Showing posts with label Mercy Oceans. Show all posts
Showing posts with label Mercy Oceans. Show all posts

02 November 2008

Mengapa Kami harus Kembali ke Kampung Halaman?

Tanya-Jawab bersama  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Suatu hari seusai salat zuhur, Syekh Nazim QS mempersilakan murid-muridnya untuk mengajukan pertanyaan apapun, yang hadir kebanyakan orang-orang yang berasal dari Eropa dan Amerika. 

Syekh Nazim QS, apa yang akan kami lakukan di Amerika, mengapa kami harus kembali ke asal kami,  jauh dari Anda dan ajaran-ajaran Anda? 

Allah SWT menciptakan dunia ini, seperti yang kalian lihat di sini, di Damaskus.  Mungkin ada seratus ribu rumah, dan setiap rumah dihuni beberapa orang.  Manusia dibagi-bagi bukannya tanpa aturan, namun mereka telah dipilih, setiap orang berada di tempatnya masing-masing.  Begitupun dengan siapa yang akan menjadi tetangganya.  Di setiap rumah ada kamar-kamar yang dihuni orang-orang yang berbeda pula.  Sabda Nabi SAW, “Allah SWT menciptakan manusia dan membuatkan masing-masing tempat pribadinya.  Untuk itu Allah SWT menciptakan penduduk Suriah tinggal di Suriah, Penduduk Turki hidup di Turki dan sebagainya.  Allah SWT yang menunjuk dan memutuskan,  sebagaimana Dia juga yang memutuskan pergerakan dan perjalanan.  Ada perjalanan yang permanen dan ada pula yang temporer.  Semuanya diarahkan oleh Kebijaksanaan Ilahi.

Allah SWT menentukan napas kita, kapan, di mana  dan berapa jumlahnya.  Untuk itu, kalian juga akan berada di tanah air kalian, karena Allah SWT telah menentukan seperti itu.  Yang terpenting adalah bahwa siapa yang sadar akan Tuhannya, siapa yang yakin dan mencintai Tuhannya maka dia bersama Tuhannya kapan pun dan di mana pun.  Kasih sayang, perlindungan serta pertolongan Tuhan akan menyertainya.  Cukup? 

Tetapi mengapa masih ada gangguan di dalam hati kami? 

Gangguan datang saat kalian melupakan hubungan dengan Tuhan, lupa akan segala kasih sayang-Nya.  Ketika seseorang lupa bahwa dia sedang berada dalam Samudra Kasih Sayang-Nya, maka segala kekacauan dan penderitaan masuk dalam hatinya.  Ibarat ikan yang terlempar dari lautan.  Agar damai, kalian harus selalu ingat bahwa kalian sedang berada dalam samudra kasih sayang-Nya.  Hal ini amat penting (dhaqiq) dan waspadalah.

Saya tahu akan hal itu di kepala, tetapi tidak selalu di hati ini.

Ya, insya Allah.

Adakah sesuatu yang bisa kita lakukan, seperti mengajar? 

Ajari diri kalian sendiri!  Ajari diri kalian sendiri bahwa kalian sedang berada di Samudra Kasih Sayang-Nya, selamanya!  Jangan mengajari orang lain.  Ini tugas bagi semua orang, bukan hanya orang Amerika.  Kalian akan seperti ikan yang berenang di samudra, bahagia di dalam air, dan mati jika terlempar keluar.  Mengapa harus melompat ke daratan, wahai manusia bodoh!

Syekh Nazim QS, apakah ajaran ini, kata-kata ini hanya bagi kami?  atau siapapun yang membacanya?

Ini untuk siapa saja,  karena tidak seorang pun yang datang untuk mendengar ajaran-ajaran ini atau membacanya tanpa sebelumnya pernah diberikan janji oleh Allah SWT di dunia spiritual.  Janji ini terjadi di Hari Perjanjian dalam Hadirat Ilahi sebelum kita hadir di dunia ini.  Tak seorang pun dapat mendengar kata-kata ini atau membacanya kecuali dia berasal dari kelompok kita.  Jangan khawatir mengenai hal ini. 

Dengan kata lain, jika ada yang membaca ini, maka itu sebuah pertanda?

Kalian harus sadar bahwa dia telah dikirim, siapa yang telah dikirim dia akan mendatangimu.  Dia akan mendengar dan memasukkannya dalam hati, jelas?

Terima kasih. Kini saya punya pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kami berpakaian.  Apakah kami harus mengenakan pakaian yang disunahkan, memakai turban, dan sebagainya ketika kami kembali ke negara kami? 

Kenakan seperti ini (Mawlana menunjuk pada pakaian, celana, jaket dan sebuah turban yang beliau pakai) ketika sendiri bersama Tuhan kalian.  Namun saat bekerja dengan orang lain, berbusanalah seperti mereka.  Siapa yang hanya bekerja untuk Allah SWT, bebas berpakaian sekehendak hatinya. Siapa yang harus bekerja dalam urusan dunia, bersama dengan orang-orang lain, harus berpakaian seperti mereka. Untuk salat Jumat atau ibadah di rumah, kenakan turban dan pakaian sunnah. 

Syekh Nazim QS, sebagaimana tertulis dalam hadis, dan yang Anda pernah jelaskan di mana ada tanda-tanda akan ada perang besar, persiapan apakah yang harus kita lakukan, haruskah kita membangun sebuah tempat perlindungan untuk komunitas atau pengasingan?

Tempat berlindung seperti itu akan tersedia bagi mereka yang bersama Tuhannya.  Kita hanya memohon tempat berlindung pada Allah SWT, karena tempat lain tak akan mencukupi selama peperangan terjadi.  Perahu Nuh kita ada di dalam hati kita! 

Apa yang harus kita lakukan untuk terus bisa berkonsentrasi dan bagaimana teknik untuk menjaga agar kami ingat terus bahwa kami sedang berada dalam Samudra Rahmat? 

