Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

20 April 2009

Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazim QS yang Kita Cintai

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


oleh Dr. G.F. Haddad

alih bahasa oleh DvD 

Damaskus, 12 Rabi’ul Awwal 1425 H – 1 Mei 2004 


Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada samudra Rahmat dari Kebenaran-Mu dan Cahaya-Mu.   Allahumma! Kirimkan barakah dan salam kedamaian bagi junjungan kami Muhammad SAW, Penutup para Nabi dan Utusan-Mu, yang membawa Perjanjian Terakhir – Quran al-Karim, juga bagi keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabat beliau, dan pewaris-pewaris beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa kini, terutama pewaris dan wakil utama beliau di zaman ini. 

Hamba yang lemah ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazim QS dalam beberapa kata-kata Anda sendiri tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman Anda bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awwal 1425H (Mei 2004) adalah saat paling tepat untuk melakukan hal ini. Semoga Allah SWT mengilhami baik penulis maupun pembaca tentang Mawlana Syekh Nazim QS agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap subjek yang mulia ini. Tak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan-Nya. Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.) 

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim ‘Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi QS, semoga Allah  SWT mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.   Kunya (nama panggilan) beliau  adalah Abu Muhammad – dari nama anak laki-laki tertua beliau – selain itu beliau pula adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya. 

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar. Beliau mengatakan pada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani QS. Diceritakan pula pada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi QS. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad SAW, dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dari sisi ibundanya. 

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni QS (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawwuf dan Tarekat Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi QS (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syams (Suriah). 

Mawlana melanjutkan studi Syari’ah-nya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyah dan madrasah masjid sahabat besar Khalid ibn Al-Walid RA di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud QS dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad QS, dan ijazah dalam ilmu Hadis dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi QS. 

Perlu dicatat bahwa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadis dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din QS (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani QS ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan  yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazim QS, ketika Mawlana Syekh Nazim QS mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan pada saya oleh Ustadz Muhammad ‘Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali QS dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi QS yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu. 

Mawlana Syekh Nazim QS juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i QS yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Ad-Daghestani QS ke Suriah.   Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh ‘Abdullah QS tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i QS yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid. Syekh Sa’id QS menulis pada beliau (Mawlana Syekh ‘Abdullah QS), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang tengah belajar pada kami.” Mawlana Syekh ‘Abdullah QS menjawab padanya, “Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami!” Sang murid itu adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazim QS, yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943. 

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh ‘Abdullah QS pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn ‘Ali  ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni QS  (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah SWT mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damaskus, yang Allah SWT berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Sinai!” [QS. 95:1-2]. Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.” Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka. 

Mawlana Syekh Nazim QS juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn QS, membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyah Grandsyekh, di tempat mana, hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat disiapkan dalam kendi-kendi yang besar dan dibagi-bagikan bagi kaum fuqara dan miskin dua kali dalam seminggu. 

Dus, Mawlana Syekh Nazim QS tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus beberapa tahun sebelum kemudian pindah ke Siprus. 

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (as-saalihiin) yang disebut Salihiyya! Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh barakah dan terlindungi melalui para Nabi dan Awliya’. 

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad (rantai) yang sahih bahwa Nabi suci SAW bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah SWT di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah SWT telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi berkata dalam kitab beliau Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq (s): “Hadis ini berkenaan dengan fadhillah (keistimewaan) yang besar dari Syams dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!” 

Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara literal bermakna “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri QS mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya, 

“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh ‘Abd Allah al-Daghistani QS–rahimahullah (semoga Allah SWT merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli QS– rahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah pula paman dari Syekh Hisyam Kabbani QS, penulis], Syekh Husayn Khalid QS, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah SWT merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya QS [saat ini direktur dari Dar al-Hadis al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d QS; Syekh Zakariyya Sya’r QS; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh ‘Abdullah QS menerima kami dengan amat baik dan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Syekh Nazim al-Qubrusi QS – semoga Allah SWT merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu! 

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Dzuhur, sementara Syekh (Grandsyekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS, penerj.) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syams (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah SWT. akan mengumpulkan seluruh manusia di dalamnya untuk penghakiman dan hisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh dan tergerak, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syari’ah… Semoga Allah SWT membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan suhbat dengan Awliya’-Nya yang shiddiq. Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!” 

Masih ada banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syams yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar QS (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani QS (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi QS, Syekh Tawfiq al-Hibri QS, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi QS (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran QS, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi QS, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i QS, Syekh al-Qurra’ QS (ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi QS, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan QS, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni QS, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun QS (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba QS, dan lain-lain – semoga Allah QS merahmati mereka semuanya! 

Dari tiga puluh tahun suhbat (asosiasi) yang barakah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah Mercy Oceans (secara literal berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan suhbat Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani QS, penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik/pencari dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang tengah terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan suhbat awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan da’wah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazim QS di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah SWT! 

Semoga Allah SWT melimpahkan lebih banyak barakah-Nya pada Mawlana Syekh Nazim QS dan mengaruniakan pada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan bagi kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad SAW, yang bersabda, 

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah SWT akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu! Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang! Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!” 

