Showing posts with label Selawat. Show all posts
Showing posts with label Selawat. Show all posts

13 October 2008

Hargailah Nabimu

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Khotbah Jumat, 30 Agustus 2002

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Wahai Muslim, wahai orang-orang yang beriman, hari-hari berlalu, minggu dan pekan pun berlalu, bulan-bulan berlalu, tahun-tahun pun berlalu, dan setiap orang suatu hari nanti akan meninggalkan segala sesuatunya di belakangnya dan pergi… Tak seorang pun yang akan tertinggal di belakang. Apa pun yang berusaha kita lakukan, kita akan pergi dan meninggalkannya. Allah SWT-lah yang memiliki diri kita. Kita tidak memiliki diri kita sendiri. Allah SWT telah menciptakan kita dan Allah SWT mencintai ciptaan-Nya.

Seseorang yang menulis suatu kaligrafi yang indah, tulisan atau seni yang indah, ia pun begitu bangga dengan apa yang telah ia hasilkan. Ia menginginkan orang untuk menyukainya pula, Ia ingin orang untuk menghargai dan mengapresiasinya pula, yaitu terhadap karya seninya. Dan kita sebagai Muslim, percaya bahwa Allah SWT telah menciptakan diri kita. Dan tentu saja, Allah SWT mencintai kita, dan tentu saja Allah SWT ingin kita untuk menghargai Diri-Nya yang telah menciptakan kita, dan Ia membawa kita ke kehidupan ini untuk mengenal-Nya, mengetahui Diri-Nya.

Allah SWT berfirman (dalam hadis Qudsi), “Kuntu kanzan makhfiyya, fa aradtu an u’raf fa khalaqtu al-khalq” “Aku adalah Harta yang tersembunyi, Aku ingin untuk diketahui maka Kuciptakan makhluk.” Allah SWT menciptakan kita untuk mengenal-Nya. Maka, penghargaan itu, bahwa Allah SWT telah menciptakan kita ditunjukkan dengan jalan ibadah. Bagaimanakah kita akan menghargai seseorang? Seorang anak menghargai perbuatan baik ayah atau ibunya padanya, dengan menunjukkan cintanya pada mereka. Sang anak menunjukkan rasa hormatnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya, khususnya bagi anak yang berbakti pada orang tuanya. Jadi, sebagai Muslim, kita pun berbakti kepada Allah SWT. Dan jalan terbaik untuk menunjukkan pada-Nya penghargaan kita tersebut, adalah dengan ibadah.

Dan Allah SWT berfirman, “Wa maa khalaqtu al-jinna wa l-insa illa liya’buduuni” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [51:56]. Dan ibadah bisa dalam berbagai bentuk, di samping lima bentuk kewajiban yang harus kalian lakukan (dalam rukun Islam). Ibadah bisa ditunjukkan dengan berbagai cara yang berbeda: dengan mengunjungi orang yang sakit, dengan menolong orang lain, dengan melakukan sesuatu buat orang lain, membantu mereka dalam hidup mereka, membantu tunawisma, memberikan zakat, dan lain-lain. Inilah jenis-jenis penghargaan kita terhadap apa yang Allah SWT telah berikan pada kita.

Dan yang paling penting, hari ini, Allah SWT ingin kita untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kita pada apa yang telah Ia ciptakan bagi kita. Dan Ia telah memilihnya untuk menjadi Yang Terbaik, untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Saya akan menunjukkan penghargaan bagi Nabi SAW kita tercinta, Sayyidina Muhammad SAW ‘alayhi afdalus salaatu wassalaam. Allah SWT ingin kita menunjukkan penghargaan pada Nabi SAW, karena “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’Allah” “Barangsiapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah SWT” [1]. Allah SWT telah menjadikan Nabi-Nya sebagai pintu gerbang, sebagai jembatan atau sebagai jalan raya bebas hambatan untuk mencapai Hadirat Allah SWT. Jika kalian akan menyangkal jalan itu, yaitu “ittiba’ khuthar Rasuul” “mengikuti jejak langkah Nabi SAW, maka itu berarti kalian tidak menghargai apa yang telah diberikan Allah SWT pada kita.

Dengan alasan itulah, Allah SWT berfirman dalam Quran Suci, “InnAllaha wa malaa-ikatahu yushalluuna ‘alan Nabiy. Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shallu ‘alaihi wasallimuu tasliiman.” “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi SAW. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi SAW dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [33:56]. Dia berfirman “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Wahai Orang Beriman” Dia mengkhususkan pada orang beriman (mu’min). Tidak setiap muslim adalah mukmin, tapi setiap Mukmin adalah Muslim. Muslim bisa menjadi seorang Muslim, tapi mungkin ia tidak salat, ia mengatakan “Laa ilaaha illa-Allah Muhammadun Rasulullah SAW”. Dia seorang Muslim. Kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Kau bukan seorang Muslim.” Ia mungkin berbuat dosa dan dosa, dia meninggalkan salat, dan meninggalkan salat, tetapi kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Hei kamu bukan Muslim.” Tetapi seorang Mukmin sejati adalah seorang Muslim sejati. Karenanya, Allah SWT berfirman, “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Kalian, kalian yang Mukmin, kalian tahu, dan kalian dapat menghargai apa yang telah Ku-berikan padamu, kalian tidak lagi berada di Taman Kanak-Kanak.” Seperti kita, Muslim, kita masih berada di Taman Kanak-Kanak, kita masih berusaha untuk belajar. Tetapi, ketika kita telah mencapai tingkatan Iman, itu selesai. Kita tahu kini kewajiban kita, kita tahu tugas kita. “Maka, wahai Mukmin! Shalluu ‘alan Nabiy, Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shalluu ‘alayhi” “Berselawatlah bagi Nabi SAW!” Ini suatu perintah! Karena dalam selawat atas Nabi SAW ada barakah bagi kita.

