saw), yang menerima kitab suci al-Qur’an, dan mereka mewarisinya sehingga mereka berusaha untuk mengunduh berbagai macam ilmu ke dalam kalbu kalian. Kemudian ada tipe ketiga yang dapat menggabungkan aspek fisik dan spiritual.

Dan Syah Naqsyband (q) mempunyai kedua kekuatan itu (beliau termasuk tipe ketiga). Beliau terlihat normal, tetapi beliau tahu bahwa Iblis akan datang sebelum ia datang. Iblis menyamarkan dirinya sepenuhnya. Beliau dulunya adalah kepala malaikat. Allah (swt) memberinya kekuatan itu, sehingga ia menutupi seluruh kepribadiannya dan sangat langka seorang wali dapat menembus hijab ini dan melihat siapa di balik hijab itu. Jadi beliau tahu bahwa ini adalah Iblis, yang terkutuk.

Jadi beliau berkata, “Wahai tamu kami, biasanya tamu-tamu kami tinggal selama tiga hari. Kau dipersilakan untuk tinggal selama tiga hari di sini.” Iblis sangat senang. Ia berpikir bahwa Sayyidina Syah Naqsyband (q) tidak mengenalinya karena ia menyamarkan dirinya yang sebenarnya, jadi ia tinggal selama tiga hari di sana dan selama itu ia membuat dirinya turut mengikuti salat bersama beliau. Salat berjamaah bersama seluruh pengikutnya di majelisnya. Ketika kami mengunjungi masjidnya di Bukhara, orang mengatakan bahwa biasanya ada 5000 orang yang belajar dan bermukim di sana. Jadi beliau membuat Iblis yang terkutuk terpaksa mengikuti salat, karena Iblis tidak bisa membongkar penyamarannya karena ia ingin memperdaya Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan ia ingin memperdaya jemaahnya, jadi ia bergabung dengan jemaah, ia berusaha untuk membuat mereka kebingungan, tetapi kekuatan Sayyidina Syah Naqsyband (q) lebih tinggi darinya. Beliau berkata kepadanya, “Dengan hormatku kepada Tuhanku,” itu artinya, “Dengan hormat kepada Tuhanku yang mengutukmu, aku menghormati kutukan itu padamu, yang mencambukmu, aku menghormati perintah itu, dapatkah aku bertanya bagaimana aku bisa membantu?” (karena beginilah cara kerjanya) dan ia berkata, “Ya, aku datang ke sini untuk menjadi salah satu muridmu.” Orang-orang di sana merasa senang, ada seorang dengan janggut dan turban, orang yang tulus. Mereka berpikir, “Oh, ia akan tinggal bersama kita, mungkin kita bisa belajar tentang adab darinya, karena ia mempunyai adab yang tinggi dengan Syah Naqsyband (q).”

Mereka datang kepada Mawlana Syekh dengan adab sempurna, mengatakan, “Aku ingin memimpin zikir di daerahku, memimpin zikir dan mendapatkan khilafah." Segera Mawlana akan memberi stempel pada kertas dan berkata, “Pergilah!” (Itu artinya) “Kau seperti Iblis itu.”

Jadi ia (Iblis) berkata, “Aku ingin menjadi muridmu, dapatkah engkau menunjukkan jalan terbaik untuk menjadi muridmu, aku siap. Dapatkah aku berkhidmah padamu?” Beliau (Syah Naqsyband (q)) berkata, “Kau tahu tentang tradisi dan jalan kami. Orang yang ingin menjadi murid kami harus bekerja di dergah, khaniqah, zawiya, lalu setelah ia bekerja, kami akan melihat sejarahnya dan barulah kami memutuskannya,” mengisyaratkan kepada Iblis. Iblis tidak pernah mengetahui bahwa Syah Naqsyband (q) mengetahui realitasnya, sehingga ia berpikir, “Seperti semua orang yang kutipu, aku akan menipunya dan menjadi muridnya.” Sekarang Syah Naqsyband (q) tahu bahwa Iblis tidak akan pernah mau bertobat, sekali seseorang dikutuk, ia tidak akan mau bertobat, tetapi beliau ingin mengikis kesombongannya. Iblis berkata Syah Naqsyband (q), “Jadi apakah hal terbaik yang dapat kulakukan agar aku dapat menjadi muridmu?”

Beliau berkata, “Kau tahu murid kami, ketika mereka baru datang kepada kami, kami mengirim mereka untuk membersihkan kamar mandi untuk mengajari mereka tentang ketawadukan.” Jadi, kau harus pergi ke kota, bukan seperti sekarang, kita bahkan mempunyai kamar mandi di rumah. Ada banyak kamar mandi di sana, bukan yang dapat dibongkar pasang, tetapi kamar mandi yang memang dibangun di sana. “Kau harus membersihkannya, ini adalah tugasmu setiap hari, selama 7 tahun.” Dan pada saat itu kalian harus membersihkannya, termasuk batu-batu yang ada di sana, tidak ada kertas toilet pada saat itu. Sampai sekarang jika kalian mengunjungi Uzbekistan mereka masih menyimpan batu di kamar mandi. Kalian menggunakan tiga ember dan menggunakan batu-batu itu lalu meletakkannya di ember yang kotor dan kemudian membuangnya. Tetapi beliau berkata, “Jangan buang batu-batu itu, kau harus membersihkannya dan menyimpannya kembali, setelah itu barulah kau menjadi murid kami dan kami akan memberimu otoritas.” Dan ia berkata, “Otoritas?” Syah Naqsyband (q) bertanya, “Apakah kau terima?” “Ya, aku terima.” Jadi Iblis melakukan pekerjaan itu selama 7 tahun. Beliau membuatnya melakukan hal itu selama 7 tahun.

(Siprus sudah siap sekarang?)

Jadi beliau mengatakan hal itu dan Iblis lalu pergi dan bekerja sangat keras untuk memperlihatkan kepada murid-murid bahwa ia adalah seorang pekerja keras, padahal Sayyidina Syah Naqsyband (q) mendorongnya keluar dari halaqah zikir. Jadi ia datang pada sore hari dalam keadaan lelah karena ia mengambil bentuk sebagai manusia. Tujuannya adalah untuk menipu Sayyidina Syah Naqsyband (q). Jadi ia adalah seorang pekerja keras, ia melakukan pekerjaannya dengan sempurna, ia tidak suka melakukan suatu kesalahan, ia menarik perhatian manusia dengan kesempurnaan. Apakah kita melakukan `ibadah kita dengan kesempurnaan? Ia mendedikasikan hal itu untuk menciptakan kebingungan. Jadi ia bekerja sangat keras selama 7 tahun dan setelah itu ia datang kepada Sayyidina Syah Naqsyband (q), berkata, “Aku sudah siap.” Syah Naqsyband (q) berkata, “Aku telah melihat dedikasimu. Aku senang melihatnya dan aku pikir kau bisa menjadi salah satu pengikutku tetapi aku berpikir bahwa engkau mempunyai begitu banyak dosa, dan sekarang sejak engkau melakukan pekerjaan itu, kau menjadi sangat dekat denganku, aku sangat gembira dengan apa yang telah kau lakukan dan yang telah kau capai.” Jadi sekarang kita akan melihat apa yang telah kau capai dan pada saat itu Sayyidina Syah Naqsyband (q) sedang mengadakan Mawlid Nabi (saw) dan Iblis mendatanginya dan Syah Naqsyband (q) mengatakan kepadanya bahwa ia mempunyai begitu banyak dosa, tetapi ia telah mencapai apa yang beliau inginkan, kemudian beliau berkata, “Aku percaya bahwa engkau adalah makhluk yang terburuk.” Setelah membuatnya berkhidmah selama 7 tahun. “Aku melihat bahwa engkau tidak pantas kecuali untuk membersihkan kamar mandi dan itulah sebabnya aku memberikan tugas itu, sekarang kuberitahu wahai yang terkutuk, wahai yang telah Allah kutuk. (Kau) tidak akan bisa melawan `ibaadullah karena Rahmat Allah bersama mereka. Apapun yang mereka tinggalkan di kamar mandi ini, mulai sekarang ini akan menjadi makananmu.”

Jadi dalam makna spiritual itu artinya, “Semua dosa manusia akan dilimpahkan kepadamu, semua dosa kotor mereka. Aku akan meletakannya di atasmu melalui cucuku yang akan muncul di masa depan, ia akan menjadikanmu sebagai binatang raksasa dan menarikmu dengan tali kekang dan melimpahkan semua dosa para pengikut Naqsybandi kepadamu dan kemudian dosa-dosa manusia-manusia lainnya. Jadi, pergilah sekarang dari sisiku wahai yang terkutuk!"

Jadi para awliyaullah melakukan hal-hal yang tidak dimengerti oleh manusia. Dan beliau melakukan hal itu untuk memberi tanda kepadanya bahwa ia akan dilemparkan dengan semua dosa manusia sejak lahir hingga akhir hayatnya. Dan itulah Sayyidina Syekh Syarafuddin (q) yang akan muncul di masa depan yang akan menarik tali kekang pada Iblis dan melimpahkan seluruh kotoran murid Naqsybandi dan semua kotoran manusia padanya. Beliau berkata, “Wahai yang terkutuk, kau pantas menjadi yang terjauh dari Hadirat Allah dan Sayyidina Muhammad (saw) adalah yang terdekat dengan Allah (swt), jangan pernah mencoba untuk datang ke sini lagi dan jika kau melakukannya, kau akan melihat hal-hal yang tidak akan kau sukai.” Kemudian Iblis lari dari hadirat Sayyidina Syah Naqsyband (q).

Ada lebih banyak lagi, tetapi kita tinggalkan itu sekarang, bi hurmati 'l-Fatihah. Itu adalah kisah Sayyidina Syah Naqsyband (q) yang berurusan dengan Iblis pada suatu waktu.

Ada banyak kisah lainnya dan kami akan menceritakannya satu per satu, insya'Allah dan semoga Allah (swt) mendukung kita dan mendukung kalian, bi hurmati 'l-Fatihah. Kalian telah mendengar kisah itu sebelumnya. Awliyaullah mempunyai kisah-kisah, bukan kisah biasa, tetapi kisah nyata dan itulah sebabnya kita mendengar Mawlana Syekh selalu mengatakan, “Aku adalah orang yang meletakkan kekufuran di bawah kakiku.” Kisah tadi akan memberi kalian sebuah tanda arti dari ungkapan tersebut, jadi jika kalian meletakkan simbol kekufuran di bawah kaki kalian maka kekufuran itu berada di bawah kakinya. Jadi Iblis selalu berada di bawah kaki Mawlana. Iblis selalu berada di bawah Mawlana. Ketika ia mencoba untuk mengangkat kepalanya, beliau mendorongnya kembali, seperti seseorang yang duduk di toilet dan Iblis membuka mulutnya. Itulah makanan dan minumannya. Bagaimana? Dengan kekuatan dari wali, itu membuatnya tetap berada di bawah. Jadi itulah yang Mawlana Syekh maksud dengan “kekufuran di bawah kakiku.” … bagaimana? Karena orang yang mempunyai simbol kekufuran berarti ia adalah murtad. Ia beriman, tetapi kemudian tidak beriman. Bahkan untuk membuat sakit hati seseorang, Nabi (saw) bersabda, “Jangan lakukan hal itu.”

