Showing posts with label Tajali. Show all posts
Showing posts with label Tajali. Show all posts

24 October 2011

Tajali Haji selalu Meningkat Berlipat Ganda


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

21 Oktober 2011 Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

(Sebelum Mawlana dan rombongan berangkat Haji)

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Allah (swt) menciptakan kita dengan kehormatan dan membusanai kita dengan kehormatan surgawi dan Dia menyempurnakan kita. Dia berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

wa laqad karamna Bani Adam.

Kami telah muliakan anak-anak Adam. (al-'Israa, 17:70)

Dia memuliakan kita melebihi semua makhluk dan Dia memuliakan sebagian di antaranya dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari ummat an-Nabi (s). Itulah sebabnya Dia berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِِ

Kuntum khayra ummatin ukhrijat li ‘n-naasi tamuruuna bi ‘l-m`aruufi watanhawna `ani al-munkari watu’minuuna bil-Laah.

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. (`Aali Imraan, 3:110)

Sekarang kita berada di musim Haji dan dari kemuliaan Allah, Dia memuliakan kita untuk melakukan Haji paling tidak sekali seumur hidup, dan tidak hanya sekali bagi mereka yang mampu, baik dari kondisi kesehatannya maupun secara finansial, karena Allah tahu bahwa Haji tidaklah mudah, itu adalah perjalanan yang sulit yang akan kalian lakukan. Tetapi, subhaanAllah, dari berbagai mazhab yang berbeda, Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali, penjelasan mereka yang berbeda tentang Haji menjadikannya begitu mudah. Mereka mengambil dari ahadits Nabi (s) di mana para Sahabat (r) bersama Sayyidina Muhammad (s) melakukan Hajjat al-Wada` dan beliau memberikan petunjuk untuk mengurangi kesulitannya.

Al-Abbas (r) mendatangi Nabi (s) dan berkata, “Yaa Rasuulullah! Aku harus memberikan air kepada orang-orang yang menunaikan Haji di Mekah, jadi apa yang harus kulakukan, karena aku tidak bisa tinggal selama tiga hari di Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, engkau mempunyai alasan yang baik; lemparkanlah batu-batumu (jamrah) pada hari pertama di Mina lalu kembalilah ke Mekah, atau tinggallah di Mekah pada hari keempat Haji.” Sekelompok pengembala juga mendatangi Rasuulullah dan berkata, “Kami menjaga biri-biri untuk zabiha (kurban) bagi Ahl al-Islam untuk Haji dan kami tidak bisa pergi ke Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, tinggallah di Mekah.” Ini adalah contoh bahwa Haji itu tidak sulit tetapi juga tidak mudah. Jika kalian masih muda dan kuat, kalian dapat memenuhi semua prinsip Haji, tidak hanya melakukan yang termudahnya saja.

Allah (swt) telah menganugerahkan Haji setahun sekali selama 1400 tahun, dan setiap Haji mempunyai cita rasa yang khas; tidak ada kemiripan antara Haji yang satu dengan yang lain. Tajali Asmaul Husna wal Sifat apapun yang Allah kirimkan pada Haji ini atau itu, Dia tidak mengirimkan tajali yang sama, tetapi mengirimkan tambahan bagi tajali itu pada Haji berikutnya. Jadi Haji itu seperti pelangi yang mempunyai warna-warni yang berbeda, yang akan memberikan kalian cita rasa yang berbeda jika kalian melihatnya dengan suatu kaca pembesar, kalian akan melihat lebih banyak warna yang membuat kalian bahagia. Haji juga seperti pelangi yang memperlihatkan tajali Asmaul Husna wal Sifat yang berbeda, jadi setiap tahun kalian mendapat tajali yang lebih banyak dari apa yang diberikan pada tahun sebelumnya, sejak zaman Nabi (s) hingga ke tahun di mana kalian menunaikan Haji.

