Showing posts with label Demokrasi. Show all posts
Showing posts with label Demokrasi. Show all posts

25 June 2009

Sistem Pemerintahan yang Islami

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Pertanyaan (Lady Khadijah):  Apa yang dapat diterima dalam sistem pemerintahan yang Islami?


Jawaban Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS:

Ini adalah pertanyaan yang penting,  agar jawaban yang diberikan berguna bagi kaum Muslimin; juga bagi kaum Kristiani, Yahudi dan semua keyakinan seluruh umat manusia.  Suatu pertanyaan yang sulit dijawab karena ini amat penting dan agar dipahami secara baik. 

Bismillaahi r-Rahmaani r-Rahiim

Islam dan pemerintah, Anda mengatakan Monarki, Demokrasi  dan Teokrasi, mana yang diterima dalam Islam?

Pertama, kita katakan bahwa Islam berdiri sendiri, tidak harus mengikuti ketiganya.  Islam mempunyai sistem pemerintahan yang asli.  Lewat perintah surgawi yang dikirim Tuhan bagi hamba-hamba-Nya agar kondisi mereka mendekati sempurna, baik secara individu maupun secara kolektif dalam kehidupan mereka.

Orang-orang mungkin mengatakan adanya Monarki, Demokrasi atau pun Teokrasi dalam Islam.  Islam berada di atas ketiga sistem pemerintahan ini.  Islam menerima bahwa seseorang harus berada dalam kontrol suatu negara.  Seluruh bangsa harus memberikan jaminan, dukungan dan kepatuhan pada rakyatnya.  Harus!

Yang paling utama dalam sistem pemerintahan Islam adalah: kekuatan/pimpinan berada dalam tangan satu orang, bukan pembagian, karena bila ada sekutu (mitra) di dalamnya, akan muncul lebih banyak masalah.  Negara yang mempunyai berbagai kelompok yang berkuasa terdapat banyak perselisihan, tidak ada kedamaian dan kepuasan.  Selama kelompok-kelompok ini tidak damai, negaranya akan menderita masalah yang sama. 

Islam memerintahkan bahwa pimpinan dipegang oleh satu orang.  Itu yang terbaik.  Lalu kita bandingkan Demokrasi  dengan sistem Islami.  Pertama, hal utama dalam Demokrasi adalah hak-hak asasi manusia dan kebebasan.  Orang-orang tidak tertarik pada masalah lain kecuali kedua hal ini.

Dalam Islam dikatakan, daripada menuntut hak-hak manusia (karena Islam menerima hak-hak manusia sama dengan kewajiban), penuhi kewajiban kalian dulu untuk menerima hak-hak kalian.  Ini adalah hal yang sangat penting.  Penuhi kewajiban dulu untuk menerima hak-hak kita.  Tanpa kewajiban, tidak ada hak-hak.

Namun, Demokrasi  memberi hak-hak tanpa adanya kewajiban-kewajiban.  Islam adalah untuk keadilan. Demokrasi  untuk kebebasan.  Islam meminta keadilan bagi mereka, bukannya kebebasan mutlak.

Demokrasi  memberi kebebasan mutlak.  Islam memberi hak-hak rakyat setelah kewajiban dilaksanakan  – hak dan keadilan.  Inilah perbedaan antara visi Demokrasi  Islam dan Demokrasi  Barat.  Orang-orang Barat hanya meminta hak-hak manusia tanpa kewajiban-kewajiban, dan meminta kebebasan sebanyak-banyaknya yang bisa diberikan oleh negara.  Jika seorang murid tidak mau belajar ketika ujian, bagaimana dia bisa lulus? 

Inilah kesempurnaan visi Islam.  Demokrasi  Eropa dan Barat tidak sempurna dan tidak berguna, mengerikan dan berbahaya bagi umat manusia.  Tak ada masa depan.  Mereka sedang mempersiapkan rakyat pemberontak yang hanya meminta hak-hak mereka tanpa memikirkan kewajiban dan keadilan. 

Islam mengatakan, “Tidak!”  Penuhi kewajiban kalian dulu baru ambil hak-hak kalian.  Kami menjunjung hak-hak manusia, hak-hak asasi tersebut tersedia setelah kalian melaksanakan kewajiban.  Kami melaksanakan keadilan.