Tempat pertama yang kudatangi untuk mencari pengetahuan Nabawi (pengetahuan kenabian) ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah aku bersyahadat laa ilaaha illa Allah (bahwa tiada tuhan selain Allah SWT), Muhammadun Rasulullah SAW (Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT). Di sanalah, aku meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (sumpah setia) setelah diperkenalkan pada Tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani QS– semoga Allah SWT membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana! 

Aku mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan melihat pula beliau di Damaskus. Di antara hadiah Suhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Cypriot Turki, Lefke. Catatan akan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fi Suhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Suhbat. 

Pada saat itulah, dan juga saat-saat kemudian, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, ke Inggris, di Siprus, dan Damaskus, aku mendapatkan dari Mawlana, petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran: 

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad SAW dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah SWT mendukung kita!” 

Dari sini, aku mengerti bahwa Murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad SAW, dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan. 

Ketika seorang Waliyyu-llah yang telah berumur delapan puluh tahun-an di Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arab-nya yang tak fasih.  Ketika kami memohon du’a beliau bagi negeri-negeri kita yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, “Ummah ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazim QS telah kau dapati kebercukupan!” 

Dus, dengan setiap perjumpaan dari murid yang sederhana dan rendah hati dari Mawlana dengan Awliya’ dari Umat ini; Mereka (para Awliya’ tersebut,  penerj.) semuanya menunjukkan rasa hormat tertinggi serta kerendahan hati yang amat dalam bagi Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara harfiah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus QS di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki QS di Makkah, al-Habib ‘Umar ibn Hafiz QS di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i QS di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari QS di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani QS dan Syekh Bakr as-Samarra’i QS di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir QS di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin QS dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani QS, Syekh Rajab Dib QS, dan Syekh Ramazan Dib QS; Syuyukh Kattani QS dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din QS dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri QS; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah SWT selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita! Aku telah bertemu dengan setiap nama yang kusebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din QS dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazim QS, mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon do’a beliau atau do’a pengikut-pengikut beliau; 

“…Dan cukuplah Allah SWT sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah SWT…”

(QS. 48:28-29) 

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah SWT, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Tarekat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridaan Allah SWT dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan. 

Sebagaimana Allah SWT berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah SWT dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita SAW bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela…Tapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah dari perpecahan!” 

Jama’ah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadis mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah SWT untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi SAW, penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah SWT yang mengkaruniakan! Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah SWT, tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah SWT.” 

Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan! 

Aku mendengar Mawlana Syekh Nazim QS berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah ibn Muhammad ‘Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami as-Salihi QS  (ca. 1294-1393 H) [1]

dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi QS (wafat 1354 H)

dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi QS [2],

dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri QS (wafat 1299 H) [3],

dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni QS (wafat 1292 H) [4],

juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali QS (wafat 1260 H) [5],

dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani QS (wafat 1254 H) [6],

dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani QS (wafat. ? )

dari Syekh Isma’il al-Anarani QS (wafat 1242 H),

dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn QS (1190-1242 H) dengan rantai isnad-nya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari QS yang berkata, 

“Tarekat kami adalah SUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH (kelompok)” 

Semoga Allah SWT meridai diri mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, kalbu-kalbu kita, dan keseluruhan wujud diri kita, Amin! 

Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”. Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu! Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi ia yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun ia yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertaubat-lah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah SWT dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah SWT) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam kalbunya kebanggaan sekalipun hanya setitik debu.  Semoga Allah SWT melindungi diri kalian dan diri kami! 

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit. 

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah SWT yang Dia timpakan pada hati. 

Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat. 

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah! Semoga Allah SWT mengampunimu! Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!” 

Kritik lain berisi keberatan atas Rabitah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi. Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabitah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabitah yang meminta Murid untuk menggambarkan citra sang Syekh dalam hatinya di permulaan maupun selama dzikir. Tetapi Allah SWT telah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT.” [33:21] dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; “ [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi SAW melalui ash-Shiddiq RA, dan datang kepada yang terakhir ini melalui Salman RA, dan masuk kepada yang terakhir ini melalui Qasim RA, dan kepada yang terakhir ini melalui Sayyid Ja’far AS, dan seterusnya. Karena “Ulama adalah pewaris para Nabi", dapat dipahami bahwa sang Mursyid adalah teladan kita akan teladan dari Nabi tersebut (di ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (sang Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi SAW bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah SWT!” Hadis ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah SWT rida atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh. 

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah SAW!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan sang Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi QS– qaddas-Allahu sirrahu - berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada Tarekat yang paling Mulia ini adalah dengan ikatan (rabitah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti. Syekh seperti itulah yang berjalan di Jalan ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah). Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat ruhani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… Dus, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisba) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam Jalan ini melalui ikatan cintanya pada sang Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya. Dalam pola seperti ini, pengetahuan akan proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas Sang Surya jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Sang Semangka semakin matang, namun pengetahuan macam apakah yang dimiliki sang semangka akan proses ini? Apakah sang Surya bahkan mengetahui bahwa dirinya tengah mematangkan dan menghangatkan sang Semangka?  Sebagaimana disebutkan di atas, berkeberatan atas konsep fana’ fis-Syekh adalah berarti pula berkeberatan akan cinta pada sang Syekh. Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa ia-lah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini. 

Sebagaimana sang penyair berpuisi: 

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku mengatakan:

Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

Sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADA] apa pun, selain cintamu,

Tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain "aku cinta padamu". 