Lihatlah apa yang Nabi SAW katakan. “Fa ’anil Bara’ ibn ‘Azm, annan Nabiyya shall-Allahu ‘alayhi wasallam qaala, ‘Man shalla ‘alayya marratan’ “Barangsiapa yang mendoakan (berselawat) untukku satu kali” dan ini adalah untuk Mukmin. Bagi Mukmin ini adalah suatu tugas, suatu kewajiban. Untuk Muslim, kita masih berjuang sebagai Muslim, kita belum mencapai derajat Mukmin. Mukmin berarti ia yang telah mencapai derajat tertinggi dari Iman, kita tidak lagi berbohong, kita tak lagi menipu, tak lagi berkhianat. Muslim sedang berjuang untuk mencapai kesempurnaan dalam tingkatan Iman. Beliau bersabda, “Man shalla ‘alayya marratan” “Barangsiapa berselawat atasku satu kali” “katabAllahu ta’ala lahu ‘asyru hasanaat” “Allah SWT akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan” “Wa mahha ‘anhu ‘asyru sayyiaat” ”Dan Allah SWT menghapuskan darinya sepuluh keburukan” “wa rafa’ahullah ‘asyru darajaat” “Dan Allah SWT meninggikannya” Ke mana Allah SWT meninggikannya? Beliau mengatakan “meninggikannya” Ke mana? Ini berarti ada derajat-derajat yang Allah SWT sediakan untuk meninggikan Mukmin, atau Muslim, saat mereka mengucapkan selawat atas Nabi SAW, saat mereka mendoakan Nabi SAW. Allah SWT meninggikannya “sepuluh derajat”. “wa kunna lahu adlu ‘asyru riqaab” “dan akan ada sepuluh derajat ini ketika ia melakukan selawat itu seakan-akan ia membebaskan sepuluh orang dari perbudakan.” Berapa banyak di zaman Nabi SAW terdapat perbudakan, saat mana Nabi SAW biasa membebaskan mereka dari perbudakan, dari siksaan tuan mereka? Berapa banyak orang menderita akibat perbudakan? “Seakan-akan ia telah membebaskan sepuluh budak.” Tidak hanya dari perbudakan, tapi juga dari api neraka. Itu hanya untuk satu kali selawat atas Nabi SAW.

An ‘Aa-isyata radhiyAllahu ‘anha” suatu hadis lain. Sayyidah ‘Aisyah RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Maa min ‘abdin salla ‘alayya shalaatan” “Tidaklah seorang hamba berselawat atasku satu kali” “illa kharaja bihaa malikun” ”melainkan seorang Malaikat akan keluar darinya” “yajii-u biha wajhur Rahman” “dan membawa selawat itu ke Hadirat Allah SWT” “fa yaquulu Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala” “maka Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala akan berfirman pada malaikat yang membawa selawat atas Nabi SAW itu” “idzhabu bihaa ilaa qabri ‘abdii” “bawalah selawat itu dan pergilah ke kubur hamba-Ku itu di masa depan di saat dia akan masuk ke kubur itu” “tastaghfiru li shaahibihaa wa tukirru bihaa ‘aynuhu” Jika orang itu di dunia berselawat satu kali atas Nabi SAW sebagaimana dikatakan ‘Aisyah RA, maka malaikat yang membawa selawat itu pergi ke Hadirat Allah SWT, dan Allah SWT akan mengatakan pada malaikat itu, “Jika hamba-Ku mati, bawalah selawat itu dan pergi ke kuburnya. Selawat itu akan memintakan ampunan bagi hamba-Ku yang ada di kubur itu hingga ia akan berbahagia.” “Tukirru bihaa ‘aynuhu” berarti matanya akan amat berbahagia atas apa yang akan ia terima sebagai balasan atas selawat yang telah ia lakukan.

Wahai Muslim, inilah cara menunjukkan penghargaan pada Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Quran Suci kepada Nabi SAW, “qul la as-alukum ‘alayhi ajran illa l-mawaddata fi l-qurba” [42:23]. Allah SWT berfirman pada Nabi SAW untuk mengatakan pada kita, “Katakanlah: ’Wahai Muslim aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali agar kalian menjaga keluargaku, agar kalian menjaga sukuku, agar kalian menjagaku’". Dan bagaimanakah kita menunjukkan penghargaan kita dan menjaga Nabi SAW? Kita tidak bisa menjaga beliau, beliaulah yang harus menjaga kita, tapi kita menunjukkan cinta kita pada beliau dengan selawat. Dan karena itulah, selawat itu akan menjadi penyelamat diri kita di Hari Penghakiman. “Man shalla ‘alayya, wa jawad lahu syafaa’atii” “Barangsiapa berselawat atasku, Allah SWT akan memberiku kekuatan padaku untuk bersyafa’at baginya di Hari Pembalasan”.

