Showing posts with label Ziarah. Show all posts
Showing posts with label Ziarah. Show all posts

24 October 2011

Tajali Haji selalu Meningkat Berlipat Ganda


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

21 Oktober 2011 Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

(Sebelum Mawlana dan rombongan berangkat Haji)

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Allah (swt) menciptakan kita dengan kehormatan dan membusanai kita dengan kehormatan surgawi dan Dia menyempurnakan kita. Dia berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

wa laqad karamna Bani Adam.

Kami telah muliakan anak-anak Adam. (al-'Israa, 17:70)

Dia memuliakan kita melebihi semua makhluk dan Dia memuliakan sebagian di antaranya dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari ummat an-Nabi (s). Itulah sebabnya Dia berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِِ

Kuntum khayra ummatin ukhrijat li ‘n-naasi tamuruuna bi ‘l-m`aruufi watanhawna `ani al-munkari watu’minuuna bil-Laah.

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. (`Aali Imraan, 3:110)

Sekarang kita berada di musim Haji dan dari kemuliaan Allah, Dia memuliakan kita untuk melakukan Haji paling tidak sekali seumur hidup, dan tidak hanya sekali bagi mereka yang mampu, baik dari kondisi kesehatannya maupun secara finansial, karena Allah tahu bahwa Haji tidaklah mudah, itu adalah perjalanan yang sulit yang akan kalian lakukan. Tetapi, subhaanAllah, dari berbagai mazhab yang berbeda, Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali, penjelasan mereka yang berbeda tentang Haji menjadikannya begitu mudah. Mereka mengambil dari ahadits Nabi (s) di mana para Sahabat (r) bersama Sayyidina Muhammad (s) melakukan Hajjat al-Wada` dan beliau memberikan petunjuk untuk mengurangi kesulitannya.

Al-Abbas (r) mendatangi Nabi (s) dan berkata, “Yaa Rasuulullah! Aku harus memberikan air kepada orang-orang yang menunaikan Haji di Mekah, jadi apa yang harus kulakukan, karena aku tidak bisa tinggal selama tiga hari di Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, engkau mempunyai alasan yang baik; lemparkanlah batu-batumu (jamrah) pada hari pertama di Mina lalu kembalilah ke Mekah, atau tinggallah di Mekah pada hari keempat Haji.” Sekelompok pengembala juga mendatangi Rasuulullah dan berkata, “Kami menjaga biri-biri untuk zabiha (kurban) bagi Ahl al-Islam untuk Haji dan kami tidak bisa pergi ke Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, tinggallah di Mekah.” Ini adalah contoh bahwa Haji itu tidak sulit tetapi juga tidak mudah. Jika kalian masih muda dan kuat, kalian dapat memenuhi semua prinsip Haji, tidak hanya melakukan yang termudahnya saja.

Allah (swt) telah menganugerahkan Haji setahun sekali selama 1400 tahun, dan setiap Haji mempunyai cita rasa yang khas; tidak ada kemiripan antara Haji yang satu dengan yang lain. Tajali Asmaul Husna wal Sifat apapun yang Allah kirimkan pada Haji ini atau itu, Dia tidak mengirimkan tajali yang sama, tetapi mengirimkan tambahan bagi tajali itu pada Haji berikutnya. Jadi Haji itu seperti pelangi yang mempunyai warna-warni yang berbeda, yang akan memberikan kalian cita rasa yang berbeda jika kalian melihatnya dengan suatu kaca pembesar, kalian akan melihat lebih banyak warna yang membuat kalian bahagia. Haji juga seperti pelangi yang memperlihatkan tajali Asmaul Husna wal Sifat yang berbeda, jadi setiap tahun kalian mendapat tajali yang lebih banyak dari apa yang diberikan pada tahun sebelumnya, sejak zaman Nabi (s) hingga ke tahun di mana kalian menunaikan Haji.