Karena kita adalah pemula, jagalah dalam hati kita 1.500 kali zikir Allah, Allah, Allah setiap 24 jam.  Sekali setiap hari dengarkan zikir hati kalian yang berbunyi “Allah, Allah, Allah.”

Apakah zikir tersebut terpisah dengan wirid yang kita laksanakan setiap harinya?

Ini juga wirid dan lebih penting dari zikir lidah karena memberi konsentrasi di seluruh tubuh. 

Kapan waktu terbaik melaksanakan wirid ini? 

Setelah tengah malam, tahajjud.  Pertama lakukan salat 2 rakaat, lalu duduk dan dengarkan zikir hati kalian sebanyak 1.500 kali.  Untuk salat tahajjud, minimum 2 rakaat, maksimum delapan rakaat.  Salat witir lebih baik dilaksanakan setelah salat Isya, karena mungkin kita tidak mampu terbangun sampai waktu witir berlalu.

Kalian diperbolehkan salat tahajjud setelah witir.  Ketika kalian mendengarkan zikir hati, seperti yang saya sampaikan, konsentrasi kalian akan tumbuh sampai zikir itu menemani kalian selama 24 jam.  Ini adalah permulaan, saya memberi kalian izin sebagaimana Grandsyekh memberi saya izin akan hal itu.

Terima kasih.

Izin, berarti mengambil aliran ‘listrik’ dari pusatnya agar terbuka untuk kita.  Saat Grandsyekh memberi izin pada saya, beliau membukanya dari hati beliau untuk saya, seperti itulah kekuatannya.

Ketika pertama kali saya berjumpa dengan Anda di London, mereka mengatakan bahwa Anda bisa menampakkan diri di mana pun saya berada.  Untuk bereksperimen dengan ini, saya telah mencoba berbagai hal, namun sejauh ini tidak berhasil.  Bisakah Anda jelaskan bagaimana caranya?

Ya, kalian bisa melakukannya dengan hati kalian.  Jika kalian membutuhkan sesuatu, hati kalian bisa terkoneksi dengan hati saya.  Setiap saat!

Tidak adakah kata-kata khusus yang harus saya ucapkan atau dengan teknik tertentu misalnya? 

Kalian bisa memanggil, ”Oh, Syekhku!  Oh Grandsyekhku! mendekatlah padaku, aku sedang dalam kesulitan, aku membutuhkan pertolonganmu!”  Grandsyekh kalian adalah `Abdullah Daghestani QS.  Adalah cukup untuk memanggil beliau. 

Bagaimana agar kami siap mendatangkan Anda ke Amerika? Apakah kami harus mengatur kuliah-kuliah, TV?  Kita bahkan belum menyinggung tentang Hollywood! 

Sinema?  Beberapa orang datang ke Siprus dan memotret saya beserta turban dengan ukuran besar sekali.  Lalu beberapa pembuat film datang menemui saya untuk pembuatan film tentang Nabi Musa AS.  Sayangnya, saya tidak bisa hadir.  Jika saya benar-benar berada di Siprus saat itu, tentu mereka akan membawa saya ke Amerika untuk pembuatan film.

Lebih bagus dari Charleston Heston?

(Sambil mengelus janggutnya yang putih )

Jauh lebih bagus!  ...Tarekat kita adalah untuk melangkah setelah Allah SWT membukakan jalan bagi kita.  Jadi, kita tidak menggunakan banyak program atau perencanaan untuk melakukan ini dan itu.  Dia akan mengirim kita menuju Kehendak-Nya.  Jadi, jika kami harus ke Amerika, akan nampak jelas nantinya.  Sedikit demi sedikit terbaca apa yang mesti kita lakukan.  Kita tidak bisa memutuskannya sekarang, namun sebuah keputusan akan terjadi sesegera mungkin atas Kehendak Allah SWT, jadi kami tak khawatir akan hal ini.  Mudah bagi kami. 

Jika ini adalah sebuah permintaan agar kami melakukan sesuatu bagi Anda, kami akan melaksanakannya.  Jika ada permintaan bagi kami untuk mendapatkan uang untuk mengirimi Anda tiket dan mengatakan, ’Syekh Nazim QS, datanglah!’  Apapun akan kami lakukan.

Terima kasih.  Jika Kehendak Tuhanku adalah mengirimku ke negara kalian, Dia akan mengirimiku beserta sebuah tiket!  Saya sedang menunggu perintah-Nya.

Apa sebenarnya tanggung jawab istri kami?  

Tiga kali membaca syahadat, setiap hari.  Juga agar selalu menjaga kebersihan.  Bagi pemula, satu kali sujud, dilaksanakan lima kali sehari pada waktu-waktu salat. Setiap salat, satu kali sujud adalah cukup. 

Jika kami ingin melaksanakan keseluruhan salat, apakah dibenarkan?

Bagi pemula, satu sujud sudah cukup.  Begitu mereka maju, mereka akan memintanya.  Ini perintah Grandsyekh.  Juga agar mencintai mereka yang beriman dan bukan yang tidak beriman.  Dan untuk bergaul dengan kaum yang beriman dan bukan dengan yang tidak beriman.

Bagaimana dengan orang tua kami yang tidak beriman? 

Orang tua, kalian harus hormati mereka selamanya! 

Saya telah mengerjakan latihan fisik, lari, angkat beban, dan sebagainya.  Apakah ini baik?

Mengapa kalian melakukan ini, untuk menjadi lebih kuat dan lebih cepat dari hewan?  Jika ada sebuah penghormatan bagi pembawa beban yang paling banyak, kita harus memberikan medali bagi keledai-keledai!  Untuk apa segala macam kebodohan dan ketololan ini? 

Saya rasa Anda telah menjawab pertanyaan itu!

Bukan berarti saya mengatakan kita tidak boleh bermain atau latihan untuk perang.  Ini juga sunnah.  Berjalan, berenang, menunggang kuda, pedang dan menembak – semua itu adalah sunnah. Tetapi permainan yang paling cantik adalah permainan dengan istri kalian!

