Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

07 August 2011

Zaman Facebook dan Youtube

Catatan Buram

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

Khotbah Jumat, 5 Agustus 2011

Burton, MI

Alhamdulillah, nasta`iinahu wa nastaghfirahu wa nastahdii wa na`uudzu billah min syuruuri anfusina wa in sayyiaati `amaalin. man yahdillah fa laa mudilla lahu wa man yudlil fa laa haadiya lah wa nasyhadu an laa ilaaha ill-Llah wahdahu laa syariika lah

wa laa matsiil lah fii `uluuwi syaanihi wa `azhiimi sulthaanih. wa nasyhadu anna sayyidina wa mawlana Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh arsalahu ta`ala min arjaahi 'l-`alami miizaanan, wa awdhahaha bayaanan, wa afasahiha lisaanan, fa awdahat-thariiqata wa nasaha 'l-khaliiqa shall-Llahu ta`ala `alayhi wa `ala aalihi wa ash haabihi wa azwaajih wa dzurriyyatihi ajma`iin, khusuusan minhum `ala a'immati khulafaa'i rasuulillahi `ala at-tahqiiq, umaraa'il-muminiina hadraat Abi Bakrin wa `Umarin wa `Utsmaanin wa `Aliyy wa `ala baqiyatis-shahabati wat-tabi`iin ridhwaanullahi ta`ala `alayhimn ajma`eiin.

ayyuhal-muminuuna'l-haadhiruun. ittaqullaha ta`ala wa athii`uuh. Inna Allah ma` 'Lladziina taqaw walladziina hum muhsinuun.

nammuru fii zaman, zaman al-ibaahiyaat wa zaman al-internet wa haahuw al-islam yataathar bi hadzi al-barnamaja allatii tazhar `ala youtube wa facebook.

Kita melewati suatu masa di mana kita menghadapi masalah utama yaitu kita menyaksikan dan menggunakan facebook dan youtube dan teknologi lainnya yang disediakan oleh internet. Itu bukan lagi suatu peradaban, itu adalah suautu ketidakpedulian terburuk di mana kita terjatuh ke dalamnya.

Orang mungkin berkata, “Mengapa engkau mengatakan hal ini? Kami menggunakan internet untuk hal-hal yang legal yang kami butuhkan.” Saya bisa mengatakan, ”Ya, tetapi mungkin itu hanya 10% dan 90% lainnya digunakan untuk youtube dan facebook dan google dan yahoo kecuali untuk penggunaan seksual dan film porno seksual. Kalian kehilangan anak kalian karena kalian membesarkannya dengan cara yang salah dan anak-anak sekarang tahu bagaimana menggunakan komputer dan kalian membiarkan anak-anak duduk di belakang komputer dan menyaksikan program yang tidak diperbolehkan, dan jangan membuat alasan. Alasan kalian ditolak. Kalian mengatakan bahwa kita harus mengikuti zaman. Tidak, zamanlah yang harus mengikuti kita.

Nabi (s) menyebutkan banyak hal bagi kita agar mereka akan memberikan kita program-program surgawi yang dapat kita lihat dan kita gunakan, tetapi sayayngnya fokus kita hanyalah dunia, tidak ada yang untuk akhirat.

Nabi (s) menyebutkan bahwa, ”Cintamu tidak boleh ditujukan untuk sesuatu di dunia ini kecuali untukku.” Cinta kita harus diarahkan kepada Nabi kita (s). Kita harus membesarkan anak-anak kita untuk mencintai Nabi (s). Mereka tidak tahu, siapa itu Nabi (s). Mereka tidak tahu apa-apa, kecuali pohon Natal.

Ketika pertama kali saya datang ke negeri ini pada tahun 1991, yait ke New Jersey, kota Jersey dan seseorang yang banyak memberikan dukungan kepada masjid-masjid mengundang banyak tamu dan saya di antaranya. Dan itu terjadi di bulan Desember. Saya melihat banyak imam di sana dan mereka semua adalah orang-orang terhormat. Saya melihat-lihat dan di sudut ruang keluarganya saya melihat sebuah pohon Natal yang besar sekali, walaupun ia adalah seorang Muslim. Tidak ada orang yang mengatakan sesuatu, kecuali memujinya karena ia banyak membantu masjid-masjid.