Bagaimana dengan seseorang yang menjadi murtad? Di Surga Iblis masih tetap percaya kepada Allah (swt), tetapi di sini ia tidak percaya, ia menjadi murtad, ia tidak percaya terhadap apapun.

Semoga Allah (swt) memanjangkan umur Mawlana dan kita semua untuk bertemu Mahdi (as).
Wa min Allah at-tawfiiq bi hurmati 'l-Fatihah.

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=1846

© copyright 2014 Sufilive.com
hak cipta dilindungi oleh Undang Undang.

Sekelumit Kisah mengenai Kebesaran dan Maqam yang Tinggi dari Syah Naqshband (q)



Shuhba

Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Fenton, Michigan, 2 Mei 2009


A`uudzu billaahi mina ‘sy-syaythaani ‘r-rajiim
Bismillaahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-riyaadhah, nawaytu 's-saluuk, nawaytu 'l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza 'l-masjid 

Athi` Allah wa athi` ar-rasula wa uli 'l-amri minkum

[Dari Catatan Syekh Syarafuddin (q) mengenai Syah Naqsyband qaddas Allahu sirruh ]

Allah (swt) memuliakan kita dengan Nabi-Nya (saw) di mana Dia telah mengutusnya sebagai rahmat bagi manusia dan dari rahmat tersebut segala sesuatu yang muncul untuk kepentingan ciptaan Allah dianggap berasal dari rahmat yang telah Allah berkahi kepada Sayyidina Muhammad (saw).  Segala sesuatu yang baik pasti berasal dari rahasia rahmat tersebut dan Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa hikmah.  

Jadi rahmatan lil-`aalamiin mengandung asrar di dalamnya - tergantung pada siapa yang dijangkaunya dari ciptaan Allah tersebut.  Selain pepohonan dan alam, binatang, samudra, ikan-ikan dan segala sesuatu, ada juga malaikat, jin dan ada juga para Awliyaullah, Anbiyaullah, Sahabat.  Sudah pasti rahmat itu sampai pada mereka semua.  Pasti!  Dengan cara tertentu. Rahmat itu harus sampai pada setiap orang.  Dan dari yang satu kepada yang lain, rahmat itu berubah.  Jika kita telusuri jejaknya, ia mungkin akan mengubah kerikil menjadi permata.  Jika kita telusuri lebih jauh, ia mungkin akan mengubah permata itu menjadi berlian dan jika ditelusuri lebih jauh, ia mungkin akan mengubah berlian itu menjadi suatu bentuk rahmat lainnya dari rahmatnya Sayyidina Muhammad (saw).

Awliyaullah, ketika mereka muncul, saat mereka dilahirkan, dengan segera mereka dikenali sebagai Awliyaullah karena mereka adalah orang-orang terpilih.  Tidak setiap orang bisa menjadi wali.  Setiap wali mempunyai busana masing-masing yang berasal dari rahmatnya Sayyidina Muhammad (saw) yang Allah sandangkan.  Setiap murid dari para Awliyaulllah ini, mereka juga menerima bagian dari rahmat tersebut yang akan membusanai diri mereka.  Dan sekarang kita akan membicarakan hakikat tersebut yang telah disandangkan kepada Sayyidina Syah Naqsyband (q).

Adalah sesuatu yang luar biasa untuk melihat dan memahami apa yang telah Allah (swt) berikan kepada Nabi-Nya Sayyidina Muhammad (saw) melalui Kebesaran-Nya.  Dan Nabi (saw) memberikannya kepada para Awliyaullah.  Jika seorang wali mendapatkannya, bagaimana menurut kalian dengan seluruh Awliya, dan bagaimana dengan para Sahabat, para Anbiya dan bagaimana dengan Rasul Penutup (saw) dan bagaimana dengan para malaikat?  

Grandsyekh Syekh Abdullah ad-Daghestani (q) mengatakan bahwa Syekh Syarafuddin (q) telah menyampaikan kepadanya mengenai sebuah kisah, tetapi sebenarnya itu bukanlah kisah, melainkan catatan tentang apa yang terjadi pada Sayyidina Syah Naqsyband (q).  Apakah Qur'an itu merupakan kisah?  Tidak!  Qur’an adalah Kalamullah yang qadim (terdahulu), tetapi Allah (swt) mengungkapkan kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an kepada kita bukan?  Jadi kisah-kisah itu adalah penting dalam kehidupan kita, di mana Allah berfirman di dalam Surat Yusuf, 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

nahnu naqushshu `alayka ahsan al-qashshasi bimaa awhaynaa ilayka hadzaa al-Qur'aana wa in kunta min qalbih lamina ‘l-ghaafiliin.

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.
(QS Yusuf, 12:3)

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik.  Jadi itu artinya bahwa Allah mewahyukan kisah-kisah di dalam al-Qur’an kepada kita agar kita mengerti.  Itulah sebabnya kisah-kisah di dalam Syariah atau dalam Islam atau dalam kewalian itu penting untuk dipelajari.  Bukan hanya kita harus membicarakan tentang akhlak, moralitas, tingkah laku yang baik, tetapi kita juga harus menceritakan kisah-kisah.  Jika kalian tidak mempunyai kisah-kisah dengan materi tersebut, itu tidak dapat menjelaskan tentang kebesaran dari apa yang Allah ingin kita ketahui. 

Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa Syekh Syarafuddin (q) menceritakan kepadanya kisah-kisah mengenai Syah Naqsyband (q), 54.000 kisah mengenai apa yang dialami oleh Syah Naqsyband (q) sepanjang hidupnya sebagai Wali, sejak umur satu hari ketika beliau dilahirkan hingga akhir hayatnya ketika beliau berumur 74 tahun.  Syekh Syarafuddin (q) menceritakan 54.000 kisah mengenai Syah Naqsyband (q).  

Itu bukan kisah seperti, “Ada berapa ayam yang kamu miliki?”  atau “Ada berapa kambing yang kamu miliki?”  Kisah-kisah ini adalah kisah-kisah rohaniah.  Ini adalah hakikat di mana Sayyidina Syah Naqsyband (q) bergerak di dalamnya.  Beliau mengatakan bahwa ini adalah sekelumit kisah dari apa yang terjadi pada hari ketika beliau dilahirkan.  Grandsyekh Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani (q) Sulthan al-Awliya meriwayatkan kisah itu dari Syekhnya, Syekh Syarafuddin (q) di mana beliau menceritakan kisah tentang Sayyidina Syah Naqsyband (q).  

Grandsyekh mengatakan bahwa pada saat beliau dilahirkan--karena ini menunjukkan kepada kalian bagaimana beliau dibusanai dengan asrar Sayyidina Muhammad (saw).  Ketika beliau lahir ke dunia… seluruh daerah di Daghestan–daerah tempat kelahirannya–dan daerah di sekitarnya antara Timur dan Barat serta merta dipenuhi dengan wewangian Surgawi.  Dari wangi yang muncul di Daghestan tersebut, 5000 sekularis, orang-orang atheis--karena itu adalah daerah komunis, hampir 5000 orang, mereka tidak mampu menerima wangi tersebut–karena itu adalah wangi Surgawi–mereka menjadi binasa, mereka semua tewas dari tajali keindahan wangi tersebut, karena mereka sangat tidak percaya kepada Sang Pencipta, Allah (swt), mereka semua meninggal dunia. 

Malam itu, Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan rohaniah yang muncul pada saat itu, pada hari kelahirannya, beliau memberi tarekat melalui rohaniahnya–karena tubuhnya masih kecil–kepada 10.000 orang.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa melalui wangi Surgawi tersebut hubbud-dunya, kecintaan terhadap dunia dibersihkan dari hati 80.000 orang pada malam itu. Jadi ada 3 kejadian yang beliau sebutkan: 5000 orang atheis meninggal dunia, 10.000 orang mengambil bay’at melalui rohaniahnya, dan 80.000 orang diberisihkan hatinya dari kecintaan terhadap dunia.  

Grandsyekh mengatakan bahwa  pada hari kelahirannya, para Awliyaullah yang hidup di masa itu diperintahkan untuk untuk bergerak dengan tayyu ‘z-zamaan, dengan haqiqat untuk melipat waktu dan muncul di daerah Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan mereka bertasbih kepada Allah (swt) atas kelahiran Sayyidina Syah Naqsyband (q) yang akan memikul tanggung jawab dalam Tarekat Naqsybandi.  

Orang-orang munafik tidak dapat memahami kata-kata ini.  Kata-kata ini bukan untuk mereka.  Kata-kata ini adalah untuk orang-orang yang mencintai tasawuf, orang-orang yang menerima tasawuf dan bagi mereka yang mengerti kekuatan para Awliya.  Tidak ada yang dapat memahami kekuatan Awliya kecuali para Awliya itu sendiri.  Kekuatan itu berasal dari rahmatnya Nabi (saw) yang Allah berikan kepada beliau (saw).  

Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya mendengarkan dari Sayyidina Syekh Syarafuddin (q), tetapi beliau tidak hanya mendengarkan; beliau juga menyaksikannya.  Itu adalah kasyaf, seolah-olah beliau sendiri mengalami apa yang dikatakan oleh Syekh Syarafuddin (q).  Sekarang kalian menyaksikan siaran langsung, kalian melihat apa yang terjadi, tetapi tetap saja kalian hanya melihatnya di layar; sementara para Awliyaullah, mereka dapat merasakan apa yang terjadi, mereka menyaksikan, mereka mendengar, dan mereka merasakannya, itu yang dinamakan kasyaf. 

Jadi Sayyidina Syekh Abdullah ad-Daghestani (q) pada saat itu beliau mengalami apa yang dikatakan oleh Syekh Syarafuddin (q) kepadanya, “Wahai anakku, yaa waladi, wahai anakku, Syekh Abdullah ad-Daghestani--Syekh Syarafuddin (q) adalah pamannya.  “Wahai anakku, jangan menganggap bahwa hal itu sudah terlalu banyak. Itu belum apa-apa.  Sejak Allah menciptakan Sayyidina Syah Naqsyband (q) sampai beliau meninggalkan dunia, dalam setiap langkah yang beliau lakukan, sejak hari pertama, bahkan ketika beliau melangkah dalam gendongan ibunya, ada berapa langkah yang dilakukan ibunya atau jika seseorang menggendongnya, ayahnya atau saudaranya, siapa pun itu, berapa langkah yang mereka lakukan, itu akan dihitung dan seluruh langkah yang beliau lakukan sepanjang hidupnya, pada setiap langkah, dikumpulkan semua, Allah akan menciptakan malaikat sejumlah langkah yang beliau lakukan dalam hidupnya.  Dan para malaikat itu akan terus beristighfar dan istighfar ini akan dicatat bagi Ummatun Nabi (saw).  