Bagaimana dengan bela diri, karate dan yudo? 

Terlalu banyak.  Gunakan kekuatan kalian untuk sesuatu yang berguna.  Jika kalian sedang santai, luangkan waktu untuk misalnya berkebun dan bertanam.  Ini kan sangat bagus.  Tidak ada waktu luang dalam Islam, setiap tindakan harus ada manfaatnya.  Duduk santai adalah sesuatu yang buruk.  Paling tidak banyak penyakit berasal dari terlalu banyak duduk tanpa bergerak.  Permainan dan pekerjaan yang berguna akan bermanfaat bagi kalian.

Juga, setiap minggu kalian harus berkumpul di suatu tempat yang bagus bersama teman-teman untuk ngobrol dan melakukan hal-hal yang halal.  Tidak ada ceramah!  Tidak juga tabligh!  Hanya acara berkumpul yang sederhana untuk bertemu dengan teman-teman.  Hal itu cukup untuk menjalin persahabatan.  Jika mereka menyukai dan menghormati kalian, mereka akan datang.  Namun bila kita ceramahi, ego mereka akan terbebani.  Kita bukan jamaah tabligh!  Orang-orang tidak mampu membawa beban yang banyak.

Percakapan dilanjutkan berkisar tentang Perang besar di akhir zaman.

Mawlana, bagaimana para awliya menerima pengetahuan?

Melalui Nabi SAW!

Wa min Allah at tawfiq

Nasihat untuk Suksesnya Perkawinan

Khotbah Nikah  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Pernikahan adalah salah satu perintah Tuhan, dan ini merupakan jalan para anbiya, termasuk manusia pertama, Adam AS dan wanita pertama, Hawa RA.  Mereka melangsungkan pernikahannya di Surga, oleh sebab itu Allah SWT memberikan suatu Wewangian Surgawi kepada setiap pasangan yang melangsungkan pernikahan agar mereka bahagia.  Tetapi mereka sendiri harus menjaga wewangian itu sepanjang hidupnya, ini sangat penting.  Dan sekarang kita memohon kepada Allah SWT untuk melestarikan wewangian tadi bagi mereka berdua sepanjang hidupnya di dunia, dan kita berharap agar mereka akan bersatu di akhirat kelak, dalam kehidupan yang kekal.  Itulah makna dari pelaksanaan upacara pernikahan bagi sepasang pengantin baru. 

Kita bersyukur kepada Tuhan kita, yang menciptakan pria dan wanita, dan mengaruniai mereka dari Cinta Ilahiah-Nya.  Jika Dia tidak menganugerahkan Cinta Ilahiah-Nya, tak seorang pun akan menemukan jodohnya.  Dan Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjalani kehidupan yang mulia, dengan menjadikan orang saling berpasangan, bukannya satu wanita untuk semua pria atau seorang pria bagi seluruh wanita. 

Suatu kehormatan bagi wanita, bahwa ia hanya diperuntukkan bagi seorang pria dan sebaliknya seorang pria hanya untuk seorang wanita.  Itu merupakan suatu kemuliaan bagi mereka dalam kehidupan ini.  Siapapun yang melanggar aturan tersebut, Allah SWT tidak akan menyebut mereka sebagai orang yang terhormat.  Oleh sebab itu kita memegang teguh upacara yang mulia ini, dan kita memohon kepada Allah SWT agar mereka berhasil dalam menjalani kehidupan mereka bersama. 

Para wanita hanya boleh memandang suaminya.  Jika kalian ditanya, “Siapakah orang yang paling tampan di dunia?”  Kalian harus menjawab bahwa suami kalianlah yang paling tampan.  Begitu pula dengan para pria, siapakah orang tercantik di London?  Istri kalian.  Jika masing-masing melihat pada pasangannya, takkan ada lagi masalah, baik di London, di Inggris, di Turki, di Siprus, di Timur dan di Barat. 

Ini adalah nasihat yang paling penting bagi pasangan yang baru menikah.  Saya mendengar bahwa banyak pasangan yang mendaftarkan diri melalui petugas KUA.  Setelah tiga hari, tiga minggu, tiga bulan, atau tiga tahun, keduanya menjalani jalan yang berbeda, karena mereka melihat (pada orang lain), yang wanita melihat pria lain; yang pria melihat wanita lain.  Kalau demikian, pernikahan mereka tidak akan berusia panjang. 

Sekarang kalian tengah membangun suatu ‘gedung’ baru, melangsungkan sebuah pernikahan, dan kita memohon kepada  Allah SWT untuk membuat kalian saling mencintai satu sama lain. 

 

Jangan Menyakiti Hati Istri

Kalian harus tahu, kalian semua: Jangan menyakiti hati istri kalian, jangan menyakiti hati istri kalian!  Buatlah (suasana) agar mereka senantiasa bahagia dengan kalian; kalau tidak, ketika kalian datang, mereka akan pergi.  Mengerti?  Jagalah agar mereka tetap bahagia.  Dengan demikan mereka pun akan berusaha membuat kalian bahagia. 

Bawakan dia beberapa perhiasan (emas), seperti ini, seperti itu, sehingga dia akan senang denganmu.  Lakukanlah selalu; ketika istrimu marah kepadamu, bawakanlah sesuatu yang disukainya. 


Tidak ada Pertanyaan bagi Wanita

Wanita sangat beruntung, di dunia dan di akhirat kelak.  Mengapa?  Karena tidak ada pertanyaan bagi mereka. 

Pada Hari Kebangkitan, setiap wanita akan datang bersama suaminya dan ketika sang suami masuk surga, istrinya pun akan masuk bersamanya.  Tak ada pertanyaan bagi mereka.  Tetapi kalian—para pria—akan mendapat begitu banyak pertanyaan. 

