Showing posts with label Syakban. Show all posts
Showing posts with label Syakban. Show all posts

02 August 2008

Keutamaan Bulan Syakban

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Khotbah Jumat 19 November 1999

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


‘Ha Mim! Demi kitab (Alquran) yang menjelaskan (kebenaran). Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Yaitu urusan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul.’ [QS 44:1-5]

Menurut sebagian besar ulama ayat di atas dapat merujuk pada Malam Kemuliaan (Laylat al-Qadr) atau Malam Pertengahan bulan Syakban (Laylat nisfi Sya`ban). Apapun penafsiran kita tentang malam tersebut, yang jelas malam itu sangat penting untuk diperingati oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Lebih lanjut para ulama juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah menyebutkannya dalam banyak hadis dan para sahabat telah memperingatinya dan Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ha Mim, wal-kitab al-mubiin, inna anzalnaahu fii laylatin mubarakatin inna kunna mundziriin.”—Ha Mim! Demi kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan (kebenaran). Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.”

Penjelasan yang sama juga diutarakan oleh Imam al-Suyuthi dalam kitab al-Jalalayn, ‘malam itu bisa merujuk pada Laylat al-Qadr atau bisa juga Laylat nisfi Sya`ban.’

Menurut Hasan al-Basri QS yang merupakan ulama sekaligus sufi besar dalam Islam, ”Tiga puluh orang sahabat Rasulullah SAW berkata bahwa barang siapa yang melakukan salat 100 rakaat, Allah SWT akan mengamatinya sebanyak 70 kali dan dalam setiap pengamatan-Nya itu, Allah SWT mengirimkan rahmat dan berkah kepadanya serta menghilangkan 70 kesulitan daripadanya.”

[Ingat bahwa Imam Hasan al-Basri QS] merupakan seorang Tabi’in (salah satu pengikut sahabat-sahabat Rasulullah SAW), yang meriwayatkan keterangan ini dari 30 orang sahabat.

Sayyidina Ali RA, KW menganjurkan untuk melakukan banyak ibadah pada malam ke-15 bulan Syakban dan melakukan puasa pada siang harinya.

Betapa istimewanya malam tersebut sehingga saya mengkhususkan Jumat ini untuk membicarakannya, namun demikian saya ingin mengesampingkan dulu hal itu dan mengingatkan kepada yang hadir dan mendengarkan saya di sini, juga kepada umat Muslim di seluruh dunia, bahwa bulan Syakban, bulannya rasul dan Ramadan, bulan penuh rahmat, bulannya umat akan datang dalam waktu yang tidak lama sekitar 2 minggu lagi. Dan sampai sekarang kita masih melihat saudara kita yang mengungsi (terusir) dari rumah dan negrinya sendiri. Mereka hidup di antara pepohonan, ditutupi salju, tidak punya makanan dan tempat tinggal. Dan lebih buruk lagi, mereka dalam keadaan sekarat. 250.000 warga Chechnya terpaksa tinggal di daerah perbatasan dengan tetangganya, Ingushetia dalam keadaan yang menyedihkan.

[Meskipun demikian] kita tidak pernah mendengar seorang pemimpin bangsa Arab yang berbicara sepatah kata pun hingga kini.

Ini adalah sebuah konspirasi menentang kaum Muslim. Di mana para pemimpin bangsa Arab, apa yang mereka lakukan di istana mereka? Apa yang mereka lakukan dengan anak dan istri mereka? Di mana mereka menghabiskan uangnya, di mana mereka mengirimkan anaknya untuk sekolah? Apakah tidak lebih baik untuk meninjau 5.000 orang pengungsi Chechnya yang harus keluar dari negrinya setiap harinya? Dan kalian akan melihat antrian sepanjang 7 kilometer di perbatasan ke Ingusethia dan 4.000 orang melewati Chechnya setiap harinya.

Mengapa kasus Timor Timur mendapat respons yang begitu cepat? Mengapa mereka mendapatkan haknya mendapatkan bantuan kemanusiaan, tetapi warga Chechnya tidak? Begitu juga Kashmir. Mengapa tidak ada perdamaian di Timur Tengah? Mengapa tidak ada dukungan untuk umat muslim di seluruh dunia?