Jangan katakan, ‘Saya bebas melakukan apa pun yang saya mau.’  Kalian tidak hidup sendiri, jutaan dan milyaran orang berada di sekeliling kalian.  Kalian tidak bisa melakukan apa pun semau kalian.  Jika seorang penumpang pesawat mengatakan, ‘Aku mau menyalakan api untuk membuat teh. Aku bebas melakukannya.’  Apakah kalian akan mengizinkan dia untuk melakukan hal ini?  Dia mempunyai hak, mengapa kalian melarang kebebasan dia?

Kekacauan terjadi akibat terlalu banyak kebebasan.  Keadilan adalah untuk menjunjung hak orang lain sama halnya dengan  hak-hak kalian yang ingin ditegakkan.  Jika kalian melukai orang, kami akan menangkap dan memasukkan kalian di bui seperti hewan, singa, macan, dan tidak boleh bebas berada di luar.  Inilah visi Islam tentang Demokrasi.

Demokrasi  Barat ada sejak masa Revolusi Perancis.  Mereka akan merayakan ulang tahun  ke-200 pada tahun 1989, merayakan sebuah revolusi yang salah.  Demokrasi  yang digunakan mereka  dari A-Z adalah tidak berguna, merusak dan amat berbahaya.

Demokrasi  Eropa mengatakan bahwa tanpa kewajiban-kewajiban pun kalian tetap mempunyai hak-hak.  Dari mana mereka mendapat ide-ide itu?  Dari kitab mana?  Siapa yang mengatakan ide tolol itu?  Hak-hak tanpa ada tanggung jawab. 

Islam menjaga pimpinan berada di tangan satu orang agar  keadilan bisa dijaga.  Kemudian, pemimpin menjaga hak-hak orang-orang yang telah melaksanakan kewajiban – yang tidak melaksanakan kewajiban tidak mendapat hak-haknya.  Visi Islam adalah sistem terbaik bagi seluruh umat manusia.  Demokrasi  yang benar, yaitu Theokrasi Islam.

Jika seluruh dunia setuju dengan visi ini, mereka akan selamat dan mencapai kedamaian yang absolut.  Kalau tidak, mereka akan berselisih, perang dan memakan satu sama lain tanpa menjadi masalah.  Tanpa memasak, mereka dapat saling memakan:  Inggris dengan Jerman, Jerman dengan Perancis, Rusia dengan Jerman, Jepang dengan Cina.

Mereka tidak akan berhenti sampai mereka menganut visi Islam.  Islam mengatakan, bayar kewajiban dan ambil hak-hak kalian.  Tak ada kebebasan tanpa keadilan.  Kebebasan hanya ada di hutan, silakan pergi ke sana!  Jika kalian hidup bermasyarakat, maka kalian tidak sendiri.

Sangat disayangkan bahwa di wilayah-wilayah Islam, mereka tidak memahami hal ini.  Tidak masalah bila Kristen, Yahudi dan masyarakat lain, tetapi dunia Islam sendiri tidak memahami apa yang dimaksud dengan visi Islam dalam sistem pemerintahan.

Ini yang terbaik!  Ya, dalam Islam, manusia membutuhkan manusia.  Itu aturan utama.  Seorang raja membutuhkan rakyat, mereka yang miskin membutuhkan orang kaya, dan sebaliknya orang kaya membutuhkan orang miskin, pekerja membutuhkan orang yang mempekerjakannya dan sebaliknya.  Kepala butuh kaki, kaki butuh kepala.  Itulah Islam.

Kita tidak bisa menjadikan kaki sebagai kepala atau sebaliknya.  Atau memotong kepala sehingga hanya ada kaki saja seperti yang para komunis lakukan pada rakyatnya.  Mereka berkata, “Tidak ada kepala dalam sistem kami – semua orang adalah sama.”  Artinya, hanya ada kaki-kaki tanpa kepala, mereka semua adalah kaki. Begitukah?  Jika kalian meletakkan ‘kaki’ atau pekerja sebagai pemerintah, bisakah itu?  Bagaimana bisa pekerja dijadikan pemerintah?  Mereka adalah para pekerja, buruh – bagaimana bisa buruh-buruh duduk dalam pemerintahan?