Ibn Dawud RA meriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq RA berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW dalam Haji Wada’ bersabda, ’InnAllaha ‘azza wa Jalla qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar’” “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla, qad wahaba lakum dzunuubakum” bermakna “Ia memberikan dosamu kembali kepadamu, berkata, ‘wahai hamba-Ku dosa ini kini ada di tanganmu sekarang. Beristighfarlah pada-Ku, dan Ku-ampuni dirimu. Kuberikan semua dosa ini padamu seakan-akan dosa itu tak pernah terjadi. Kau bisa menghapusnya dengan tanganmu.” Dan itulah maknanya “qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar” Artinya secepat kalian beristighfar, Allah SWT akan menghapuskan seluruh dosa kalian. “fa man istaghfara bi niyyatin shaadiqaa” “Dan barangsiapa memohon ampun bertobat kepada Allah SWT dengan niyyat yang sungguh-sungguh” “ghufira lahu” “Allah SWT akan mengampuninya”. “Wa man qaala Laa ilaaha ill-Allahu” “Dan barangsiapa pernah mengucapkan dalam hidupnya Laa ilaaha illAllah” “razaha l-miizaan” “timbangan kebaikannya di Hari Kiamat akan menjadi berat”. Artinya jika dosa kalian berat, saat kalian mengucap Laa ilaaha illAllah di dunia, kebaikan kalian akan menjadi lebih berat. Selalu kebaikan kalian akan lebih berat dari dosa kalian. Lalu apakah cara yang mudah untuk mengucap Laa ilaha illAllah? Mengapa orang-orang merasa sulit untuk mengucapkan Laa ilaha ill-Allah saat mereka mengendarai mobil mereka, setiap hari, saat menuju tempat kerja mereka? Apa sulitnya mengucapkan Laa ilaha ill-Allah? Buatlah lidah kalian selalu bergerak dengan dzikrullah! Dan beliau bersabda di akhir hadis, “Wa man salla ‘alayya” “Dan barangsiapa berselawat atasku”, Sayyidina Muhammad SAW bersabda, “kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” “aku akan menjadi perantaranya, aku akan minta pada Allah SWT untuk menyelamatkan orang itu di Hari Kiamat jika ia mendoakan dan memujiku”. “Wa man shalla ‘alayya kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” ”Siapa yaang memujiku dan mendoakan diriku, Allah SWT akan memberiku kekuatan untuk memohon-Nya untuk menyelamatkan orang itu dan mengirimkannya ke surga.”

Wahai Muslim, penghargaan, apresiasi, adalah indah, sebagaimana telah kami katakan di awal Jum’ah. Penghargaan atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita adalah indah dan baik. Dan karena itu Ia berkata, “Untuk menghargai Diri-Ku yang telah menciptakanmu, hargailah utusan-Ku,” Sayyidina Muhammad SAW, “Melalui dia, dirimu dapat masuk surga. Tanpa dia, bagaimana dirimu dapat masuk ke dalam surga? Dia adalah Kekasih-Ku”. “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’Allah” “Barang siapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah SWT.”

Dan akan saya akhiri, diriwayatkan oleh Tirmidzi (dalam sahihnya), “An Anas RA annan Nabiyya SAW qaala, ‘aulan naasi wubiya yaumal qiyaamati aktsaruhum ‘alayya shalaatan.’” “Orang pertama yang akan mendapat syafa’at dariku adalah ia yang berselawat atasku paling banyak.” Beliau bersabda, “Aktsaruhum ‘alayya shalaatan” “siapa yang PALING BANYAK berselawat atasku selama hidup mereka”. Artinya siapa yang paling banyak melakukan selawat, akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’at beliau. Yang paling banyak kedua melakukan selawat, akan menjadi yang kedua pula menerima syafa’at dari beliau. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa “berselawat atas Nabi SAW banyak-banyak” tidak pernah disebutkan, atau tidak diperbolehkan, tidak! Hal ini disebutkan dalam Sahih at-Tirmidzi. Beliau bersabda, “Mereka yang paling banyak berselawat atasku, berlebihan dalam berselawat atasku mereka akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’atku”.

Wahai Muslim, itulah yang telah Allah SWT karuniakan pada kita dengan seorang Nabi SAW yang beliau senang dan merasa paling terhormat untuk mengatakan, “Innii ‘Abdullah” “Aku adalah hamba Allah SWT” ketika Allah SWT menceritakan tentang beliau, “Subhanalladzii asraa bi ‘abdihi” “Mahasuci Dia yang memperjalankan hamba-Nya” [17:1]. Tak pernah Nabi SAW melampaui batas kehambaan ini. Beliau tahu batasan beliau. Dan seluruh Muslim di seluruh dunia, tak pernah seorang Muslim pun, dengan selawatnya yang berlebihan dan banyak atas Nabi SAW, berpikir sekali pun, bahwa Nabi SAW lebih dari seorang hamba, seorang hamba yang sempurna bagi Tuhannya.

Wahai Muslim, berdoalah bagi Nabimu. “Shallu ‘alan Nabiy!”, berselawatlah atas Nabimu. Dengan selawat atasnya, adalah seperti semerbak parfum yang wangi yang dengannya Allah SWT akan memakaikan padamu, pakaian kesempurnaan, pakaian parfum yang wangi, yang akan melepaskan diri kalian dari segala macam kesulitan.

Dan Insya Allah, di waktu lain, kita akan melanjutkan untuk menjelaskan betapa pentingnya pujian dan selawat atas Nabi SAW, yang akan menyelamatkan diri kita dari segala kesulitan dan membuat Allah SWT mendukung diri kita, memberi kita berbagai macam rizki yang kita butuhkan dalam hidup kita.

Catatan kaki:
[1] Dalam Al Quran surat AN NISAA' [4:80]
Man yuti’i r-rasuula faqad ataa’a Allah
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT.”