Allah Maha Pemurah dan apapun yang Dia kirimkan, Dia tidak akan mengambilnya kembali dan apa yang Dia berikan sebelumnya tetap berada di sana. Sejak 1400 tahun yang lalu, pelangi tajali yang Allah kirimkan kepada orang-orang yang menunaikan Haji adalah berasal dari masa itu dan kalian menerimanya secara akumulatif dengan tajali yang ada pada tahun di mana kalian menunaikan ibadah Haji (Tajali Haji meningkat secara eksponensial). Kehadiran tahun ini akan mempunyai cita rasa yang berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, dan karena kita bergerak menuju Tanda-Tanda Hari Kiamat, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

القابض على دينه كالقابض على الجمر

al-qaabidhu `alaa diinihi ka’l-qaabidhu `alaa al-jamr.

Orang yang memegang teguh agamanya (di masa sekarang) seperti orang yang memegang bara yang menyala di tangannya.

Jadi, sekarang itu tidaklah mudah, untuk berangkat dari negeri-negeri ini, karena biayanya mahal dan menjadi sangat sulit, tidak seperti bila kalian berada di sana atau di dekat bandara, atau misalnya hanya perlu satu jam perjalanan ke Mekah dan Madinah. Kerumitan untuk pergi dan semakin banyak orang yang ingin menunaikan Haji, menjadikan ibadah Haji bertambah sulit. Tetapi sebagaimana Nabi (s) bersabda,

laa rahata fi ‘d-diin.

(Tidak ada) rehat/istirahat di dalam agama.

Itu artinya kalian harus selalu berjuang. Sebelum berangkat, orang-orang yang berhaji, hujjaj, memanggil semua saudara dalam keluarga mereka dan tetangga mereka dan teman-teman mereka untuk mengucapkan selamat tinggal karena orang yang pergi tidak tahu apakah ia akan kembali, apakah ia akan hidup atau meninggal di sana. Kalian meninggalkan dunia dan pergi menuju akhirat, itulah niatnya bagi setiap orang yang menunaikan Haji, itu adalah akhirat, karena itu adalah kewajiban. Ketika kalian melakukan salat kalian, itu adalah akhirat; ketika kalian melakukan kelima salat kalian, seolah-olah kalian berada di Surga, karena ketika kalian mengarahkan wajah kalian menghadap Kiblat, ke Baitullah, yang aslinya adalah di Bait al-Ma’mur (di Surga keempat, yang letaknya persis di atas Ka'abah di Bumi), jadi kalian berada di akhirat! Nabi (s) bersabda,

qurratu `aynii fi 'sh-shalaat.

Kesejukan mataku (saat terbaik, apa yang kucintai) adalah salat (karena aku berada di Hadirat Ilahi).

Meskipun kita tidak melihatnya karena kita adalah pendosa dan hamba yang lemah, tetap saja Allah (swt) akan memberikannya kepada kalian karena kalian berusaha melakukan yang terbaik untuk tidak kehilangan salat kalian, karena seorang Muslim tidak hanya salat pada hari Jumat saja, tetapi setiap hari. Setiap salat mempunyai pelangi tajali dan cita rasa khasnya masing-masing. Sayangnya, kini kita salat seperti ayam jantan (terburu-buru) tidak khusyuk, tanpa rasa dari salat itu atau tanpa perasaan. Sebagian orang memilikinya, tetapi yang lain tidak, dan kita memohon kepada Allah agar memberikan rasa itu kepada kita.

Ketika kalian pergi ke Madinat al-Munawarrah dan mengunjungi Nabi (s) dan memberikan penghormatan kalian, dan kalian meminta kepada Allah (swt) di dalam doa-doa kalian, demi Nabi (s), Allah (swt) akan mengabulkannya. Dan siapa yang berada di samping beliau--semua Sahabat dan semua awliyaullah, tetapi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) adalah yang dimakamkan di samping Nabi (s). Apa yang dikatakan oleh Nabi (s) mengenai Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Saya tidak akan berbicara mengenai Sayyidina `Ali (r) sekarang karena ada 360 ayat di dalam kitab suci al-Qur’an mengenai beliau. Kita bicara mengenai topik ini sekarang. Nabi (s) bersabda, “Setiap nabi mempunyai dua orang menteri, wazir, dari penghuni (makhluk) langit dan dua orang menteri dari orang-orang di Bumi, dan menteriku dari langit adalah Jibriil (a) dan Mika'iil (a). [Itulah sebabnya bagi semua Ahl as-Sama, mereka berdua selalu berada bersama beliau secara privat, keduanya istimewa]. Sedangkan menteriku yang berasal dari Bumi adalah Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar.”