Lebih jauh lagi, untuk setiap napas yang beliau lakukan, menghirup atau menghembuskan napas, Allah akan menciptakan malaikat untuk setiap napas yang dihirup dan dihembuskan, dengan rahasia mereka, sebagaimana ketika kalian menarik napas, kalian menghirup oksigen, di sini tidak, bukan hanya itu, beliau juga menghirup asrar, dan beliau menghembuskan asrar yang akan dikirimkan kepada para pengikutnya.  Ketika beliau menarik napas, beliau menghirup asrar dan ketika mengeluarkan napas, beliau akan menghembuskan asrar tersebut untuk disandangkan pada para pengikutnya.  

Dan beliau mengatakan, “Lebih jauh lagi,” Syekh Syarafuddin (q) mengatakan kepada Syekh Abdullah ad-Daghestani (q), beliau mengatakan, dan saya menyebutkannya di dalam buku Naqshbandi Sufi Way, bahwa ada sembilan Awliya yang mempunyai Sultan adz-Dzikir.  Saya menjelaskannya dalam buku itu.  Dalam setiap napas, Sultan adz-Dzikir masuk dan dalam setiap hembusan napas, Sultan adz-Dzikir dikeluarkan.  Apakah itu Sultan adz-Dzikir?  Apakah kalian mengingatnya?  Penjelasannya ada di dalam buku tersebut.  

Hanya ada sembilan Awliya yang mempunyai Sultan adz-Dzikir dalam seluruh Tarekat Naqsybandi.  Berapa lama waktu yang kalian perlukan untuk membaca seluruh al-Qur’an?  15 jam?  Hampir 15 jam, jika seseorang ingin membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir diperlukan waktu 15 jam untuk membacanya non stop, atau sekitar 16 jam.  Sultan adz-Dzikir tidak seperti itu.  Dengan Sultan adz-Dzikir ketika kalian menarik napas, kalian dapat menyelesaikan al-Qur’an dari awal sampai akhir, dan ini masih belum merupakan Sultan adz-Dzikir.  Ini adalah sesuatu kekuatan yang diberikan kepada Awliyaullah.  Dan ketika kalian menghembuskan napas, kalian menghembuskan dengan khatmil Qur’an, kalian menyelesaikan Qur’an dalam satu napas.  Dalam satu tarikan napas, kalian menyelesaikan satu al-Qur’an.  Allah memanjangkan waktunya sehingga kalian dapat menyelesaikan al-Qur’an dalam satu napas.  Ketika kalian mengeluarkan napas, kalian menyelesaikan al-Qur’an dalam satu napas.  Itu bukanlah Sultan adz-Dzikir, hal itu diberikan kepada banyak Awliya.   Allaahu Akbar, Allahu Akbar!  

Sultan adz-Dzikir, hanya 9 Awliya yang mempunyai kekuatan ini.  Ketika kalian menarik napas, kalian mengkhatamkan seluruh al-Qur’an, di mana pada setiap hurufnya disertai dengan 12.000 ilmu.  12.000 ilmu ini masuk dengan satu napas tersebut.  Hal itu tidak seperti ketika seseorang membaca, tidak!  Tetapi ia muncul dengan asrarnya, dan memberi kalian 12.000 makna.  Kalian mengeluarkan napas, kalian mengkhatamkan al-Qur’an dengan satu huruf 12.000 makna.  Makna pertama tidaklah seperti makna berikutnya.  Pada setiap napas yang kalian tarik, kalian menghirup ilmu yang berbeda dan setiap kalian kalian mengeluarkan napas kalian mendapat ilmu yang berbeda.  Untuk satu napas berapa lama kalian melakukannya?  2-3 detik?  Jadi 3 detik berikutnya, kalian mengkhatamkan al-Qur’an dengan asrar yang berbeda dari sebelumnya.  Dan ketika kalian mengeluarkan napas, muncul 12.000 asrar lainnya.  Beginilah kesembilan Wali itu membaca al-Qur’an. 

Kita membaca al-Qur’an seperti seorang pendongeng, kita melewatkan bacaan tersebut, tetapi karena kalian terhubung dengan Sultan al-Awliya ini, kesembilan Awliya ini, di mana salah satunya adalah Grandsyekh (Abdullah (q)) dan Mawlana Syekh (Nazim (q)) serta Syekh Syarafuddin (q), Sayyidina Syah Naqsyband (q) serta lima Wali lainnya.  Karena kalian terhubung dengan mereka, Allah (swt) akan memberi kalian berkahnya ketika kalian membaca al-Qur’an.  Itulah sebabnya semakin banyak kalian membaca halaman Qur’an dan kalian melewatkan jari kalian pada huruf-hurunya ketika kalian membacanya, atau tanpa melakukan seperti itu, bahkan jika kalian membaca satu juz seperti kita, atau 2 juz atau 3 juz, tetapi Mereka akan memberi asrar dari ilmu yang mereka busanai dari kesembilan Awliya ini ke dalam hati kalian.

Jadi Grandsyekh mengatakan bahwa dari napas pertama yang dilakukan oleh Syah Naqsyband (q) di dunia, ketika beliau dilahirkan hingga beliau wafat dalam usia 74 tahun, beliau bernapas, menghirup dan menghembuskan napasanya dengan Sultan adz-Dzikir, dan berkahnya akan dituliskan untuk Ummatun Nabi (saw).  

Pada umur satu tahun, Allah (swt) mengizinkan Nabi (saw) untuk menugaskan malaikat-malaikat dari golongan malaikat terdekat dalam Hadirat Allah (swt) dan Hadirat Nabi (saw) untuk membantu Syah Naqsyband (q).  Jadi Allah (swt) telah menugaskan para malaikat ini dan memberikannya kepada Nabi (saw) untuk kemudian diserahkan kepada Syah Naqsyband (q) untuk merawatnya dan mengajarinya ilmu-Ilmu Ilahiah.  

Itulah sebabnya mereka menyebut Sayyidina Syah Naqsyband (q) sebagai Ghawts.  Ini hanyalah untuk Maqam al-Ghawtsiyyah.  Ini adalah untuk level Ghawts di mana Allah akan menunjuk para malaikat yang akan mengajarinya dan merawat para Awliya. Jadi Sayyidina Syah Naqsyband (q) mempunyai kekhasan tersebut sebagaimana yang dimiliki oleh Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jilani (q).  

Grandsyekh mengatakan bahwa Allah juga memerintahkan Khidr (as) untuk selalu mendampinginya.  Khidr (as) tidak pernah meninggalkannya; beliau senantiasa mendampingi Sayyidina Syah Naqsyband (q) dan mengajarinya apa yang harus dilakukan serta membimbingnya bersama para malaikat yang telah ditugaskan untuk membimbingnya.

Ketika beliau masih muda, pada umur lima, enam atau tujuh tahun beliau bahkan sudah membimbing anak-anak seumurannya ke dalam tarekat.  Grandsyekh mengatakan bahwa sejak umur lima sampai tujuh tahun, Sayyidina Syah Naqsyband (q) dapat membawa lima ribu anak di daerahnya untuk masuk ke dalam tarekat karena kekuatan dari perkataannya, dari nasihat-nasihat yang diberikan; beliau melontarkan mutiara-mutiara–artinya ilmu-ilmu ke dalam hati anak-anak itu.  

Syekh Syarafuddin (q) melanjutkan pembicaraannya kepada Grandsyekh Syekh Abdullah al-Faiz Daghestani–semoga Allah (swt) memberkahi ruh mereka,  bahwa pada usia 15 tahun Sayyidina Syah Naqsyband (q) sudah mencapai transformasi rohaniahnya secara lengkap di mana beliau mampu mencapai maqam di Surga di mana rohaniahnya selalu berada di sana bersama para malaikat yang jumlahnya tak terhingga.  Itulah sebabnya ketika beliau bermunajat, doanya lebih tinggi 12.000 kali lipat daripada doa para malaikat pada maqam tersebut.  Nabi (saw) menunjuknya sebagai Wali untuk para malaikat tersebut di mana beliau membimbing mereka untuk memuji Nabi (saw) dan pujian-pujian tersebut akan dituliskan untuk ummatun Nabi (saw).  

Grandsyekh mengatakan ketika beliau mencapai usia 17 tahun, beliau mampu mencapai maqam kesempurnaan tertinggi, sehingga beliau disebut sebagai Ghawts, Ghawts al-Anaam, Ghawts az-Zamaan.  Beliau mencapai maqam kesempurnaan para Awliyaullah yang telah wafat sebelumnya dan mereka berada di  jannat al-barzakh.  Seberapa pun ketinggian maqam yang Allah berikan kepada mereka di alam Barzakhnya, Allah membusanai Sayyidina Syah Naqsyband (q) dengan semua itu dan beliau mampu mencapai maqam untuk sujud di bawah Arasy ar-Rahmaan. 


Di bawah Arasy itu terdapat sungai yang luas berisi makhluk yang tak terhingga.  Allah (swt) telah menciptakan mereka seperti Surga yang indah dari kaum pria dan wanita.  Kaum wanitanya berasal dari hur ul-`ayn dan sungai itu pun dipenuhi para pemuda sebagaimana yang disebutkan dalam Surat ad-Dahr (al-Insaan):

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا 

Wa yathuufu `alayhim wildaanun mukhalladuun idzaa ra’aytahum hasibtahum lu’lu’an mantsuuraa

Mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda. Apabila melihatnya, kamu akan mengira bahwa mereka adalah mutiara yang bertaburan. (QS Al-Insaan, 76:19)

Allah berfirman di dalam Surat ad-Dahr, bahwa mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda, wildaanun mukhaladuun, pemuda yang tetap muda, mereka tidak menua, mereka tetap muda dan mereka semua melakukan tawaf secara terus-menerus.  Jika kalian melihat mereka, kalian melihat para pemuda ini seperti mutiara-mutiara putih dan itulah sebabnya dikatakan bahwa itu adalah sungai yang berwarna putih.  Grandsyekh mengatakan bahwa kalian tidak dapat menghitung jumlah mereka, tidak ada awal dan akhirnya. 

Ketika Syah Naqsyband (q) berusia 17 tahun, beliau diangkat untuk melakukan sujud di bawah Arasy ar-Rahmaan, dan pada maqam tersebut terdapat sungai putih yang penuh dengan hur al-`ayn dan para pemuda sebagaimana yang baru saja kita gambarkan dan mereka semua mendengarkan nasihat beliau. Apa pun yang diajarkannya, mereka mendengarkannya.  Sayyidina Syah Naqsyband (q) menugaskan para hur al-`ayn dan para pemuda itu untuk berkhidmah pada Ummatun Nabi (saw); untuk murid ini 10, untuk murid ini 1000, untuk murid ini 1 juta dan seterusnya; dan ini adalah salah satu dari keistimewaan beliau.