Wa min Allah at tawfiq

23 July 2008

Adzan al-Muhammadi SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim

Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Saya sedih. Mengapa? Karena suatu hal yang tidak kalian perhatikan walaupun kalian menganggap diri kalian sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Apa itu? Azan. Azan mempunyai nama lengkap “Adzan al-Muhammadi SAW”. Jadi bagaimana mungkin seorang muazin lupa untuk membaca selawat untuk Rasulullah SAW setelah selesai mengumandangkan azan? Kalimat itu adalah untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Saya pikir saya tidak akan mengunjungi kalian lagi tahun depan jika kalian tidak memberi selawat setelah azan. Kalian boleh melupakan saya, saya tidak akan datang lagi. Selesai. Setiap tahun berulang-ulang saya katakan bahwa kita adalah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, tetapi kalian bertindak seperti Wahhabi, tidak membaca, “Ash-Shalatu was-Salam” untuk Rasulullah SAW setelah azan. Oleh sebab itu saya kecewa.

Bahkan jika suatu waktu kalian datang dan mengucapkan “Ash-Shalatu was-Salam” untuk Rasulullah SAW, kalian masih bertindak seperti Wahhabi dengan menyuruh muazin untuk tidak mengucapkan selawat. Bisa saja Saya pergi dari Timur ke Barat tetapi tidak akan mampir ke sini jika kalian mengatakan hal seperti itu.

Kadang-kadang jika kalian tidak memperhatikan hal-hal yang kecil, itu bisa mencegah sesuatu yang besar untuk bisa berfungsi. Seperti halnya mesin yang besar, misalnya mesin penggiling gandum. Mungkin sepotong kayu yang kecil dalam mesin itu harus berada dalam posisi tertentu agar dapat berfungsi dengan baik, bisa mengirimkan gandum ke sebuah batu besar untuk digiling. Jika kayu tersebut berada dalam posisi yang salah, gandum tidak akan sampai ke batu tersebut. Sebuah mesin penggiling bisa saja berharga 1 juta atau 2 juta dollar tetapi tanpa sepotong kayu yang mungkin nilainya hanya 10 atau 5 penni, gandum tidak bisa berjalan menuju batu. Secara keseluruhan mesin itu tidak bernilai. Dan kalian tidak memperhatikan hal tersebut!

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS mengumandangkan azan di Candi Borobudur pada bulan Juli 2003 lalu.

Adzan al-Muhammadi SAW diberi nama dari nama Rasulullah SAW. Kalian harus mengucapkan selawat setelah azan. Kita berperang dengan orang-orang yang tidak menghormati Rasulullah SAW. Meskipun mereka mengontrol tempat-tempat suci, mereka tidak menaruh hormat kepada Rasulullah SAW. Kita sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah meminta penghormatan tertinggi kepada Rasulullah SAW. Tetapi mereka tidak menyukainya. Mereka menghilangkan nama Rasulullah SAW dari masjid-masjid mereka. Mereka membangun masjid baru. Mereka tidak pernah menuliskan kalimat yang bahkan tertulis di ‘Arsyur-Rahman. Apa yang tertulis di ‘Arsyur-Rahman? Hanya “La ilaha illallah?” atau juga “Muhammadur Rasulullah SAW?”

Apakah ada tulisan “La ilaha illa-llah, Muhammadur Rasulullah SAW” di masjid kalian? Apakah kalian memilikinya? Di mana? Pasti ada di sana. Kalian tidak menggunakan akal kalian! Mengapa kalian membuat tempat ini tanpa diberi nama? Masjid ini seperti hanggar pesawat, sebuah depot atau gudang. Mungkin kalian bisa menggunakannya sebagai gudang sewaktu-waktu karena tidak ada yang membuatnya jelas bahwa ini adalah sebuah masjid. Ya! Ke mana arah qiblat (maksudnya tidak ada Mihrab di sana)? Dan kalian menganggap diri kalian sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Tidak! Kalian tersesat dari jalan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Kalian adalah orang Wahhabi yang menakutkan. Mengapa? Allah SWT bersama mereka atau bersama kalian? Allah SWT bersama mereka yang menaruh hormat kepada hamba-Nya yang paling terhormat atau bersama dengan orang yang menentangnya? Apa kalian tidak berpikir? Tulislah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah di dekat kalimat “La ilaha illa-llah, Muhammadur Rasulullah SAW.” Dan di mana nama-nama para rasul? Kalian yang berasal dari Pakistan dan Hindustan! Bagaimana masjid-masjid kalian? Apakah seperti ini? Di mana nama-nama para sahabat, siapa yang menjadi tonggak Islam? Siapa yang berdiri untuk Islam!? Mereka mencoba untuk melupakan semua orang yang telah melakukan yang terbaik bersama Rasulullah SAW. Apakah kalian tidak merasa malu, tidak mempunyai nama-nama mereka di sini? Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina ‘Umar RA, Sayyidina Hassan AS, Sayyidina Hussein AS? Mengapa!? Al-‘ashar al-mubashshara—sepuluh orang yang namanya telah dijamin masuk Surga oleh Allah SWT. Di mana?! Kalian mengetahui nama-nama mereka?! Mengapa kalian tidak menuliskannya? Apa alasannya? Apa?

Tetaplah dalam jalan kalian atau kalian juga akan diambil dari sini. Ya, kalian bisa saja marah tetapi kemarahan itu akan membunuh kalian. Jika kalian marah bukan karena Allah SWT, maka kemarahan ego akan menghabisi kalian. Waspadalah karena kemarahan Allah SWT akan memusnahkan semua—siapapun yang tidak menaruh hormat kepada Rasulullah SAW.