Saya berkata, ”Dapatkah saya mengatakan sesuatu?” Ia berkata, “Ya.” Saya bertanya berapa banyak putra yang dimilikinya. Ia berkata 2, dan kemudian ia membawa mereka. Saya bertanya kepada mereka, “Siapa nabimu?” Mereka berkata, “Kami tidak tahu.” Saya bertanya, “Apakah engkau Muslim?” Mereka menjawab, “Ya.” Untuk menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha ill 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.” Dan saya berkata, “Ini apa?” “Ini adalah pohon Natal.” “Dan itu untuk siapa?” “Itu untuk Yesus.” Dan orang itu merasa malu karena anaknya tidak tahu apa-apa mengenai Islam dan mengenai Nabi (s), yang mereka tahu hanyalah Yesus dan Natal.

Tidak ada yang menasihatinya, imam-imam ini, masukkan ke dalam kotak. Manfaat apa yang bisa kalian dapatkan dari itu? Kalian membiarkan anak-anak kalian menjadi rusak. Dan kalian tidak mendapat manfaat apa-apa di akhirat dan lebih baik kembali ke tempat asal kalian, jika di sana lebih baik, karena banyak tempat yang telah menjadi kebarat-baratan sekarang.

Saya tidak mengatakan bahwa kejadian ini terjadi di Timur Tengah. Mereka memaksa untuk menggunakan facebook. Tetapi bagi anak-anak kalian menyaksikan film-film yang buruk yang… kalian tidak mengajarkan anak-anak untuk belajar mencintai Nabi (s) dan kalian membiarkan mereka mengejar nafsu syahwatnya. Ketika kami masih muda, kami tidak membicarakan masalah seksual. Kami tidak mengetahui apa-apa, kami “bodoh dan tidak tahu apa-apa” tetapi dari sisi lain, kami mampu memenangkan sisi lainnya, dengan berkah Allah dan berkah Nabi (s).

Dan sekarang mereka menjelajahi seluruh website, tidak hanya di computer, tetapi juga di telepon seluler mereka. Mereka sedang mengikuti salat Jumat dan mereka mengecek pesan-pesan di telepon mereka. Kalian tidak bisa meluangkan waktu 5 menit untuk Islam.

Dan Nabi (s) berkata, “Apakah engkau mencintaiku?” Apakah kalian sungguh mencintainya? Kalau ya, maka kalian akan bersamanya. Jadi, buatlah agar anak-anak kalian bersama dengan Nabi mereka. Katakan kepada mereka bahwa mereka salah, kirimkan mereka ke sekolah Muslim dan pada hari Sabtu dan Minggu, jangan biarkan mereka duduk dan menonton TV sepanjang hari. Dan orang tua mendorong mereka untuk mempunyai pacar. Ini adalah Ramadan. Allah berfriman, “fa dzakkir! Ingatkan, kalian suka bila kalian suka dan kalian tidak, bila tidak.” Jadi Nabi (s) mengatakan, ”Apakah engkau menyukaiku?” Jika kalian menyukai Nabi (s), maka ikutilah apa yang beliau ajarkan dan hindari apa-apa yang buruk. ”Jika engkau mencintaiku, maka hidupkanlah sunahku.”

Nabi (s) bersabda, “ma ahya sunnatii faqad ahabani.” “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Dan sunah Nabi (s) bukan saja untuk memakai pakaian (sunah) dan turban. Lebih baik untuk tidak memakai turban dan pakaian sunah daripada melihat facebook dan sejenisnya.

Dan sekolah mengatakan bahwa kalian harus melakukan suatu penelitian mengenai ini dan itu. Lalu kalian sampai pada pria dan wanita telanjang di internet dan nafsu syahwat kalian muncul dan kalian mengikutinya. Dan sekolah itu bisa masuk ke Neraka. Mereka mendorong anak-anak sejak usia dini untuk melakukan hal yang salah. Mereka berkata bahwa kalian harus mempunyai pacar. Jika tidak—kalian kini berada di puncak peradaban—berarti kalian ketinggalan zaman.