Kita harus memberi dukungan kepada umat Muslim yang berjumlah 1,5 milyar di seluruh dunia. Kalian tidak bisa melemparkan saudara-saudara kita itu ke laut. Jika jumlah pemimpin dan pemerintah tidak cukup untuk memelihara umat Muslim yang berjumlah 1,5 milyar, maka Allah SWT-lah yang akan memelihara mereka, sebab Allah SWT-lah yang melestarikan agama ini. Siapapun yang mendukung umat Islam, akan mendapat balasan surga. Sebaliknya siapapun yang menentangnya tidak akan mendapat balasan surga, apapun yang mereka lakukan.

Langkah apapun yang dilakukan pemerintah yang tidak mendukung umat Islam, tidak akan diridai Allah SWT dan Allah SWT yang akan membantu umat Islam secara langsung.

Wahai para pemimpin dan kaum Muslimin, berikanlah dukungan kepada para pengungsi di perbatasan yang hidup menderita. Jangan tunda lagi, sampai bertahun-tahun seperti di Bosnia atau setelah 17 bulan di Kosovo. Masalah Chechnya telah dimulai sejak bulan Agustus dan belum ada seorang pun yang bangkit.

Kita memohon bantuan dari surga. Ketika Abrahah datang untuk menghancurkan Kakbah, kakek Rasulullah SAW, Abdul Muth-thallib berkata, “Sesungguhnya ada Tuhan Pemilik Rumah yang menjaganya.”—“inna lil-bayti Rabbun yahmih.” Kita berkata kepada umat Muslim, “Sesungguhnya ada Tuhan yang melindungi umat Islam”, kita tidak membutuhkan manusia. Allah SWT akan memberi kita akhirat, Hari Kemudian yang lebih baik dari dunya, kehidupan di dunia ini.

Jangan biarkan malam ke-15 Syakban datang tanpa memikirkan saudara kita di Chechnya, begitu banyak penyakit yang diderita, demam. Sudah 300.000 orang dari 1,2 juta penduduk Chechnya yang tewas. Dan tidak ada satu pun pemimpin Muslim yang berkata apapun [tentang perang yang telah terjadi].

Presiden Chechnya yang semula akan bertemu para pemimpin UAE akhirnya di menit-menit akhir pertemuannya dibatalkan. Mengapa? Rencana bertemu pemimpin Pakistan juga akhirnya kandas di menit-menit akhir, begitu pula dengan rencana pertemuan dengan sejumlah negara di Timur Tengah, akhirnya semuanya dibatalkan.

Ada apa dengan mentalitas Muslim? Apakah mereka mengikuti Allah SWT atau yang selain Allah SWT? Apakah mereka mentaati para pemimpinnya atau Pemimpin Alam Semesta, Sang Maha Pencipta?

Jangan biarkan saudara-saudara kalian jatuh di dunia ini. Bantulah mereka, berikanlah dukungan terhadap agama Allah SWT selama hidup kalian. Sebab kalau tidak, kalian akan mendapat shaqawa, kesulitan di dunia dan hari kemudian.

Kita menemukan dalam kitab Barak bahwa pada malam Nisfu Syakban, semua ciptaan di dunia ini, termasuk bangsa jin, binatang buas dan hewan di lautan, semuanya berpuasa di siang harinya.

Salah seorang ulama mengatakan, bahwa bulan Syakban terdiri atas 5 huruf, yaitu:

  1. Syiin, melambangkan syanab, kehormatan
  2. Al ‘ayn, melambangkan ‘uluw, diangkat dan diberi kehormatan
  3. Ba, melambangkan birr, kebenaran
  4. Alif melambangkan ulfa, kekeluargaan
  5. Nun, melambangkan nur, cahaya

Ini adalah anugerah dari Allah SWT kepada semua hamba-Nya di malam ini. Wahai para pemimpin dan umat Muslim di seluruh dunia, bulan ini adalah bulan kehormatan, syanab; ‘uluw, diangkat; bulan birr, kebenaran; bulan nur, cahaya dan bulan ulfa, kekeluargaan; jadi di mana kehormatan kalian? Di mana kehormatan kalian ketika umat Muslim direndahkan? Di mana rasa kekeluargaan kalian terhadap saudara kalian yang lain yang kalian tinggalkan, kalian campakkan, dan tidak dibantu dengan kekayaan kalian?