Kalian mengerti?  Tunjukkan paspor kalian di depan pintu surga, masuklah, dan istri kalian akan masuk bersama kalian.  “Ini istrimu?”  Allah SWT, ‘Azza wa Jalla akan bertanya pada kalian.  Kalian akan menjawab, “Ya.”  “Kamu bahagia bersamanya?”  Jika kalian menjawab, “Ya”; Allah SWT akan berkata, “Bawa dia masuk ke dalam surga.” 

Tetapi jika kalian berkata, “Ya Tuhanku, Aku tidak pernah puas dengannya.  Dia terlalu banyak bicara!”  Lalu Allah SWT akan berkata, “Stop!  Berdiri!  Mengapa kamu tidak bahagia dengannya?  Dia adalah hijab antara dirimu dengan neraka.  Jika dia tidak bersamamu, kamu pasti sudah tergelincir ke jurang neraka.  Oleh sebab itu mereka semua lebih berharga daripada kalian.”

Ya, karena jika istri kalian tidak melayani kalian sebagai hijab, kita semua akan terjerumus ke dalam neraka, tak seorang pun yang akan mengeluarkan kita, kecuali isteri kita, tempat berlindung kita.  Jadi di siang hari, ketika kalian hendak berangkat kerja, raihlah tangan istrimu (Syekh Nazim QS menunjukkan gerakan mencium tangan), begitu pula di malam hari.  Kalian harus memperlakukan istri kalian dengan lembut.  Ya, hal ini adalah benar, mutlak, pasti dan bahkan sangat benar. 

Oleh sebab itu kalian harus menjaga hak-hak mereka.  Kalian, para pria suka melakukan kekejaman terhadap wanita dan tidak mempedulikan hak-hak mereka.  Setiap orang harus menjaga hak-hak mereka (wanita).  Allah SWT akan bertanya, “Mengapa kalian tidak merasa puas terhadap istri kalian?  Apa masalahnya, karena dia adalah yang menjadi hijab antara kalian dengan neraka, apakah dia tidak menjaga rumahmu?  Apakah dia tidak memasak?  Tidak mencuci?  Tidak merawat anak-anak?  Tidak bersih-bersih?”  Allah SWT akan bertanya. 

Tidak ada kewajiban bagi wanita untuk melakukan suatu pekerjaan. (Menurut syariah Islam, sebenarnya pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak merupakan tugas pria atau suami.  Jika istri tidak sanggup atau tidak ingin merawat anaknya, maka si suami bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi anaknya.  Namun karena sudah menjadi kebiasaan, maka istrilah yang mengerjakan hal-hal tersebut.  Syekh Nazim QS mengatakan bahwa pria harus bersikap lebih apresiatif, arif dan menolong bukannya memanfaatkan istrinya untuk mengurus rumah dan merawat anaknya.)  Kalian (pria) harus melakukannya: mencuci, bersih-bersih, dan merawat anak-anak.  Dalam syariah, Allah SWT bahkan tidak memerintahkan wanita untuk memberikan susu kepada anak-anak kalian.  Itu termasuk tanggung jawab kalian, wahai pria.  Kalian harus menyediakannya (susu), kalian harus membayarnya.

Kalian memberi bayaran pada wanita?  Untuk setiap bayi yang dia lahirkan, kalian harus membawakan rantai emas (perhiasan) untuk istrimu.  Ya, ketika dia memberikan susunya kepada si bayi, kalian harus membayarnya, bukannya mengatakan, “Kamu dapat melakukannya, kamu bisa menemukan seseorang untuk memberi susu kepada bayimu.”

Jangan menyuruhnya untuk bekerja!  Dia hanyalah sebagai hijab antara kamu dengan hal-hal yang haram, itulah tugasnya.  Segalanya berada di pundak pria, tetapi mereka (wanita) mau melakukannya… karena mereka bersyukur kepada kita, mereka melakukannya dengan sukarela.  Apakah kamu sekali-sekali pernah mencuci?

Wa min Allah at tawfiq

Ruhul Iman

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Yang menjadi fondasi bagi iman, dengan kata lain, roh dari iman, Ruh-ul Iman, adalah memikul apapun yang tidak kalian senangi dan bersabar atas apapun yang tidak kalian sukai. Karena, sebagaimana ada sedemikian banyak manusia di bumi ini, begitu pula dengan berbagai sifat, karakter, dan kemampuan mereka yang berbeda-beda, dan kalian mesti memikulnya semua.  Setiap saat kalian memikul beban orang lain, kalian akan memperoleh lebih banyak kekuatan bagi iman kalian. Kekuatan sejati dari Iman adalah untuk tetap istiqamah di hadapan berbagai fitnah dan cobaan.

Pada zaman sekarang ini, tanda dari akhlak yang mulia, derajat tertinggi dari Jihad-ul Akbar adalah untuk memikul karakter buruk orang lain dan mentoleransinya.

Kita tidak diperintah untuk menolak orang, tetapi untuk membuat mereka senang dan bahagia.  Kita tengah hidup pada suatu zaman di mana orang dapat mengatakan apa saja dan apa pun; kalian mesti bersabar dengan mereka, dan memaafkan mereka, selalu tanpa bertengkar atau berkelahi.

Kalian mesti tahu bahwa orang-orang tengah sakit dengan ego mereka.  Jika kalian mengklaim diri kalian sebagai dokter, kalian harus memaafkan mereka.  Jika kalian berada di jalan para nabi, kalian mesti menolong mereka dan toleran terhadap mereka.  Ini adalah tingkatan tertinggi dari akhlak dan adab yang mulia.

Kalian tidak boleh melupakan kebaikan yang telah dilakukan pada diri kalian.  Jika seseorang melakukan suatu kebaikan pada diri kalian, dan kemudian karena sesuatu hal yang ia katakan atau ia perbuat, kalian menjadi tidak senang atas dirinya, maka ketidaksenangan diri kalian padanya, atau terlupanya diri kalian atas perbuatan baiknya bagi kalian, adalah suatu sifat yang tercela.  Seperti ketika kalian memberikan sekerat daging pada kucing seratus kali; tetapi ketika kalian membiarkannya (lapar) satu kali saja, kucing itu akan mengeluh dan protes kepada Allah SWT, berkata, “Dia telah membiarkan aku lapar!”