Inilah aturan yang abadi dalam Islam: letakkan setiap orang pada posisi yang sesuai dengannya.  Insinyur sebagai insinyur, pekerja sebagai pekerja, buruh sebagai buruh, petani sebagai petani, raja sebagai raja, gubernur sebagai gubernur, demikian juga dengan polisi dan pebisnis. 

Maka dari itu tidak ada pemilihan dalam Islam.  Pemilihan adalah batil, salah!  Bisa saja orang-orang berkumpul untuk meminta ‘satu kaki’ menjadi ‘kepala’ --  atau semua ‘kaki’ meminta untuk menjadi ‘kepala’.  Dalam Islam, yang pertama adalah kemampuan dan kemudian pelayanan.  Berikan pelayanan dulu, lalu buatlah ranking/urutan.  Siapa yang mempunyai kemampuan, akan selalu naik rankingnya. Seluruh dunia harus diubah.  Jangan ada pemilihan, karena pemilihan bisa saja menjadikan kaki sebagai kepala, dan menjadikan kepala sebagai kaki. 

Hubungan Islam dengan negara-negara lain juga penting. Jagalah selalu hubungan baik dengan tetangga kalian sehingga terjadi ekonomi bebas, sebuah sistem liberal, tidak ada  penghalang bagi gerakan antar manusia.  Hubungan baik, toleransi dan tidak menyulitkan sesama manusia.  Jaga kehormatan masing-masing negara, kirim dan terimalah duta-duta bangsa, permudah kepergian dan kedatangan, jangan terlalu banyak dihalangi.  Permudah kesepakatan antar muslim.  Para pengunjung mendapat kebebasan, dihormati dan diterima.  Harus dipantau, siapa yang baik dan siapa yang buruk,  sehingga tidak ada yang saling terganggu.  Harus ada hubungan yang baik antar negara Islam dan negara-negara lainnya.  Pemerintah harus menegakkan keadilan, dan tidak kasar.  Ketidakadilan dan  kekejaman dilarang dalam Islam.

Semua orang harus menerima hak-haknya.  Dalam Islam  hak-hak asasi adalah bagi siapa pun yang telah memberi pelayanan.  Kalian harus mengusahakan hak-hak tersebut. Tidak ada hak-hak lahir sebagai dokter, insinyur, atau jendral.  Kalian pikir mereka mendapat status itu tanpa berusaha? 

Kita lahir dengan hak-hak dasar seperti bernafas, makan dan minum.  Jika kita menginginkan hak-hak yang lebih, seperti hak untuk menjadi seorang dokter, maka kalian harus bekerja dan menghasilkan.  Komunis mengatakan, “Kita harus sama, ambil dari yang kaya untuk diberikan pada yang miskin,”  hak macam apa itu? 

Bekerja, menghasilkan dan ambil.  Siapa yang akan melarang kalian?  Islam tidak pernah melarang orang untuk bekerja dan menjadi kaya.  Mengapa kita melarang orang-orang untuk menjadi kaya?  Kalian harus hidup dan bekerja, rakyat harus digaji karena usahanya. Kesempatan bebas bagi siapa pun.  Kalian boleh bekerja, mendapat bayaran, bahkan meningkat sampai bisa hidup di dalam istana.

Jika kalian malas, tidak bekerja dan tinggal di gubuk, lalu mengatakan kita harus menyerang mereka yang tinggal di istana.  Apakah ini hal yang benar?  Inikah hak-hak asasi manusia?  Mereka bisa naik Rolls Royce dan kita mengendarai bis, lalu saya  katakan, “Orang besar mobilnya juga besar.”  Mengapa harus marah?  Di bawah perintah kalian, banyak ratusan bis-bis merah, panggil saja satu, murah. 

Katanya, “Kami punya hak untuk naik Rolls-Royce”  - carilah penghasilan dan naiklah Rolls-Royce atau mobil-mobil mewah lain.  Islam tidak pernah mengizinkan orang-orang untuk tidak bekerja.  Selama dunia ini berputar, pekerjaan tidak akan pernah berhenti.  Jika kalian ingin bekerja, carilah pekerjaan.