Memang benar kalian telah menghabiskan jutaan dolar untuk masjid, sebut saja 10, 20 juta dolar untuk menghiasinya dengan kubah dan menara, namun di saat yang sama kalian juga melupakan umat Muslim di seluruh dunia! Kalian menjual subjek, kalian berkonspirasi menentang umat kalian. Dari sebagian besar pemimpin Muslim, mana yang saleh? Apakah bisa dibilang saleh dengan memiliki Porsche, Ferrari, wanita-wanita, kuda-kuda dan sejumlah istana? [Apakah bisa dibilang saleh untuk] bangga dengan memiliki kuda seharga 10 juta dolar? Itulah kebanggaan mereka. Padahal itu bukanlah suatu kebanggaan, karena Allah SWT tidak akan menilainya. Kebanggaan ada dalam agama, yaitu dengan membantu saudara-saudari kalian. Mereka memiliki pacuan kuda di London, puas dengan kuda-kuda mereka yang masing-masing bernilai 10 juta dolar. Adakah di antara kalian yang berkata, saya telah menyumbangkan 15 juta dolar untuk Chechnya, atau Bosnia, Kosovo dan Palestina atau untuk menghilangkan kesedihan umat muslim di seluruh dunia?

Lihatlah mereka di TV setiap hari. Mereka hanya menyiarkan pacuan kuda, reli mobil, dan lainnya di mana mereka menghabiskan jutaan dolar! Coba perhatikan iklan apa yang terpampang di arena reli mobil mereka? Rokok Marlboro! Di arena pacuan kuda, tidak ada bedanya. Tidak ada ayat-ayat Alquran di sana. Namun ketika tiba waktunya untuk menghiasi masjid, mereka keberatan, “Tidak, ini haram!” kata mereka.

Allah SWT tidak akan menghitung hasanat (ganjaran) dengan uang kalian, tetapi dengan amal kalian (perbuatan baik). Malam yang disebut laylat al bara’ah adalah malam pengampunan. Jangan lewatkan malam tersebut tanpa memohon pengampunan dari Allah SWT.

Ka’b al-Ahbar RA berkata, “Pada malam ke-15 Syakban Allah SWT telah mengutus Jibril AS untuk datang ke surga, lalu Jibril AS meyuruh surga untuk menghiasi dirinya dan mengumumkan kepada surga bahwa pada malam itu Allah SWT telah mengharamkan api neraka kepada sejumlah orang sebanyak jumlah bintang di langit.”

Berapa banyak bintang di sana? Milyar dan milyaran! Hal ini berarti Dia memaafkan setiap malam dari nisfu Sya’ban. Juga diriwayatkan bahwa sebanyak hitungan hari di dunia [sejak mulai ada] Dia membebaskan orang dari neraka, baik siang maupun malam harinya.

Wahai umat muslim! [Berkat dari] Laylat al nisfi min Sya’ban telah banyak diriwayatkan kepada kita dari berbagai sumber. Sangat dianjurkan untuk salat 100 rakaat (Syekh ‘Abdul Qadir Jilani QS menyebutnya Salat Khayr, penerj.), tiap rakaat membaca surat al-Fatihah dan 10 kali “Qul Huu Allahu ahad”. Untuk menyelesaikan salatnya seseorang harus membaca 1.000 kali surat al-Ikhlash. Sebagaimana orang lain memperingatinya, perlu juga bagi kalian untuk memperingatinya. Dan bagi siapa yang sanggup untuk mengundang orang lain untuk memperingatinya, memberikan makanan kepada mereka pada malam itu dan untuk berzikir mengingat Allah SWT dan Rasulullah SAW, dan untuk berpuasa di siang harinya dan salat di malam harinya, akan diberi ganjaran atas keistimewaan malam itu dan juga atas semua yang hadir.

Alhamdulillah hamd al-kamiliin was-salat was-salaam ‘ala Sayiddina Muhammadi wa ‘ala alihi…


05 July 2008

Fadilah dan Rahasia Bulan Rajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Bulan ini dijuluki sebagai Syahrullah (bulannya Allah SWT), yang merupakan salah satu bulan suci umat Islam. Allah SWT memberikan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya denan diciptakannya bulan ini; dibuktikan dengan sabda Rasulullah SAW, “Rajabun Syahrullah “Rajab adalah bulannya Allah SWT.” Tak seorang pun mengerti apa yang Dia bukakan kepada hamba-hamba-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya di bulan ini. Di bulan ini begitu berlimpahnya kehormatan dan kebahagiaan dapat diperoleh, bahkan tak terhingga. Mawlana Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS mengatakan—yang disampaikan oleh Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani QS, “Allah SWT tidak memperkenankan kalam-Nya untuk mencatat amal kita di bulan ini, kecuali dengan ‘perangkat surgawi’ yang disebut “Yad al-Qudra”, yaitu “Kekuatan yang Dahsyat.”

