Showing posts with label Krisis Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Krisis Ekonomi. Show all posts

29 September 2011

Bersyukurlah dengan Gaya Hidup yang Sederhana

Sultan al-Awliya

Mawlana Syekh Nazim al Haqqani

7 Agustus 2011 Lefke, Siprus

(Mawlana Syekh berbicara dengan seorang murid.)

Mawlana Syekh Nazim: Kapan engkau akan pergi, hari ini?

Murid: Besok pagi.

Mawlana Syekh Nazim: Ke Spanyol?

Murid: Ke Spanyol lalu ke Argentina

Mawlana Syekh Nazim: Argentina? Engkau adalah teman kami, (tersenyum dan menepuk kepalanya dengan pelan). Argentina. Bagaimana saudara-saudari kita di sana?

Murid: Sangat baik, sangat baik, kami sangat merindukanmu. Negeri itu sedang mengalami krisis ekonomi dan kami memohon nasihat darimu.

(Mawlana Syekh Nazim berbicara.) Para Sahabat dari Nabi Penutup (s) memakan dua, tiga atau lima kurma setiap hari dan tidak mengeluh. Kini manusia, mereka menghambur-hamburkan uangnya, musrif, membelanjakan tanpa maksud yang baik. Itulah yang menjadi alasan utama bagi krisis ekonomi: orang-orang, mereka musrif, boros dengan uang mereka, bukannya menyimpan uang mereka untuk sesuatu yang diwajibkan bagi mereka dalam hal makan dan berpakaian. Di zaman kolonial Inggris (di Siprus) kami berpakaian (sederhana), dan Ibu menambal serawal (celana) di bagian lutut dan di belakang. Saya memakai sepatu saya selama dua tahun, dan ketika bagian bawahnya sudah rusak, tukang sepatu menambalnya dengan kulit sehingga dapat saya pakai lagi selama dua tahun berikutnya. Dan untuk kaos kaki saya, Ibu menisiknya seperti ini (menjahit bagian yang berlubang). Uang saku mingguan saya setiap Jumat adalah setengah piaster, setengah penny (unit mata uang) dan saya bergembira! Sekarang orang-orang harus menjaga diri mereka (dalam gaya hidup yang sederhana).

Ada sebuah hadis Nabi (s):

ما عال من اقتصد

maa `al man iqtashaad.

Barang siapa yang menjaga apa yang Allah (swt) berikan kepadanya, tidak menghambur-hamburkannya, ia tidak akan jatuh ke dalam krisis ekonomi.

Semua bangsa boros, boros, dan boros. Apakah mereka pikir bahwa Tuhan Surgawi tidak memperhatikannya? (Berbicara dalam bahasa Turki.) Sekarang orang-orang, khususnya Muslim, mereka mengikuti gaya Barat dalam segala hal, dan oleh sebab itu, mereka akan semakin miskin dan miskin sampai tidak ada lagi yang tersisa pada mereka. Dulu satu bantal roti sudah cukup untuk memberi makan sepuluh orang! Sekarang mereka tidak memakan roti atau memakannya sedikit lalu membuangnya. Tuhan Surgawi tidak senang dengan hamba yang seperti itu. Saya memohon ampun dari Tuhan Surgawi, bahwa kita bukanlah hamba yang baik, tidak mengikuti jalan-jalan surgawi, Tariqat al-Jannah. Mereka tidak mengikuti jalannya Nabi (s), tetapi mengikuti jalannya Setan!

Oleh sebab itu, mereka harus bersabar dan harus menjaga pemberian Allah (swt), kalau tidak--jika mereka mengetuk (pada pintu Allah), tidak akan ada yang membukakannya!