Lihatlah di London ini, orang-orang datang mencari kerja. Jika pemerintah mengizinkan, jutaan orang akan datang dan bekerja.  Namun mereka  mengatakan, tidak ada pekerjaan. Jika tidak ada pekerjaan, mengapa orang-orang itu datang?

Kesombongan membuat orang-orang tidak bekerja, kedua: malas, ketiga: mereka senang mendapat uang gratis dari pemerintah.  Itulah yang membuat rakyat malas.  Islam menolak aturan semacam itu.  Islam mengatakan, pertama: pertanian lalu perdagangan kemudian pabrik.  Tidak perlu minta pekerjaan pada pemerintah.  Dalam Islam tidak ada yang namanya ribuan pegawai, banyak departemen-departemen.  Islam sungguh sederhana. 

Wa min Allah at tawfiq

16 June 2008

Siapakah Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Saudara-saudara yang terhormat, para ‘ulama dan saudari-saudari yang dimuliakan, Saya ingin mengatakan bahwa selain para ‘ulama, kita juga mempunyai Imam Senad, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat Bosnia di Amerika dan Imam mereka. Kita menyambut mereka karena beliau baru saja tiba dari perjalanannya ke Bosnia dan beberapa negara lainnya. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan dukungan kepadanya.

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bahwa malam ini kita berada di sini untuk Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, Ghawts Azham. Ghawts Azham berarti Busur-Perantara. Beliau adalah seorang perantara bagi manusia di Hadirat Muhammad SAW yang pada gilirannya Rasulullah SAW menjadi perantara di Hadirat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam suatu hadis (qudsi) bahwa ada beberapa orang “yang dapat menjadi perantara di Hadirat-Nya, melalui Izin-Nya.” Dewasa ini kita harus mengatakan bahwa suatu hadis adalah hadis yang “otentik”, karena sekarang banyak sekali kemunafikan. Sebelumnya, kita tidak perlu mengatakan hadis itu “otentik”. Segera setelah kalian bilang hadis, setiap orang akan mengerti bahwa itu adalah sebuah hadis. Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah dan kita harus meyakini apa yang telah diajarkan dan diberikan oleh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah kepada kita. Tidak seperti pseudo-‘ulama sekarang yang merasa bahwa mereka sudah sangat tinggi posisinya. Semoga Allah SWT melindungi Islam dari orang-orang yang munafik.

Saya sangat bergembira bahwa pada hari ini Saya berada di sini, di sebuah Muslim Center, di mana setiap orang datang bersama-sama untuk beribadah kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT yang patut disembah dan Sayyidina Muhammad SAW yang patut dipuji. Sayangnya sekarang sebagian besar orang kebingungan dalam hal menyembah dan memuji. Jika kita bilang bahwa kita memuji Nabi Muhammad SAW, mereka bilang kita menyembahnya. Jika kita memuji Syekh, mereka juga bilang bahwa kita menyembahnya. Jika kalian bertanya kepada seorang anak Muslim dengan suatu pertanyaan sederhana, “Siapa Allah SWT?” “Siapa yang menciptakanmu?” ia akan berkata, “Allah SWT.” “Siapa yang kamu sembah?” Dia akan berkata, “Allah SWT” Kita tidak pernah mengatakan kepada anak-anak, “Katakanlah Muhammad SAW.” Kita tidak pernah melihat seorang anak yang mengatakan, “Aku memuji Nabi Muhammad SAW.” Dari mana mereka membawa ideologi baru ini, bahwa jika kalian memuji Sayyidina Muhammad SAW “terlalu banyak” kalian bersalah telah melakukan dosa syirik? Allah SWT memerintahkan kita untuk memuji Nabi Muhammad SAW!

Dalam Islam tidak ada pemilihan. Dari mana mereka membawa ide demokrasi ini? Tidak ada demokrasi dalam Islam! Islam adalah bay’at kepada amir, pemimpin. Ketika kalian menyerahkan tangan kepada amir, ia akan memelihara kalian. Dari mana kalian mendapat istilah “dewan perwakilan!?” dan para “direktur” dan beberapa nama-nama lain yang menonjol ini? Kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya anak kecil—duduk dan berpikir bahwa kalian adalah seorang Firaun. Allah SWT akan memperhitungkan segalanya. Dan Allah SWT akan bertanya kepada kalian tentang hal ini di Hari Pembalasan nanti.