Allah SWT menyaksikan dan menerima amal hamba-hamba-Nya tidak dengan pengertian “fa man ya’mal mitsqala dzarratin khayran yarrah, wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarray yarrah.” Di bulan ini, siapa pun yang berbuat amal baik, amal saleh, akan secara langsung tercatat dengan perantaraan Qalam al-Qudra, suatu kekuatan pencatat amal “non konvensional” yang tidak pernah Allah SWT berikan kepada para malaikat pencatat amal sekalipun. Ini merupakan “Kalam Ilahiah” yang “jauh di atas” kemampuan para malaikat untuk mengembannya. Kalam ini adalah kalam yang ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menulis kalimat La ilaha ill-Allah sebelum diciptakannya alam semesta beserta segala isinya. Kalam Ilahiah tersebut melaksanakan perintah seraya gemetar selama 70.000 tahun dalam hitungan Allah SWT. Kemudian Dia memerintahkan untuk menulis Muhamadur-rasulullah SAW. Pada saat itu kalam sempat bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah gerangan yang Kau taruh namanya bersamaan dengan nama-Mu?” Serta merta Allah SWT menjawab; “Law la Muhammad ma khalaqtahu ahadan min khalqihi”, yang artinya “Kalaulah bukan untuk Muhammad SAW kekasih-Ku, tidak akan pernah Kuciptakan apa pun di alam semesta ini!” Kalam ini berada di Hadirat Ilahi, tidak diberikan-Nya kepada segenap para malaikat. Kalam Ilahiah tersebut akan diserahkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW kelak di Hari Penghitungan (Yawmul Hisab). Kalam inilah yang menulis semua amal kebaikan umat manusia yang beriman di bulan Rajab ini. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan tercatat sedemikian rupa sehingga tetap akan sulit untuk memperoleh timbangan keseimbangannya.

Untuk setiap amal kebaikan yang dilakukan, Allah SWT akan memberikan hamba-hamba-Nya ganjaran yang tidak pernah diberikan-Nya pada kesempatan yang lain. Ganjaran akan berlipat ganda dalam bentuk ma'arij. Pada bulan ini Allah SWT memberikan ma'arij kepada umat manusia, hamba-Nya yang berbuat amal saleh, atas segala amalnya tersebut. Siapa pun yang berbuat kebaikan pasti akan diberi ganjaran mi'raj (kenaikan), dan mi'raj tersebut akan mengangkat hamba yang bersangkutan ke derajat di mana meskipun ia berbuat amal saleh secara sempurna selama setahun penuh untuk kembali ke permulaan bulan Rajab di tahun kemudian, maka amal kebaikan tersebut sebenarnya "tidak mampu" mengimbangi amal kebaikan terkecil yang dilakukan di bulan Rajab ini. Subhanallah! Ingatlah, hal ini sebenarnya masih merupakan setetes makna dan realitas fadilah bulan Rajab. Maka sungguh logis bahwa setiap tahunnya para awliya, para kekasih Allah SWT, hamba-hamba-Nya yang saleh dan salehah selalu menantikan kehadiran bulan Rajab. Para awliya akan menggunakan kesempatan Rajab untuk khalwat, bulan di mana penggapaian dan perolehan pancaran rahmat dan ilmu secara sangat luas terjamin oleh Allah SWT sebagai ganjaran ibadah khalwat tersebut. Oleh karena itu, khalwat dimulai di bulan Rajab. Jika seseorang ingin melaksanakan khalwat—adalah di bulan Rajab—bukan di bulan suci Ramadan. Di bulan Ramadan telah disediakan waktu yang afdhal untuk iktikaf.