Kalian sebagai orang yang sederhana tidak akan suka bila putra kalian tidak dihormati tetapi sebaliknya kalian akan senang terhadap orang yang menghormati putra kalian. Bagaimana dengan Allah SWT yang telah menciptakan seluruh makhluk sebagai penghargaan terhadap Nabi Muhammad SAW? Wahhabi tidak pernah menerima penghormatan kepada Rasulullah SAW ini! Ini adalah suatu bencana! Jika mereka tidak menerima Rasulullah SAW, lihatlah apa yang akan terjadi. Apakah Islam akan jatuh? Tidak! Islam akan berkembang. Wahhabi tidak mau menerima hal itu, Law laaka Law laak ma khalaqtul kawn (“Jika bukan untukmu Ya Muhammad SAW, Aku tidak akan menciptakan seluruh makhluk.”) Wahhabi tidak mau menerima “Syafa’ati li Ahlil-Kaba’ir min Ummatiy.” (“Perantaraanku adalah untuk mereka yang termasuk Ummatku yang melakukan dosa-dosa kubur.”) Apakah mereka menerima atau tidak, itu tidak jadi masalah. Dosa-dosa mereka ada di pundak mereka. Tetapi kalian, sebagai Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, kalian harus mengetahi jalan yang kalian tempuh. Selama 1500 tahun kita bertekad untuk melaksanakan jalan tersebut. Ada apa dengan kalian? Apakah para pendahulu kita salah?

Mereka yang mengeruk kekayaannya lewat minyak bumi memabukkan diri mereka dengan riyal, dollar, poundsterling. Siapapun yang membeli iman mereka dengan uang, mereka harus diberi hukuman yang paling berat. Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang menjual imannya untuk kepentingan dunia, Jangan jadi salah seorang dari mereka. Jangan … jangan… Tetaplah dalam jalan kalian, dan Allah SWT akan senang terhadap kalian. Rasulullah SAW bersabda dalah hadits yang sahih, “Man shala ’alayya marratan, shalla Allahu ‘alayyhi ‘ashara marrah.” Rasulullah SAW yang menyatakan hadis ini, apakah beliau salah (hasha)? “Jika seseorang memberi penghormatan kepadaku, dengan mengatakan ‘Allaahumma shali ‘alaa Sayyidina Muhammad SAW’, Allah SWT akan memberikan sepuluh kepada orang itu.” Orang yang memberi penghormatan kepada orang yang paling terhormat, paling dicintai, adalah hamba yang paling terpuji. Tetapi Wahhabi tidak suka memberi penghormatan semacam itu. Jika kalian berkata, “amana Khalqillah” (ciptaan Allah SWT yang paling terpercaya) Wahhabi merengek dan mengeluh. Jika kalian mengucapkan, “Khatama Rasulillah SAW,” (Rasul terakhir) “Asyrafil Mursalin,” (Rasul yang paling mulia) mereka marah. Mereka tidak pernah senang untuk menghormati Rasulullah SAW atau memujinya.

Ketakutan kalian seharusnya hanya dari Allah SWT saja. Jangan berpikir bahwa karena mereka mempunyai emas dan minyak mereka kuat. Apa yang mereka miliki akan kolaps, insya Allah. Dan Allah SWT akan membuat mereka merasa sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang yang tidak beriman. Allah SWT menghinakan mereka. Jangan berpikir bahwa uang dapat mendukung orang-orang yang salah. Tidak! Jika Allah SWT tidak mendukung kalian, uangmu tidak berharga sama sekali. Seluruh dunia tahu, mereka berpikir setahun yang lalu bahwa segalanya bisa berjalan karena didukung oleh uang. Sekarang Allah SWT menempatkan sejenis serangga pada pilar yang mereka yakin akan kekuatannya. Serangga itu mulai makan, makan, dan makan menggerogoti pilar tersebut hingga akhirnya pilar itu runtuh. Seperti yang terjadi di sini beberapa tahun yang lalu di mana ada sejenis serangga yang bersarang di sebuah pohon besar, mereka menggerogoti batang pohon hingga akhirnya pohon tersebut tumbang. Orang-orang tua mungkin masih ingat hal itu tetapi yang muda mungkin sudah melupakannya. Wahhabi hanya percaya kepada uang, dollar, pound, riyal, mark. Allah SWT akan membuat apa yang mereka yakini menjadi lemah. Dia menempatkan serangga tersebut mungkin setahun yang lalu dan sekarang sudah mulai makan. Zindabad! Allah SWT akan memperlihatkan kekuatan-Nya, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah. Kekuatan Ilahi mengalir untuk memberi dukungan kepada orang yang beriman. Sementara orang yang tidak beriman sangat bangga dengan uangnya yang jumlahnya mencapai milyaran atau trilyunan. Sekarang mereka berpikir—apa yang akan terjadi? Perhitungan mereka telah mencapai milyaran, trilyunan, quadrilyun dan terus bertambah. Mereka bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?” Tamat sudah! Siapapun yang berdiri di samping uangnya, mereka tamat riwayatnya.

Millennium ini sudah selesai! Abad 20 sudah selesai! Semua pikiran atau pengetahuan mengenai materi atau ekonomi suatu hari akan menjadi bangkrut. Semuanya akan jatuh. Begitu pula Wahhabi. Sebelum mereka membayar sejumlah uang untuk sedekah. Sekarang mereka belum bisa mengeluarkan sedekah karena mereka masih belum merasa cukup dengan uang yang mereka miliki. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka semua akan bangkrut. Tamat!

Dewasa ini bertasbih dengan menyebut, “pound, pound, pound, pound dan makin banyak pound (sambil bernyanyi) dollar, dollar, dollar, dollar, makin banyak dollar, mark, mark, mark, mark, mark.” Tasbih mereka, “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dollar, mark—masing-masing diulangi sampai 33 kali. Apa itu lucu? Apakah kalian menyukainya? Hal itu akan berakhir.