Allah Maha Pemurah dan apapun yang Dia kirimkan, Dia tidak akan mengambilnya kembali dan apa yang Dia berikan sebelumnya tetap berada di sana. Sejak 1400 tahun yang lalu, pelangi tajali yang Allah kirimkan kepada orang-orang yang menunaikan Haji adalah berasal dari masa itu dan kalian menerimanya secara akumulatif dengan tajali yang ada pada tahun di mana kalian menunaikan ibadah Haji (Tajali Haji meningkat secara eksponensial). Kehadiran tahun ini akan mempunyai cita rasa yang berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, dan karena kita bergerak menuju Tanda-Tanda Hari Kiamat, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

القابض على دينه كالقابض على الجمر

al-qaabidhu `alaa diinihi ka’l-qaabidhu `alaa al-jamr.

Orang yang memegang teguh agamanya (di masa sekarang) seperti orang yang memegang bara yang menyala di tangannya.

Jadi, sekarang itu tidaklah mudah, untuk berangkat dari negeri-negeri ini, karena biayanya mahal dan menjadi sangat sulit, tidak seperti bila kalian berada di sana atau di dekat bandara, atau misalnya hanya perlu satu jam perjalanan ke Mekah dan Madinah. Kerumitan untuk pergi dan semakin banyak orang yang ingin menunaikan Haji, menjadikan ibadah Haji bertambah sulit. Tetapi sebagaimana Nabi (s) bersabda,

laa rahata fi ‘d-diin.

(Tidak ada) rehat/istirahat di dalam agama.

Itu artinya kalian harus selalu berjuang. Sebelum berangkat, orang-orang yang berhaji, hujjaj, memanggil semua saudara dalam keluarga mereka dan tetangga mereka dan teman-teman mereka untuk mengucapkan selamat tinggal karena orang yang pergi tidak tahu apakah ia akan kembali, apakah ia akan hidup atau meninggal di sana. Kalian meninggalkan dunia dan pergi menuju akhirat, itulah niatnya bagi setiap orang yang menunaikan Haji, itu adalah akhirat, karena itu adalah kewajiban. Ketika kalian melakukan salat kalian, itu adalah akhirat; ketika kalian melakukan kelima salat kalian, seolah-olah kalian berada di Surga, karena ketika kalian mengarahkan wajah kalian menghadap Kiblat, ke Baitullah, yang aslinya adalah di Bait al-Ma’mur (di Surga keempat, yang letaknya persis di atas Ka'abah di Bumi), jadi kalian berada di akhirat! Nabi (s) bersabda,

qurratu `aynii fi 'sh-shalaat.

Kesejukan mataku (saat terbaik, apa yang kucintai) adalah salat (karena aku berada di Hadirat Ilahi).

Meskipun kita tidak melihatnya karena kita adalah pendosa dan hamba yang lemah, tetap saja Allah (swt) akan memberikannya kepada kalian karena kalian berusaha melakukan yang terbaik untuk tidak kehilangan salat kalian, karena seorang Muslim tidak hanya salat pada hari Jumat saja, tetapi setiap hari. Setiap salat mempunyai pelangi tajali dan cita rasa khasnya masing-masing. Sayangnya, kini kita salat seperti ayam jantan (terburu-buru) tidak khusyuk, tanpa rasa dari salat itu atau tanpa perasaan. Sebagian orang memilikinya, tetapi yang lain tidak, dan kita memohon kepada Allah agar memberikan rasa itu kepada kita.

Ketika kalian pergi ke Madinat al-Munawarrah dan mengunjungi Nabi (s) dan memberikan penghormatan kalian, dan kalian meminta kepada Allah (swt) di dalam doa-doa kalian, demi Nabi (s), Allah (swt) akan mengabulkannya. Dan siapa yang berada di samping beliau--semua Sahabat dan semua awliyaullah, tetapi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) adalah yang dimakamkan di samping Nabi (s). Apa yang dikatakan oleh Nabi (s) mengenai Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Saya tidak akan berbicara mengenai Sayyidina `Ali (r) sekarang karena ada 360 ayat di dalam kitab suci al-Qur’an mengenai beliau. Kita bicara mengenai topik ini sekarang. Nabi (s) bersabda, “Setiap nabi mempunyai dua orang menteri, wazir, dari penghuni (makhluk) langit dan dua orang menteri dari orang-orang di Bumi, dan menteriku dari langit adalah Jibriil (a) dan Mika'iil (a). [Itulah sebabnya bagi semua Ahl as-Sama, mereka berdua selalu berada bersama beliau secara privat, keduanya istimewa]. Sedangkan menteriku yang berasal dari Bumi adalah Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar.”