Ini adalah gambaran sekilas tentang Awliyaullah.  

Grandsyekh mengatakan bahwa ketika beliau berusia 19 tahun, Nabi (saw) memanggil seluruh Rasul dan Nabi-Nabi lainnya untuk membusanai beliau dengan kekuatan mereka agar beliau dapat mengajarkannya kepada Ummatun Nabi (saw) baik yang muncul sebelumnya maupun setelahnya hingga Hari Kiamat.  Itu adalah sebuah keistimewaan bagi Sayyidina Syah Naqsyband (q), bukan hanya orang-orang yang muncul di zamannya, tetapi juga mereka yang hidup sebelumnya hingga Sayyidina Adam (as) dan mempersiapkan mereka untuk Hari Perhitungan agar mereka dapat diampuni.  

Grandsyekh mengatakan bahwa beliau selalu berada di sisi kanan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra).  Beliau selalu bersama Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (ra) dan menyerap ilmu dari hatinya dan kemudian menyampaikannya.  

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, semoga Allah memberkahi kita dan saya pikir ini sudah cukup mengenai Sayyidina Syah Naqsyband (q).  Kita dapat melanjutkannya lagi nanti. 

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmatil Fatihah.

https://sufilive.com/Fifty-Four-Thousand-Stories-about-The-Greatness-and-High-Rank-of-Shah-Naqshband-q--1613.html

© Copyright 2009 by Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

11 December 2011

Urs Shah Naqshband (q)


Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q)

Singapore, 11 December 2011

Today is 15th of Muharram, today is also urs of Sayyidina Shah Naqshband (q). His beard is as wide as your hand goes and I saw it one time (streches from shoulder to shoulder) and he was not tall and his teeth were silver not gold. Always Sultan has silver because Prophet (s) is the golden tajalli and Sultan al-Awliya is silver to show the difference and his beard was so wide and long to the knees, I saw it one time.

15 August 2011

Keajaiban dari Syah Naqsyband

Mawlana Syah Naqsybandi, Imam al-Thariqat wa Hujat Allahi Shaykh al-
Akbar


Keajaiban dari Syah Naqsyband

Audzu billahi min asy-Syaythan ir-rajiim. Bismillah ir-rahman ir-
rahiim. Dastuur ya sayyidi madad. Nawaytul arba`iin, nawaytul ‘itikaf,
nawaytul khalwa, nawaytul `uzla, nawatul riyaadha, nawaytus suluk, fii
hadzal masjid lillahi ta`ala al-`azhiim.

oleh Mawlana Syekh Hisyam Al-Kabbani


Kini saya akan meriwayatkan salah satu kisah dari Sayyidina Syah Naqsyband {q}, yang merupakan Imam Tarekat Naqsybandi dan seorang `alim di masanya.
Beliau adalah seorang ulama yang langka, baik dalam ilmu syariah maupun ilmu hakikat. Beliau dikenal dengan sebutan dzu-janahayn, pemilik dua sayap, menguasai dua cabang ilmu pengetahuan: yang pertama beliau bagikan kepada semua orang, dan yang kedua beliau berikan kepada para pengikutnya. Beliau juga dikenal sebagai Sultan al-`Arifiin, Sultan orang-orang yang arif.

Sayyidina Syekh Syarafuddin meriwayatkan hadis inda dzikr as-sulaha
tanzal ar-rahma; yang artinya, setiap kali nama awliya disebutkan, rahmat Allah akan turun pada kelompok tersebut, karena mereka menyebutkan para awliya-Nya. Turunnya rahmat itu merupakan rahasia yang dibukakan oleh Sayyidina Grandsyekh Syarafuddin dan Grandsyekh AbdAllah al-Faiz selama khalwat mereka, ketika mereka menerima rahasia dari syekh-syekh mereka dan dari Nabi (s).

Grandsyekh Syarafuddin ad-Daghestani berkata, “Ketika kisah dari para awliya dan detail kehidupan mereka disebutkan, dosa-dosa para pendengarnya akan hancur berkeping-keping seperti pecahan kaca.”

Menjadi seorang ulama besar di masanya, beliau menyebutkan bahwa Ibn Hajar al-Haytami sering menempuh satu atau dua hari perjalanan (dahulu mereka mengukur jarak dalam jam atau hari), untuk mendengarkan uraian yang disampaikan oleh syekh Naqsybandi. Salah satu kisah yang disampaikan adalah mengenai Muhammad Bahauddin an-Naqshband (Syah Naqsyband) dari Bukhara, yang kini dikenal sebagai Uzbekistan.

Ketika beliau mencapai usia tujuh tahun, Syah Naqsyband dibawa untuk bertemu dengan semua ruh anbiyaullah dan rasul-rasul-Nya dalam hadirat Sayyidina Muhammad {s}. Di hadirat Nabi {s}, usia tidaklah signifikan, hanya ruh yang signifikan.

Jadi Syah Naqshband telah sampai di hadirat suci tersebut pada usia tujuh tahun: beliau adalah orang yang unik, tak seorang pun di antara seluruh pengikut Naqsybandi di masa itu yang dapat menyamai levelnya.

Di hadirat Nabi {s} tersebut, Sayyidina Musa {as} bertanya pada Syah Naqsyband, {{{{{{{{{{{{{{{{ Ya Fard al-`Alam, }}}}}}}}}}}}}}} “Kapan kau ditunjuk sebagai mursyid bagi umat manusia?” Syah Naqsyband {q} menjawab, “Aku adalah seorang Mursyid ketika para Awliya belum ada sepenuhnya.” (Artinya, “Aku adalah Mursyid sebelum Allah menciptakan para Awliya.”) Beliau tidak berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi mengenai rahasia yang diberikan oleh Nabi (s) kepadanya, pada level itu, di dalam keadaan ekstasi yang unik.

Kemudian Sayyidina Musa berkata, “Jelaskan, kami ingin tahu.” Sayyidina Syah Naqsyband {q} menerima dari jalur Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq {r}, jadi karena adab terhadap Sayyidina Musa {as}, Abu Bakr as-Siddiq menjawab, “Wahai Musa! Ketika Syah Naqsyband berbicara kepadamu, itu berasal dari level yang ia wariskan dari Nabi Muhammad {s}, dan dari level itu, itu adalah satu dari empat puluh sembilan bagian dari nubuwwat. Dari rahasia level itu, ia menjawabmu.” Kemudian Abu Bakr melihat pada Sayyidina Syah Naqsyband, memberi tanda untuk menanggapi pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Syah Naqsyband {q} menjawab, “Aku adalah seorang Mursyid ketika belum ada Awliya, sebelum mereka dianugerahkan posisinya di Hari Perjanjian, yawma alastu birabbikum. Sejak saat itu aku sudah menjadi Mursyid, dan Allah mengizinkan aku untuk menjaga para pengikutku dan rezeki mereka, dan membimbing mereka ketika para Awliya belum benar-benar ada.”

Sayyidina Musa mengulangi lagi, “Jelaskan.”

Sayyidina Syah Naqsyband melanjutkan, “Aku diberikan maqam kewalianku sebelum seluruh wali diberikan maqam kewaliannya dari Tarekat Naqsybandi. Dan aku menerimanya ketika aku masih di dalam alam atom. Allah menciptakan aku dua puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan para awliya Naqsybandi, dan aku berada dalam tarbiyah dan inayah Nabi {s}. Kemudian Allah menciptakan seluruh awliya yang lain dan mereka muncul setelah 17,000 tahun. Ada perbedaan waktu selama 10.000 tahun antara realitas perwujudanku dengan mereka. Itulah yang kumaksud.”

Hal itu terjadi ketika Syah Naqsyband berusia tujuh tahun, ada itu adalah irsyad beliau yang pertama dalam kehadiran para anbiya, awliya-ullah dan sahaba.

Allah menganugerahkan Syah Naqsyband 12.000 keistimewaan. Salah satu dari keistimewaan ini, untuk memberikan gambaran kepada kalian mengenai keistimewaan yang lain (dan ini adalah salah satu keistimewaan yang biasa) adalah kekuatan untuk memfokuskan pandangannya ke seluruh alam semesta ini 363 kali dalam dua puluh empat jam, mencakup seluruh alam semesta.

Beliau mampu melihat 363 kali setiap hari pada setiap makhluk, setiap manusia, melihat apa yang mereka lakukan, termasuk kondisi rezekinya, keadaan urusan mereka, masalah dan kesulitan mereka. Tidak hanya itu, beliau juga mampu melihat setiap bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya.

Inilah salah satu dari keistimewaan dasarnya.

{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{ Pada kesempatan kunjungan pertamanya itu, beliau berdoa, “Wahai Tuhanku, jangan biarkan seseorang yang menjadikan aku sebagai mursyidnya dan orang yang muncul setelah aku atau sebelum aku hidup tanpa memperoleh dukungan-Mu.” }}}}}}}}}}}}}}

Seluruh malaikat di langit berkata, “Amiin.”

Grandsyekh mengatakan bahwa berkah dari doa itu muncul empat kali dalam setahun dan perlindungannya dikirimkan kepada para pengikut Syah Naqsyband empat kali dalam setahun. {Sayyid Shalawat} Yang pertama adalah pada tanggal 14 Muharram, hari kelahiran Syah Naqsyband; kemudian pada hari pertama bulan Ramadan, hari kelima belas bulan Ramadan, dan pada saat Laylat al-Qadr.

Pada hari-hari yang istimewa dalam setahun ini, Allah mengirimkan perlindungan khusus kepada para pengikut Syah Naqsyband. Siapa pun yang memasuki Tarekat Naqsybandi, ia akan dilindungi dari semua sisi.

Ketika Allah menciptakan Awliya, setelah 17.000 tahun (10.000 tahun setelah penciptaan Syah Naqsyband), mereka muncul ke Alam Hakikat, berbicara kepada hakikat dari Syah Naqsyband, dan meminta beliau agar diterima di Tarekat Naqsybandi demi Nabi Muhammad {s}.

Beliau menerima 7007 di antara mereka untuk menjadi wali, dan masing-masing diberikan 12,000 ilmu dari setiap huruf Al-Qur`an yang mereka baca.

Syah Naqsyband mencari perbedaan ini demi Nabi Muhammad {s}, dan ketika beliau memintanya, Nabi {s} memandangnya dan mengangkatnya untuk setiap huruf Qur’an dikalikan dengan 12.000 ilmu yang diberikan pada setiap huruf kepada awliya ini. Untuk setiap 7007 awliya ini level Syah Naqsyband diangkat sebanyak itu.