Adalah akhlak yang mulia untuk tidak bertengkar dengan orang lain, bahkan seandainya kalian tahu bahwa kalian berada dalam kebenaran.  Bertengkar memadamkan cahaya iman.

Siapakah Muslim sejati?  Ia yang tidak menyakiti siapa pun, baik dengan tangannya, maupun dengan lidahnya.  Orang-orang selamat dari dirinya.  Ini adalah pintu gerbang yang terbuka lebar menuju Islam, dan ia terbuka bagi seluruh manusia.

Wa min Allah at tawfiq

 

30 October 2008

Realitas Kekuatan Ilahi

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Grandsyekh kita berkata, “Allah SWT berfiman bahwa Dialah pemilik semua kekuatan, dan tiada daya yang dimiliki oleh hamba-hamba-Nya.  Hanya Allah SWT yang mempunyai kekuatan mutlak.  Sekarang, orang-orang berkata, ‘Kami memiliki kekuatan!’  Mereka tidak menerima ketidakberdayaan mereka.  Oleh sebab itu, mereka tidak dapat meraih suatu target dalam kehidupannya. 

Semua alam semesta memerlukan energi untuk bekerja.  Tanpa energi, tak ada yang dapat bergerak, tak ada yang dapat berdiri.  Partikel atom yang terkecil—dari mana dia mendapat energi yang besar agar bisa eksis? 

“Allah SWT, tak ada yang lain, Allah SWT-lah yang memberikan semua energi kepada segala sesuatu di alam semesta.  Semuanya, dari yang terkecil hingga yang terbesar, mendapat kekuatan dari samudra kekuatan Allah SWT yang tak terhingga.  Hanya Sang Pencipta yang dapat berkata.  Jika Dia menahan kekuatan itu walau hanya untuk sesaat, semuanya akan musnah! 

“Siapa yang memberi derajat kenabian kepada para Nabi?  Jika Allah SWT tidak memberikan derajat kenabian, mereka hanyalah orang biasa.  Begitu pula dengan Awliya, yang mendapatkan kekuatannya dari Allah SWT.  Jadi kekuatan itu diberikan kepada semua makhluk, semuanya memperoleh kekuatan yang dikaruniakan oleh Allah SWT.  Dari mana seekor semut mendapatkan energinya yang luar biasa?  Seekor gajah dengan ukurannya yang besar?  Begitu banyak jenis serangga, begitu banyak jenis makhluk di samudra, semuanya telah diberikan tujuan tertentu dan kekuatan tertentu dari samudra kekuatan Allah SWT yang tidak terhingga. 

“Muhyiddin bin ‘Arabi QS berbicara tentang ‘malakut,’ beliau melukiskannya sebagai Kekuatan Ilahi yang mencakup segalanya.  Beliau berkata bahwa kekuatan ini berada dalam genggaman Tuhan kita, dan kekuatan itu terdapat dalam setiap makhluk.  Kerajaan-Nya mencakup segalanya, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar.  

Allah SWT adalah sumber kekuatan utama bagi seluruh makhluk.  Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW memohon kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku!  Jangan tinggalkan aku pada diriku sendiri!  Jika Engkau meninggalkan aku pada diriku, Aku akan musnah!”  Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan pasti mengenai hal ini.  Oleh sebab itu beliau memohon Pertolongan Ilahi dan Kekuatan Ilahi setiap detik, setiap saat dan dalam segala kondisi selama hidupnya.  Jika seseorang mengetui hal ini (yaqin), dia tahu bahwa semakin dia tidak berdaya, dia harus meminta (kekuatan) kepada Tuhannya. 

Semua Pertolongan Ilahi, semua Kekuatan Ilahi, lebih banyak diberikan kepada orang yang lemah daripada orang yang kuat.  Jadi semakin kalian merasa membutuhkan, semakin kalian membuka kepada Allah SWT, pertolongan akan datang.  Jika kalian tidak merasa membutuhkan Tuhan kalian, kalian akan ditinggalkan pada diri kalian sendiri, dan kalian akan binasa. 

“Wahai Tuhanku, setiap saat, aku membutuhkan Pertolongan Ilahi-Mu!  Jangan tinggalkan aku pada egoku walau hanya sekejap mata atau aku akan binasa!”   Ini adalah hal yang paling penting yang harus diketahui.  Sangat sedikit orang yang mengetahui rahasia ini. 

Sekarang, orang-orang terpelajar menggantungkan dirinya pada pengetahuan mereka, orang kaya pada kekayaan mereka, orang yang kuat pada kekuatan mereka.  Ini adalah hal yang salah.  Saya selalu meminta kekuatan pada Tuhan saya untuk menerangkan realitas ini.  Tanpa dukungan-Nya, Saya tidak berarti apa-apa.  Jika seseorang mengaku, “Aku pintar!” berarti dia adalah orang pintar yang bodoh.  Jangan jadi seperti ini.  Orang yang mengaku, “Aku tahu!  Aku adalah seorang yang terpelajar!”  berarti dia adalah seorang terpelajar yang lalai.  Orang yang mengaku, “Aku orang kaya!” sebenarnya dia adalah orang kaya yang miskin.”

Wa min Allah at tawfiq

 

Mengenai Hadis Rasulullah SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

“Ini adalah apa yang diajarkan oleh Grandsyekh kepada saya,” kata Mawlana.  “Hadis-Hadis Rasulullah SAW adalah sama dan mempunyai derajat yang sama, sebagaimana al-Quran.  Kita harus menghormati Hadis-Hadis tersebut seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran.  Di dalam ayat al-Quran terdapat suatu keterangan.  Di dalam Hadis, Rasulullah SAW tidak berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi berdasarkan wahyu yang diturunkan dari Allah SWT.  Jika Allah SWT tidak mengizinkannya, Rasulullah SAW tidak akan mampu mengucapkannya.  Oleh sebab itu, kita harus menghormati kata-kata Rasulullah SAW seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran.” 