Jadi bagaimana menurut kalian, dapatkah seseorang yang mengunjungi Nabi (s) tetapi lupa untuk mengunjungi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Tidak bisa, karena mereka berada di samping Nabi (s). Itu artinya setiap orang yang mengunjungi Madinat al-Munawwara dan Sayyidina Muhammad (s), kemudian Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar, akan berada bersama mereka setiap saat di dalam kehidupannya di dunia dan akhirat! Allah (swt) tidak akan menghalangi seseorang yang mendatangi gerbang Nabi (s), mendatangi gerbang Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, dan semua Sahabat, semua anak cucu dan keluarga dan istri-istri Nabi (s), kemudian dijauhkan dari mereka, tidak, kalian akan bersama mereka di dunia dan akhirat!

Itu tidak berarti hanya dengan kedatangan kalian tahun ini (kalian mendapat keberkahan itu), sementara bagi mereka yang pergi tahun lalu atau pada tahun-tahun sebelumnya, mereka dihilangkan, tidak. Itu adalah suatu akumulasi dan penambahan berkah dari tahun-tahun yang telah lewat dengan tahun ini, dan dunia ini bergerak dengan cepat menuju perubahan surgawi untuk segera membawa kekuatan surgawi untuk mengembalikan kedamaian dan kebahagiaan di Bumi.

(Hadis) Ibn `Umar berkata, “Suatu hari Nabi (s) memasuki masjid dan di sebelah kanannya adalah Sayyidina Abu Bakr dan di sebelah kirinya adalah Sayyidina `Umar, dan beliau memegang tangannya, dan beliau (s) bersabda, ‘Seperti inilah kita akan dibangkitkan di Yaumul Hisab, bersama (yaitu Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar).’”

Apakah menurut kalian, kalian akan ditinggalkan di belakang ketika Nabi (s) dibangkitkan bersama Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) dan bersama seluruh Sahabat (r) dan semua keluarga Nabi (s), apakah kalian akan disingkirkan padahal kalian telah menghadapi berbagai kesulitan untuk mendatanginya (s), paling tidak sekali seumur hidup kalian, untuk mencapai hadiratnya dan berdoa, apapun yang kalian inginkan, di mana tidak ada istilah “di sana” karena para malaikat membawa doa-doa kalian ke atas, dan Nabi (s) akan membawa kalian hingga ke Hadirat Ilahi.

Tahun ini tajali dari doa itu dibuka. Itulah sebabnya banyak hamba Allah yang saleh, رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْه, rijaalun shaadaquu maa `ahadullaha `alayh (33:23), “Orang-orang yang memegang janjinya dengan Allah (swt),” akan berada di dalam hadirat itu, mereka akan datang dari berbagai penjuru untuk berada di hadirat Nabi (s), meminta kepada Allah (swt) sebagaimana di dalam ayat,


وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ

walaw annahum idz zhalamuu anfusahum jaauuka fa ’staghfaruullaah wa ’staghfara lahumu ‘r-rasuul.

Jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka. (an-Nisa, 4:64)


Ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu, yaa Muhammad, dan meminta ampunan Allah, Allah akan mengampuni mereka jika engkau mengampuni mereka dan engkau memintakan ampunan atas nama mereka!

Kita berdoa, yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Niat kami adalah untuk pergi dan mengunjungimu, dan meminta ampun di hadiratmu, dan meminta agar bersamamu di dunia dan akhirat, untuk berada di kakimu, dan kaki Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali dan semua Sahabat (r) yang lainnya!