Kita katakan bahwa ada 70.000 hijab kegelapan antara kita dengan hadirat Nabi {s}. Semakin kalian dekat dengan Nabi {s}, hijab terakhir membuat kalian merasa sangat jauh dari realitas Nabi {s}. Karena untuk berada dekat dengan hadirat Nabi {s}, isyq kalian akan membuat kalian merasa sangat jauh darinya.

Dari maqam ilmu tersebut, Syah Naqsyband {q} mengungkapkan, “Ketika awliya-ullah menghancurkan hijab-hijab tersebut dan mendekati hadirat Nabi {s}, ada lebih dari 700.000 hijab yang harus dilewati untuk mencapai hakikat dari Hadirat Nabi {s}. Aku telah melewati tempat di mana tidak ada orang yang pernah mencapainya sebelumnya.”
Hal itu serupa dengan kisah Sayyidina Bayazid al-Bistami. Ketika beliau dilempari batu dan disiksa oleh sukunya, beliau pergi ke laut, menaiki kapal dan berdoa, “Wahai Tuhanku! Bawalah aku ke tempat di mana aku merasa bahagia.” Setelah itu, kapal mulai terombang-ambing dalam gelombang tinggi. Kapten kapal berkata, “Pasti ada seorang pendosa besar yang menaiki kapal dan menyebabkan bencana besar ini!” Sayyidina Bayazid al-Bistami berkata, “Akulah orang itu, lemparkan aku ke laut.”

Beliau berkata kepada dirinya sendiri, “Aku akan memasuki samudra itu dan Aku akan mencari Hadirat Allah.” Segera setelah beliau dilemparkan ke laut, air laut berhenti bergejolak, dan Sayyidina Bayazid, tanpa memikirkan tujuan lain dan menggunakan kekuatan spiritualnya yang maksimal, mulai terjun ke dalam Samudra (realitas?) itu pada kecepatan yang di atas kecepatan cahaya, hingga beliau mencapai sebuah tempat yang sungguh gelap dan kosong. Kemudian beliau mendengar sebuah suara yang Grandsyekh gambarkan sebagai, “Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu.”

Sayyidina Bayazid telah dikaruniai kekuatan spiritual yang istimewa, serupa dengan yang dimiliki oleh Syah Naqsyband, kekuatan yang beliau gunakan untuk menghitung jumlah semua orang yang ada di lokasi itu yang mengucapkan bunyi, “Huuuu…”

Namun meskipun telah menggunakan seluruh kekuatannya, beliau tidak bisa menghitungnya. Grandsyekh berkata bahwa Sayyidina Bayazid kemudian menyadari bahwa ini adalah suatu hadirat yang tidak bisa beliau raih, dan beliau tahu itu adalah Syah Naqsyband dan para pengikutnya yang mengucapkan, “Huuuu…”

Meskipun Syah Naqsyband muncul berabad-abad setelah Sayyidina Bayazid al-
Bistami, beliau dapat mencapai hadirat spiritual Syah Naqshband bersama murid-murinya. Dan Sayyidina Bayazid al-Bistami merasa khawatir, mengantisipasi apakah Syah Naqsyband akan menanyainya, “Mengapa kau ada di sini?” dan kemudian mengusirnya pergi, karena awliya menjaga pengikut mereka dan tidak menginginkan wali lain berada di dalam teritori mereka.

Bihurmat al habiib wa bi hurmat al-Fatiha. Demi kehormatan al-Habib, kita bacakan Surat al-Fatiha.

http://nurmuhammad.com/NaqshbandiSecrets/miraclesofshahnaqshband.htm



30 July 2008

Tidak ada yang Diciptakan dengan Sia-Sia

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berbicara tentang Syekh Alauddin al-Bukhari QS, khalifah dari Syah Naqsyband QS pilar utama Tarekat Naqsyabandi. Grandsyekh mengatakan bila Syah Naqsyband QS tidak ada, maka Tarekat Naqsyabandi tidak akan pernah ada. Grandsyekh memuji Syekh Alauddin QS, dengan mengatakan bahwa beliau adalah seorang yang besar dan mengetahui rahasia hikmah dari keberadaan setan di alam semesta. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Beliau adalah salah satunya di antara para ulama di masanya. Semua awliya tahu, tetapi bagi ulama, hanya sedikit yang mengetahuinya. Grandsyekh bertanya, “Apa manfaatnya dengan mengetahui hikmah keberadaan setan?” Jika orang mengetahui hal ini, dia akan mampu menaklukan setan. Siapa pun yang tidak mengetahui hal ini, tidak akan bisa menaklukannya, dia pasti berada di bawah kekuasaannya. Ini adalah hal yang sangat penting dalam setiap agama. Setiap rasul dan awliya mengetahui hal ini dan menjadikan mereka mampu menghadapinya dan menjadikan setan di bawah kendalinya.

Ketika mengetahui hal ini, kalian bisa menjadi pemimpin bagi setan, ego, dunia, dan keinginan untuk menonjolkan diri, bukan mereka yang memerintah kalian. Keempat musuh ini jika tidak dikontrol mereka akan sangat berbahaya. Jika kalian dapat mengontrolnya, mereka akan memberi manfaat yang tidak terhingga. Sebagaimana halnya dengan listrik, jika tidak dibungkus dengan kabel pelindung, dia sangat berbahaya, bisa membunuh. Jika bisa mengontrol keempat musuh tadi, mereka akan sangat berguna bagi kalian. Kalian bisa mengendarainya menuju surga. Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Orang-orang Amerika meminta rahasia dari kekuatan listrik, Allah SWT memberikannya kepada mereka. Kepada orang yang meminta, Allah SWT berjanji untuk mengabulkannya. Jika kalian mengetahui cara menggunakannya, segala sesuatu akan bermanfaat.

Banyak sekali ciptaan Allah SWT, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Setan adalah salah satu yang tidak terlihat, tidak terlihat oleh mata biasa, tetapi rasul dan awliya dapat melihatnya. Sebelumnya, setan benar-benar tampak di hadapan manusia, tetapi setelah masa Rasulullah SAW, setan dicekal untuk tampak.

Sayyidina ‘Ali RA, KW adalah salah seorang tokoh yang terhormat bagi seluruh orang. Beliau tidak akan berjalan di depan orang yang lebih tua. Suatu kali di masa Rasulullah SAW, beliau membuka pintu rumahnya dan pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Subuh. Baru saja keluar beliau melihat seorang tua yang berjalan dengan lambat di depannya. Untuk menghormatinya Sayyidina ‘Ali RA, KW berjalan lambat di belakangnya sampai mencapai masjid. Tetapi melihat orang itu tidak masuk ke masjid dan malah menghindarinya, dan melihat di dalam Rasulullah SAW telah bangkit dari sujud di rakaat pertama, Sayyidina ‘Ali RA, KW mengerti bahwa orang tua itu adalah setan, datang untuk membuatnya terlambat mengikuti salat berjamaah. Dengan cepat beliau merenggut lehernya dan meletakkannya di bawah sebuah batu besar. Setelah salat Rasulullah SAW bertanya, “Wahai ‘Ali RA, KW apa yang terjadi?” Beliau menjawab, “Wahai Rasulku, Engkau mengetahui apa yang terjadi. Musuh Allah SWT telah menipuku sehingga Aku kehilangan satu rakaat.” Rasulullah SAW dan para Sahabat keluar untuk melihat setan yang menggeliat di bawah batu, Sayyidina ‘Ali RA, KW sangat marah. Baginya satu rakaat di belakang Rasulullah SAW lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Beliah berkata, “Aku berniat untuk meninggalkannya di sini sampai hari kiamat, tetapi Aku tunduk kepada perintahmu wahai Rasulku.” “Wahai ‘Ali RA, KW jangan menjadi perampok. Jika engkau membiarkannya di sini, berarti engkau telah memotong jalan bagi seluruh umatku dalam mecapai maqam mereka di Hadirat Ilahi, menghilangkan derajat berperang mereka. Jangan cemaskan dia, dia hanyalah seorang budak bagi umatku. Akan banyak yang mencapai derajat yang tinggi karena memeranginya.” Maksud beliau kita sekarang lebih kuat daripada setan dan beliau mengisyaratkan kepada kita hikmah yang tersembunyi bahwa setan adalah alasan utama untuk peningkatan kehidupan spiritual. Kalian dapat menerimanya dan mendapat manfaat darinya. Kendarai dia dan pergilah, kalian bisa mencapai maqam mana saja dalam Hadirat Ilahi.

Grandsyekh berkata bahwa jika kalian mengetahui bahwa dalam setiap kejadian selalu ada hikmah yang tersembunyi, dan kalian mencarinya setalah kejadian itu, maka kalian akan menemukan kedamaian dan kepuasan. Jika orang tahu bahwa setiap kejadian ada hikmahnya, maka tidak ada kesulitan bagi mereka di bumi. Allah SWT tidak pernah mengizinkan sesuatu muncul tanpa mengandung hikmah. Grandsyekh berkata bahwa Sayyid Jamaluddin al-Ghumuqi QS suatu ketika sedang duduk, di hadapannya ada seorang murid dan sepiring apel. Beliau mengambil satu apel dan melemparkannya ke udara, dan sebelum jatuh beliau melemparkan lagi yang lain, lalu menangkap keduanya dan meletakkannya kembali. Murid itu berkata, “Wahai tuanku, Aku tahu bahwa engkau tidak sedang bermain, tidak ada perbuatanmu yang tidak mengandung hikmah. Apa hikmah di balik peristiwa tadi wahai tuanku?” Baliau berkata, “Wahai anakku, baru saja kemurkaan Allah SWT datang bersama malaikat pencabut nyawa kepada dua orang yang kita kenal. Dengan melemparkan apel membuat kemarahan Allah SWT hilang dan kasih sayang turun ke tempat ini. Sekarang mereka akan datang memberitahu kita.” Kemudian ada sebuah ketukan di pintu, orang itu memberitahu bahwa dua orang baru saja meninggal, apakah beliau berkenan untuk menghadiri upacara pemakaman. Ketahuilah bahwa dalam setiap tindakan terdapat kehendak dari Sang Pencipta. Kalian harus menjaga perilaku baik ini, dengan demikian perilaku baik itu akan menjagamu. Setiap orang yang mencari hikmah di balik setiap peristiwa, Allah SWT akan menjaganya, tidak ada kejahatan yang akan menimpanya. Setiap saat mintalah diberikan hikmah atas segala peristiwa yang terjadi di sekeliling kalian. Ketika orang mengambil hikmah ini, dia akan menemukan kedamaian dalam dirinya, tidak ada hal yang mengganggu.


11 July 2008

Menyelam dalam Samudra Makrifat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
21 Januari 2005

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya) SAW, dan orang-orang yang berwewenang di antara kalian. [QS 4:59]

Wa rahmatii wasi`at kulla syay-in fa sa-aktubuhaa lilladziina yattaquun.

Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa. [QS 7:156]

Dalam firman-Nya itu rahmat bagi siapa? Bagi yang bertaqwa. Dan apa hasil dari ketaqwaan? ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jadilah seorang yang alim maka Allah SWT akan mengajarimu. [QS 2:282]

Seluruh kekayaan dunia adalah sia-sia. Itulah yang mereka cari; ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Awliya yang sedang menunggu makrifat, pengetahuan, pencerahan.

Saat kalian dicerahkan maka kalian mempunyai hikmah, jika kalian mempunya hikmah maka kalian akan menerima pengetahuan Nabi SAW, `ulum al awaliin wal-akhiriin. Nabi SAW akan meneteskannya dari samudra makrifat. Samudra makrifat tidak berawal dan tidak berakhir; seperti ombak di tepi laut, terus-menerus bergulung sampai ke pantai, membawa segalanya dari dalam laut dan dimuntahkan ke pantai.

Makrifat juga meringkas sari pati dari samudra pengetahuan dan memuntahkannya di tempat orang alim berdiri, ia terus memandang pengetahuan itu, dan karena ombak berasal dari samudra menuju pantai; seorang waliyullah, hatinya laksana sebuah samudra yang memompa dari dalam menuju permukaan hatinya, memuntahkan pengetahuan-pengetahuan tersebut, terus tanpa berhenti.

Itulah mengapa hati mereka selalu terhubung dengan sumber utama, dan getarannya selalu bergerak dan bergerak, dan saat bergerak mampu menginspirasi hati yang meratap apa yang harus di katakan dan bicarakan.

Ada awliya yang sedang di pantai menerima gelombang ini. Beberapa sedang melayarinya dan sebagian lagi bergerak di tengah samudra dan menerima pengetahuan-pengetahuan dari dalam. Ada yang menyelam, mengambil sari patinya menuju permukaan. Mereka yang menyelam lebih kuat daripada yang berlayar, mereka yang berlayar mengirimnya ke pantai.

Mereka yang telah menyelam dan mampu melihat serta mempelajari pengetahuan-pengetahuan adalah yang mampu memahami dan belajar. Itulah yang terjadi pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, ketika Allah SWT memintanya untuk menjadi sampah bagi umatnya. Dan beliau mengarang cerita agar orang-orang membencinya, menyalahkan dan menuduhnya melakukan bid'ah. Kemudian melemparinya dengan batu dan melemparnya ke tempat sampah.

Setelah cerita itu, dan kalian pun mengetahuinya, beliau pergi ke pantai dan berlayar. Di tengah laut ada badai dan kapal pun bergerak ke kanan dan ke kiri, dan ketika akan tenggelam kapten kapal berkata, “Pasti ada orang jahat di sini. Badai itu datang tiba-tiba entah dari mana. Pastilah ada pendosa di kapal ini. Kami akan menulis nama orang-orang dan mengambil salah satu untuk diceburkan ke laut.” Bayazid QS tertawa, “Mereka pasti akan melempar seorang yang tak berdosa.” Beliau pun berkata, “Biarkan mereka mengorbankan aku.” Itulah bagaimana seorang awliya mengorbankan dirinya.

Beliau pun dilemparkan ke dalam laut yang gelombangnya sangat besar. Namun karena Bayazid al-Bistami QS berada dalam pelayaran samudra (makrifat-penerj.), beliau pun lebih besar dari samudra itu. Beliau membawa makrifat dalam hatinya. Samudra yang nyata itu tidak ada apa-apanya. Samudra nyata itu bergejolak dan menakutkan Bayazid QS yang berada di permukaan. Dari ketakutan serta kebahagiaan menjadikannya dalam gerakan, menghasilkan badai, tak ada kebahagiaan dan tak ada ketakutan. Jangan berpikir bahwa menjadi seorang awliya adalah mudah.

Itulah samudra di puncak samudra. Saat Bayazid QS menyeburkan dirinya di samudra luas itu, samudra air itu, menjadi tidak ada apa-apanya di depan seorang wali yang membawa makrifat, seseorang yang telah mengalami pencerahan. Maka lautan itu pun ditundukkan. Sayyidina Bayazid QS menuju ke dalam dan berkata, “Ya Rabbi! Engkau telah mengujiku dengan membuatku seperti sampah, aku membuat diriku sendiri menjadi sampah. Engkau telah mengujiku di samudra itu dan aku pun masuk ke samudra itu.”

Kemudian beliau mulai bergerak, lebih cepat dari kecepatan cahaya, yaitu dalam kecepatan hati.

Kecepatan hati lebih cepat dari kecepatan pikiran. Kecepatan pikiran adalah di mana kalian berpikir, seketika itu pun kalian berada di sana. Jika seorang wali berpikir bahwa ia sedang berada di matahari, sedetik kemudian ia pun berada di sana; di Mars, ia pun berada di Mars, di Venus, ia pun ada di Venus, di Pluto ia pun berada di Pluto. Dengan segera bayangan yang sempurna dari aslinya akan muncul di sana. Itulah kecepatan pikiran.

Maka bayangkan kecepatan hati itu. Saya tidak diizinkan untuk menjelaskannya. Kemudian beliau bergerak bersama kecepatan hati sampai akhirnya menuju tempat yang hanya terdengar “Huuuuuuuuuuuu,” tak ada yang lain.

Diam total kecuali “Huuuuuuuuuuu,” sebuah suara yang penuh keagungan. Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, Allah SWT menganugerahkan beliau kekuatan lewat Nabi SAW, bahwa jika beliau ingin menghitung jumlah seluruh populasi manusia saat itu, beliau pun dapat menghitungnya dalam 5 menit, seluruhnya dengan kekuatan itu.

Suatu saat Sayyidina `Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, salah satu awliya besar, sedang berjalan dan mendapatkan inspirasi dan beliau mendengar sebuah suara, “Wahai `Abdul Khaliq QS, pergilah ke suatu tempat di hutan. Lewati hutan itu dan teruslah berjalan sampai engkau tidak menemukan tumbuhan dan hanya sebuah batu yang besar.

Pukullah batu itu (dengan peralatanmu). Segera setelah kau pukul batu itu, maka air akan keluar lebih deras dari sebuah air terjun (lebih deras daripada air terjun Niagara), air yang besar akan keluar dari batu yang kau pukul.

Di setiap tetes air, Aku ciptakan satu malaikat yang akan memuji-Ku sampai Hari Pengadilan kelak. Aku ingin kau memberi malaikat-malaikat itu masing-masing dengan nama yang berbeda dari malaikat lain dan kau tak boleh mengulang tiap nama 2 kali. Air itu akan mengalir sampai Hari Pembalasan kelak. Dan engkau bertanggung jawab untuk memberi nama masing-masing malaikat dan tidak boleh ada yang diulang 2 kali. Kemudian Aku ingin, seluruh puji-pujian dari malaikat ini, harus dibagi-bagikan di antara mereka yang mengikuti Tarekat Naqsybandi.”

Itulah sebuah hal yang istimewa yang diberikan pada Syekh `Abdul Khaliq QS seperti yang diberikan pula pada Sayyidina Bayazid QS.

Grandsyekh mempunyai sesuatu yang istimewa begitu pun Mawlana Syekh juga mempunyai suatu keistimewaan, namun tidak ada izin untuk membicarakan keistimewaan tersebut.

Itulah keistimewaan para awliya. Bagaimana beliau mampu memberi nama malaikat-malaikat tersebut tanpa makrifat?

Pergilah kalian ke pusat data semua orang, pusat data secara global. Berapa banyak nama yang mirip satu dengan lainnya? Seluruhnya 6 milyar, dan semuanya saling berbagi nama. Adalah mustahil bagi mereka untuk punya nama yang berbeda.

Bayangkan dari setiap tetes, satu malaikat diciptakan. Bukan 6 milyar, bukan 100 milyar, bukan 1 triliun, bukan 10 triliyun, bukan 1 qadriliyun atau pun 1 cinqotriliyun. Lalu bagaimana ia menamai mereka tanpa Allah SWT memberinya kekuatan melalui Nabi kita SAW.

wat
taquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jika kalian bertaqwa, kalian akan mampu belajar. Itulah Makrifatullah, darinya kalian dapat memberi nama-nama. Itulah mengapa Syekh Syarafuddin QS melalui makrifat mampu memaparkan nama-nama awliya di zaman Imam Mahdi AS. Beliau mampu memaparkan 49 deputi dan 50 khalifah dari Imam Mahdi AS.

Beliau menurunkannya pada Grandsyekh dan beliau pun menurunkannya pada Mawlana Syekh dan menyuruh saya untuk menuliskannya. Kami mempunyai hal itu.

Rahmat-Ku meliputi segalanya dan kami akan menuliskannya bagi mereka yang mempunyai kebajikan. Dan mereka yang berada dalam kebenaran, maka Allah SWT akan mengajarinya.

Beri mereka nama-nama. Ambil dari nama-nama dalam kitab suci Al-Quran. Wa laa rathbin wa laa yabis illa fii kitabin mubiin. dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. [QS 6:59]

Mari kita kembali pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS …

Maka ia pun pergi, dan cerita tentang Sayyidina `Abdul Khaliq QS adalah suatu hal yang besar. Berapa banyak puji-pujian dari seluruh malaikat ini pada para pengikut rantai emas. Berapa banyak puji-pujian yang akan kalian terima, bergembiralah! Kalian telah mengambil bay'at dan kalian menjadi bagian dari rabithah itu, rantai itu yang menghubungkan orang-orang bersama atau seperti biji-biji tasbih dalam satu tali ikatan.

Yurbut, berarti untuk mengikat segalanya. Maka Sayyidina Bayazid QS berkata, “Aku tak akan datang sampai aku mencapainya.” Maka dengan kecepatan hati, beliau bergerak sampai beliau mendengar “Huuuuuuuu,” tak terhingga. Beliau sanggup menghitung jumlah manusia yang hidup dalam 5 menit. Namun untuk hal yang satu ini beliau tak mampu menghitungnya.

Lalu beliau mendengar ruh Sayyidina Syah Naqsyband QS dan itu pun sebelum beliau ada di dunia ini, sebelum kelahirannya. Dan seluruh ruh-ruh Naqsybandi hadir di bawah tarbiyyah Syah Naqsyband QS dan mereka melafazkan “Huuuuuuuu” dalam satu suara berkelanjutan tanpa bernapas; kemudian menarik napas ke dalam. Kalian hanya bernapas di dalam. Itu adalah udara kalian ketika masuk, bernapas adalah untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Tidak ada napas keluar, karena itu adalah suci dan bersih, tak ada polusi. Amat bersih. Itu hanyalah satu suara berkelanjutan yang kalian terus keluarkan, tak perlu mengambilnya ke dalam. Karena kalian telah didandani dan dilempar ke lautan makrifat.