Seseorang bertanya, “Apakah ini berarti bahwa kita harus berwudu sebelum membaca kitab Hadis, seperti halnya ketika kita ingin membaca al-Quran?” 

Mawlana menjawab, “Jika kita ingin mendapatkan hikmah dari suatu buku keagamaan, kita harus membacanya dalam keadaan berwudu.  Tanpa wudu, kita tidak berada di jalur yang benar.  Rasulullah SAW menasihati kita agar selalu menjaga wudu karena itu adalah senjata Muslim dalam menghadapi Setan.  Setan tidak bisa mendekati orang yang mempunyai wudu.”

“Rasulullah SAW menerangkan al-Quran berdasarkan kapasitas pemahaman kita,” Syekh melanjutkan, “karena al-Quran adalah firman Allah SWT, sedangkan Hadis adalah sabda Rasulullah SAW.  Rasulullah SAW adalah manusia seperti kita, sehingga ucapannya lebih mudah dimengerti oleh kita.  Oleh sebab itu, beliau menerangkan hal-hal yang tersirat dalam al-Quran kepada kita.” 

Seorang murid bertanya, “Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu Hadis otentik?”  Syekh Nazim QS menjawab, “Jika seorang ‘alim yang jujur berkata atau menulis dalam suatu buku mengenai Hadis-Hadis tertentu, maka kalian harus mempercayainya.  Misalnya, al-Ghazzali QS menulis banyak buku berisi banyak Hadis.  Beberapa orang menganggap beberapa Hadisnya lemah, tetapi kita tidak sependapat dengan pemikiran ini.  Kita yakin bahwa Imam Ghazzali QS adalah seorang ‘ulama besar, ‘ulama ‘king size’.  Beliau bukanlah seorang ‘ulama biasa, beliau jujur dan dapat dipercaya.  Oleh sebab itu, kita percaya terhadap semua Hadis yang beliau tulis.” 

“Jika kalian menemukan seorang cendikiawan yang dapat kalian percayai, maka kalian harus percaya terhadap semua Hadis yang dikatakannya kepada kalian.  Ini adalah jalan bagi seorang murid dan juga orang awam terhadap suatu Hadis.  Tetapi para Awliya, di mana Allah SWT telah memberi mereka cahaya, mereka berbeda.  Mereka dapat mendengarkan pembicaraan seseorang dan melihat apakah ada cahaya yang terpancar dari ucapannya.  Dengan demikian, mereka dapat mengetahui apakah ucapannya benar.   Begitu pula ketika Awliya itu membaca, mereka dapat melihat Hadis-Hadis yang sahih itu memancarkan cahaya.  Hadis-Hadis tersebut adalah ucapan Rasulullah SAW yang turun dengan cahaya dan dipenuhi cahaya.  Bila seseorang dapat melihat cahaya ini, dia tidak memerlukan opini orang lain bilamana Hadis tersebut kuat atau lemah.” 

“Begitu banyak ‘ulama yang menyangkal Hadis ini atau itu sementara para Awliya mengatakan bahwa Hadis itu semuanya benar.  Jadi, kita harus menerima Hadis dari orang-orang yang mempunyai cahaya Iman dalam hatinya dan menunjukkan kebenaran bagi kita.  Demikian juga, jika suatu buku mempunyai Hadis Rasulullah SAW, kita menerimanya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW.  Jika itu merupakan Hadis yang tidak benar, tidak ada kewajiban bagi kita bila kita menerimanya.  Ini adalah adab yang tinggi.  Jika seseorang berkata, ‘Ini adalah sebuah Hadis,’ kita mempercayainya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW.” 

Seseorang bertanya, “Jadi, sampai kita meraih pengelihatan seperti yang dimiliki oleh para Awliya, kita harus menerima semua Hadis sebagai Hadis yang sahih?” 

“Ya,” kata Mawlana, “jika kalian tidak melakukan hal ini, kalian tidak bisa maju, tidak bisa!  Jika kita membacanya dalam sebuah buku, mendengarnya dari seorang ‘ulama atau dari seseorang, sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW, kita harus mempercayainya.”   

Seorang murid berkata, “Maksudnya kita tidak boleh menanyakan sumbernya?”  Mawlana menjawab, “Tidak, hal itu tidak baik.  Untuk menyetujui atau mengatakan ‘baiklah’ adalah lebih baik.  Tetapi untuk melakukan hal ini memang sulit.  Mengatakan ‘baiklah’ adalah suatu tanda hati yang bersih.  Jika hati seseorang tidak bersih, dia akan bertanya, ‘dari mana (Hadis) ini?  dari mana (Hadis) itu?’ banyak sekali pertanyaan yang muncul!  Itu menandakan bahwa hatinya tidak bersih.  Semakin banyak dia bertanya, semakin banyak hatinya dipenuhi dengan keraguan.” 

“Apakah banyak koleksi Hadis yang sahih?” “Banyak sekali,” kata Mawlana.  “Semuanya sahih.  Buku apa pun yang menulis Hadis Rasulullah SAW harus kita percayai.  Ini adalah jalan saya.” 

“Tetapi apakah sekarang Mawlana sudah sampai pada titik di mana Mawlana dapat melihat cahaya yang terpancar dari suatu Hadis yang sahih?” tanya seorang murid. 

Syekh menjawab, “Ahh, ya.  Tetapi kalian tidak dapat meraih titik itu sampai kalian mempercayai semua ucapan yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah Hadis.  Cara ini akan membawa  kalian ke titik tersebut, di mana kalian dapat melihat cahaya.  Sangat sulit untuk menerima hal ini.”

Wa min Allah at tawfiq


20 June 2008

Orang Beriman tak Mengeluh!