(Hadis) `Anas (r) berkata, “Nabi (s) bersabda, ‘Cinta kepada Abu Bakr dan `Umar adalah bagian dari iman dan orang yang membencinya akan jatuh ke dalam kategori kafir, tidak beriman.”

Jadi pastikanlah, selama kehadiran kalian di sana, di hadirat Nabi (s), berikanlah penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau dan kepada Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussayn, istri-istri dan keluarga beliau, anak cucu beliau dan semua Sahabatnya (r), Ka`aba dan Mahbat al-Wahiy, Jannat al-Baqii, Safa, Marwa dan Saii, dan semua malaikat di langit dan Bumi, dan berikan hormat kepada semua nabi (a) dan orang-orang yang saleh.

Kalian harus menekan kemarahan kalian di sana, jangan marah dan jangan berdebat, bertanya, “Mengapa ini terjadi, atau tidak terjadi?” atau, “Mengapa aku harus begini, begitu?” Di sana, yang terjadi hanyalah apa yang dikehendaki Allah dan kalian akan melihat bahwa kalian tidak mempunyai iradat, hanya Kehendak Allah yang akan terjadi di sana, dan kalian akan melihat bahwa apapun yang Dia tuliskan bagi kalian, itu akan terjadi, jadi jangan berdebat! Jagalah salat kalian, dan jagalah mulut kalian hanya untuk zikrullah dan berselawat atas Nabi (s).

(Doa)

18 September 2008

Tajali Kebahagiaan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Lefke, Siprus: 29 November 2001

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Ferah-tajalli, tajali kebahagiaan tengah datang… Sesuai dengan ayat:… fa inna ma’a-l ‘usri yussra, inna ma’al ‘usri yussra…

05 July 2008

Fadilah dan Rahasia Bulan Rajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Bulan ini dijuluki sebagai Syahrullah (bulannya Allah SWT), yang merupakan salah satu bulan suci umat Islam. Allah SWT memberikan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya denan diciptakannya bulan ini; dibuktikan dengan sabda Rasulullah SAW, “Rajabun Syahrullah “Rajab adalah bulannya Allah SWT.” Tak seorang pun mengerti apa yang Dia bukakan kepada hamba-hamba-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya di bulan ini. Di bulan ini begitu berlimpahnya kehormatan dan kebahagiaan dapat diperoleh, bahkan tak terhingga. Mawlana Syekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS mengatakan—yang disampaikan oleh Mawlana Syekh Nazim Adil al-Haqqani QS, “Allah SWT tidak memperkenankan kalam-Nya untuk mencatat amal kita di bulan ini, kecuali dengan ‘perangkat surgawi’ yang disebut “Yad al-Qudra”, yaitu “Kekuatan yang Dahsyat.”

Allah SWT menyaksikan dan menerima amal hamba-hamba-Nya tidak dengan pengertian “fa man ya’mal mitsqala dzarratin khayran yarrah, wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarray yarrah.” Di bulan ini, siapa pun yang berbuat amal baik, amal saleh, akan secara langsung tercatat dengan perantaraan Qalam al-Qudra, suatu kekuatan pencatat amal “non konvensional” yang tidak pernah Allah SWT berikan kepada para malaikat pencatat amal sekalipun. Ini merupakan “Kalam Ilahiah” yang “jauh di atas” kemampuan para malaikat untuk mengembannya. Kalam ini adalah kalam yang ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menulis kalimat La ilaha ill-Allah sebelum diciptakannya alam semesta beserta segala isinya. Kalam Ilahiah tersebut melaksanakan perintah seraya gemetar selama 70.000 tahun dalam hitungan Allah SWT. Kemudian Dia memerintahkan untuk menulis Muhamadur-rasulullah SAW. Pada saat itu kalam sempat bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah gerangan yang Kau taruh namanya bersamaan dengan nama-Mu?” Serta merta Allah SWT menjawab; “Law la Muhammad ma khalaqtahu ahadan min khalqihi”, yang artinya “Kalaulah bukan untuk Muhammad SAW kekasih-Ku, tidak akan pernah Kuciptakan apa pun di alam semesta ini!” Kalam ini berada di Hadirat Ilahi, tidak diberikan-Nya kepada segenap para malaikat. Kalam Ilahiah tersebut akan diserahkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW kelak di Hari Penghitungan (Yawmul Hisab). Kalam inilah yang menulis semua amal kebaikan umat manusia yang beriman di bulan Rajab ini. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan tercatat sedemikian rupa sehingga tetap akan sulit untuk memperoleh timbangan keseimbangannya.