Wahai kalian yang mengejar dunia, Allah SWT berfirman, “Aku mengirim kalian wahai hamba-Ku, dari rahim ibu kalian dengan telanjang. Aku mengirim kalian ke dunia ini dengan telanjang, dan kalian akan kembali kepada-Ku dengan telanjang.” Dengan cepat orang akan memberi selembar kain untuk menutupi bayi yang baru lahir. Kemudian ketika kalian bertambah besar, kalian akan membeli pakaian lebih banyak lagi. Dan akhirnya ketika kalian meninggal, seluruh pakaian kalian akan di letakkan di meja, bahkan anak-anak kalian tidak mau memakainya karena itu semua milik seseorang yang sudah meninggal. Dan kalian terbaring di atas meja dengan telanjang agar mereka bisa memandikan kalian, kemudian mereka akan membawa selembar kain yang lain untuk menutupi tubuh kalian. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, jangan tertipu oleh dunia. Kau datang ke dunia dengan telanjang dan akan meninggalkannya dengan telanjang.” Dalam hidup ini kalian harus mencoba untuk mengambil sesuatu untuk kepentingan jiwamu.

Wa min Allah at tawfiq


11 June 2008

Siapa Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Saudara-saudara yang terhormat, para ‘ulama dan saudari-saudari yang dimuliakan, Saya ingin mengatakan bahwa selain para ‘ulama, kita juga mempunyai Imam Senad, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat Bosnia di Amerika dan Imam mereka. Kita menyambut mereka karena beliau baru saja tiba dari perjalanannya ke Bosnia dan beberapa negara lainnya. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan dukungan kepadanya.

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bahwa malam ini kita berada di sini untuk Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, Ghawts Azham. Ghawts Azham berarti Busur-Perantara. Beliau adalah seorang perantara bagi manusia di Hadirat Muhammad SAW yang pada gilirannya Rasulullah SAW menjadi perantara di Hadirat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam suatu hadis (qudsi) bahwa ada beberapa orang “yang dapat menjadi perantara di Hadirat-Nya, melalui Izin-Nya.” Dewasa ini kita harus mengatakan bahwa suatu hadis adalah hadis yang “otentik”, karena sekarang banyak sekali kemunafikan. Sebelumnya, kita tidak perlu mengatakan hadis itu “otentik”. Segera setelah kalian bilang hadis, setiap orang akan mengerti bahwa itu adalah sebuah hadis. Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah dan kita harus meyakini apa yang telah diajarkan dan diberikan oleh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah kepada kita. Tidak seperti pseudo-‘ulama sekarang yang merasa bahwa mereka sudah sangat tinggi posisinya. Semoga Allah SWT melindungi Islam dari orang-orang yang munafik.

Saya sangat bergembira bahwa pada hari ini Saya berada di sini, di sebuah Muslim Center, di mana setiap orang datang bersama-sama untuk beribadah kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT yang patut disembah dan Sayyidina Muhammad SAW yang patut dipuji. Sayangnya sekarang sebagian besar orang kebingungan dalam hal menyembah dan memuji. Jika kita bilang bahwa kita memuji Nabi Muhammad SAW, mereka bilang kita menyembahnya. Jika kita memuji Syekh, mereka juga bilang bahwa kita menyembahnya. Jika kalian bertanya kepada seorang anak Muslim dengan suatu pertanyaan sederhana, “Siapa Allah SWT?” “Siapa yang menciptakanmu?” ia akan berkata, “Allah SWT.” “Siapa yang kamu sembah?” Dia akan berkata, “Allah SWT” Kita tidak pernah mengatakan kepada anak-anak, “Katakanlah Muhammad SAW.” Kita tidak pernah melihat seorang anak yang mengatakan, “Aku memuji Nabi Muhammad SAW.” Dari mana mereka membawa ideologi baru ini, bahwa jika kalian memuji Sayyidina Muhammad SAW “terlalu banyak” kalian bersalah telah melakukan dosa syirik? Allah SWT memerintahkan kita untuk memuji Nabi Muhammad SAW!

Dalam Islam tidak ada pemilihan. Dari mana mereka membawa ide demokrasi ini? Tidak ada demokrasi dalam Islam! Islam adalah bay’at kepada amir, pemimpin. Ketika kalian menyerahkan tangan kepada amir, ia akan memelihara kalian. Dari mana kalian mendapat istilah “dewan perwakilan!?” dan para “direktur” dan beberapa nama-nama lain yang menonjol ini? Kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya anak kecil—duduk dan berpikir bahwa kalian adalah seorang Firaun. Allah SWT akan memperhitungkan segalanya. Dan Allah SWT akan bertanya kepada kalian tentang hal ini di Hari Pembalasan nanti.

Kalian menentang Allah SWT dan para awliya-Nya. Bahkan guru-guru kalian, para ‘ulama kalian, guru Ibnu Taymiyyah dalam bukunya, Fatawa al-Kubra, beliau mengutip hadis suci dari Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman, “(ini dari guru kalian Ibnu Taymiyyah) SIAPA PUN YANG MENENTANG WALI, AKU AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA!” (dari keramaian terdengar suara “Allahu Akbar!”). Ini adalah guru kalian, bukan guru kami. Walaupun beliau seorang muhaddits yang baik, seorang faqih yang baik, dan ahli dalam bahasa Arab, ‘aqidahnya telah mengalami kerusakan. Mereka berkata bahwa ‘aqidah Qadiri, Naqsyabandi, Rifa’i, Chisti telah mengalami kerusakan. Tidak, ‘aqidah merekalah yang rusak (Allahu Akbar!). Karena ‘aqidah kita merupakan sumber, ia adalah inti dari Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, ‘aqidah para Sahabat dan Rasulullah SAW. Dan itu merupakan kondisi ihsan.