Kalian menentang Allah SWT dan para awliya-Nya. Bahkan guru-guru kalian, para ‘ulama kalian, guru Ibnu Taymiyyah dalam bukunya, Fatawa al-Kubra, beliau mengutip hadis suci dari Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman, “(ini dari guru kalian Ibnu Taymiyyah) SIAPA PUN YANG MENENTANG WALI, AKU AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA!” (dari keramaian terdengar suara “Allahu Akbar!”). Ini adalah guru kalian, bukan guru kami. Walaupun beliau seorang muhaddits yang baik, seorang faqih yang baik, dan ahli dalam bahasa Arab, ‘aqidahnya telah mengalami kerusakan. Mereka berkata bahwa ‘aqidah Qadiri, Naqsyabandi, Rifa’i, Chisti telah mengalami kerusakan. Tidak, ‘aqidah merekalah yang rusak (Allahu Akbar!). Karena ‘aqidah kita merupakan sumber, ia adalah inti dari Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, ‘aqidah para Sahabat dan Rasulullah SAW. Dan itu merupakan kondisi ihsan.

‘Aqidah kita tidak terkorupsi. Tidak seperti mereka, kita tidak berkata bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT menghadap arah tertentu. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT mempunyai tubuh. Tidak! Kita mengatakan, “Dia bersama kalian, di mana pun kalian berada.” Siapa yang lebih baik, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, Allah SWT atau Setan? Setan selalu bersama kalian di mana-mana, jadi apakah Allah SWT tidak bersama kalian? Mereka berkata, “Tidak, Allah SWT tidak bersama kalian, Pengetahuan-Nya yang bersama kalian.” Tidak. Kalian tidak bisa menuduh orang lain sebagai musyrik atau kafir. Mereka berkata bahwa kalian harus mengatakan “tawhid uluhiyyah” atau “tawhid rubbiyyah.” Sekarang mereka telah menemukan terlalu banyak tawhid. Kita mengucapkan, “La ilaha illallah.” Inilah yang kita ketahui. Sekarang mereka berkata, “Tidak, kalian harus mengatakan ‘tawhid uluhiyya’ dan ‘tawhid rubbiya.’” Tawhid uluhiyya adalah mengucapkan “La ilaha illallah,“ kemudian tawhid rubbiya adalah mengucapkan “La ilaha illallah”. Rasulullah SAW tidak berkata, “Ucapkanlah ‘La ilaha illallah’ dan ‘La ilaha illallah.’ Rasulullah SAW berkata, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah SAW.”

Apa yang kita ucapkan? “Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.” Sebagian orang mengikuti Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. Ahl as-Sunnah wal Jama’ah adalah pengikut keempat Imam Mahzab dalam Islam. Ibnu Hajar Asqalani, As-Subki, Imam Nawawi merupakan penganut ‘aqidah ‘Asyari dan mereka adalah Sufi. Mereka mempunyai imam, mereka mempunyai syekh. Bahkan Ibnu Taymiyyah sendiri mempunyai seorang Syekh—Abdul Qadir Jilani QS. Beliau melakukan bay’at di tangan Syekh Abdul Qadir Jilani QS melalui enam generasi. Bagaimana kalian menyangkal tasawwuf?