Untuk setiap amal kebaikan yang dilakukan, Allah SWT akan memberikan hamba-hamba-Nya ganjaran yang tidak pernah diberikan-Nya pada kesempatan yang lain. Ganjaran akan berlipat ganda dalam bentuk ma'arij. Pada bulan ini Allah SWT memberikan ma'arij kepada umat manusia, hamba-Nya yang berbuat amal saleh, atas segala amalnya tersebut. Siapa pun yang berbuat kebaikan pasti akan diberi ganjaran mi'raj (kenaikan), dan mi'raj tersebut akan mengangkat hamba yang bersangkutan ke derajat di mana meskipun ia berbuat amal saleh secara sempurna selama setahun penuh untuk kembali ke permulaan bulan Rajab di tahun kemudian, maka amal kebaikan tersebut sebenarnya "tidak mampu" mengimbangi amal kebaikan terkecil yang dilakukan di bulan Rajab ini. Subhanallah! Ingatlah, hal ini sebenarnya masih merupakan setetes makna dan realitas fadilah bulan Rajab. Maka sungguh logis bahwa setiap tahunnya para awliya, para kekasih Allah SWT, hamba-hamba-Nya yang saleh dan salehah selalu menantikan kehadiran bulan Rajab. Para awliya akan menggunakan kesempatan Rajab untuk khalwat, bulan di mana penggapaian dan perolehan pancaran rahmat dan ilmu secara sangat luas terjamin oleh Allah SWT sebagai ganjaran ibadah khalwat tersebut. Oleh karena itu, khalwat dimulai di bulan Rajab. Jika seseorang ingin melaksanakan khalwat—adalah di bulan Rajab—bukan di bulan suci Ramadan. Di bulan Ramadan telah disediakan waktu yang afdhal untuk iktikaf.

Di bulan ini amal akan dilipatgandakan secara tatada 'afuw fihi al 'amaal. Amal kebaikan akan dibalas, diberikan ganjarannya bagaikan reaksi atomik. Apa yang diberikan Allah SWT selalu berkelipatan secara terus-menerus, khususnya di bulan Rajab—tidak akan ada yang pernah mengerti proses penghitungannya khususnya ketika dilaksanakan oleh Qalam al-Qudra. Kalam hanya menunggu perintah-Nya, apa pun yang akan dicatat sebagai suatu 'tabungan' amal saleh seluruh hamba, dan kalam ini kelak akan diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Kalam ini bukanlah termasuk 'malakun muqarrab', yakni kalam yang telah diberikan kepada para malaikat. Ini dibuktikan dengan firman-Nya, melalui Nabi Muhammad SAW, “Rajabun Syahrullah wa Sya’banu Syahri” – “Bulan Syakban adalah bulanku” (sabda Nabi SAW). Sehingga pada hakikatnya menjelaskan kepada kita semua, segala bentuk kebaikan yang bertaut dengan kepatuhan dan cinta kepada Nabi SAW—akan dicatat sendiri oleh kalam beliau. Terdapat Kalam Allah (Qudra) dan juga Kalam Rasul SAW. Allah SWT memberikan kehormatan tersebut kepada Nabi SAW, sejak beliau masih berada di alam dunia; dan ketika semua ciptaan-Nya mengucapkan salam dan selawat kepada beliau, maka akan dicatat langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Sedemikianlah Allah SWT memberikan kemuliaan dan kelebihan derajat kepada umat Nabi SAW jauh di atas umat lainnya, sedemikian tingginya sehingga perbuatan baik yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, walaupun sedikit saja, akan tercatat secara akumulatif (non stop). Para malaikat tidak memiliki wewenang sebagaimana yang telah dijelaskan tadi; 'laysa andahum salahiyyat.' Para malaikat diberikan wewenang untuk mencatat amal manusia, tetapi tidak untuk memberi pahala. Allah SWT-lah yang memberi pahala; tetapi Allah SWT pun memberi Sayyidina Muhammad SAW wewenang dan kehormatan untuk memberi pahala. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT berfirman, “Rajabun Syahrullah,” yang pada hakikatnya mengimplikasikan “Aku memberikan pahala kepada hamba-Ku di bulan ini” dan Nabi SAW bersabda, “Wa Sya’banu syahri.” Beliau tidak bersabda, “Wa Syabanu syar al- rasul. Nabi SAW bersabda, “Wa Sya’banu syahri “mengimbangi” pernyataan “Rajabun syahrullah.” “Apa yang Allah SWT berikan kepadaku adalah untuk umatku, jadi segala yang aku berikan adalah untuk kebaikan umat.” “Apa yang Allah SWT berikan di bulan Rajab adalah untuk kebaikan umat dan Allah SWT memberikan pahala di bulan Rajab tanpa batas. Biasanya Allah SWT membalas suatu kebaikan dengan kelipatan sepuluh derajat.