Terima kasih.

http://www.sufilive.com/Be_Content_with_Humble_Amounts-3700-print.html

02 February 2009

Terjebak dalam Kegelapan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 9 Mei 2002

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Uwais al-Qarani RA (para Awliya dimakamkan di dekatnya) tidak tidur, beliau hidup, di perut bumi. Awal mula kufur adalah keyakinan bahwa di dalam kuburnya, orang tidur dalam jangka waktu yang tak terhingga. Artinya, kalian tidak pernah bangkit lagi. Ketika kalian tidur—berakhirlah sudah, kalian tidur dan tidak pernah bangun lagi. Itulah pola pikir orang-orang yang bersifat materialis dan atheis. Sekarang orang-orang mengikuti gaya hidup orang-orang Barat, dan mereka memberi ide-ide bodoh yang tidak masuk akal kepada orang-orang, membuat mereka tidak percaya kepada sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menyangkal keberadaan Rasul, kitab-kitab suci, dan segala yang berasal dari Surga. Dan itu adalah gaya hidup baru, sesuatu yang baru di mana Muslim juga berkata, “Tidur di sini selamanya, kalian tidak akan bangun, kalian tidak akan kembali lagi. Kesempatanmu (firsat hayati) sudah berakhir, dan kalian berada di jalan yang tidak berujung. Kalian pergi dan baru saja terpisah dari kami dan kami tidak akan pernah bersamamu lagi.” Dan ini membuat orang-orang bertambah sedih, tidak bahagia, tidak punya harapan, dan jatuh ke dalam kegelapan dan akan berakhir di sana, dia tidak akan datang bersamamu lagi. Setiap kejahatan berasal dari negri-negri Barat dan semua ide buruk berasal dari para filusuf. Mereka mempunyai khayalan dan imaginasi, mereka membayangkan dan mengatakan sesuatu dan orang-orang yang tidak berpikir dengan cepat mengejar mereka dan berkata, “Engkau benar,” dan setiap gagasan yang berasal dari filusuf itu bertentangan dengan semua keyakinan surgawi. Mereka menggunakannya dalam berbagai hal, bekerja dengannya sampai ide itu membuat pengaruh pada pikirannya. Mereka menggunakan surat kabar, majalah, TV, media penyiaran, bioskop, film, sinema, dan segalanya. Ide itu mereka tempatkan sebagai racun, dan lebih istimewanya lagi mereka mengontrolnya, mereka berusaha untuk mengontrol segalanya, termasuk di bidang pendidikan. Sejak awal mereka sudah memberikan ide-ide mereka kepada murid-murid sekolah dasar hingga sekolah tinggi dan universitas. Dan ketika mereka lulus, mereka menjadi atheis, tidak percaya kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Mereka bagaikan batu atau kayu dan robot, mereka hanya makan, minum dan bekerja.

Di luar ide-ide ini mereka tidak pernah sanggup memikirkannya. Pikiran mereka menjadi rusak terhadap segala sesuatu yang berasal dari Surga. Mereka menjadi robot tanpa perasaan, pikiran atau pemahaman, karena mereka terjebak dalam sifat materialistik mereka dan mereka berada dalam kegelapan. Matahari tidak pernah menyinari mereka lagi di siang hari. Dan malam hari akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Lewat kegelapan mereka semakin ketakutan dan tidak punya harapan dan kesedihan yang mendalam menutupi mereka.