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.” 

“Nah, Allah SWT menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah SWT mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah SWT.” 

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah SWT akan mencintai kalian?” 

“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.” 

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudra!” (akhir suhbat Mawlana). 

Dengan dan melalui Mawlana, Allah SWT telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita amat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam ayat yang Agung, “Allah SWT menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah SWT).” [2:269] Semoga Allah SWT mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia sukai bagi diri kita! Semoga Allah SWT mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid yang Sejati demi kehormatan dari Ia yang paling terhormat, Nabi Muhammad SAW!

 

Catatan: 

[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahir Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah QS, berkisar dari 1284 H (dalam kitab at-Tarekat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh ‘Abdullah QS, Mawlana as-Syekh Husayn QS (dalam kitab at-Tarekat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hinga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh ‘Adnan Kabbani QS hingga 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani QS. 

[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri QS (demikian pula Syekh Jamaluddin QS) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim QS menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri QS, lihat ‘Ali, Tarekat Naqsybandiyya (halaman 229). 

[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378). 

[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri QS dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Tariqa Naqsybandiyya (halaman 229). 

[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Tarekat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani QS, lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351). 

[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid QS dan Mawlana Isma’il al-Anarani QS yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid QS, yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid QS, keduanya karena wabah – semoga Allah SWT merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.

01 March 2009

Sejarah Peringatan Mawlid

oleh Syekh Hisyam Kabbani QS

 

Peringatan Hari Kelahiran Nabi saw. di Mekah Menurut para Sejarawan Muslim, dan Peringatan Tempat Kelahiran Nabi saw.

 

Kota Mekah, ibu semua kota, semoga Allah swt memberkatinya, adalah pemimpin semua kota lain di seluruh dunia Islam dalam merayakan maulid, juga dalam hal-hal lain.  Seorang sejarawan Mekah abad ketiga, al-Azraqî, menyebutkan bahwa rumah tempat Nabi saw. dilahirkan termasuk tempat di Mekah yang mustahabb (dianggap baik) untuk melaksanakan salat.19  Menurutnya, rumah tersebut pada masa lalu pernah dijadikan masjid oleh ibu dari dua khalifah, yaitu Mûsâ al-Hâdî dan Hârûn al-Rasyîd.

Ulama Alquran, al-Naqqâsy (266-351) menyebutkan bahwa tempat kelahiran Nabi saw. merupakan tempat di mana doa pada siang hari setiap Senin akan dikabulkan.20

 

Catatan Pertama tentang Perayaan Maulid

Sumber tertua yang menyebutkan peringatan maulid secara publik adalah karya Ibn Jubayr (540-614), Rihal:

Tempat yang diberkati ini (yaitu rumah Nabi saw.) dibuka, semua orang kemudian memasukinya untuk mendapatkan barakah darinya, pada setiap hari Senin bulan Rabiul Awal; karena pada hari dan bulan itulah Nabi saw. dilahirkan.21 

Sejarawan abad ketujuh, yaitu Abû al-‘Abbâs al-Azafî dan putranya Abû al-Qâsim al-Azafî menulis hal berikut:

Jamaah haji yang saleh dan para pelancong terkemuka memberikan kesaksian bahwa, pada hari maulid, di Mekah tidak ada kegiatan yang dilakukan, tidak ada yang diperjual-belikan, selain kesibukan orang-orang yang mengunjungi tempat kelahiran Yang Mulia, dan bersegera memasukinya.  Pada hari itu Kabah dibuka dan dapat dimasuki.22

 

Catatan Ibn Bathûthah tentang Maulid

Sejarawan kesohor abad kedelapan, Ibn Bathûthah, menceritakan bahwa pada setiap hari Jumat setelah salat, dan pada hari kelahiran Nabi saw., pintu Kabah dibuka oleh Ketua Bani Syaybah, pemegang kunci Kabah.  Mengenai maulid, ia menceritakan bahwa kepala qadi Mekah (dari mazhab Syafii), Najm al-Dîn Muhammad ibn al-Imâm Muhy al-Dîn al-Thabarî, membagi-bagikan makanan kepada para syurafâ’ (keturunan Nabi saw.) dan semua orang Mekah yang lain.23

 

Catatan tentang Maulid pada Abad Ketiga

Gambaran berikut menggabungkan berbagai catatan kesaksian para tokoh abad ketiga, yaitu sejarawan Ibn Zahira al-Hanafî, Imam Ibn Hajar al-Haytsamî dan sejarawan al-Nahrawalî.

Setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal, setelah melaksanakan salat magrib, keempat qadi Mekah (masing-masing mewakili mazhab yang empat)  dan kelompok-kelompok besar masyarakat, termasuk fukaha dan tokoh-tokoh kota Mekah, para syekh, guru-guru zawiyah dan para santrinya, kepala pemerintahan, dan para ilmuwan (muta’ammamîn, arti literalnya: ‘orang-orang yang diberi turban’) meninggalkan masjid dan berangkat bersama-sama mengunjungi tempat kelahiran Nabi saw. sambil melantunkan zikir dan tahlil (lâ ilâha illâ Allâh).  Rumah-rumah di sepanjang jalur perjalanan diterangi dengan lampu-lampu dan lilin-lilin besar.  Sebagian besar orang berhamburan.  Mereka mengenakan pakaian spesial dan membawa anak-anak bersama mereka.  Setelah tiba di tempat kelahiran, disampaikanlah suatu khotbah khusus untuk memperingati kelahiran Nabi saw., yang menguraikan berbagai keajaiban yang terjadi pada hari peristiwa tersebut.  Setelah itu dibacakanlah doa untuk Khalifah, Amir Mekah, dan Qadi Syafii, dan semuanya berdoa dengan kerendahan hati.  Sesaat sebelum salat isya dilaksanakan, seluruh orang balik dari tempat kelahiran Nabi saw. ke Masjidil Haram, yang sudah hampir penuh sesak, dan semua duduk bersaf-saf di bawah Maqam Ibrahim.  Di masjid, seorang pengkhotbah pertama-tama membacakan tahmid (alhamdulillah) dan tahlil, dan sekali lagi doa untuk Khalifah, Amir Mekah, dan Qadi Syafii dibacakan.  Setelah itu, azan untuk salat isya dikumandangkan.  Setelah salat, kerumunan itu pun bubar.24

 

Maulid di Negara-Negara Islam Sekarang

Di setiap negeri muslim sekarang ini, selalu ada masyarakat yang merayakan hari kelahiran Nabi saw.  Ini terjadi di Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia,25 Sudan, Yaman, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Jibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Srilangka, Iran, Afghanistan, Azerbaijan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan banyak negeri Islam lainnya.  Di kebanyakan negara Arab, hari itu merupakan hari libur nasional. Sementara negeri-negeri ini merayakan peristiwa tersebut, sungguhlah ganjil bila sekarang muncul sekelompok kecil yang lantang menyuarakan bahwa perayaan tersebut haram.  Siapakah ulama-ulama yang menentang maulid ini, yang artinya sama saja menantang para tokoh hadis (huffâzh) dan para ulama umat seperti Abû Syâmah, al-‘Asqalânî, al-Suyûthî, al-Sakhâwî, al-Haytsamî, dan al-Qârî, yang telah menyatakan secara terbuka bahwa memperingati maulid adalah perbuatan baik?  Bagaimana mungkin sebagian pengikut Salafi itu mengutuk sesuatu yang bahkan ulama dari kalangan mereka yang paling keras pun, yaitu Ibn Taymiyyah, membolehkannya dengan persyaratan-persyaratan tertentu, dan sesuatu yang dianjurkan oleh Ibn al-Jawzî dan Ibn Katsîr, yang menulis buku kecil khusus yang diberi judul Mawlid, yang berisi syair-syair dan kupasan kehidupan Nabi saw.?

 

Catatan

19.  Al-Azraqî, Akhbâr Makkah, j. 2, h. 160.

20. Al-Naqqâsy dikutip al-Fasis, Syifâ’ al-Gharâm, j. 1, h. 199, dan yang lain.

21.  Ibn Jubayr, Rihâl, h. 114-115.

22. Abû al-‘Abbâs al-Azafî dan putranya Abû al-Qâsim al-Azafî dalam kitab yang belum diterbitkan, Kitâb al-Durr al-Munazhzham.

23. Ibn Bathûthah, Rihlah, 1:309 dan 1:347.

24. Ibn Zhâhirah al-Hanafî, al-Jamî‘ al-Lathîf fi Fashl Makkah wa Ahlihâ, h. 326; Imam Ibn Hajar al-Haytsamî, Kitâb al-Mawlid al-Syarîf al-Mu‘azhzham, al-Nahrawalî, al-I‘lâm bi A‘lâm Bayt Allâh al-Harâm, h. 205. Gambaran yang sama diberikan oleh al-Diyarbakrî (wafat 960) dalam kitabnya, Târîkh al-Khâmis.

 

Sumber:

Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi SAW (Syekh Hisyam Kabbani QS)

Seri Akidah Ahlussunah, penerbit Serambi

Terjemahan dari:

The Prophet: Commemorations, Visitation and His Knowledge of the Unseen (Mawlid, ziyara, Ilm al-Ghayb), oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs (KAZI Publications, 1998)

 

23 September 2008

Sejarah, al-Qur’an, dan tentang Umat-Umat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Lefke, Siprus: 5 Desember 2001

 

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Kalian harus memenuhi hak setiap orang… dan yang paling harus dipenuhi haknya oleh kita sebelum yang lain adalah Allah SWT. Tugas terbesar kita adalah terhadap Allah SWT…

Sejarah, ‘Ilm-ut Taarikh, adalah penting, karena dia mengandung pengajaran dan pelajaran bagi manusia.  Kita belajar dari al-Quran yang suci, karena dia berisi kisah rangkuman tentang ummat-ummat terdahulu. Dan Nabi SAW yang suci memberikan kita cerita detailnya.

Al-Quran disebut pula Ummul Kitab, induk segala buku, karena jutaan buku diinspirasi dari al-Quran.  Al-Quran adalah seperti samudera, dan apa yang kita ketahui tentangnya adalah hanya seperti satu tetes dari samudera itu.  Siapakah yang mampu menulis sebuah buku, sekarang, yang akan memenuhi perpustakaan-perpustakaan dengan pengetahuan yang ada di dalamnya? Al-Quran adalah induk segala buku—setiap orang dapat memperoleh sesuatu darinya, karena dia adalah firman Allah SWT.  Dan dia tidak membutuhkan bukti lain. Dan setiap huruf di dalamnya memiliki paling sedikit 24.000 makna.  Jika orang-orang suci tidak mendapatkan setidaknya sekian banyak arti tersebut, hati mereka tentu telah meledak.