Jadi bagaimana menurut kalian, dapatkah seseorang yang mengunjungi Nabi (s) tetapi lupa untuk mengunjungi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Tidak bisa, karena mereka berada di samping Nabi (s). Itu artinya setiap orang yang mengunjungi Madinat al-Munawwara dan Sayyidina Muhammad (s), kemudian Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar, akan berada bersama mereka setiap saat di dalam kehidupannya di dunia dan akhirat! Allah (swt) tidak akan menghalangi seseorang yang mendatangi gerbang Nabi (s), mendatangi gerbang Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, dan semua Sahabat, semua anak cucu dan keluarga dan istri-istri Nabi (s), kemudian dijauhkan dari mereka, tidak, kalian akan bersama mereka di dunia dan akhirat!

Itu tidak berarti hanya dengan kedatangan kalian tahun ini (kalian mendapat keberkahan itu), sementara bagi mereka yang pergi tahun lalu atau pada tahun-tahun sebelumnya, mereka dihilangkan, tidak. Itu adalah suatu akumulasi dan penambahan berkah dari tahun-tahun yang telah lewat dengan tahun ini, dan dunia ini bergerak dengan cepat menuju perubahan surgawi untuk segera membawa kekuatan surgawi untuk mengembalikan kedamaian dan kebahagiaan di Bumi.

(Hadis) Ibn `Umar berkata, “Suatu hari Nabi (s) memasuki masjid dan di sebelah kanannya adalah Sayyidina Abu Bakr dan di sebelah kirinya adalah Sayyidina `Umar, dan beliau memegang tangannya, dan beliau (s) bersabda, ‘Seperti inilah kita akan dibangkitkan di Yaumul Hisab, bersama (yaitu Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar).’”

Apakah menurut kalian, kalian akan ditinggalkan di belakang ketika Nabi (s) dibangkitkan bersama Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) dan bersama seluruh Sahabat (r) dan semua keluarga Nabi (s), apakah kalian akan disingkirkan padahal kalian telah menghadapi berbagai kesulitan untuk mendatanginya (s), paling tidak sekali seumur hidup kalian, untuk mencapai hadiratnya dan berdoa, apapun yang kalian inginkan, di mana tidak ada istilah “di sana” karena para malaikat membawa doa-doa kalian ke atas, dan Nabi (s) akan membawa kalian hingga ke Hadirat Ilahi.

Tahun ini tajali dari doa itu dibuka. Itulah sebabnya banyak hamba Allah yang saleh, رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْه, rijaalun shaadaquu maa `ahadullaha `alayh (33:23), “Orang-orang yang memegang janjinya dengan Allah (swt),” akan berada di dalam hadirat itu, mereka akan datang dari berbagai penjuru untuk berada di hadirat Nabi (s), meminta kepada Allah (swt) sebagaimana di dalam ayat,


وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ

walaw annahum idz zhalamuu anfusahum jaauuka fa ’staghfaruullaah wa ’staghfara lahumu ‘r-rasuul.

Jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka. (an-Nisa, 4:64)


Ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu, yaa Muhammad, dan meminta ampunan Allah, Allah akan mengampuni mereka jika engkau mengampuni mereka dan engkau memintakan ampunan atas nama mereka!

Kita berdoa, yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Niat kami adalah untuk pergi dan mengunjungimu, dan meminta ampun di hadiratmu, dan meminta agar bersamamu di dunia dan akhirat, untuk berada di kakimu, dan kaki Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali dan semua Sahabat (r) yang lainnya!

(Hadis) `Anas (r) berkata, “Nabi (s) bersabda, ‘Cinta kepada Abu Bakr dan `Umar adalah bagian dari iman dan orang yang membencinya akan jatuh ke dalam kategori kafir, tidak beriman.”

Jadi pastikanlah, selama kehadiran kalian di sana, di hadirat Nabi (s), berikanlah penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau dan kepada Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussayn, istri-istri dan keluarga beliau, anak cucu beliau dan semua Sahabatnya (r), Ka`aba dan Mahbat al-Wahiy, Jannat al-Baqii, Safa, Marwa dan Saii, dan semua malaikat di langit dan Bumi, dan berikan hormat kepada semua nabi (a) dan orang-orang yang saleh.