Itu adalah awal hukuman bagi orang-orang yang menyangkal spiritualitas dalam umat manusia dan makhluk spiritual dalam umat manusia. Itulah yang menjadi sumber semua krisis, masalah, kesulitan, dan penderitaan yang dialami manusia. Itulah alasan utamanya. Tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka dengan aspek material. Mereka tidak dapat melakukan apa pun. Berlari, seperti orang yang terjatuh ke dalam sumur yang dalam—dia tidak dapat melakukan apapun kecuali menangkap apa yang dikirimkan kepadanya, misalnya seutas tali, dia bisa menangkapnya dan mungkin saja dia bisa dikeluarkan. Jika dia tidak mengambil apa yang dikirimkan kepadanya itu, dia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dan selamanya akan berada di sana, tinggal di sana sampai mati. Itulah alasan bahwa Allah SWT mengirimkan tali surga-Nya kepada umat manusia agar mereka menangkap dan menjaganya, sehingga mereka bisa keluar dari segala krisis, kesulitan, penderitaan dan masalah. Biang masalah yang sejati adalah orang-orang atheis. Pertama, mereka membuka pintu bagi semua bangsa dan masyarakat umum sehingga orang-orang mengejarnya. Ketika orang berduyun-duyun mendatanginya, tiba-tiba pintu itu tertutup, seperti orang-orang Mesir di masa lampau yang membawa mumi fir’aun, mereka masuk dan meletakkan mumi itu di sebuah ruangan yang telah disiapkan. Ada sebuah pintu masuk yang dibangun secara khusus agar mereka bisa memasukinya. Ketika mereka meninggalkan tubuh itu di sana, mereka lalu bergerak dari suatu tempat yang telah mereka persiapkan, sentuhan membuat bebatuan datang dan menutup ruangan di mana tergeletak tubuh fir’aun itu. Jadi tak seorang pun yang tahu bagaimana mereka bisa masuk, karena keempat dindingnya terlihat sama, tidak tahu dari dinding yang mana mereka masuk untuk meletakkan tubuh itu. Kadang-kadang mereka juga membawa ratu bersamanya. Ratu itu juga mengalami hal yang sama dan mati di sana. Pengikut Setan ini, orang-orang atheis, menempatkan orang-orang sedemikian rupa dan mereka menutup pintu keluar dari segala tempat sehingga orang-orang yang bersama mereka tidak dapat menemukan jalan keluar dan akan mati di sana. Oleh sebab itu kita katakan bahwa biang masalah yang utama adalah orang-orang atheis. Mereka semua menyangkal segala hal yang diturunkan dari langit. Mereka seperti bebatuan yang tidak pernah mengerti posisi surgawi, dan orang-orang mendatanginya, mereka menempatkan orang-orang itu di dalamnya, dengan ide-ide mereka, sampai akhirnya sudah terlambat bagi orang-orang itu untuk menyadari bahwa mereka telah tertipu. Sekarang semua orang di dunia tengah terjebak, bagaikan fir’aun yang diletakkan di ruangannya; orang-orang terjebak melalui jebakan orang-orang atheis. Sepanjang mereka masih atheis, tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka. Mereka akan mati di sana dan tidak akan bahagia dan selamat, jalan satu-satunya, jika mereka dapat meraih tali yang dikirimkan dari Surga, barulah mereka bisa selamat. Semuanya akan mati, lima di antara enam orang akan tewas, karena semuanya terjebak dalam penjara materialis. Mereka percaya kepadanya dan akan mati di sana. Tidak ada jalan kecuali dengan meraih tali yang telah dikirim dari Surga. Sepanjang mereka masih menyangkal, mereka akan mati. Itulah Keadilan Ilahi. Sejak awal Muharram 1423 satu per satu semuanya akan dibersihkan. Yang pertama akan mati adalah ketua-ketua mereka sementara markas besarnya akan diambil satu per satu. Kita berada di bagian permulaan sekarang. Kalian dapat menyaksikan kejadian yang terjadi di mana-mana. Kejadian itu akan berlangsung lebih banyak lagi sampai mereka semua mati—barulah krisis akan selesai. Sekarang mereka berada dalam kegelapan, mereka berada dalam penjara bersama mumi fir’aun. Mereka senang untuk datang. Mereka berpikir bahwa mereka dapat mengatasi segalanya hanya dengan aspek material. Mereka akan melihat apa yang akan terjadi pada mereka. Mereka akan mati. Ini adalah sebuah ringkasan bagi semua manusia dan sekaligus peringatan. Jika mereka bangkit sebelum memasuki penjara itu mereka akan bisa diselamatkan. Tetapi bila mereka masuk dan ditempatkan bersama fir’aun di sana… fir’aun menipu orang dengan mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Aku akan menyelamatkanmu.” Dan dia tidak pernah menyelamatkan dirinya sendiri. Dan orang-orang bodoh yang mengikutinya sekarang menunggu kapan fir’aun akan bangkit dan menyelamatkan mereka. Dan tiba-tiba dinding itu runtuh menimpa orang-orang yang mengharapkan sesuatu darinya sehingga mereka juga akan terkubur di sana. Semoga Allah SWT melindungi kita agar tidak bersama fir’aun, tiran, setan, tetapi agar kita bersama orang-orang yang mulia, para Nabi dan Rasul serta Awliya, dan agar kita senantiasa mempertahankan jalan mereka. Siapa yang minta agar dirinya diselamatkan, dia harus mengikuti jalan orang-orang suci, Awliya dan Anbiya, serta Rasulullah yang paling mulia, Sayyidina Muhammad SAW.