Para pengikut Ibnu Taymiyyah, pergilah dan baca buku beliau. Bukankah Ibnu Taymiyyah telah mendedikasikan dua volume (Fatawa Al-Kubra volume 10 dan 11) yang berisi uraian tentang tasawwuf dan pencarian jalan menuju Allah SWT melalui para awliya? Setiap buku terdiri atas 700 halaman sehingga totalnya 1400 halaman, dan setiap kata melukiskan Sufisme, dan beliau berkata, “Tasawwuf adalah keadaan ihsan yang dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai tazkiyyat-an-nafs.” Tetapi karena istilah tasawwuf diturunkan dari empat akar yang berbeda, ia menjadi tasawwuf. Satu akar berasal dari suff--wool, dan satu lagi dari suffa--spons yang lunak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Siapapun yang menyakiti salah satu waliku, Aku akan menyatakan perang terhadapnya.” Ibnu Taymiyyah banyak menyebutkan bahwa awliya berada pada level yang berbeda. Beliau mendefinisikan tasawwuf sebagai salah satu dari tiga tipe yang berbeda. Sebagian orang adalah mustaswifiin—mereka tidak mengerjakan apa-apa yang berhubungan dengan tasawwuf, namun mereka menggunakannya untuk mencari uang—ini adalah satu sisi. Yang lain menggunakan tasawwuf untuk mendapatkan ketenaran, ini juga satu sisi yang lain. Tetapi ada mutasawwifa yang benar-benar berada di jalan Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, di jalan Sayyidina Muhammad SAW. Mereka mendapat ma’rifah—mereka adalah orang yang berilmu pengetahuan dan inilah sufi yang dijalani oleh Ibnu Taymiyyah.

Ibnu Taymiyyah adalah salah seorang pengikut Tarekat Qadiri, dan dalam kedua bukunya beliau menyebutkan dua orang pengikutnya, Saqqati QS dan Junayd QS. Beliau juga menguraikan tentang Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS dari Tarekat Naqsyabandi. Kemudian dari pihak wanita beliau menyebutkan Rabia al-‘Adawiyyah QS. Dan beliau memberi penjelasan tentang apa yang tidak dimengerti orang tentang ucapan para awliya, dan memaklumkan ungkapan mereka (syatahaat). Beliau merasakan bahwa orang-orang ini ketika menyampaikan ajarannya, mereka berada dalam keadaan ma’rifat, dalam keadaan fana, dan dalam suatu keadaan yang kasyf. Beliau bahkan mengakui adanya keadaan kasyf (pandangan spiritual) dalam bukunya Fatawa Al-Kubra yang berjumlah 37 volume. Kalian yang berbahasa Arab, bacalah volume 10 dan 11, kalian akan menemukannya.

Jadi, kepada siapa kita harus takut? Kita harus mengatakan yang haqq melawan yang baathil. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang suci, “Mereka yang mengingat Allah SWT, dan mereka yang berzikir.” Dan Dia berkata, “mereka,” dalam bentuk jamak. Dia tidak berkata secara individual, Dia berkata jama’ah, dan itu dikatakan dalam al-Qur’an yang suci. Jadi apa yang menjadi masalah di sini? Tidak ada masalah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan kita, “Berselawatlah kepada Rasulullah SAW dan pujilah beliau.”? Jadi jika kita berdiri dan memuji Rasulullah SAW, bukankah ini perintah Allah SWT dalam al-Qur’an yang suci? Kita berdiri dan mengucapkan, “As-salamu ‘alayka ya ayuhan-Nabi, as-salamu ‘alayka ya Rasulullah, as-shalat was-salamu ‘alayka ya Habibullah, wa-shalatu was-salamu ‘alayka ya Syafi’ullah, was-shalatu was-salamu ‘alayka ya Nabi-ullah.” Alhamdulillah kita berdiri dan memberi salam.

Siapa bilang bahwa Rasulullah SAW tidak mendengar kita? Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang memberi salam kepadaku, Aku akan mendengarnya, siapapun yang memberi salam kepadaku dari tempat yang jauh, Aku akan menerima salamnya”? Kita berada jauh dari Madinah—jika kita memuji Rasulullah SAW, beliau akan menerima pujian itu dengan segera. Dan Allah SWT memerintahkan beliau, “Jika seseorang memujimu, berikan balasannya.” Dan Allah SWT berfirman, “Siapapun yang memuji Rasul-Ku Muhammad SAW, Aku akan membalasnya 10 kali lipat.”

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “’Amal umatku akan dipersembahkan kepadaku di makamku.”? Beliau tidak membatasinya siang atau malam—keadaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa pernah berhenti. Rasulullah SAW selalu dalam keadaan mengamati amal seluruh umatnya. Jika perbuatan kita baik, beliau berdoa kepada Allah SWT, jika perbuatan kita buruk, beliau memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni perbuatan kita. Apa lagi yang kalian harapkan dari Rasul kita? Beliau selalu dalam keadaan siaga. Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT telah melarang bumi untuk memakan daging para Rasul.” Rasulullah SAW selalu dalam keadaan siaga—ini berarti beliau dalam keadaan terus-menerus bersiaga dengan tubuhnya di makamnya. Dan makam itu adalah Riyadzul-Jannah, makam beliau adalah Kebun Surga bagi Rasulullah SAW.