Saya pernah membaca suatu buku, nutkun, sekitar 300-400 halaman, dalam waktu 36 jam.  Buku itu diambil dari Dar-ul Khilafa di Istanbul.  Buku itu membuat pikiran bekerja dan meneranginya.  Tetapi, tak ada yang dapat membacanya lagi (seperti itu) karena mereka telah mengubah bahasanya dari yang asli ke tiruannya, yang tidak sejati.

Tenaga listrik bekerja di seluruh dunia saat ini. Dua ratus tahun yang lalu, Allah SWT memberikan izin pada seorang Israeli untuk membuat penemuan ini, karena sudah menjadi kehendak Allah SWT untuk memenuhi tanda-tanda akhir zaman. Karena hal itulah, ilmu pengetahuan dibuka bagi manusia dan fasad mulai ada.  Tak ada lagi saat ini yang berfungsi dengan baik tanpa tenaga listrik. Dan semua ummat memiliki kekuatan dan energi spiritual, tetapi kekuatan spiritual ini sekarang hanya dapat bekerja bagi Muslim.  Kita memiliki kekuatan spiritual dalam Islam. Agama-agama lain telah out of date (tidak sesuai zaman) sejak datangnya Nabi terakhir.  Dan Yahudi menjadi musuh terhadap Islam, tetapi tak ada teknologi yang mampu berbuat apa pun untuk menentang Islam. Dan Kristen adalah bodoh karena rasa dengki dan iri mereka terhadap Rasulullah SAW. Berkali-kali beliau menyeru mereka untuk menerima Islam, tetapi mereka tidak mau ‘lepas’ dari Nabi mereka Jesus AS (‘Isa AS) dan masih saja mereka mencoba untuk memisikan dunia agar agama Kristen menjadi agama abad ini… Seperti kaum Yahudi yang mewakili Setan dan kepala mereka seperti kotak persegi, maka kaum Kristen mewakili kebodohan dan kepala mereka kosong.  Di mana pun mereka menaruh gambar atau patung Jesus AS dan Maria RA, dan memperlihatkan Jesus AS di salib. Hanya di Siprus sini, mereka tahu bahwa orang-orang tidak akan mau untuk menyembah seorang Nabi yang hampir telanjang di salib.  Karenanya, mereka memberinya pakaian dan menaruh mahkota di atas kepalanya dan memberinya sebuah tongkat, dan menaruh pula sebuah mahkota di atas kepala Maria RA. Mereka menaruh lukisan-lukisan indah agar orang-orang menyembahnya… Dan mereka berkata bahwa satu adalah tiga dan tiga adalah satu.  Siapa yang dapat percaya hal semacam ini? Dan pikiran siapa yang akan menerima hal seperti ini?!  Tetapi, orang-orang tidak lagi menggunakan akal pikirannya… Dan kaum Yahudi lebih dekat kepada kaum Kristen daripada kepada Muslim. Itu adalah kesalahan Muslim, bukan Islam karena orang-orang melihat kepada Muslim sekarang, bukan kepada sumber dari Islam. Jesus AS dan Maria RA memakan makanan, seperti dikabarkan Allah SWT dalam al-Quran.  Apa artinya ini? Ini berarti bahwa mereka juga harus pergi ke toilet.   Bagaimana mungkin mereka adalah Tuhan-Tuhan?!

Roma dan Istanbul akan dibuka untuk Islam, Azan akan diserukan di sana… Telah berlalu Namrud-Namrud sebelum ini yang telah dihancurkan, seperti Namrud yang dimakan oleh seekor nyamuk… Tetapi, orang-orang tidak tahu… Dan kaum Wahhabi akan lenyap.  Saya memohon, “Saya ingin menghancurkan kebathilan dan kesultanan Setan.  Wahai Allah SWT, kirimkan pada kami hamba-Mu yang akan mengibarkan bendera Islam!”

30 July 2008

Berkah Luar Biasa pada Malam Isra' Mi'raj

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Syekh Nazim al-Haqqani QS berkata, “Allah SWT berfirman kepada Nabi SAW pada malam Mi’raj, “Ya Muhammad SAW, telah Ku-ciptakan seluruh makhluk demi dirimu, dan Aku berikan semua itu padamu.” Pada saat itu, Allah SWT mengaruniakan pada Nabi SAW kekuatan untuk melihat semua yang telah Dia ciptakan, dengan semua cahaya dan nur mereka, dan semua kenikmatan yang telah Allah SWT karuniakan pada makhluk-Nya dengan menghiasi mereka dengan Atribut-Atribut-Nya dan dengan Cinta dan Keindahan Ilahiah-Nya.