31 October 2008

Pekerjaan Terbaik bagi Wanita

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Seorang murid Syekh yang berkebangsaan Amerika bertanya kepadanya apakah istrinya sebaiknya melanjutkan pekerjaannya di luar rumah atau berhenti saja untuk mengkhususkan dirinya bagi pekerjaan rumah dan tugas-tugas keagamaan saja.

Syekh  menjawab:

Seandainya saja saya pada posisi di mana saya memiliki otoritas terhadap pemerintahan, salah satu dari hal-hal pertama yang akan saya kerjakan adalah menghimpun dana khusus untuk dianugerahkan kepada para ibu rumah tangga atas jasanya yang tak ternilai bagi masyarakat.  Saya akan memerintahkan agar kepada wanita yang bekerja di luar rumah diberikan gaji berlipat ganda agar mereka dapat kembali ke profesi yang paling diiberkahi yakni yang dapat mambuat tempat tinggal mereka benar-benar sebagai ‘rumah’, dan bukan hanya tempat untuk tidur di malam hari.

Menurut saya, sungguh amatlah penting bagi seorang wanita untuk mengabdikan dirinya bagi suami dan anak-anaknya: itulah jalan bagi pemenuhan kewanitaan yang sejati. Tetapi tampuk pemerintahan tidaklah berada dalam gengaman saya, sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah menasihati mereka supaya memperhatikan nasihat saya.

Ya, kebijakan saya akan memberatkan sebagian besar wanita, khususnya para ibu untuk bekerja di luar rumah.  Saya akan menyokong kebijakan tersebut dengan dana insentif, karena takkan ada jumlah uang yang layak digunakan untuk mencoba memperbaiki penyesalan yang disebabkan oleh ‘masyarakat piatu’.  Memang ada beberapa profesi di luar rumah yang dapat dikerjakan dengan lebih baik oleh wanita ketimbangn pria, dan wanita-wanita berprestasi akan banyak diperlukan untuk mengisi lowongan tersebut; namun para wanita yang mengerjakan pekerjaan yang dapat dikerjakan pria akan dibayar untuk meninggalkan pekerjaan mereka tersebut.

Sebagai orang yang beriman, kita percaya bahwa seorang wanita yang puas dengan gaji suaminya akan lebih bahagia, dan kehidupan keuangannya akan lebih layak daripada yang bekerja dan mendapat penghasilan sendiri.  Anda mungkin bertanya, bagaimana mungkin?  Kita percaya pada apa yang disebut ‘berkah’, dan uang hasil jerih payah halal suami-dan menjadikan pendapatan keluarga jauh dari berlebih-, diberkahi Allah SWT.  Sehingga yang dibelanjakan bagi kebutuhan keluarga akan menjadi pemuas kebutuhan mereka; sedangkan uang yang diperoleh istri  melalui ketakhadirannya di tengah-tengah rumahnya tak akan membawanya pada kepuasan yang sama.  Terlebih lagi, banyak sekali orang kaya yang hidupnya susah, karena mereka memiliki begitu banyak harta, sementara yang lainnya, yang hidupnya sederhana, dengan pendapatan yang jauh dari berlebih, hidupnya begitu bahagia dan puas dengan beratapkan rumah yang penuh kasih dan pengabdian?