Maka Sayyidina Bayazid QS pun merasa takut. Ada suara dalam hatinya, “Oh Bayazid QS apa yang kamu lakukan dalam daerahku?” Ketika mendengar ini, beliau pun menjadi takut dan berbalik kembali.

Lalu beliau pun menyadari bahwa ada sebuah pengetahuan di atas pengetahuannya. Makrifat akan selalu meningkat. Seperti Nabi SAW selalu dalam peningkatan, mengambil dan memberinya pada awliya sehingga mereka juga selalu dalam peningkatan.

Dalam majelis para awliya, Nabi Muhammad SAW, mereka bertemu dengan ruh nabi (Nabi Muhammad SAW secara spiritual) setiap kamis malam. Dan dalam pertemuan itu, Sayyidina Bayazid QS berkata, “Ya Rasulallah SAW, mengapa seluruh Naqsybandi, sampai saat ini (pada masa Grandsyekh `Abdullah QS, selama berkhalwat di Madinah, beliau bertutur tentang penglihatan tersebut. Beliau berkata bahwa beliau selalu duduk di sebelah kanan Nabi SAW karena beliau adalah syekh yang masih hidup, dan yang masih hidup selalu di tingkat yang paling tinggi.)

Abayazid QS berkata, “Ya sayyidi, ya Rasullalaah SAW. Aku mempunyai pertanyaan. Mengapa seluruh pengikut Grandsyekh, saat mereka melafazkan Surat al-Fatiha dalam ihda, mereka menyebut Syah Bahauddin Naqsyband QS. Jika mereka mau menyebutkan namaku, aku akan meletakkan mereka pada samudra yang pernah aku lihat sebelumnya. Aku akan membawanya ke mana aku berdiri, di pantai lautan makrifat yang belum pernah seorang pun menginjakkan kaki di sana.”

Lalu Sayyidina Grandsyekh Syarafuddin QS berbalik dan memberi jawaban setelah memperoleh izin. Beliau berkata, “Tempat di mana engkau berdiri adalah awal dari sebuah samudra. Itulah sebabnya kau tak mampu melihat sisi lain dari samudra di mana Syah Naqsyband QS sedang berdiri. Jika mereka memberimu Fatiha, maka benar kau akan membawa mereka ke mana engkau berada. Namun bila diberikan pada Syah Naqsyband QS maka mereka akan mencapai di mana beliau berada.”

Sebagian berlayar, sebagian berenang. Itulah Makrifat.

Semoga Allah SWT merestui kita dengan makrifat dan menghiasi kita dengan makrifat yang barakah dari syekh kita dan barakah dari Nabi SAW.

Wa min Allah at tawfiq

06 July 2008

Samudra Syah Naqsyband QS

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [QS An-Nisaa, 4: 59]. Kita harus mematuhi Allah SWT, kita harus patuh kepada Rasulullah SAW, dan kita harus mematuhi para pemimpin kita. Hal ini harus dipegang dalam melakukan apa yang mereka katakan kepada kita dan dalam mengikuti jalan yang telah mereka tunjukkan kepada kita. Kita percaya bahwa kita membutuhkan bimbingan dalam menunjukkan jalan bagi kita—bukan berati kita tidak membutuhkannya, seperti yang dikatakan oleh sekelompok orang dewasa ini. Sebagaimana Allah SWT memberikan Rasulullah SAW seorang pemandu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam wujud malaikat Jibril AS. Sebagaimana malaikat Jibril AS adalah pemandu bagi Rasulullah SAW untuk mendekati Hadirat Ilahi, jadi kita juga membutuhkan pemandu untuk menunjukkan jalan menuju Rasulullah SAW, dan kemudian Rasulullah SAW akan menunjukkan jalan bagi kita untuk mendekati Allah SWT.

Kita tidak peduli terhadap apa yang mungkin dikatakan oleh orang lain, dalam pengajaran ini kita bersifat terbuka, kita mengikuti apa yang diberikan oleh Mawlana Syekh Nazim QS, beberapa harta sufi yang sangat berharga berupa pengetahuan internal (batin) dan spiritualitas. Kita tidak akan menunggu untuk melihat apakah seseorang menerimanya atau merasa keberatan. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari syariat, sedangkan yang ini adalah sebagian ajaran dari haqiqat—realitas. Untuk kesekian kalinya saya ulangi bahwa realitas tanpa syariat tidak dapat dibenarkan. Kita harus melaksanakan syariat secara ketat dalam segala sikap dan tingkah laku kita. Syariat akan mengajarkan disiplin bagi tubuh kita sedangkan spiritualitas akan mengajarkan disiplin bagi jiwa kita. Insya Allah sekarang kita akan melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada pertemuan minggu lalu.

Insya Allah, Allah SWT tidak akan meninggalkan kita seperti ketika Dia meninggalkan Nabi Musa AS di gurun Sinai selama 40 tahun. Allah SWT menjanjikan Nabi Musa AS untuk menghancurkan Fir’aun, namun selama 40 tahun Dia meninggalkannya di gurun dan setiap malam hanya berkata, “besok, besok.” Esok hari pun tiba, namun tidak ada kejadian apa-apa. Allah SWT melihat hamba-Nya dengan Nama ash-Shabur, “Yang Maha Penyabar”. Dia tidak melihat hamba-Nya dengan Nama al-Jabbar, “Yang Maha Memaksa.” Dia melihat kita dengan Nama-Nya yang penuh rahmat, “ar-Rahmaan”, “ar-Rahiim” dan dengan atribut kesabaran. Itulah sebabnya Dia juga sabar dalam menghadapi Fir’aun. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa Allah SWT menciptakan semua makhluk karena Dia mencintainya. Jika Dia mencintai setiap orang, Dia ingin setiap orang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia bersabar dan bersabar terus hingga saat terakhir. Mungkin kita akan ingat dan memohon ampun, dan masuk ke dalam Surga-Nya.

Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan para awliya. Setelah Rasulullah SAW tidak ada lagi rasul yang lain. Beliau adalah rasul terakhir. Tetapi Allah SWT memberikan rahasia yang ditanamkan ke dalam hati beliau kepada para sahabatnya, dan para sahabat memberikannya kepada para awliya. Dan menurut guru kita, dunia tidak akan kekurangan seorang wali pun. Jika salah satu wali meninggal dengan segera ia digantikan yang lain. Di dunia ini terdapat 124.000 wali yang masih hidup, sebagaimana terdapat 124.000 nabi dan rasul dan 124.000 sahabat. Para awliya ini diberikan sebagai hadiah kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan kita dari dosa. Salah satu wali ini adalah Sayyidina Syah Naqsyband QS. Kisah singkat berikut ini akan menolong kita untuk memahami siapa wali ini.

Setelah Rasulullah SAW, Tarekat Naqsybandi dipercayakan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kemudian diteruskan kepada Sayyidina Salman al-Farisi RA, Sayyidina Qasim RA putra dari Sayyidina Abu Bakar RA, lalu kepada Sayyidina Ja’far ash-Shadiq AS putra dari Sayyidina Husain AS, dan selanjutnya kepada Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS. Beliau adalah orang yang kelima dan hidup 400 tahun sebelum Sayyidina Syah Naqsyband QS.

Ketika Sayyidina Abu Yazid QS mengetuk pintu, memohon izin untuk memasuki Hadirat Ilahi, Allah SWT berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid QS, engkau tidak bisa memasuki Hadirat-Ku tanpa mengetahui bagaimana cara mendekati-Ku.” Abu Yazid QS memohon, “Ya Tuhanku, ajarilah Aku cara mendekati-Mu.” Allah QS berfirman, “Bersikaplah rendah hati, jadilah tempat sampah bagi hamba-hamba-Ku dan bagi seluruh umat manusia.” Sayyidina Abu Yazid QS membuat dirinya begitu rendah hati sehingga seolah-olah beliau menjadi tempat sampah bagi semua orang. Para ulama di masanya memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat itu beliau meninggalkan desanya dan pergi ke tepi laut, di sana beliau menemukan sebuah kapal yang akan berangkat ke negri lain. Beliau menaiki kapal itu dan kemudian kapal itu berangkat meninggalkan pantai. Di tengah laut tiba-tiba timbul badai yang sangat ganas yang merobohkan kapal dan menenggelamkannya. Abu Yazid QS berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, jika Engkau membuat kapal ini tenggelam karena dosa-dosaku, Aku siap untuk dilemparkan ke dalam laut.” Sekonyong-konyong beliau melemparkan dirinya ke dalam laut dan seketika itu laut menjadi tenang.

Sayyidina Abu Yazid QS mengorbankan dirinya agar orang-orang tetap hidup, beliau membawa dosa-dosa mereka bersamanya dan menyingkirkan hukuman mereka. Ketika Abu Yazid QS berada dalam laut, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan muncul ke permukaan lagi sebelum menemukan kebenaran dan realitas, dan beliau memutuskan untuk pergi sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan, pergi ke “bumi ke tujuh” [QS ath-Thalaaq, 65: 12] untuk menemukan realitas dan membawanya kepada umat manusia. Beliau menembus kedalaman air dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, menembus kegelapan yang satu menuju kegelapan yang lain. Beliau memasuki samudra pengetahuan yang satu menuju samudra pengetahuan yang lain mengenai seluruh alam semesata ini. Akhirnya beliau mencapai suatu tempat di mana beliau mendengar suara yang bunyinya seperti “HUUU…” seperti ketika orang meletakkan kerang laut atau benda lain di telinga mereka. Itu adalah bunyi sungai Khawtsar di surga, gerakan atau aliran air yang dapat kita dengar di telinga kita.

Sayyidina Abu Yazid QS tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara itu. Beliau merasa heran dan ingin tahu siapa yang mengeluarkan suara itu. Mawlana berkata, bahwa Sayyidina Abu Yazid QS, dengan kekuatan dan cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hatinya, dapat mengetahui dan mengucapkan nama-nama seluruh umat manusia yang telah diciptakan Allah SWT di muka bumi ini, lengkap dengan nama ayah dan ibunya tanpa kehilangan satu nama pun, mulai dari Nabi Adam AS sampai Hari Kiamat, hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Pada saat itu beliau menggunakan kekuatan ini untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan bunyi tadi di tempat itu.

Nama “Hu” adalah Samudra bagi hal-hal yang gaib. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Qul HUwallaahu ahad,” “Katakanlah, HU (=Dia) adalah Allah SWT, Yang Maha Esa” [QS al-Ikhlash, 112: 1]. Oleh sebab itu HU merujuk kepada Allah SWT, dan ini berada dalam ‘ilmul ghayb, pengetahuan tentang hal-hal yang gaib yang tidak diketahui oleh orang-orang. Tak seorang pun yang dapat mengetahui seperti apa samudra ini dan bagaimana maknanya. Mawlana berkata bahwa Sayyidina Bayazid QS menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah SWT untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan suara itu, tidak hanya dalam lima menit tetapi selama 70 hari dan beliau tetap belum bisa mengetahui berapa jumlah orang yang berada di sana menghasilkan bunyi “Huu.” Kemudian beliau mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha untuk mengetahui siapa yang mengajarkan mereka, dan akhirnya beliau mengetahui bahwa orang itu adalah Syah Naqsyband QS.