Muhammad SAW terkesima dan terpesona karena Allah SWT telah memberi beliau suatu hadiah berupa makhluk-makhluk seperti itu. Allah SWT berfirman kepada beliau, ‘Ya Muhammad SAW, apakah kau bahagia dengan ciptaan-ciptaan-Ku ini?’ Beliau menjawab, ‘Ya, wahai Tuhanku,’ Dia berfirman, ‘Kuberikan mereka kepadamu sebagai amanah untuk kau jaga, agar kau bertanggung jawab atasnya, dan untuk mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan seperti saat mereka Kuberikan padamu.’ Muhammad SAW memandang pada mereka dengan penuh kegembiraan karena mereka begitu berkemilau dengan cahaya-cahaya yang indah, dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku terima.’ Allah SWT berfirman, ‘Apakah kau terima?’ Beliau menjawab, ‘Kuterima, kuterima.’ Dan begitu beliau selesai menjawab untuk ketiga kalinya, Allah SWT mengaruniakan beliau suatu kasyf (penglihatan spiritual) akan dosa-dosa dan berbagai bentuk kesengsaraan, kegelapan, dan kejahilan di mana mereka akan terjatuh ke dalamnya.

“Saat Muhammad SAW melihat hal ini, beliau kaget dan cemas, berpikir bagaimana beliau akan dapat mengembalikan mereka kepada Tuhannya dalam keadaan suci seperti keadaan awalnya. Beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, apa ini?’ Allah SWT menjawab, ‘Wahai kekasih-Ku, inilah tanggung jawabmu. Engkau harus mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan suci seperti ketika Aku berikan mereka padamu.’ Kemudian Muhammad SAW berkata, ‘Wahai Tuhanku, berikan padaku penolong-penolong untuk membantuku membersihkan mereka, untuk mensucikan roh mereka, dan untuk membawa mereka dari kegelapan dan kejahilan menuju maqam pengetahuan, kesalihan, kedamaian, dan cinta.’”

“Allah SWT kemudian mengaruniakan pada beliau suatu penglihatan di mana Dia memberitahukan pada beliau bahwa di antara seluruh ciptaan itu, Dia telah memilih bagi beliau 7.007 Wali Naqsybandi. Dia berfirman, ‘Wahai kekasih-Ku, Ya Muhammad SAW, wali-wali ini adalah termasuk wali-wali istimewa yang telah Ku-ciptakan untuk menolongmu menjaga agar ciptaan ini tetap suci. Di antara mereka, terdapat 313 yang memiliki tingkatan tertinggi, maqam paling sempurna di Hadirat Ilahiah. Mereka adalah pewaris rahasia dari 313 rasul-rasul. Kemudian Ku-berikan padamu empat puluh, yang membawa kekuatan yang paling istimewa, dan mereka adalah tonggak-tonggak dari seluruh wali. Mereka akan menjadi guru dan Syekh besar di masa-masa mereka, dan mereka akan menjadi para pewaris dari Rahasia Haqiqat.’”

“’Di tangan para wali inilah, setiap orang akan disembuhkan dari luka-lukanya, baik luka luar maupun luka dalam. Wali-wali ini akan mampu membawa seluruh umat dan seluruh makhluk ciptaan tanpa ada tanda-tanda kelelahan. Setiap orang di antara mereka adalah Ghawts (Pemberi Syafa’at Utama) di zamannya, yang di bawahnya ada lima orang Qutub (Kutub Spiritual).’”

“Nabi SAW begitu bahagia dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, berikan lagi bagiku!’ Kemudian Allah SWT pun menunjukkan padanya 124.000 wali, dan Dia berfirman, ‘Wali-wali ini adalah pewaris dari 124.000 nabi. Seorang wali adalah seorang pewaris dari seorang nabi. Mereka pun akan di sana membantumu membersihkan umat ini.’”

"Ketika Nabi SAW sedang naik ke Hadirat Ilahiah, Allah SWT membuat beliau untuk mendengar suara seorang manusia. Suara itu adalah suara dari seorang teman dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Nabi SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq RA untuk memanggil seluruh wali-wali Naqsybandi: yang 40, yang 313, dan yang 7.007, beserta seluruh pengikut dan murid mereka, dalam bentuk spiritual (roh) mereka, ke Hadirat Ilahiah. Semuanya untuk menerima Cahaya dan Barakah yang istimewa itu.”

“Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW, yang kemudian memerintahkan Abu Bakar RA, untuk memanggil 124.000 wali dari 40 tarekat lainnya beserta murid-murid mereka untuk diberikan Cahaya di Hadirat Ilahiah. Seluruh Syekh mulai muncul di perkumpulan itu beserta seluruh murid mereka. Allah SWT kemudian menyuruh Nabi SAW untuk melihat mereka dengan kekuatan dan cahaya Kenabiannya, dan untuk mengangkat mereka semua ke Maqam Shiddiqin, Yang Terpercaya dan Yang Benar. Kemudian Allah SWT berfirman kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW pun berkata kepada para wali, ‘Kalian semua dan seluruh pengikut kalian akan menjadi bintang- gemintang yang berkilauan di antara manusia, untuk menyebarkan cahaya yang telah kuberikan pada kalian di pra-keabadian ke seluruh manusia di permukaan bumi.’”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Itu semua hanyalah satu di antara rahasia-rahasia yang telah dibuka tentang Malam Mi’raj kepada kalbu para wali melalui periwayatan (transmisi) dari Sanad Emas Tarekat Naqsybandi.” Lebih banyak lagi kasyf yang diberikan kepada Nabi SAW, tetapi tidak ada izin untuk membukanya.”

Malam itu, Nabi SAW diperintah Allah SWT untuk melakukan 50 salat dalam sehari. Beliau meringkasnya menjadi lima kali salat dalam sehari atas nasihat Nabi Musa AS. Beliau kembali dari Malam Isra’ Mi’raj, dan orang pertama yang mempercayai beliau adalah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Orang-orang kafir, sambil berharap untuk mempermainkan beliau, menanyakan pada beliau untuk melukiskan Yerusalem. Beliau melukiskannya dengan seluruh detailnya, dan orang-orang kafir dipermalukan.