Di bulan ini amal akan dilipatgandakan secara tatada 'afuw fihi al 'amaal. Amal kebaikan akan dibalas, diberikan ganjarannya bagaikan reaksi atomik. Apa yang diberikan Allah SWT selalu berkelipatan secara terus-menerus, khususnya di bulan Rajab—tidak akan ada yang pernah mengerti proses penghitungannya khususnya ketika dilaksanakan oleh Qalam al-Qudra. Kalam hanya menunggu perintah-Nya, apa pun yang akan dicatat sebagai suatu 'tabungan' amal saleh seluruh hamba, dan kalam ini kelak akan diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Kalam ini bukanlah termasuk 'malakun muqarrab', yakni kalam yang telah diberikan kepada para malaikat. Ini dibuktikan dengan firman-Nya, melalui Nabi Muhammad SAW, “Rajabun Syahrullah wa Sya’banu Syahri” – “Bulan Syakban adalah bulanku” (sabda Nabi SAW). Sehingga pada hakikatnya menjelaskan kepada kita semua, segala bentuk kebaikan yang bertaut dengan kepatuhan dan cinta kepada Nabi SAW—akan dicatat sendiri oleh kalam beliau. Terdapat Kalam Allah (Qudra) dan juga Kalam Rasul SAW. Allah SWT memberikan kehormatan tersebut kepada Nabi SAW, sejak beliau masih berada di alam dunia; dan ketika semua ciptaan-Nya mengucapkan salam dan selawat kepada beliau, maka akan dicatat langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Sedemikianlah Allah SWT memberikan kemuliaan dan kelebihan derajat kepada umat Nabi SAW jauh di atas umat lainnya, sedemikian tingginya sehingga perbuatan baik yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, walaupun sedikit saja, akan tercatat secara akumulatif (non stop). Para malaikat tidak memiliki wewenang sebagaimana yang telah dijelaskan tadi; 'laysa andahum salahiyyat.' Para malaikat diberikan wewenang untuk mencatat amal manusia, tetapi tidak untuk memberi pahala. Allah SWT-lah yang memberi pahala; tetapi Allah SWT pun memberi Sayyidina Muhammad SAW wewenang dan kehormatan untuk memberi pahala. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT berfirman, “Rajabun Syahrullah,” yang pada hakikatnya mengimplikasikan “Aku memberikan pahala kepada hamba-Ku di bulan ini” dan Nabi SAW bersabda, “Wa Sya’banu syahri.” Beliau tidak bersabda, “Wa Syabanu syar al- rasul. Nabi SAW bersabda, “Wa Sya’banu syahri “mengimbangi” pernyataan “Rajabun syahrullah.” “Apa yang Allah SWT berikan kepadaku adalah untuk umatku, jadi segala yang aku berikan adalah untuk kebaikan umat.” “Apa yang Allah SWT berikan di bulan Rajab adalah untuk kebaikan umat dan Allah SWT memberikan pahala di bulan Rajab tanpa batas. Biasanya Allah SWT membalas suatu kebaikan dengan kelipatan sepuluh derajat.

Ketika Allah SWT membalas tanpa hisab (perhitungan) tiada seorang pun yang mengetahui. Hal tersebut berada di luar batas pemahaman manusia dan mizan (timbangan). Apa yang Nabi SAW berikan juga di luar batas perhitungan manusia dan malaikat, sebab ketika Nabi SAW memberi, beliau tidak memberi dari maqamnya ketika beliau masih hadir secara fisik di dunia 14 abad yang lalu, tetapi Nabi SAW memberinya dari maqam beliau terkini dengan ma'arij-nya. Apakah kita berpikir bahwa Nabi SAW hanya melakukan sekali mi'raj? Di Malam Kenaikan ketika Nabi SAW dimuliakan dan diundang Allah SWT untuk melaksanakan perjalanan lintas dimensi; apakah kita berpikir bahwa Nabi SAW 'diangkat' –kembali ke bumi—lalu berhenti dan selesai? Nabi SAW berada dalam maqam ma'arij tanpa mengenal batas dimensi ruang dan waktu. Ketika Allah SWT memberi sesuatu kepada kekasih-Nya, Dia tidak menahan dan mengambilnya kembali. Allah SWT tidak berfirman; "Ini untukmu wahai Muhammad SAW, lalu setelah selesai engkau kembali ke tempatmu semula.” Tidak, tidak demikian. Allah SWT tetap melestarikan kondisi tersebut mulai dari satu hari 1400 tahun yang lalu ketika Nabi SAW melakukan mi’raj dalam Laylat al Israa'i wal-Mi’raj, beliau tetap bermi'raj ke Hadirat Allah SWT. Jadi menurut kita, apa kiranya yang Nabi SAW akan berikan? Apakah beliau memberi pahala dari keadaannya 1400 tahun yang lalu atau memberi dari tingkatannya sekarang? Dan Nabi SAW bersabda, “Allah SWT mengangkatku mitslayni mitslayni”, yakni dalam tingkatan yang lebih tinggi ganda, ganda, ganda, ganda dan berkali-kali lipat lagi. Setiap saat bertambah menjadi ganda kemudian berlipat empat dan seterusnya seperti itu. Lantas minimal sejak 14 abad lampau sampai sekarang, sudah berapa jauh perjalanan Nabi SAW dalam ma'arij-nya? Seseorang yang melakukan pujian kepada beliau di saat sekarang, tentu saja Nabi SAW memberinya balasan dari tingkatannya pada waktu yang sama.