Maksud saya: bila engkau berpenghasilan seribu dolar per bulan, dan istrimu berpenghasilan, katakanlah tujuh ratus, seribu dolar penghasilanmu sebagai suami akan terasa lebih banyak jumlahnya dibanding dengan seribu tujuh ratus dolar penghasilan berdua.  Itulah yang saya yakini, dan itu adalah kenyataan yang dapat diuji oleh siapapun kebenarannya.-kapanpun mereka siap.  Lagi pula, bila dia setuju untuk memenuhi kebutuhan hidup dari gajimu saja, hidupnya, dan kehidupan anak-anak mereka akan lebih berbahagia.

Tetapi belakangan ini, setan tak memperkenankan para ibu untuk tinggal di rumah mereka lagi.  Mereka memaksa para ibu untuk meninggalkan rumah pagi hari buta untuk berjuang di arena balapan tikus sepanjang hari, dan pulang ke rumah sarat dengan kelelahan di malam hari ketika mereka seharusnya mengumpulkan cukup tenaga untuk menyediakan makan malam bagi keluarga dan perhatian bagi sang anak yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibu. Kehidupan yang tegang ini membuat para ibu menjadi cepat tua.  Memaksa wanita untuk bekerja ganda di luar dan di dalam rumah tidaklah adil, dan karenanya kita berjuang bagi hak-hak wanita dengan jalan menentang gagasan bahwa wanita harus memikul beban ganda.  Dalam Islam, sang suami harus membantu istrinya sebisa mungkin dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walau mungkin dia bekerja seharian.  Dia haruslah memikul tanggung jawabnya dan sekaligus juga membantu istrinya dengan penuh perhatian.

Pada tahap ini sebagian orang akan beargumen bahwa wanita seharusnya bekerja di luar rumah, sementara pria mengurusi anak-anak dan menjaga rumah.  Sungguh hal ini merupakan pendapat anak kecil yang sangat bodoh, karena wanitalah dan bukannya pria yang ditugasi dan secara alami sesuai untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan anak. Pria tak dapat menggantikan tempat wanita.  Dan kami juga menentang pendapat bodoh bahwa kedua orang tua seharusnya bekerja, meninggalkan anak-anak mereka di pusat-pusat penitipan anak, dan keduanya pulang sarat dengan kelelahan di malam hari, makan malam TV, nonton TV sejam, lalu tertidur di tempat tidur.  Sungguh itu bukan sebuah kehidupan keluarga. Bukan.

Karenanya, bila pemerintah ingin mencegah krisis ekonomi, dan kerusuhan sosial, mereka harus membayar para wanita untuk tinggal di rumah.  Bila gajimu saja sudah cukup, tak baik menyuruh istrimu untuk bekerja.

Murid Amerika: ‘Alhamdulillaah! Dia Yang Maha Kuasa telah memberkahi kami dengan lebih dari yang pernah kami impikan’

Syekh :

Karenanya kau harus memintanya untuk tetap di rumah untuk menjaga anak-anak kalian.  Terutama bila kalian berkecukupan, seharusnya tak ada alasan bagi istrimu untuk bekerja.

 

Murid Amerika: Dia senang bekerja.

Syekh:

Bukan, keinginan seperti itu adalah tipu daya ego dan berbahaya bagi masyarakat.  Kita haruslah mengasihi yang lain, jutaan orang pengangguran cemas menunggu pekerjaan yang dipegang istrimu: para pria yang sudah berkeluarga, para janda. Allah SWT Yang Maha Kuasa telah memberinya kekayaan dengan jalan dia memiliki seorang suami pekerja keras dan berhasil, lalu mengapa dia tetap memegang pekerjaannya, mengapa dia mencegahnya daripada mereka yang jauh lebih membutuhkan pekerjaan itu?