Sayyidina Bayazid QS mengetahui bahwa wali itu akan muncul setelah beliau, melewati 10 orang wali setelahnya, 500 tahun kemudian. Rohnyalah yang mengajarkan roh orang-orang di tempat itu. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa orang-orang itu berasal dari dunia ini dan juga planet lain yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Jangan dikira hanya kita saja, yang hidup di planet ini yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Sayyidina Syah Naqsyband QS juga bertanggung jawab atas planet lain dan beliau mengajarkan mereka.

Ketika Abu Yazid al-Bistami QS mengetahui bahwa Syah Naqsyband QS adalah guru mereka, dalam hatinya beliau merasa ngeri jangan-jangan Syah Naqsyband QS akan berkata, “Mengapa engkau mengganggu murid-muridku? Mengapa engkau memasuki daerah yang bukan diperuntukkan untukmu?” Dengan segera beliau menjauh dari samudra itu, samudra Syah Naqsyband QS, pemimpin tarekat yang kita ikuti sekarang, insya Allah. Sayyidina Syah Naqsyband QS adalah guru kita dan beliau telah dianugerahkan suatu rahasia yang besar dalam hatinya, beliau telah meneruskan rahasia itu kepada para penerusnya hingga sekarang kepada Syekh kita, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS. Dari rahasia itulah asal cerita mengenai Syah Naqsyband QS ini.

Ketika Allah SWT memberikan kekuatan itu kepada Syah Naqsyband QS dan berkata kepadanya bahwa beliau akan menjadi pembantu Rasulullah SAW untuk membantu manusia bertobat atas dosa-dosanya, beliau menanyakan satu hal kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Wahai Rasulku yang tercinta, jika engkau menghendaki aku menjadi pembantumu, Aku membutuhkan satu hal darimu. Aku harus memegang tanggung jawab atas malaikat-malaikat di pundak kanan dan di pundak kiri. Jika engkau memberiku tanggung jawab itu, maka Aku akan menerima tugas itu.” Setelah Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT dan mendapat izin bagi Syah Naqsyband QS, maka Syah Naqsyband QS menerima untuk bertanggung jawab atas umat ini.

Mawlana berkata bahwa, setiap kali seseorang berbuat dosa, Syah Naqsyband QS berusaha untuk mengirim inspirasi ke dalam hati orang itu agar memohon ampun kepada Allah SWT. Jika orang itu tidak memohon ampun dalam 24 jam, sebelum waktu Subuh, Syah Naqsyband QS akan memohon ampun atas nama orang itu, dan balasannya akan dituliskan di pundak orang itu.

Malam ini adalah malam Isra’ dan Mi’raj, malam di mana Rasulullah SAW menghadap ke Hadirat Ilahi. Ketika Rasulullah SAW memasuki surga ketujuh, Sayyidina Jibril AS berkata kepadanya, “Ya Rasulullah SAW, Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamamu. Ini adalah batasku. Jika Aku memaksa masuk, Aku akan musnah terbakar.” Rasulullah SAW berjalan sendiri menuju ke Hadirat Ilahi. Setelah tempat itu, apa pun yang diperoleh oleh Rasulullah SAW, Jibril AS tidak mengetahuinya. Jika malaikat Jibril AS tidak sanggup mengetahui apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW dari Tuhannya, bagaimana dia bisa menyampaikan al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Jibril AS berdiri di tempatnya dan tidak sanggup untuk meneruskan perjalanannya. Jibril AS berkata kepada Rasulullah SAW, “Engkau saja yang melanjutkan perjalanan ke Hadirat Tuhan kita.” Setelah itu Rasulullah SAW sendiri yang melanjutkan perjalanannya. Apa yang beliau dapatkan adalah pengetahuan dari tingkat Jibril AS sampai kepada tingkat Allah SWT, Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW telah bergerak maju 5 kali 500.000 tahun—dalam mendekati Tuhannya dengan menembus lima lapisan, yang masing-masing berjarak 500.000 tahun, dan tahun Tuhan tidak sama dengan perhitungan tahun kita.

Hikmah dan pengetahuan apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW di sana? Hal ini tidak ada yang mengetahuinya. Pengetahuan ini diperuntukkan khusus bagi Rasulullah SAW dan beliau akan menjaganya hingga suatu waktu di mana semua orang telah masuk ke dalam surga. Kita tidak peduli terhadap orang yang mungkin akan berkata “ya” atau “tidak”, kenyataannya Rasulullah SAW telah memberikan pengetahuan di atas tingkat Jibril AS yang telah diperolehnya kepada para awliya, dan beliau juga telah memberikan pengetahuan yang diperolehnya di bawah tingkat Jibril AS kepada syariat. Ini adalah perbedaan antara syariat atau hukum dengan hakikat atau realitas. Itulah makna dari hadis yang disampaikan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA mengenai dua jenis pengetahuan, “Rasulullah SAW telah memasukkan dua jenis pengetahuan ke dalam hatiku. Yang satu aku sampaikan kepada orang-orang”—ini adalah syariat, pengetahuan di bawah tingkat Jibril AS, “tetapi jika aku mengatakan pengetahuan yang lainnya, mereka akan memotong leherku,” dan itulah pengetahuan di atas tingkat Jibril AS.

Itu juga perbedaan antara orang-orang yang menerima pengetahuan ini dan mereka yang menyangkalnya.

Ketika Rasulullah SAW mendekati Hadirat Ilahi, beliau bertemu dengan seekor Singa yang sangat besar dan menjadi takut karenanya. Allah SWT bertanya kepadanya, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, apa yang membuatmu takut terhadap dunia ini?” Beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, Aku belum pernah merasa takut selama hidupku kecuali ketika melihat singa dalam Hadirat-Mu ini.” Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW pun tidak mendapatkan semua pengetahuan dari Allah SWT. Jika beliau mengetahui segala hal dari Allah SWT maka beliau tidak akan merasa takut terhadap singa tersebut. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh Rasulullah SWT belum mencapai maksimum. Itulah sebabnya Rasulullah SAW terus mengalami peningkatan, bahkan di makamnya sekalipun, dalam mencapai Hadirat Ilahi. Jika beliau tidak merasa takut, maka saat itu beliau tidak akan mengetahui rahasia ‘ilmul awwalin wa ‘ilmul akhirin, pengetahuan mengenai awal dan pengetahuan mengenai akhir, yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.

Namun pengetahuan yang telah diperoleh oleh Rasulullah SAW akan dibuka nanti pada saat Imam Mahdi AS telah datang. Pengetahuan itu tidak bisa dibuka sekarang karena membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan Imam Mahdi AS kepada para awliya yang akan menyampaikan pengetahuan ini, orang-orang akan menggantungnya, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA. Kalian dapat melihat bahwa banyak syekh sufi dalam sejarah Islam yang digantung karena mereka menyampaikan pengetahuan tersebut. Tanpa dukungan dari Imam Mahdi AS, tak seorang pun diperbolehkan untuk membicarakan pengetahuan ini. Sekarang kita hanya mencium hembusan aroma dari pengetahuan itu saja, seperti sebuah tetesan yang jatuh menimpa kita, agar kita mengerti bahwa ada pengetahuan spiritual yang tersimpan dalam hati dan bahwa pengetahuan itu akan disebarkan ke dalam hati setiap orang ketika Imam Mahdi AS telah datang. Namun sebelum beliau datang, setiap orang dapat mencium pengetahuan ini, dan mereka yang menginginkannya harus mengikuti majelis zikir, sebab tanpa mengikutinya, mereka tidak akan mendengar hal ini. Ini adalah pengetahuan tinggat tinggi bagi setiap orang—baik pembicara maupun yang hadir sama-sama mendengarkan. Pengetahuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam sekali, lima atau sepuluh kali pertemuan.

Jika Saya mengucapkan kata-kata dari Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS ketika beliau berkata kepada Tuhannya, orang akan mengatakan bahwa kita termasuk orang kafir. Memang benar, jika kita yang mengucapkan kata-kata itu, kita adalah orang yang tidak beriman, tetapi lain halnya bila yang mengatakan adalah Abu Yazid al-Bistami QS, beliau adalah seorang mukmin. Beliau mengucapkannya karena beliau mengetahuinya, merasakan dan melihatnya. Tetapi bila kita yang mengatakannya, kita tidak akan melihat dan merasakannya, oleh sebab itu kita akan menjadi orang yang kafir, itulah bedanya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Mulki akbaru min mulkik,” “Kerajaanku lebih besar daripada kerajaan-Mu.” Apa arti dari ucapan itu? Beliau mengatakan kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dan Engkau telah berkata bahwa di Mata-Mu alam semesta ini tidak bernilai lebih dari sayap seekor nyamuk.”

“Law kanatid dunya ta’dilu ‘indallaahi janaha ba’udatin ma saqa kafiran minha syarbata ma’in,” “Jika dunia ini tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk dalam pandangan Allah SWT, Dia akan menyangkal orang-orang kafir tak lebih dari segelas air” (Suyuti). Ini berarti bahwa kerajaan ini tidak bernilai, di lain pihak, “Engkau adalah kerajaanku, dan Engkau adalah segala-galanya. Itulah sebabnya kerajaanku lebih besar dan lebih baik daripada kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu adalah kami semua dan kami bukanlah apa-apa! Tetapi Engkau adalah kerajaan kami dan Engkau adalah segala-galanya, oleh sebab itu kerajaan kami lebih baik.”

Jika kita mengatakan hal ini dengan pemahaman kita, ini tidak bisa diterima. Jika Abu Yazid QS yang mengatakannya, beliau bersungguh-sungguh—kita tidak dapat menyamai beliau. Sayyidina Abu Hurayra RA menyembunyikan banyak pengetahuan seperti itu seperti yang dikatakan dalam hadis (yang telah disebutkan di atas—red). Pengetahuan ini khusus ditujukan bagi para awliya, alhamdulillah kalian percaya kepada awliya dan ini adalah kepercayaan yang paling baik dan paling penting. Kita tidak menyangkal Rasulullah SAW! Hasha (dalam bahasa Turki, berarti Hush!) dan kita tidak menyangkal syariat—Hasha! Kita harus melakukan seperti yang ditunjukkan oleh syariat kepada kita dan seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, tetapi kita tidak dapat menyangkal adanya wali yang menjadi penolong dan pemandu bagi kita untuk membuat hati kita bersih dan suci dari kehidupan materialistik ini.


Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill
Fenton, MI 48430