Suatu manifestasi dari ikrar kesetiaan (bay’at), cinta (mahabbah), dan kepatuhan antara umat dan pemimpin berasal dari anwaar (cahaya) yang Nabi SAW sandang sebagai anugerah Allah SWT. Beliau disandangkan-Nya dengan segala tajali yang tidak seorang pun dapat menggambarkannya. Allah SWT menyandangkan Kekasih-Nya mitslayni mitslayni. Setiap saat tajalinya menjadi ganda dan ganda. Setiap saat Allah SWT menyandangkannya dengan cahaya dan rahasia membuatnya berada dalam Samudra Asma dan Sifat. Beliau berenang dalam Bahr al-Asmai wal sifat. Apa yang Allah SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW, tidak dapat seorang pun yang mampu mendeskripsikannya.

Hal tersebut berada dalam hati para awliya, meskipun mereka sebenarnya tidak mampu bagaimana mengekspresikannya. Tidaklah heran mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA berkata, “Hafizhtu an Rasulillah wi'a ain,” “Aku dapat mengingat dua pengetahuan dari Rasulullah SAW." Salah satunya dapat kuceritakan kepada khalayak ramai; tetapi yang satunya lagi jika aku katakan mereka pasti akan memenggal leherku. Beberapa golongan ulama berkata bahwa hal ini merujuk pada tanda-tanda Hari Akhir. Hal ini tidak benar. Hal tersebut merujuk pada rahasia tingkatan Rasulullah SAW dan apa yang Allah SWT berikan kepada umat beliau. Umat ini adalah ummatan marhuma (diberikan rahmat) dan ummatan maghfira (diberikan pengampunan). Kita sebagai umat beliau diberikan pengampunan-Nya sebagaimana kecintaan yang terpancar oleh-Nya kepada Nabi SAW.

Dengan kata lain Rajabun syahrullah Sya’banu syahri berarti, ‘kalian memasuki milikku.’ Rasulullah SAW bersabda, “Sya’banu syahri.” Beliau tidak bersabda, “Sya’banu syahr al-Nabi” atau “Syahr Rasulullah.” Hal itu lebih menekankan atas kepemilikan (properti) Rasulullah SAW. Syahri berarti “Ini milikku. Kalian memasuki properti pribadi.” Ketika kita berdiri dan mengucapkan, “as-salaamu alayka ya Rasulallah SAW” dalam syahr Sya’ban, kita memasuki properti Muhammad SAW. Bisakah orang yang memasuki properti Rasulullah SAW masuk neraka? Jelas tidak, selesai! Allah SWT akan mengampuninya karena berkah dari Sayyidina Muhammad SAW. Jangan membayangkan jika kalian melangkahkan satu kaki ke dalam Surga lantas kalian akan dilemparkan ke neraka, sebab setiap Surga itu hidup. Apa yang berhubungan dengan akhirat adalah hidup. Surga selalu hidup dengan kehidupan di dalamnya. Ketika kita memasuki sesuatu dengan kehidupan di dalamnya, Allah SWT tidak akan melemparkan kita kembali ke neraka. Di saat kita melangkah ke dalam properti milik Sayyidina Muhammad SAW dan masuk ke dalam hadiratnya dengan salam dan selawat, siapa yang dapat mengambil kembali? Selesai! Rasulullah SAW akan mengadakan perbincangan dengan Ilahi Rabbi, “Ya Rabb, Ya Allah SWT mereka adalah umatku, mereka semua adalah pelayan-Mu, hamba-Mu.” Ia percaya kepadaku, ia masuk ke dalam propertiku, masuk ke dalam surgaku.”