Bukankah mereka mengajarkan itu di sekolah? [haqq]. Jadi mereka mendorong untuk melakukan perbuatan yang haram sejak awal. Jadi, jika mereka tidak membesarkan anak-anak untuk mengetahui apa yang benar dan apa salah sejak masa kanak-kanak, maka mereka akan berpikir bahwa apa yang diajarkan di sekolah itu adalah benar. Setiap orang di sana melalakukan sesuatu yang haram dan tak ada yang melakukan yang halal.

Jadi sunah bukannya untuk memakai pakaian yang longgar dan turban. Lebih baik untuk menghentikan yang haram daripada memakai pakaian seperti itu. Lebih baik untuk mengajarkan masyarakat kalian dan memulainya dari diri kalian sendiri lalu keluarga kalian dan saudara-saudara kalian, baru kepada masyarakat. Jangan langsung pergi kepada kerabat dan masyarakat dan berusaha untuk memperbaiki mereka. Perbaikilah dulu keluarga kalian, perbaiki sampai benar. Barulah kalian bisa melakukannya pada masyarakat. Pertama lihat dulu di sekeliling kalian. Jika kalian mengatakan bahwa kalian mencintai Nabi (s), lakukanlah sunah beliau. Apakah menurut kalian sunah beliau memperbolehkan kalian melihat sesuatu di facebook atau youtube yang tidak dapat diterima? Jika menurut kalian, sunah beliau memperbolehkan melakukannya, maka kerjakanlah. Tetapi bila tidak, bahkan jika hanya satu bagian saja, 1% saja mengatakan tidak, berarti itu tidak bisa diterima dan tinggalkanlah hal itu. Bahkan jika kurang dari 1%. Mereka menguji kita apa yang bisa kita terima dan yang tidak.

Dan Nabi (s) bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Buatlah agar anak-anak kalian mencintai Nabi (s). Saya bertanya kepada anak-anak di New York, apakah mereka merayakan Mawlid. Mereka berkata, “Apakah mawlid itu?” “Apakah kalian merayakan Natal?” “Ya.” Tetapi mereka mengatakan kepada saya di dalam pertemuan itu bahwa itu adalah bid`ah. Mereka ada di sana bersama pohon Natal, apakah itu bukan bid`ah? Mereka bertemu dan minum di malam itu dan bersorak, “Hoorah!”

“Dan dengan mencintaiku, akan bersamaku di surga.” Jadi pastikan tidak ada lagi facebook kecuali untuk bekerja. Facebook tidak mempunyai fasilitas untuk pencarian seperti google. Apakah ia mempunyainya? Itu hanyalah tentang jejaring social. Jadi kalian tidak perlu tertarik pada facebook. Itu adalah haram. Batalkan facebook, ia tidak mengajarkan sesuatu yang baik pada kalian. Seluruh manusia telajang muncul dengan ekor mereka. Kalian menerima seorang teman dan teman itu kemudian akan datang dengan semua temannya kepada kalian.

Dan Nabi (s) bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang beriman, imannya belum sempurna benar, sampai ia mencintaiku melebihi cintanya pada anaknya.” Siapa yang lebih kalian cintai, anak atau istri kalian? Anak kalian mengatakan kebenaran.

Jadi Nabi (s) bersabda, “Kalian harus mencintaiku melebihi anak-anak kalian dan orang tua kalian, ibu dan ayah dan semua orang yang lain agar dapat dikatakan sebagai beriman.” Jadi apa yang harus kita lakukan? Lebih baik untuk menundukkan kepala kita ke bawah dan beristighfar daripada menasihati orang lain. Pertama perbaiki diri kalian dulu, setelah itu barulah menasihati yang lain.

“Dan bahkan terhadap seluruh manusia, Aku harus lebih dicintai daripada mereka semua, bahkan diri kalian sendiri.” Apakah kalian mencintai Nabi (s) lebih dari diri kalian sendiri? Jawab, ya atau tidak! Katakan ya, innama al-`amaalu bin-niyyaat. Segala sesuatu adalah berdasarkan niat. Besarkan mereka dengan belajar salat sejak kanak-kanak. Kalian akan ditanya di Hari Perhitungan bila kalian membiarkan anak-anak kalian tersesat dan menyimpang.