Itulah masalahnya.  Begitu banyak pengangguran di negara-negara industri-mengapa?  Terutama karena semua wanita bekerja.  Bila saya anggota masyarakat yang bertanggung jawab, bagaimana bisa saya membiarkan istri saya bekerja? Bila saya membiarkan dia bekerja, maka saya membiarkan diri saya  dan istri saya menjadi beban masyarakat, mengubah diri saya dan istri saya menjadi parasit, yang dengan rakus mengambil lebih dari yang sebenarnya kami perlukan dan lebih dari yang baik bagi kami dengan biaya orang lain.  Sungguh itu merupakan kerja yang parasit: biarkan seorang pengangguran bekerja dan menghidupi dirinya sendiri.

 

Murid Amerika yang lain: Bagaimana bisa seorang wanita di Negara-negara Barat dapat menemukan kedamaian di hatinya serta kepuasan dalam keempat dinding rumahnya, bila orientasi seluruh masyarakat menentang kehidupan semacam itu?

Di negara-negara timur, keadaanya berbeda: adalah mudah bagi seorang wanita untuk membuat rumahnya sebagai tempat yang nyaman dan memuaskan, karena selalu banyak wanita yang menjalani kehidupan semacam itu di sekitarnya yang dapat dia kunjungi seharian, atau sebaliknya--teman, tetangga, sanak saudara- begitu banyak kegiatan di lingkungannya.’

‘Sedangkan di Barat gaya hidup demikian terasingnya, sehingga orang merasa seolah-olah dinding rumah mereka dingin membeku, tanpa keramahan, dan hampa: mereka merasa seolah-olah dinding rumah mereka menghimpit mereka.  Dalam suasana seperti itu sungguh sulit memang bagi para wanita untuk tinggal saja di dalam rumah, walaupun sebetulnya mereka tak begitu menginginkan sesuatu pun di luar sana.

Syekh menjawab:

Ya, hal itu terjadi karena mereka tak memiliki pengkalibrasi dalam skala ukurannya.  Jika tak ada yang demikian dalam kehidupan jiwanya, skala tersebut akan selalu tergelincir ke satu sisi saja; namun bila mereka memiliki dunia alternatif, kedalaman pengabdian jiwa sebagai penyeimbang, sungguh sangatlah mudah bagi para wanita untuk berdiam di rumah walaupun ada banyak kejanggalan yang menentangnya.

Ya, saya paham bahwa bagi wanita barat, duduk berdiam di rumah sangatlah membosankan dan menjemukan, dan berada di rumah bagaikan terpenjara; namun bila mereka dapat mengecap manisnya kedalaman jiwa, mereka akan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk berada di rumah di mana mereka dapat mengkonsentrasikan usahanya daripada harus berkeliaran di jalanan modern yang tercemar.  Namun bila mereka belum membuka pintu kedalaman jiwa mereka, mereka akan tetap mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah segera setelah suami mereka berangkat di pagi hari.

Apa yang sekarang kita gambarkan haruslah dianggap sebagai tujuan akhir: suatu sasaran jangka panjang untuk ditaklukan oleh kaum wanita kita- suatu sasaran kesempurnaan bagi kehidupan para wanita.  Namun seperti yang telah kita tunjuk sebelumnya, kondisi di dunia Barat tidaklah kondusif bagi para wanita untuk mengembangkan kehidupan spritual mereka dengan cara demikian:  tinggal di rumah.  Karenanya, bila saya indikasikan, cara hidup ideal bagi seorang wanita, saya tak mengharapkan seluruh wanita dapat menjalani gaya hidup seperti itu, dan makanya saya tak memerintahkan mereka untuk melakukannya.  Bila kondisinya berbeda, maka mungkin lain lagi keadannya.

Seperti yang saya katakan, Seandainya saya berkuasa, maka para wanita akan menerima bayaran ganda bila mereka mau tinggal di dalam rumah mereka; dan saya akan memerintahkan bahwa rumah-rumah hendaknya dibangun dengan cukup lapang, tak seperti penjara.  Di malam pertama kepemerintahan saya, saya akan memerintahkan agar seluruh bangunan apartemen dimusnahkan; di malam kedua, saya akan memerintahkan agar rumah-rumah baru yang lapang dan berkebun dibangun bagi setiap keluarga, sehingga para wanita takkan pernah lagi berkeinginan untuk meninggalkan rumah mereka-begitu indah dan luas, rumah-rumah mereka nantinya…..