Siksaan atas Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau semakin meningkat. Kemudian Allah SWT mengirimkan pada beliau, kaum Ansar (Penolong) dari Madinah. Islam telah mulai tersebar pada suku-suku dari oasis kecil ini yang terletak tak jauh dari Mekah. Allah SWT memberikan izin-Nya bagi kaum Mukmin untuk berhijrah ke Madinah, rumah dari kaum Ansar. Abu Bakar RA menginginkan untuk berhijrah, tetapi Muhammad SAW berkata padanya, “Jangan pergi dulu, tunggulah, dan mungkin kau akan berhijrah bersamaku. Ada suatu kejadian amat penting yang mesti terjadi.”

Nabi SAW meninggalkan Mekah di malam hari bersama Abu Bakar RA, dan meninggalkan di belakang beliau ‘Ali RA, KW untuk berpura-pura berperan sebagai beliau di tempat tidur beliau. Di perjalanan, beliau berhenti untuk bersembunyi di Gua Tsuur. Abu Bakar RA berkata, “Wahai Nabi SAW, jangan masuk, aku akan masuk lebih dahulu.” Dalam hatinya, Abu Bakar RA berpikir bahwa mungkin akan ada sesuatu yang berbahaya di dalam dan ia memilih untuk menghadapinya lebih dulu. Abu Bakar RA menemukan sebuah lubang di dalam gua itu. Abu Bakar RA memanggil Nabi SAW untuk masuk ke dalam, dan ia sendiri menaruh telapak kakinya di atas lubang itu, menutupinya. Nabi SAW masuk dan menaruh kepala sucinya di pangkuan paha Abu Bakar RA. Seekor ular di dalam lubang tadi mulai menggigit kaki Abu Bakar RA. Abu Bakar RA mencoba sekuat tenaga untuk tidak bergerak, sekalipun ia dalam kesakitan yang amat sangat. Air mata mulai menetes dari matanya, dan mengalir melalui pipinya. Setetes air mata itu terjatuh mengenai wajah suci Nabi SAW. Saat inilah, sebagaimana disitir dalam Quran, “Ia berkata pada sahabatnya, ‘Jangan bersedih; sungguh Allah SWT beserta kita.’” [QS 9:40]. Abu Bakar RA berkata pada Nabi SAW, “Wahai Nabi Allah SAW, aku tidak bersedih, tetapi aku dalam kesakitan. Seekor ular tengah menggigit kakiku dan aku khawatir ia akan menggigitmu. Aku menangis karena hatiku terbakar demi dirimu dan demi keselamatanmu.” Nabi SAW begitu bahagia dengan jawaban sahabat terkasihnya ini hingga beliau memeluk Abu Bakar ash-Shiddiq RA, menaruh telapak tangan beliau di kalbu Abu Bakar RA dan menuangkan pengetahuan yang telah Allah SWT karuniakan pada beliau, ke dalam kalbu Abu Bakar ash-Shiddiq RA . Karena itulah beliau bersabda dalam sebuah hadis, “Apa pun yang telah Allah SWT tuangkan dalam kalbuku, aku tuangkan ke dalam kalbu Abu Bakar RA.”

Grandsyekh kita Muhammad Nazim al-Haqqani QS berkata, “Selanjutnya Nabi SAW menaruh tangan beliau yang lain ke kaki Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan membaca, Bismillahir-Rahman ir-Rahim, dan kaki Abu Bakar RA pun segera sembuh. Kemudian beliau memerintahkan sang ular untuk keluar, dan ular itu pun keluar, menggulung dirinya di depan Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada ular tersebut, ‘Tak tahukah engkau bahwa daging seorang Shiddiq diharamkan bagimu? Mengapa engkau memakan daging Sahabatku?’ Ular itu menjawab kepada Nabi SAW dalam bahasa Arab yang murni dan sempurna, ‘Wahai Nabi Allah SWT, tidakkah semua ciptaan diciptakan demi dirimu dan demi cintamu? Wahai Nabi SAW, aku pun mencintaimu. Saat kudengar bahwa Allah SWT berfirman bahwa umat terbaik adalah umatmu, aku pun memohon pada-Nya untuk memperpanjang umurku dan mengaruniakan padaku kehormatan untuk dapat tergolong sebagai umatmu dan untuk dapat melihat wajah sucimu. Dan Allah SWT mengabulkan harapanku dan kehormatan itu bagiku. Ketika Abu Bakar RA menaruh kakinya di lubang itu, kakinya menghalangi pandanganku. Aku ingin agar ia memindahkan kakinya agar aku dapat melihat dirimu. ’Nabi SAW bersabda, ‘Pandanglah diriku sekarang dan penuhi harapanmu.’ Ular itu memandang dan memandang; setelah beberapa saat, ia mati. Nabi SAW memerintahkan Jinn untuk membawa ular itu pergi dan menguburkannya.”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Hal-hal ini adalah rahasia-rahasia yang telah diberikan kepada kalbu-kalbu para Wali Naqsybandi.” Beliau melanjutkan ceritanya sebagai berikut, “Kemudian Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA, ‘Sebenarnya tak ada keperluan apa pun untuk berhenti di gua ini, kecuali suatu peristiwa yang penting akan terjadi di sini. Suatu Cahaya dari akar suatu Pohon Spiritual yang akan menyebar ke seluruh umat manusia, suatu Cahaya yang datang langsung dari Hadirat Ilahiah, akan muncul di sini. Allah SWT telah memerintahkan padaku untuk menyampaikannya padamu dan ke seluruh pengikut Tasawuf Naqsybandi.’”