Ada banyak alasan bahwa Allah akan mengampuni. Kita memohon kepada Allah untuk mengampuni kita dan membimbing kita ke jalan yang benar, jalannya kaum Ahl as-Sunnah wa 'l-Jama'ah, jalan bagi orang-orang yang mencintai Nabi (s).

fa yaa fawzan lil-mustaghfiriin astaghfirullah.

...[duduk kemudian melanjutkan khotbah kedua]

Mereka hanya mengajarkan kita untuk menjadi sekuler. Apakah ada yang lain yang mengajarkan kita menjadi sekuler? Menjadi sekuler atau seksual, pilih salah satu. Baik menjadi sekuler dengan tidak menerima apapun atau untuk menerima agama dan menerima untuk mempunyai pacar. Terkutuk mereka!

doa

http://media.islamicsupremecouncil.org/Khutbat_al_Jum_a-3691.html


19 June 2009

Bagaimana Kita Melindungi Anak-Anak Kita?

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin  

Banyak di antara saudara saudari kita yang mengkhawatirkan anak-anaknya dan mereka bertanya kepada saya, “Apa yang bisa kami lakukan?”  Saya melihat bahwa orang tua membiarkan anak-anaknya tinggal di rumah dan mereka memberi pendidikan di rumah, karena mereka takut bahwa masyarakat akan menyakiti mereka sehingga mereka bisa kehilangan anak-anaknya.  Jadi apa yang bisa kita lakukan?  Mereka berpikir jika mereka menjaga agar anak-anak tetap berada di rumah, dan jika mereka tidak mempunyai TV di rumah mereka dan jika mereka memberinya pendidikan yang keras, itu akan lebih baik.  

Orang yang telah dewasa mengetahui apa yang berlangsung dalam kehidupan ini dan mereka mempunyai perlindungan.  Mereka dapat melindungi diri mereka agar tidak terpengaruh dengan masyarakat dan kebodohan serta aktivitas yang buruk.  Saya melihat masyarakat Dar-ul-Salam di New Mexico, di mana hanya ada 2 atau 3 keluarga yang hidup bersama anak-anaknya.  Padahal itu dibangun untuk menampung ratusan bahkan ribuan Muslim dan untuk hidup dalam kehidupan yang Islami.  Ini bukan suatu ide yang baik.  Lebih baik kalian membawa keluarga kalian untuk keluar dari negeri ini dan pergi ke tempat yang lebih aman, jika kalian takut anak-anak kalian akan kehilangan Imannya.  Bawa seluruh anggota keluarga ke tempat yang lebih baik di mana masyarakatnya tidak seperti di barat.  Atau jika kalian ingin tinggal di sini dan kalian ingin mencoba melindungi anak-anak dengan mencegah mereka melihat TV, video, sinema, teater, majalah dan koran, maka kalian hanya akan bisa melakukannya untuk waktu yang singkat saja, sampai anak-anak mencapai usia dewasa.  Atau paling tidak sampai mereka berusia 9 atau 10 tahun.  Setelah itu sangat sulit bahkan hampir mustahil untuk mencegah mereka.  

Jadi, seperti kisah yang disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Allah SWT menguji tentara Saul dan berkata kepada mereka, “Kalian akan mencapai sungai dan hanya diizinkan untuk minum seteguk air.”  Hanya sedikit orang yang dapat mengontrol diri mereka dan dapat mematuhi Perintah Ilahi yang Suci.  Jadi mereka menceburkan diri mereka ke dalam sungai itu untuk minum dan minum… dan mereka tidak pernah puas!  Mereka yang hanya mengambil seteguk air merasa puas.  

Sekarang, kembali ke generasi muda yang sedang tumbuh, jika kalian berusah mencegah mereka, 100% kalian tidak akan bisa melakukannya.  Jadi berikanlah mereka sedikit dan katakan, “Cukup!”  lalu tinggalkan mereka sesuai dengan kehendak Allah SWT.  Jika kalian mencegah 100% tidak akan ada hasilnya, kalian justru akan mendapat hasil yang sebaliknya. Seperti ketika kita menggunakan vaksin untuk mencegah penyakit, kita masukkan racun yang sama ke dalam darah dan itu akan mempersiapkan daya tahan tubuh.  Kadang-kadang kita akan menderita sakit yang ringan setelah vaksinasi, yang kemudian akan sembuh dan tubuh akan siap terhadap serangan berikutnya.  