Ketika Allah SWT membalas tanpa hisab (perhitungan) tiada seorang pun yang mengetahui. Hal tersebut berada di luar batas pemahaman manusia dan mizan (timbangan). Apa yang Nabi SAW berikan juga di luar batas perhitungan manusia dan malaikat, sebab ketika Nabi SAW memberi, beliau tidak memberi dari maqamnya ketika beliau masih hadir secara fisik di dunia 14 abad yang lalu, tetapi Nabi SAW memberinya dari maqam beliau terkini dengan ma'arij-nya. Apakah kita berpikir bahwa Nabi SAW hanya melakukan sekali mi'raj? Di Malam Kenaikan ketika Nabi SAW dimuliakan dan diundang Allah SWT untuk melaksanakan perjalanan lintas dimensi; apakah kita berpikir bahwa Nabi SAW 'diangkat' –kembali ke bumi—lalu berhenti dan selesai? Nabi SAW berada dalam maqam ma'arij tanpa mengenal batas dimensi ruang dan waktu. Ketika Allah SWT memberi sesuatu kepada kekasih-Nya, Dia tidak menahan dan mengambilnya kembali. Allah SWT tidak berfirman; "Ini untukmu wahai Muhammad SAW, lalu setelah selesai engkau kembali ke tempatmu semula.” Tidak, tidak demikian. Allah SWT tetap melestarikan kondisi tersebut mulai dari satu hari 1400 tahun yang lalu ketika Nabi SAW melakukan mi’raj dalam Laylat al Israa'i wal-Mi’raj, beliau tetap bermi'raj ke Hadirat Allah SWT. Jadi menurut kita, apa kiranya yang Nabi SAW akan berikan? Apakah beliau memberi pahala dari keadaannya 1400 tahun yang lalu atau memberi dari tingkatannya sekarang? Dan Nabi SAW bersabda, “Allah SWT mengangkatku mitslayni mitslayni”, yakni dalam tingkatan yang lebih tinggi ganda, ganda, ganda, ganda dan berkali-kali lipat lagi. Setiap saat bertambah menjadi ganda kemudian berlipat empat dan seterusnya seperti itu. Lantas minimal sejak 14 abad lampau sampai sekarang, sudah berapa jauh perjalanan Nabi SAW dalam ma'arij-nya? Seseorang yang melakukan pujian kepada beliau di saat sekarang, tentu saja Nabi SAW memberinya balasan dari tingkatannya pada waktu yang sama.