Para pengikut mahzab “Salafi” berkata bahwa Rasulullah SAW duduk dalam makamnya, 6 kali 3 kaki. Tidak. Makam itu adalah sebuah Surga yang sangat luas sehingga tidak ada orang yang mengetahui batasnya. Bisa jadi lebih luas dari alam semesta ini. Jadi jika beliau dianugerahi tugas untuk selalu mengamati perbuatan umatnya dan beliau selalu dalam keadaan siaga, itu berarti beliau selalu berada dalam cahaya yang kontinu. Dan beliau bersabda mengenai peristiwa ‘Isra Mi’raj, “Aku melihat Musa AS salat di makamnya.” Bagaimana beliau melihat Musa AS—salat, berdiri, duduk atau berbaring? Pandangan macam apa yang beliau miliki? Itu adalah suatu realitas! Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Musa AS berdiri, salat di makamnya.” Jika Rasulullah SAW mengatakan berdiri, salat di makamnya (beliau tidak mengatakan bahwa Nabi Musa AS berdiri “tanpa tubuh tetapi dengan jiwanya,” tidak, beliau berkata, “berdiri, salat di makamnya”, jadi kita harus memahaminya secara harfiah, sebagaimana orang “Salafi” berkata bahwa kalian harus memahami segala sesuatu secara harfiah. Jadi kita juga melakukannya kali ini. Bagaimana kalian berdiri dan salat? Tunjukkan kepada Saya, biarkan salah seorang melakukannya. Dengan tubuhnya, dan itulah sebabnya mengapa Allah SWT memberikan para awliya sebuah maqam yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Khususnya kepada mereka. Tidak seorang pun yang dapat mencapai level itu.

Sayyidina Muhammad SAW adalah Rasul penutup, beliau adalah Rasul pertama dan sekaligus Rasul terakhir. Beliau mencakup segalanya, seperti dua kutub, dua magnet. Satu magnet positif, yang lain negatif, keduanya tarik-menarik. Menarik alam semesta ini secara bersamaan. Kenabian beliau adalah sejak awal, itulah sebabnya Sayyidina Muhammad SAW bersabda, jika kita mempunyai akal yang bisa mengerti, “Aku adalah seorang Rasul ketika Adam AS masih berwujud antara tanah liat dan air,” dan “ Aku adalah Rasul penutup.” Jadi beliau lebih tua dari masa sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan. Penciptaan itu terletak di antara kedua kutubnya. Beliau adalah kutub magnet yang mengendalikan segalanya, dengan izin Allah SWT—kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Jika bukan untukmu, Aku tidak akan menciptakan semuanya.”

Jika kalian Arab, alhamdulillah. Itu adalah salah satu yang patut disyukuri sebab Rasulullah SAW adalah Arab. Kehormatan kita sebagai orang Arab berasal dari kehormatan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW. Dan beliau bersabda, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal ketaqwaannya.” Kalian datang ke sini untuk memperingati dan merayakan seorang yang telah Allah SWT berikan kekuatan spiritual—Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS. Dan dengan melakukannya, kalian juga diberi kehormatan dan cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW sebab Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS adalah cucu beliau.

Sebelum Saya akhiri, Saya ingin mengatakan bahwa, alhamdulillah, Allah SWT akan melindungi umat ini. Dan kita berada di jalur yang benar. Kita senang untuk mengucapkan, “Semoga Allah SWT membagi apapun pahala yang Dia berikan dalam pertemuan ini demi kemuliaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan apapun berkah yang diberikan Allah SWT kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS dan seluruh aliran Sufi, seluruh orang spiritual, dan seluruh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah QS membagi kita dengan berkah yang diberikan kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan kita memohon kepada Allah SWT untuk membawa seluruh hati kembali kepada Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Menjadi satu hati dalam kesatuan. Insya Allah.

Faatiha.