Bahkan dengan video dan TV banyak sekali racunnya, tetapi kita tidak harus melarangnya secara total, hasilnya malah sebaliknya.  Jika kalian merasa senang untuk membuka satu jendela, bukan pintu, maka lakukanlah.  Anak-anak kalian dapat melihat lewat jendela itu dan ikut merasa senang, dan mungkin dengan Kehendak Tuhan, mereka akan merasa jenuh.  Seperti halnya orang-orang yang jenuh dengan menonton TV dan video.  Hikmah Ilahi yang membuat orang merasa jenuh.  Karena jika seseorang memakan makanan yang istimewa setiap hari, dia akan merasa jenuh.  Jadi kalian melihat bahwa Allah SWT memberi kita begitu banyak kenikmatan yang dapat kita manfaatkan.  Kita tidak hanya memperoleh jerami, seperti binatang, atau gandum, atau barley atau rumput…tidak, tetapi segalanya!  Sehingga hamba Allah tidak akan merasa jenuh.  Kalian dapat melakukannya seperti yang terjadi selama Perang Teluk, orang-orang duduk sejak pagi hingga petang menonton CNN.  Hari kedua mereka berkata, “Apa itu CNN?” dan pada hari ketiga mereka merasa jenuh dan tidak ingin lagi mendengar soal itu.  Dan CNN yang kita lihat tidak hanya dalam bahasa Inggris, mereka membuat terjemahannya ke dalam bahasa Turki yang kadang-kadang bagian awalnya hilang, kadang pula bagian akhirnya yang hilang.  Sungguh terjemahan yang aneh.  Tak seorang pun yang memahaminya.  Bukannya mengatakan bahwa Amerika dibombamdir, mereka malah mengatakan bahwa Irak yang dibombardir… Sungguh suatu terjemahan yang bodoh.  

Jadi biarkan jendela itu terbuka.  Karena jika kalian membuat situasi yang istimewa untuk anak-anak, mereka akan bertanya, “Mengapa?  Apa alasannya sehingga kami tidak boleh pergi ke sekolah?  Kami juga ingin mendapat teman…”  Dan setelah beberapa lama mereka akan melarikan diri dan mulai berbohong sehingga akan lebih buruk keadaannya.  Jadi, jika kalian ingin mengajarkan mereka di rumah, itu boleh saja, tetapi jika kalian dapat mengontrol mereka ketika mereka pergi ke sekolah, maka itu lebih baik.  

Itu adalah sesuatu yang merupakan karakteristik ego kita, yaitu sibuk dengan segala sesuatu dengan cepat lalu kembali dengan perasaan jenuh.  Jika kalian menerapkan disiplin yang ketat mereka akan mencoba melompatinya.  Buatlah sesederhana mungkin dan itu akan lebih mudah bagi kalian dan bagi anak-anak kalian.  Jika kalian tidak merasa puas dengan situasi yang terjadi, maka bawalah anak-anak kalian ke tempat yang lebih baik di mana akan lebih mudah.  Di sini sangat sulit untuk menjaga agar mereka selalu bersama kalian.  Ketika mereka tumbuh, mereka akan melarikan diri dan sangat sulit bagi kalian untuk menemukan mereka.  

Karena banyak sekali pusat-pusat setani yang mengincar generasi muda, baik lak-laki maupun perempuan.  Banyak sekali Setan yang memburu mereka.  Jadi berusahalah untuk membuat mereka percaya akan keberadaan Allah SWT sampai mereka menginjak usia yang cukup untuk melakukan wudu mereka, lalu katakanlah, “Ya Tuhanku, Aku telah melakukan apa yang bisa kuperbuat, sekarang Aku memohon kepadamu untuk melindungi mereka.  Aku telah menyerahkan mereka kepada-Mu.”  Dan kami berharap mereka akan mendapat perlindungan.  