Suatu manifestasi dari ikrar kesetiaan (bay’at), cinta (mahabbah), dan kepatuhan antara umat dan pemimpin berasal dari anwaar (cahaya) yang Nabi SAW sandang sebagai anugerah Allah SWT. Beliau disandangkan-Nya dengan segala tajali yang tidak seorang pun dapat menggambarkannya. Allah SWT menyandangkan Kekasih-Nya mitslayni mitslayni. Setiap saat tajalinya menjadi ganda dan ganda. Setiap saat Allah SWT menyandangkannya dengan cahaya dan rahasia membuatnya berada dalam Samudra Asma dan Sifat. Beliau berenang dalam Bahr al-Asmai wal sifat. Apa yang Allah SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW, tidak dapat seorang pun yang mampu mendeskripsikannya.

Hal tersebut berada dalam hati para awliya, meskipun mereka sebenarnya tidak mampu bagaimana mengekspresikannya. Tidaklah heran mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA berkata, “Hafizhtu an Rasulillah wi'a ain,” “Aku dapat mengingat dua pengetahuan dari Rasulullah SAW." Salah satunya dapat kuceritakan kepada khalayak ramai; tetapi yang satunya lagi jika aku katakan mereka pasti akan memenggal leherku. Beberapa golongan ulama berkata bahwa hal ini merujuk pada tanda-tanda Hari Akhir. Hal ini tidak benar. Hal tersebut merujuk pada rahasia tingkatan Rasulullah SAW dan apa yang Allah SWT berikan kepada umat beliau. Umat ini adalah ummatan marhuma (diberikan rahmat) dan ummatan maghfira (diberikan pengampunan). Kita sebagai umat beliau diberikan pengampunan-Nya sebagaimana kecintaan yang terpancar oleh-Nya kepada Nabi SAW.

Dengan kata lain Rajabun syahrullah Sya’banu syahri berarti, ‘kalian memasuki milikku.’ Rasulullah SAW bersabda, “Sya’banu syahri.” Beliau tidak bersabda, “Sya’banu syahr al-Nabi” atau “Syahr Rasulullah.” Hal itu lebih menekankan atas kepemilikan (properti) Rasulullah SAW. Syahri berarti “Ini milikku. Kalian memasuki properti pribadi.” Ketika kita berdiri dan mengucapkan, “as-salaamu alayka ya Rasulallah SAW” dalam syahr Sya’ban, kita memasuki properti Muhammad SAW. Bisakah orang yang memasuki properti Rasulullah SAW masuk neraka? Jelas tidak, selesai! Allah SWT akan mengampuninya karena berkah dari Sayyidina Muhammad SAW. Jangan membayangkan jika kalian melangkahkan satu kaki ke dalam Surga lantas kalian akan dilemparkan ke neraka, sebab setiap Surga itu hidup. Apa yang berhubungan dengan akhirat adalah hidup. Surga selalu hidup dengan kehidupan di dalamnya. Ketika kita memasuki sesuatu dengan kehidupan di dalamnya, Allah SWT tidak akan melemparkan kita kembali ke neraka. Di saat kita melangkah ke dalam properti milik Sayyidina Muhammad SAW dan masuk ke dalam hadiratnya dengan salam dan selawat, siapa yang dapat mengambil kembali? Selesai! Rasulullah SAW akan mengadakan perbincangan dengan Ilahi Rabbi, “Ya Rabb, Ya Allah SWT mereka adalah umatku, mereka semua adalah pelayan-Mu, hamba-Mu.” Ia percaya kepadaku, ia masuk ke dalam propertiku, masuk ke dalam surgaku.”

Allah SWT akan berfirman, “Ambil dia! Aku berikan wewenang syafa'at kepadamu wahai Muhammad SAW. Mengapa Aku memberimu syafa'at? Bawa mereka semua ke mana pun engkau hendaki. Tempatkan mereka bersamamu wahai kekasih-Ku.” Kemudian Rasulullah SAW dianugrahi-Nya surga khusus untuk seluruh umatnya yang percaya kepadanya, memujinya, mencintainya, merasakan kehadirannya setiap saat, dan memanggilnya. Mereka akan diberi balasan. Mereka akan menjadi fi maqadi shidqin 'aind maliikin muqtadir. Mereka yang percaya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, tetapi tidak merasakan suatu proses rasa kehadiran (muraqabah) yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan malas untuk menyeru, akan juga berada di surga yang sama namun mereka akan terselubung dari pandangan Rasulullah SAW.