‘Aqidah kita tidak terkorupsi. Tidak seperti mereka, kita tidak berkata bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT menghadap arah tertentu. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT mempunyai tubuh. Tidak! Kita mengatakan, “Dia bersama kalian, di mana pun kalian berada.” Siapa yang lebih baik, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, Allah SWT atau Setan? Setan selalu bersama kalian di mana-mana, jadi apakah Allah SWT tidak bersama kalian? Mereka berkata, “Tidak, Allah SWT tidak bersama kalian, Pengetahuan-Nya yang bersama kalian.” Tidak. Kalian tidak bisa menuduh orang lain sebagai musyrik atau kafir. Mereka berkata bahwa kalian harus mengatakan “tawhid uluhiyyah” atau “tawhid rubbiyyah.” Sekarang mereka telah menemukan terlalu banyak tawhid. Kita mengucapkan, “La ilaha illallah.” Inilah yang kita ketahui. Sekarang mereka berkata, “Tidak, kalian harus mengatakan ‘tawhid uluhiyya’ dan ‘tawhid rubbiya.’” Tawhid uluhiyya adalah mengucapkan “La ilaha illallah,“ kemudian tawhid rubbiya adalah mengucapkan “La ilaha illallah”. Rasulullah SAW tidak berkata, “Ucapkanlah ‘La ilaha illallah’ dan ‘La ilaha illallah.’ Rasulullah SAW berkata, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah SAW.”

Apa yang kita ucapkan? “Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.” Sebagian orang mengikuti Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. Ahl as-Sunnah wal Jama’ah adalah pengikut keempat Imam Mahzab dalam Islam. Ibnu Hajar Asqalani, As-Subki, Imam Nawawi merupakan penganut ‘aqidah ‘Asyari dan mereka adalah Sufi. Mereka mempunyai imam, mereka mempunyai syekh. Bahkan Ibnu Taymiyyah sendiri mempunyai seorang Syekh—Abdul Qadir Jilani QS. Beliau melakukan bay’at di tangan Syekh Abdul Qadir Jilani QS melalui enam generasi. Bagaimana kalian menyangkal tasawwuf?

Para pengikut Ibnu Taymiyyah, pergilah dan baca buku beliau. Bukankah Ibnu Taymiyyah telah mendedikasikan dua volume (Fatawa Al-Kubra volume 10 dan 11) yang berisi uraian tentang tasawwuf dan pencarian jalan menuju Allah SWT melalui para awliya? Setiap buku terdiri atas 700 halaman sehingga totalnya 1400 halaman, dan setiap kata melukiskan Sufisme, dan beliau berkata, “Tasawwuf adalah keadaan ihsan yang dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai tazkiyyat-an-nafs.” Tetapi karena istilah tasawwuf diturunkan dari empat akar yang berbeda, ia menjadi tasawwuf. Satu akar berasal dari suff--wool, dan satu lagi dari suffa--spons yang lunak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Siapapun yang menyakiti salah satu waliku, Aku akan menyatakan perang terhadapnya.” Ibnu Taymiyyah banyak menyebutkan bahwa awliya berada pada level yang berbeda. Beliau mendefinisikan tasawwuf sebagai salah satu dari tiga tipe yang berbeda. Sebagian orang adalah mustaswifiin—mereka tidak mengerjakan apa-apa yang berhubungan dengan tasawwuf, namun mereka menggunakannya untuk mencari uang—ini adalah satu sisi. Yang lain menggunakan tasawwuf untuk mendapatkan ketenaran, ini juga satu sisi yang lain. Tetapi ada mutasawwifa yang benar-benar berada di jalan Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, di jalan Sayyidina Muhammad SAW. Mereka mendapat ma’rifah—mereka adalah orang yang berilmu pengetahuan dan inilah sufi yang dijalani oleh Ibnu Taymiyyah.

Ibnu Taymiyyah adalah salah seorang pengikut Tarekat Qadiri, dan dalam kedua bukunya beliau menyebutkan dua orang pengikutnya, Saqqati QS dan Junayd QS. Beliau juga menguraikan tentang Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS dari Tarekat Naqsyabandi. Kemudian dari pihak wanita beliau menyebutkan Rabia al-‘Adawiyyah QS. Dan beliau memberi penjelasan tentang apa yang tidak dimengerti orang tentang ucapan para awliya, dan memaklumkan ungkapan mereka (syatahaat). Beliau merasakan bahwa orang-orang ini ketika menyampaikan ajarannya, mereka berada dalam keadaan ma’rifat, dalam keadaan fana, dan dalam suatu keadaan yang kasyf. Beliau bahkan mengakui adanya keadaan kasyf (pandangan spiritual) dalam bukunya Fatawa Al-Kubra yang berjumlah 37 volume. Kalian yang berbahasa Arab, bacalah volume 10 dan 11, kalian akan menemukannya.

Jadi, kepada siapa kita harus takut? Kita harus mengatakan yang haqq melawan yang baathil. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang suci, “Mereka yang mengingat Allah SWT, dan mereka yang berzikir.” Dan Dia berkata, “mereka,” dalam bentuk jamak. Dia tidak berkata secara individual, Dia berkata jama’ah, dan itu dikatakan dalam al-Qur’an yang suci. Jadi apa yang menjadi masalah di sini? Tidak ada masalah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan kita, “Berselawatlah kepada Rasulullah SAW dan pujilah beliau.”? Jadi jika kita berdiri dan memuji Rasulullah SAW, bukankah ini perintah Allah SWT dalam al-Qur’an yang suci? Kita berdiri dan mengucapkan, “As-salamu ‘alayka ya ayuhan-Nabi, as-salamu ‘alayka ya Rasulullah, as-shalat was-salamu ‘alayka ya Habibullah, wa-shalatu was-salamu ‘alayka ya Syafi’ullah, was-shalatu was-salamu ‘alayka ya Nabi-ullah.” Alhamdulillah kita berdiri dan memberi salam.