Wa min Allah at taufiq

05 October 2008

Masalah Orang Tua dalam Membesarkan Anak-Anaknya

Fatwa Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS dan Hajah Naziha Adil

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Tanya:
Walaupun saya seorang yang terpelajar dan sebelumnya bekerja dengan penghasilan yang baik, sejak kami mempunyai anak, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan dan tinggal di rumah bersama mereka. Kami mempunyai dua orang anak dan kemudian saya hamil kembali. Masalah saya adalah suami saya dan saya tidak sependapat dalam cara membesarkan anak-anak. Ketika saya mengajarkan mereka disiplin kemudian suami saya pulang dan mengatakan hal-hal yang sebaliknya, membuat saya terlihat bodoh di depan mereka. Ketika saya mencoba berdiskusi dengannya mengenai masalah ini ia malah tertawa dan mengacuhkannya. Saya sangat frustrasi dengan sikapnya dan saya merasa ia tidak punya rasa hormat terhadap saya. Dapatkah Anda memberi saran apa yang harus saya lakukan?

Jawab:
Hadis mengatakan, “Surga ada di bawah telapak kaki ibu.” Hadis yang lain mengingatkan kita bahwa yang pertama kali harus dihormati adalah ibu, ibu, ibu, baru kemudian bapak. Lebih baik jika suami Anda tidak meremehkan dan menertawakan Anda karena hal itu memalukan bagi ibu dan saudara perempuannya, lebih penting lagi Anda adalah ibu bagi anak-anaknya. Jika ia menertawakan Anda di depan mereka, mereka mungkin akan kehilangan rasa hormatnya terhadap Anda. Ini juga bisa menunjukkan seolah-olah Anda tidak kompeten dalam mengurus mereka. Jika suami Anda melihat ada suatu hal yang tidak disetujuinya, lebih baik Anda berdua mendiskusikannya tetapi jangan sampai terdengar oleh anak-anak. Bagaimana perasaannya jika seseorang di kantor menertawakannya di depan orang-orang yang ia pimpin?

Ibu adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktunya bersama anak-anak, jadi dialah yang menjadi orang nomor satu dalam menanamkan disiplin kepada mereka. Dengan demikian, suami Anda dan seluruh anggota keluarga, termasuk saudara ipar harus menghormati peranan Anda dan mendukung Anda dalam tugas ini.

Anak-anak juga dapat mengikuti jejak bapak atau kakek dan neneknya, mengeluhkan apa yang dilakukan ibunya. Ia seharusnya tidak memperkenalkan perilaku seperti ini. Kenyataannya tugas suami adalah menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka harus mendengarkan ibunya di rumah. Kalian berdua adalah partner, suami bekerja meninggalkan rumah dan ibu tinggal di rumah, keduanya bekerja untuk membangun kehidupan rumah tangga yang baik. Bagaimana suami merespons peranan Anda, itu adalah masalah penghormatan dan tidak boleh dianggap sepele. Jika perlakuan yang tidak hormat dilakukan terus-menerus, hal itu bisa menjurus pada perceraian. Semoga Allah SWT memberi Anda dan suami Anda kebijaksanaan dan menunjukkan jalan untuk mendiskusikan dan memecahkan masalah ini.
Sumber: Muslim Magazine dan As-Sunah Foundation of America

09 June 2008

Nasihat dalam Membesarkan Anak

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Sebagian besar orang Barat yang saya temui tidak tahu cara membesarkan anaknya dengan benar. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk membiarkan anak-anaknya melakukan apa saja yang disukainya. Bagaimanapun juga ini adalah suatu gagasan yang keliru. Juga tidak tepat bila dikatakan ide ini meniru perilaku binatang buas sebab binatang juga mendidik anak-anaknya. Jika binatang saja dapat dilatih oleh induknya untuk bertingkah laku sesuai dengan sifatnya, lalu bagaimana dengan keturunan Adam AS yang paling mulia dan telah diberikan potensi yang begitu tinggi oleh Allah SWT.