Wahai mu'min, wahai orang-orang yang beriman, apa yang ada di kalbu para awliya begitu luas, sehingga bila setetes kecil saja ditempatkan di alam ini maka alam ini akan menjadi abu dari pancaran tajali-Nya. Allah SWT tidak akan memberikan izin kepada para wali untuk mengungkapkan sampai mereka mendapat dukungan kekuatan penuh dari Sayyidina Imam Mahdi AS kelak, Insya Allah. Banyak wali telah lama menanti, menanti, dan dengan sabar menanti—sehingga tidak sedikit dari mereka dalam penantiannya tersebut kembali ke hadhirat Ilahi Rabbi. Kita layak untuk selalu berharap, sebagai pengikut Baginda Nabi SAW, para sahabat beliau, pengikut para wali Allah, pengikut Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani QS, kiranya Allah SWT memanjangkan usia kita untuk sempat berjumpa dengan Imam Mahdi AS, untuk menikmati indahnya rahasia-rahasia dari dalam kalbu mereka (para wali).

Ketika kalian masuk ke dalam samudra ilmu Allah SWT, hal ini dapat membuat 'mabuk.' Jadi, pada akhirnya sudah tidak pantas untuk bersandar pada alam logika. Hal tersebut berada di luar batas pikiran kita. Seraya Ramadan menghampiri kita—wa Ramadhanu syahrul ummati—Marhaban Yaa Syahrul Ramadhan! Ini berarti setelah Allah SWT menyandangkan umat Nabi SAW dengan cahaya dari Bahr ul-Qudra, dari Samudra Kekuatan—Samudra Keindahan—Dia menyandangkan lagi dengan cahaya dan perwujudan Asmaa dan Sifat-Nya. Kemudian Dia mengirimkan mereka kepada kekasih-Nya untuk menyandangkan mereka dari samudra milik beliau. Kemudian dengan dua busana yang telah dipakai sejak Rajabun syahrullah dan Sya’banu syahri ini umat memasuki Ramadan untuk diberi penghargaan dengan puasa sebagai perwujudan syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah diberikan kepada umat dalam syahr Rajab dan apa yang Nabi SAW berikan dalam syahr Sya’ban. Allah SWT memberi mereka pahala. Mereka akan disandangkan dengan busana ini dalam syahru Ramadan dan akan diperlihatkan kepada para malaikat.

Para malaikat—menurut Syekh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani QS dan Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani QS, akan berdiri kebingungan ketika perhatian mereka tertuju pada umat yang mengambil kesempatan secara optimal untuk beribadah secara ikhlas dan kontinu di bulan Rajab dan Syakban. Mereka yang tetap menjaga adab Rajab dan Syakban—mereka adalah bagian yang istimewa dan sungguh beruntung dari keseluruhan umat. Tidak semua bagian dari umat mampu melaksanakannya. Untuk orang-orang istimewa ini, yang tetap menjaga adab Rajab dan Syakban, ketika memasuki bulan suci Ramadan para malaikat akan tercengang keheranan. “Siapa mereka ini? Jenis tajali apa yang mereka sandang?” Begitulah rasa keingintahuan para malaikat. Pada akhirnya para malaikat merasa malu untuk mencatat amal mereka sebab apa pun yang akan malaikat catat untuk mereka di bulan Ramadan, orang-orang tersebut telah dihiasi dengan cahaya yang belum pernah dibukakan sebelumnya. Nur yang pada akhirnya dibukakan itu disebabkan oleh tajali dan ma'arij Rasulullah SAW. Para malaikat terkejut, heran, sampai dengan tahap 'bingung' tidak tahu apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya mengapa Allah SWT berfirman bahwa sepuluh hari terakhir dari Ramadan adalah atqun minal naar, yakni bebas dari api neraka. Amin Yaa Rabbul'alamiin.