Di sini (di Siprus), kami tinggal di sebuah rumah tua yang terbuat dari batu bata, jenis rumah yang kini banyak ditinggalkan orang demi untuk tinggal di apartemen-apartemen yang sempit di kota-kota besar.  Rumah ini setahun lalu hanyalah reruntuhan puing yang ditinggalkan orang, dan seluruh kebunnya mati dan ditumbuhi gulma.  Ketika saya membelinya, semua orang melarang dan mengejek saya; tetapi lihatlah sekarang, hanya setelah setahun kerja yang teratur rumah ini cukup indah, dan kebunnya pun berbunga, dan walaupun ini sederhana dan tidak mewah, rumah ini luas, nyaman dan indah.

Baik istri saya maupun putri saya tidak pernah merasa bosan dan terpenjara tinggal di rumah ini.  Mereka sangat jarang berkeinginan untuk pergi ke luar rumah, dan bila mereka pergi, mereka selalu ingin cepat pulang.  Ya, mengapa tidak tinggal di rumah semacam itu saja?  Bumi ini begitu luasnya; mengapa kita demikian bodohnya untuk tinggal di atas orang lain dalam apartemen yang dingin dan jelek?  Allah SWT memerintahkan: “Tafasahu” yang artinya, “Wahai manusia, berpencarlah di bumi’ Perintah ini mestinya sudah cukup bagi kita untuk memahami bahwa Tuhan kita tak menginginkan kita untuk tinggal dalam situasi yang sempit dan berjejalan di bumi Allah SWT yang luas ini. 

Cara yang keliru yang telah diambil umat manusia untuk hidup yakni tinggal dalam kondisi berdesakan yang sebenarnya tak perlu itulah yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi dunia ini.  Terlebih, kota-kota besar yang padat adalah bencana bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial bangsa-bangsa. Hanya bila kecenderungan berbahaya ini mulai dibalik dan orang kembali ke pedesaan  maka kondisi sosial ekonomi umat manusia akan menjadi lebih baik.

Apa ada baiknya membangun kota-kota besar semacam itu? Bahkan di Inggris kalian mungkin harus berkendaraan bermil-mil jauhnya untuk menemui hunian atau pemukiman, sementara pusat-pusat urban menelan jutaan orang yang membutuhkan sistem yang kompleks untuk penyediaan dan pendistribusian komoditas.  Orang mengerjakan lahan yang memproduksi bahan pangan yang mereka makan:  lalu ada apa dengan pedesaan sehingga orang tidak memadatinya dan mengelola kehidupan perekonomian di desa-desa kecil?  Udara yang segar, sinar matahari dan alamnya-tak ada lagi krisis ekonomi.  Orang mungkin akan banyak tumbuh di kebun-kebun mereka-tak ada lagi kemacetan lalu-lintas, penyakit pun tak begitu mewabah.  Begitu banyak penyakit masyarakat yang dapat disembuhkan dengan desentralisasi.  Kota-kota dengan 10.000 penduduk sudah cukup besar.

Kecenderungan di muka bumi ini menuju ke arah yang destruktif: Orang-orang bergerombol ke kota-kota besar untuk mencapai posisi yang lebih baik demi memanjakan syahwatnya.  Hasil akhirnya bukan hanya kehancuran ekonomi saja melainkan juga perubahan nilai-nilai yang menyeluruh dan kegilaan yang akan mendominasi masyarakat- hal ini sudah dapat kita amati.  Kota-kota besar membuat orang menjadi asing satu dengan yang lainnya. Walau begitu banyak orang tinggal di tempat yang sangat berdekatan, namun mereka saling asing, saling berprasangka dan curiga satu dengan yang lainnya.  Orang-orang kota biasanya terputus dari saudaranya, teman-teman dan para tetangga.