Allah SWT akan berfirman, “Ambil dia! Aku berikan wewenang syafa'at kepadamu wahai Muhammad SAW. Mengapa Aku memberimu syafa'at? Bawa mereka semua ke mana pun engkau hendaki. Tempatkan mereka bersamamu wahai kekasih-Ku.” Kemudian Rasulullah SAW dianugrahi-Nya surga khusus untuk seluruh umatnya yang percaya kepadanya, memujinya, mencintainya, merasakan kehadirannya setiap saat, dan memanggilnya. Mereka akan diberi balasan. Mereka akan menjadi fi maqadi shidqin 'aind maliikin muqtadir. Mereka yang percaya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tetapi tidak merasakan suatu proses rasa kehadiran (muraqabah) yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan malas untuk menyeru, akan juga berada di surga yang sama namun mereka akan terselubung dari pandangan Rasulullah SAW.

Wahai mu'min, wahai orang-orang yang beriman, apa yang ada di kalbu para awliya begitu luas, sehingga bila setetes kecil saja ditempatkan di alam ini maka alam ini akan menjadi abu dari pancaran tajali-Nya. Allah SWT tidak akan memberikan izin kepada para wali untuk mengungkapkan sampai mereka mendapat dukungan kekuatan penuh dari Sayyidina Imam Mahdi AS kelak, Insya Allah. Banyak wali telah lama menanti, menanti, dan dengan sabar menanti—sehingga tidak sedikit dari mereka dalam penantiannya tersebut kembali ke hadhirat Ilahi Rabbi. Kita layak untuk selalu berharap, sebagai pengikut Baginda Nabi SAW, para sahabat beliau, pengikut para wali Allah, pengikut Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani QS, kiranya Allah SWT memanjangkan usia kita untuk sempat berjumpa dengan Imam Mahdi AS, untuk menikmati indahnya rahasia-rahasia dari dalam kalbu mereka (para wali).

Ketika kalian masuk ke dalam samudra ilmu Allah SWT, hal ini dapat membuat 'mabuk.' Jadi, pada akhirnya sudah tidak pantas untuk bersandar pada alam logika. Hal tersebut berada di luar batas pikiran kita. Seraya Ramadan menghampiri kita—wa Ramadhanu syahrul ummati—Marhaban Yaa Syahrul Ramadhan! Ini berarti setelah Allah SWT menyandangkan umat Nabi SAW dengan cahaya dari Bahr ul-Qudra, dari Samudra Kekuatan—Samudra Keindahan—Dia menyandangkan lagi dengan cahaya dan perwujudan Asmaa dan Sifat-Nya. Kemudian Dia mengirimkan mereka kepada kekasih-Nya untuk menyandangkan mereka dari samudra milik beliau. Kemudian dengan dua busana yang telah dipakai sejak Rajabun syahrullah dan Sya’banu syahri ini umat memasuki Ramadan untuk diberi penghargaan dengan puasa sebagai perwujudan syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah diberikan kepada umat dalam syahr Rajab dan apa yang Nabi SAW berikan dalam syahr Sya’ban. Allah SWT memberi mereka pahala. Mereka akan disandangkan dengan busana ini dalam syahru Ramadan dan akan diperlihatkan kepada para malaikat.

Para malaikat—menurut Syekh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani QS dan Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani QS, akan berdiri kebingungan ketika perhatian mereka tertuju pada umat yang mengambil kesempatan secara optimal untuk beribadah secara ikhlas dan kontinu di bulan Rajab dan Syakban. Mereka yang tetap menjaga adab Rajab dan Syakban—mereka adalah bagian yang istimewa dan sungguh beruntung dari keseluruhan umat. Tidak semua bagian dari umat mampu melaksanakannya. Untuk orang-orang istimewa ini, yang tetap menjaga adab Rajab dan Syakban, ketika memasuki bulan suci Ramadan para malaikat akan tercengang keheranan. “Siapa mereka ini? Jenis tajali apa yang mereka sandang?” Begitulah rasa keingintahuan para malaikat. Pada akhirnya para malaikat merasa malu untuk mencatat amal mereka sebab apa pun yang akan malaikat catat untuk mereka di bulan Ramadan, orang-orang tersebut telah dihiasi dengan cahaya yang belum pernah dibukakan sebelumnya. Nur yang pada akhirnya dibukakan itu disebabkan oleh tajali dan ma'arij Rasulullah SAW. Para malaikat terkejut, heran, sampai dengan tahap 'bingung' tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT berfirman bahwa sepuluh hari terakhir dari Ramadan adalah atqun minal naar, yakni bebas dari api neraka. Amin Yaa Rabbul'alamiin.