Kalian harus merawat anak-anak kalian. Jika mereka melakukan sesuatu yang patut dipuji, berikanlah suatu penghargaan atau hadiah, sehingga mereka akan senang dengan perhatian itu dan di lain waktu mereka akan lebih sering melakukan perbuatan yang baik. Tetapi sebaliknya jika mereka melakukan tindakan yang tidak baik, kalian harus tegas memberinya peringatan, jangan sampai tindakan yang salah ini lewat begitu saja tanpa teguran sebagai tanda bahwa kalian tidak setuju. Kalian harus berkata, “Jangan lakukan hal itu! Atau, Tidak baik melakukan itu! Itu menyakiti orang lain.” Jika teguran semacam itu tidak berpengaruh juga, sekali-kali kalian boleh menjewer telinganya atau menampar mereka. Ya, yang menjadi pilar dari pendidikan adalah harapan akan mendapatkan suatu balasan atau penghargaan dan ketakukan terhadap teguran atau hukuman yang bakal diterima. Orang-orang Barat telah melumpuhkan kedua pilar tersebut dan membiarkan anak-anak mereka tumbuh secara liar, itulah kesalahan mereka.

Beberapa dari saudara kita biasa membawa anak-anaknya ketika mengunjungi Grandsyekh. Namun mereka tidak berusaha untuk menjaga agar anak-anaknya tetap diam dan tidak berlari-larian ke sana-ke mari yang dapat menimbulkan gangguan, mereka bahkan tidak mengawasi atau mengeluarkan mereka dari tempat pertemuan. Grandsyekh berkata, “Wahai anakku, tunggulah, anak-anak itu akan tumbuh dan berkembang untuk pipis di kepalamu.”

Pendidikan dengan gaya bebas telah menyebabkan suatu bencana yang besar dalam peradaban Barat. Begitu hebatnya sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kedamaian masyarakat? Bagaimana kita dapat membendung terjadinya pelanggaran? Apa yang bisa kita lakukan dengan orang-orang liar ini?” dan orang-orang pun bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan terhadap peraturan yang menentang kita?” Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah suatu pembuktian terhadap hadis Rasulullah SAW, sebagaimana beliau bersabda, “Akan tiba suatu masa di mana pemerintah akan mengutuk rakyatnya dan sebaliknya, rakyat mengutuk pemerintahnya.”

Bagaimana bisa orang dewasa dibawa ke dalam suatu sistem pengendalian kalau orang tua mereka tidak pernah menanamkan suatu bekal ketika mereka masih kanak-kanak? Ada suatu pepatah, “ Siapa yang tumbuh dengan suatu jalan akan berakhir dengan jalan yang sama pula.” Inilah alasan mengapa tanaman yang batangnya tidak lurus perlu diikat ketika masih muda dan lentur supaya nanti bentuknya bagus. Karena bila cabang-cabangnya mulai mengeras akan sulit mengikat dan membentuknya. Oleh sebab itu pendidikan harus dimulai sedini mungkin.

Salah satu hal yang penting dalam pendidikan yang berkualitas adalah mendidik anak-anak untuk bersabar dan tidak memberikan segala yang diinginkannya dengan segera. Kalian dapat berkata misalnya, “Kamu tidak akan mendapatkannya sekarang tetapi lima menit atau setengah jam lagi atau esok; atau jika kamu berprestasi di sekolah akan saya berikan. Atau kalian juga bisa bilang, “Saya tidak akan memberikannya kepadamu sampai kamu berhenti mengganggu saya, jadi lupakan saja keinginanmu itu; dan Mungkin saya akan memberikannya kepadamu.”

Grandsyekh pernah berkata bahwa yang menjadi penyebab utama terjadinya depresi di kalangan orang-orang kaya adalah karena ketika masih muda mereka sudah terbiasa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan segera. Lalu setelah dewasa ketika menjumpai sesuatu yang sangat diinginkannya, namun tak berhasil, mereka akan merasakan frustrasi yang pahit dan tidak pernah belajar untuk mengatasi depresinya.

Kemudian kita harus mendidik anak-anak untuk menghormati dan menghargai orang tuanya, khususnya karena pertalian keluarga sudah sangat memburuk di masyarakat Barat. Kalian sebaiknya tidak membiarkan anak-anak memakan semua permen yang didapatnya sebelum mereka menawarkannya lebih dahulu kepada ibunya. Dengan begitu Insya Allah, ketika dewasa mereka akan berpikir untuk memberikan sebagian yang mereka peroleh untuk ibunya. Ajari juga anak-anak untuk mencium tangan dan pipi kalian ketika mereka bagun di pagi hari dan sebelum tidur. Hal ini akan menanamkan rasa kasih sayang dan hormat kepada orang tua di dalam diri mereka.


Wa min Allah at tawfiq