Kita tak pernah diperintahkan untuk hidup bagai binatang buas: masing-masing saling bebas, mengharapkan kesempatan di mana si kuat memangsa yang lemah, tidak!  Kita lebih diperintahkan untuk hidup berkelompok, untuk saling tergantung; dan di desa-desa kecil sungguh sangat mudah untuk hidup seperti itu, karena semua orang mengenal tetangganya dan dapat merawatnya. 

Tak ada perlunya bagi siapapun untuk meninggalkan Lefke, Siprus, sebuah kota agraris kecil untuk pergi ke Amerika, Jerman, Inggris, Austrlia, atau bahkan Nikosia untuk bekerja. Semua orang dapat menghidupi diri dan keluarganya; dan bila satu desa telah padat, mereka dapat membangunnya satu lagi di tempat lain.  Cara seperti ini jauh lebih berkah.


Seorang murid: “Tetapi orang pergi ke kota-kota besar dan ke luar negeri untuk dapat hidup dalam kehidupan yang diimpikannya: bioskop, televisi, klub malam, uang dan sebegainya.  Dan mereka juga tak kurang tertariknya pada berkah.  Sepertinya itu sebuah penyakit: bahwa orang berkeinginan untuk hidup dengan mimpi mereka dan bukannya hidup sederhana saja.’

Syekh:

Mereka boleh saja memanjakan fantasinya, namun mereka akhirnya tidak akan dapat menghindar dari keruntuhan ekonomi, dan tak ada yang dapat dilakukan pemerintah yang cukup efektif untuk mencegah keruntuhan tersebut.  Kini kita mendekati titik itu dengan sangat cepat, dan tak seorang pun dari pemerintahan yang berani melakukan langkah drastis untuk mencegah keruntuhan – obatnya terasa terlalu pahit bagi ego mereka.  Namun bila titik itu telah tercapai orang akan dipaksa untuk meninggalkan kota-kota yang kelaparan dan menyebar ke pedesaan, mencari pertolongan.


Seorang murid: “Haruskah saya menyampaikan kepada saudara-saudara yang di Amerika sana bahwa Anda menasihati mereka untuk menjual rumah-rumah mereka di kota dan berhenti dari pekerjaannnya dan lalu pindah ke pedesaan?”

Syekh:

Pelan-pelan!  Sedikit demi sedikit mereka akan berjuang menuju cita-cita pindah ke pedesaan.  Mereka harus mencari keadaan yang dibutuhkan untuk membuat perpindahan itu berjalan lancar.  Dengan cara yang pintar dan tenang mereka mestinya dapat mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan dan pindah menuju cita-citanya dengan gangguan seminimal mungkin terhadap kehidupan dan pendapatannya.

Di pedesaan mereka akan lebih aman dari kasus-kasus peperangan, karena biasanya kota-kota besarlah yang menjadi sasaran pertama; lagi pula, dalam kejadian keruntuhan ekonomi mereka lebih mudah mengatasinya.  Telah terdapat begitu banyaknya pedesaan, sehingga saya tidak melihat perlunya membangun desa-desa baru lagi, saya pun tak menganjurkan kalian semua untuk datang bersamaan menuju sebuah tempat terisolasi untuk membuat perkampungan muslim di Amerika.  Lebih baik mereka pindah ke suatu komunitas umum sebagai suatu kelompok kecil di antara penduduk non-muslim yang jumlahnya lebih banyak.  Ada kebijaksanaan di sini, dan rahmat bagi orang Amerika, karena saudara-saudara kita laksana gemintang menyinari, menaungi mereka dengan cahaya berkah di sekeliling mereka.  Bintang-gemintang tersebar di seluruh langit;  bila mereka semua berkelompok di satu tempat saja, maka belahan langit yang lain akan menjadi gulita.  Ya, kalian boleh tinggal di mana saja; dan kami berharap Allah SWT akan membuat kalian sebagai alat untuk menyadarkan hati rakyat Amerika akan Rahmat-Nya.