“Jalur transmisi ini tidaklah disebut sebagai Naqsybandi saat itu, tetapi dikenal sebagai anak-anak dari Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dan beliau (Abu Bakar RA) dikenal oleh para wali sebagai ‘Bapak’ dari jalur sanad ini.”

“Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyuruh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA untuk memanggil seluruh Syekh (guru) dari Sanad Emas yang merupakan pewaris dari Abu Bakar RA. Abu Bakar RA memanggil para Grandsyekh dari Sanad Emas, seluruh dari mereka, dari zamannya hingga ke zaman Al-Mahdi AS. Mereka semua dipanggil lewat roh-roh mereka dari Alam Arwah. Kemudian Abu Bakar RA diperintahkan pula untuk memanggil 7.007 Wali Naqsybandi. Kemudian Nabi SAW memanggil 124.000 nabi-nabi. “

“Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dengan perintah Nabi SAW, memerintahkan setiap Grandsyekh untuk mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk hadir secara spiritual. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq RA memerintahkan seluruh Syekh untuk mengambil tangan para pengikut mereka untuk menerima bay’at (inisiasi). Abu Bakar RA menaruh tangannya di atas mereka semua, dan kemudian Muhammad SAW menaruh tangan beliau di atas mereka semua, dan kemudian Allah SWT meletakkan Tangan-Nya, Tangan Kekuasaan (Qudrat), di atas mereka semua. Dan Allah SWT, oleh Diri-Nya Sendiri-lah, menaruh di lidah setiap orang yang hadir bacaan zikir-Nya (talqin az-dzikr), dan Ia memerintahkan Nabi SAW untuk menyuruh Abu Bakar ash-Shiddiq RA untuk memerintahkan semua wali yang hadir bersama pengikut-pengikut (murid) mereka untuk melafazkan apa yang mereka dengar dari Suara Qudrati:

ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ

“Semua mereka yang hadir mengikuti Syekh mereka dan para Syekh itu mengikuti apa yang mereka dengar dari Nabi SAW yang juga melafazkan. Kemudian Allah SWT mengajarkan rahasia dari zikir, yang dikenal sebagai Khatm-il-Khwajagan, kepada ‘Abdul Khaliqal-Ghujdawani QS, yang memimpin zikir pertama di antara para wali dari tarekat ini. Nabi SAW mengumumkan kepada Abu Bakar RA, yang kemudian mengumumkannya ke seluruh wali, bahwa Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS adalah pemimpin dari Khatm-il-Khwajagan. Setiap orang mendapat kehormatan untuk menerima rahasia dan cahaya itu dari Khwaja Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, di hadirat para wali, di hadirat Abu Bakar ash-Shiddiq RA, di hadirat Nabi SAW, dalam Hadirat Allah SWT.”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Siapa pun yang menerima bay’at (inisiasi) dari kami atau menghadiri Majelis Zikir kami mesti mengetahui bahwa dirinya telah hadir di gua tersebut di saat barakah itu, di Hadirat Nabi SAW, dan bahwa ia telah menerima semua rahasia-rahasia ini kemudian. Rahasia-rahasia ini telah disampaikan kepada kami melalui para Syekh dari Sanad Emas, melalui Abu Bakar ash-Shiddiq RA.”

Abu Bakar ash-Shiddiq RA, teramat bahagia dan gembira dengan apa yang terjadi di dalam gua itu, dan beliau kini mengerti mengapa Nabi SAW telah memilihnya untuk menjadi teman dalam hijrah beliau. Para Syekh Naqsybandi menganggap kejadian-kejadian dalam gua tadi sebagai fondasi dari tarekat. Tidak hanya sebagai sumber dari wirid harian, tetapi juga karena roh-roh dari seluruh anggota tarekat ini telah hadir bersama di saat itu.

Setelah kejadian di gua tadi, mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah al-Munawwarah. Saat mereka mencapai Quba, suatu desa di dekat Madinah, di hari Senin di bulan Rabi’ul Awwal, mereka berhenti untuk beberapa hari. Di sana Nabi SAW membangun masjid pertamanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di hari Jumat, setelah mendirikan Salat Jumat di Quba. Itu adalah Jama’ah Jumat pertama yang beliau dirikan. Beliau memasuki Madinah bersama sahabat beliau, di tengah-tengah teriakan takbir (ALLAHU AKBAR) dan tahmid (AL-HAMDU LILLAH) dan kegembiraan serta kebahagiaan yang meluap dari setiap orang yang hadir. Beliau bergerak ke arah mana unta beliau akhirnya berhenti, dan di sanalah kemudian beliau membangun masjid beliau dan rumah beliau. Beliau tinggal sebagai seorang tamu di rumah Abu Ayyub Al-Ansari RA sampai masjid beliau terbangun.

Saat Nabi SAW datang ke Madinah, Madinah sedang dipenuhi berbagai wabah. Begitu beliau tiba, seluruh wabah penyakit itu lenyap.