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Grandsyekh Abdullah QS mengatakan, “Untuk apa Allah SWT mengutus Nabi SAW? Beliau dikirim untuk menyempurnakan karakter-karakter yang baik. Beliau mengajari kita sepanjang hidupnya bagaimana cara mengubah karakter-karakter buruk menjadi baik. Itulah tugas utama kenabian.”

Ketika saya (Syekh Nazim QS) bertanya pada Grandsyekh, “Guruku, adakah keluhan keluar dari seseorang yang berkarakter baik?” “Tidak pernah! Tidak ada keluhan keluar dari seseorang yang berkarakter baik!” Itulah jawaban Grandsyekh. Begitu banyak keluhan dari manusia, tak terhitung jumlahnya. Tetapi seorang yang berkarakter baik ibarat badan yang sehat (Grandsyekh memegang badan salah seorang murid). Jika kalian sentuh badan itu, tak akan ada keluhan. Namun seorang manusia yang sekujur tubuhnya penuh luka akan selalu mengaduh bila tersentuh lukanya.

Dengan demikian, ukuran manusia yang berkarakter baik (atau buruk) adalah pada banyak atau sedikitnya ia berkeluh kesah. Jika keluhannya sedikit, maka sedikit pula sifat-sifat buruk yang masih tertinggal dalam dirinya. Jika kalian tidak pernah lagi mengeluh, ketahuilah bahwa kalian adalah sehat, tak ada sifat-sifat buruk lagi! Ini adalah hal yang penting, seorang yang berkarakter baik, tidak berkeluh kesah, dia mempunyai kesabaran. Dan dia yang mempunyai kesabaran, berarti mempunyai iman yang benar. Iman yang benar senilai dengan karakter baik dan iman yang benar senilai dengan kesabaran. Di mana pun kalian tidak bisa bersabar, kalian tidak sedang dalam keadaan beriman.

Kurangi keluhan-keluhan kalian sampai terkikis habis, agar hidup kalian tenang. Tidak ada lagi yang bisa membuat masalah. Kalian akan seperti roket yang telah sampai pada suatu titik di mana tak ada lagi gaya gravitasi bumi. Jika kita mampu lolos dari gaya tarik dari sifat-sifat yang buruk, maka tak akan lagi gangguan di dunia ini maupun di akhirat kelak.

“Bagaimana kita bisa melakukannya?” tanya salah seorang murid.

Jawab Syekh Nazim QS, “Kurangi keluhan sedikit demi sedikit, itu tidaklah mudah. Kalian mengeluh perihal apapun… soal istri, anak, tetangga, keluarga. Dari Yahudi, Amerika, Rusia, pria dan wanita, sampai dari bangsa Jin! Komplain, komplain… kabar baik bila kalian telah mampu mengatasinya!”

Cukup untuk hal ini, sebuah kalimat singkat, satu pertanyaan, satu jawaban dari Gransyekh kita, sebuah pengetahuan yang cukup untuk melenyapkan segala kesulitan. Kalian Mengerti? Kalimat yang tertulis di sini (sedang kalian baca) akan mampu mengingatkan setiap waktu. Kekuatan Ilahiah akan memasuki hati kalian dan menolong kalian untuk mengingat kata-kata ini. Segera akan masuk dalam hati kalian, “Aku bukan seorang pengeluh, apapun yang terjadi padaku adalah karena kehendak Tuhan!”

Tanya diri kalian, “Mengapa aku harus mengeluh, jika Tuhan yang menghendaki hal ini terjadi.” Itulah latihannya, jika kalian sadar akan hal ini, maka kalian akan puas akan segala kehendak-Nya. Jika kalian puas terhadap Tuhan, kalian akan tenang.”

Bagaimana menghadapi ketidakadilan? Perilaku semacam ini akan mengantar kita untuk mengatakan ‘Oh, ini takdir Tuhan’ bukankah hal ini menjadi semacam fatalisme?

Koreksi pada hal-hal yang salah adalah masalah lain. Jika kita mampu, kita koreksi segala hal, tetapi yang kita bicarakan di sini adalah mengurangi keluhan dan menerima segala sesuatu sebagai kehendak Tuhan, misalnya jika kita sedang miskin--jangan mengeluh. Jika sedang sakit – jangan mengeluh.

Hal ini sangat tersamar, membingungkan. Ketika Anda mengatakan tidak mengeluh, maka artinya adalah ‘Baiklah, saya menerima segala sesuatunya.’

Benar, kita menerima segala sesuatunya, karena Allah SWT yang menjadikan hal itu terjadi pada kita dan pada semua orang.

Bagaimana perbedaan antara sebuah keburukan yang perlu perbaikan dan sebuah kondisi yang harus kita terima? Kadang kita terkena akibat perilaku buruk kita sendiri.

Tindakan yang salah berakibat sesuatu terjadi pada diri kita, bila kita cegah hal itu pun tak akan terjadi.

Namun, kadang manusia baik seperti Anda juga dimarahi orang kan?

Benar! Tetapi kami tak pernah mengeluh! Kami tahu bahwa terkadang anak-anak kecil melempari pohon-pohon yang mempunyai buah-buah, karena mereka tidak mampu mencapainya. Semua nabi dan manusia suci kadang-kadang bernasib buruk, bukan karena tindakan mereka yang salah, namun mereka ibarat pohon tinggi yang penuh buah dan sukar dicapai. Manusia awam seperti anak-anak kecil yang melempari pohon-pohon itu dengan batu.

Jadi manusia yang baik akan menunggu kurma-kurma jatuh dengan sendirinya ?

Benar.

Jika sesuatu yang tidak berkenan terjadi di rumah Anda, apakah Anda mengoreksinya? ‘jangan lakukan ini dan itu’ Anda hanya akan menerima apa yang tidak bisa Anda ubah, benar begitu?