Siapa bilang bahwa Rasulullah SAW tidak mendengar kita? Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang memberi salam kepadaku, Aku akan mendengarnya, siapapun yang memberi salam kepadaku dari tempat yang jauh, Aku akan menerima salamnya”? Kita berada jauh dari Madinah—jika kita memuji Rasulullah SAW, beliau akan menerima pujian itu dengan segera. Dan Allah SWT memerintahkan beliau, “Jika seseorang memujimu, berikan balasannya.” Dan Allah SWT berfirman, “Siapapun yang memuji Rasul-Ku Muhammad SAW, Aku akan membalasnya 10 kali lipat.”

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “’Amal umatku akan dipersembahkan kepadaku di makamku.”? Beliau tidak membatasinya siang atau malam—keadaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa pernah berhenti. Rasulullah SAW selalu dalam keadaan mengamati amal seluruh umatnya. Jika perbuatan kita baik, beliau berdoa kepada Allah SWT, jika perbuatan kita buruk, beliau memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni perbuatan kita. Apa lagi yang kalian harapkan dari Rasul kita? Beliau selalu dalam keadaan siaga. Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT telah melarang bumi untuk memakan daging para Rasul.” Rasulullah SAW selalu dalam keadaan siaga—ini berarti beliau dalam keadaan terus-menerus bersiaga dengan tubuhnya di makamnya. Dan makam itu adalah Riyadzul-Jannah, makam beliau adalah Kebun Surga bagi Rasulullah SAW.

Para pengikut mahzab “Salafi” berkata bahwa Rasulullah SAW duduk dalam makamnya, 6 kali 3 kaki. Tidak. Makam itu adalah sebuah Surga yang sangat luas sehingga tidak ada orang yang mengetahui batasnya. Bisa jadi lebih luas dari alam semesta ini. Jadi jika beliau dianugerahi tugas untuk selalu mengamati perbuatan umatnya dan beliau selalu dalam keadaan siaga, itu berarti beliau selalu berada dalam cahaya yang kontinu. Dan beliau bersabda mengenai peristiwa ‘Isra Mi’raj, “Aku melihat Musa AS salat di makamnya.” Bagaimana beliau melihat Musa AS—salat, berdiri, duduk atau berbaring? Pandangan macam apa yang beliau miliki? Itu adalah suatu realitas! Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Musa AS berdiri, salat di makamnya.” Jika Rasulullah SAW mengatakan berdiri, salat di makamnya (beliau tidak mengatakan bahwa Nabi Musa AS berdiri “tanpa tubuh tetapi dengan jiwanya,” tidak, beliau berkata, “berdiri, salat di makamnya”, jadi kita harus memahaminya secara harfiah, sebagaimana orang “Salafi” berkata bahwa kalian harus memahami segala sesuatu secara harfiah. Jadi kita juga melakukannya kali ini. Bagaimana kalian berdiri dan salat? Tunjukkan kepada Saya, biarkan salah seorang melakukannya. Dengan tubuhnya, dan itulah sebabnya mengapa Allah SWT memberikan para awliya sebuah maqam yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Khususnya kepada mereka. Tidak seorang pun yang dapat mencapai level itu.

Sayyidina Muhammad SAW adalah Rasul penutup, beliau adalah Rasul pertama dan sekaligus Rasul terakhir. Beliau mencakup segalanya, seperti dua kutub, dua magnet. Satu magnet positif, yang lain negatif, keduanya tarik-menarik. Menarik alam semesta ini secara bersamaan. Kenabian beliau adalah sejak awal, itulah sebabnya Sayyidina Muhammad SAW bersabda, jika kita mempunyai akal yang bisa mengerti, “Aku adalah seorang Rasul ketika Adam AS masih berwujud antara tanah liat dan air,” dan “ Aku adalah Rasul penutup.” Jadi beliau lebih tua dari masa sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan. Penciptaan itu terletak di antara kedua kutubnya. Beliau adalah kutub magnet yang mengendalikan segalanya, dengan izin Allah SWT—kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Jika bukan untukmu, Aku tidak akan menciptakan semuanya.”

Jika kalian Arab, alhamdulillah. Itu adalah salah satu yang patut disyukuri sebab Rasulullah SAW adalah Arab. Kehormatan kita sebagai orang Arab berasal dari kehormatan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW. Dan beliau bersabda, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal ketaqwaannya.” Kalian datang ke sini untuk memperingati dan merayakan seorang yang telah Allah SWT berikan kekuatan spiritual—Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS. Dan dengan melakukannya, kalian juga diberi kehormatan dan cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW sebab Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS adalah cucu beliau.

Sebelum Saya akhiri, Saya ingin mengatakan bahwa, alhamdulillah, Allah SWT akan melindungi umat ini. Dan kita berada di jalur yang benar. Kita senang untuk mengucapkan, “Semoga Allah SWT membagi apapun pahala yang Dia berikan dalam pertemuan ini demi kemuliaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan apapun berkah yang diberikan Allah SWT kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS dan seluruh aliran Sufi, seluruh orang spiritual, dan seluruh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah QS membagi kita dengan berkah yang diberikan kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan kita memohon kepada Allah SWT untuk membawa seluruh hati kembali kepada Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Menjadi satu hati dalam kesatuan. Insya Allah.

Faatiha.