Kalian bisa mengoreksi siapa saja yang mau mendengar kalian. Tetapi hati-hatilah, karena setiap manusia memandang diri sendirilah yang mengisi seluruh bumi ini. Jika kalian katakan ’jangan lakukan ini itu!’ mereka tak akan mau menerimanya. Gantilah dengan, ”Ya Tuhanku! Jika aku seperti dia (orang yang Anda ingin koreksi), bagaimana pendapat-Mu ya Allah SWT! Baikkah menurut-Mu melakukan hal seperti ini?“ Dan jika sasaran kita (orang yang ingin dikoreksi) mendengar hal ini (atau apapun kalimat yang mempunyai efek pada hatinya) dan akan membuat dia tersadar akan perilaku buruknya.” Tetapi jika kalian katakan, “Jangan begini, jangan begitu,” tak seorang pun akan menerimanya, semua manusia mempunyai ego yang tinggi. Jika sesuatu terjadi dalam rumah tangga yang melanggar aturan Allah SWT, misalnya ada yang ingin makan daging babi, maka kalian harus melarangnya. Tak ada protes dalam hal ini.

Tetapi jika saya larang, anak istri saya akan mengatakan, ‘Itu kan yang kamu yakini, bukan yang kami yakini. Bukan hakmu memaksakan apa yang menjadi keyakinanmu. Seperti itulah gaya Amerika, Syekh Nazim QS!

Jika demikian, kalian bebas untuk tetap bersama atau tidak. Kalian bisa membebaskan mereka melakukannya, tetapi jangan berpartisipasi atau duduk bersama mereka saat mereka melakukan hal itu, makan atau minum. Sepanjang mereka bukan muslim, kita tidak bisa meminta mereka menaati hukum Islam. Bahkan ke gereja pun, mereka bebas. Agama mengizinkan kita (pria) untuk menikahi seseorang yang beragama lain.

Bukankah anak-anak harus dibesarkan sebagai muslim?

Anak-anak adalah tanggung jawab kalian.

Jadi, kita harus secara terang-terangan tidak mau berpartisipasi dalam hal-hal yang dilarang?

Ya

Jika ada binatang tetangga merusak hak milik kita, tidak bisakah kita protes dan mengeluh misalnya, ’Manusia macam apa tetanggaku ini!’

Jika seseorang membawa petaka pada kalian, syariah memberi wewenang untuk mencegah petaka terjadi di antara masyarakat. Ini bukan keluh kesah. Adalah hak kalian untuk menjaga hak milik kalian agar aman. Jika ada yang melukai kalian dengan tangan atau lidahnya, maka dia bukan seorang muslim, bukan orang beriman. Jika kalian melakukan sesuatu untuk melawannya, itu bukan berkeluh kesah, namun hak dalam syariah. Jadi bicarakan saja. Misalnya ada seseorang datang dan memotong pohon kalian dan mengambilnya, bukan berkeluh kesah bila kalian menghentikannya. Jika dia membuat masalah, menempuh jalur hukum pun tidak termasuk berkeluh kesah. Tidak diizinkan berbuat jahat dalam syariah.

Apa hak-hak saya pada istri yang non muslim? Haruskah saya izinkan keinginannya? Jika ada, apa hak-hak sah saya?

Hak-hak Anda adalah menjaga kehormatan Anda. Kehormatan Anda adalah bersama istri Anda. Jika dia setia dan senang bersama Anda itu sudah cukup bagi Anda. Itu berlaku untuk istri muslim maupun non muslim.

Anda katakan ada syarat-syarat tertentu dalam suatu hubungan, apakah itu?

Jika istri kalian menyenangi kalian dan mengatakan, ”Aku puas denganmu sebagai suamiku. Aku bebas dengan agamaku dan kamu bebas dengan agamamu.” Maka tak ada lagi persyaratan. Syarat-syarat itu adalah menjadi setia pada kalian, pada anak-anak kalian dan pada hak-hak milik kalian.

Adakah syarat-syarat lain?

Itu jika kalian suka! Jika tidak suka, tinggalkan dia! Tetapi kami lebih cenderung untuk mempertahankan pernikahan dengan yang tidak beriman, karena dengan cintanya pada suami mereka, mereka akan mendekat pada keimanan dengan sendirinya. Maka kami sarankan, “Pertahankan dia.” Agar hari demi hari mungkin istri Anda akan setuju dengan Anda disebabkan cintanya pada Anda. Kita punya perkataan, ‘Shartul mu'arfiqa mu'arfiqa.’ Dari persahabatan, kita mungkin bertemu pada jalan yang sama. Yang wanita bisa membawa laki-laki pada jalannya, atau yang laki-laki akan membawa sang wanita pada jalannya.

Bagaimana jika kita menikahi wanita yang tidak beriman, dan setelah sekian lama, walaupun kita telah toleran, ia tetap tidak mau masuk Islam?

Bersabarlah, mohon pada Allah SWT untuk menyatukan kalian dalam jalan yang sama. ”Jagalah aku, oh Tuhan agar tetap pada Jalan-Mu dan jagalah ia bersamaku dalam jalan-Mu.” Jika tidak ada hasil, maka katakan padanya, “Kamu dengan jalanmu, aku dengan jalanku.”

Bagaimana bila ia benci Islam dan menjelek-jelekkan Nabi SAW?

Tinggalkan dia! Tak ada pembicaraan lagi mengenai ini. Ada poin penting dalam hal ini. Setiap orang, kuncinya ada di tangan Tuhan. Kalian tidak bisa mengubah seseorang sebelum Allah SWT mengubahnya, bahkan Nabi SAW pun tak mampu. Jika Allah SWT tidak mengubahnya, tak seorang pun bisa berubah. Hati setiap manusia ada dalam genggaman Allah SWT. Bisa jadi Kehendak Allah SWT adalah mengubah seorang hamba, untuk itu Dia mengirim kalian. Jika kalian bersabar dengannya, kesabaran kalian akan berbuah pada akhirnya dan ia akan datang pada kalian.