Kalian harus menekan kemarahan kalian di sana, jangan marah dan jangan berdebat, bertanya, “Mengapa ini terjadi, atau tidak terjadi?” atau, “Mengapa aku harus begini, begitu?” Di sana, yang terjadi hanyalah apa yang dikehendaki Allah dan kalian akan melihat bahwa kalian tidak mempunyai iradat, hanya Kehendak Allah yang akan terjadi di sana, dan kalian akan melihat bahwa apapun yang Dia tuliskan bagi kalian, itu akan terjadi, jadi jangan berdebat! Jagalah salat kalian, dan jagalah mulut kalian hanya untuk zikrullah dan berselawat atas Nabi (s).

(Doa)

16 September 2011

Suatu Peringatan dari Sultan Awliya bagi orang-orang yang berniat datang mengunjungi beliau di Lefke, Siprus

Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Lefke, Siprus

13 September 2011

Setelah bulan ini, ketika waktu Haji, musim Hijaz, mereka boleh tinggal di sini dan pada awal Zulkaidah, setiap orang harus kembali ke rumah masing-masing karena mungkin ada masalah di daerah Mediterania dan akan sulit bagi mereka dan bagi orang-orang kami di sini, dari pemerintah. Dan kemudian mungkin tidak ada pesawat yang datang dan pergi, tidak ada kapal yang datang dan pergi, akan sulit bagi mereka dan bagi orang-orang kami di sini.

Kalian harus menjaga pekerjaan kalian, yang bekerja boleh pergi, orang yang tidak bekerja, orang dewasa, mereka boleh kembali ke rumah-rumah mereka karena pemerintah akan menjaga mereka. Oleh sebab itu saya membuat suatu peringatan bagi setiap orang agar tidak (tinggal) lebih dari 10 hari. Karena kondisi yang sulit, mungkin di Timur Tengah dan sulit bagi mereka untuk berada di sini. Terima kasih, terima kasih. Setiap orang harus melihat, menjaga rumah mereka, menjaga keluarga mereka, dan pekerjaan mereka, mereka harus menjaganya!

Mereka belajar di sini apa yang diperlukan oleh mereka, dan mereka harus kembali dan mereka harus berusaha untuk membuat agar orang datang kepada Islam. Dan mereka boleh melakukan zikir di sana, dan zikir dapat mencegah hal-hal yang buruk atau kondisi yang buruk yang dapat menimpa mereka.

Dan saya juga menasihati mereka agar mereka mempunyai daerah pedesaan untuk tinggal di sana, lebih banyak daripada kota-kota. Karena melalui pegunungan, itu akan seperti khalwat bagi mereka.

Sejak awal Zulkaidah hingga Ied (Ieduladha), mereka juga bisa berniat untuk melakukan khalwat, mereka semua. Oleh sebab itu, mereka harus berusaha untuk kembali ke kampung halamannya, ke rumah-rumah mereka, bahkan untuk membuat satu orang masuk ke dalam Islam, itu lebih berharga bagi mereka (daripada) tinggal di sini satu atau dua tahun. Mereka harus berusaha melakukan sesuatu untuk masyarakat mereka, untuk Islam. Dan Islam adalah untuk Allah (swt). Terima kasih.

Saya tidak suka orang-orang yang malas di sini, tidak! Mereka harus berusaha untuk membawa orang sebanyak-banyaknya ke dalam Islam. Dan Eropa, ini adalah musim yang cocok bagi orang-orang Eropa untuk masuk Islam. Terima kasih. Saya bisa menerima kalian bahkan hingga dua bulan, enam bulan, tetapi tidak benar untuk berada di sini, kalian mempelajari sesuatu sebanyak-banyaknya dan kalian boleh pergi dan kalian boleh mencari orang-orang yang ingin masuk Islam dan ingin belajar (tentang Islam). Lakukan hal itu sebanyak-banyaknya. Assalamu Alaikum.

Mawlana berbicara dalam Bahasa Turki kepada seoarang wanita (yang berada di sana): Mereka mempunyai deputi (masing-masing) di negeri mereka dan tanpa izinnya mereka sebaiknya tidak datang.

After this month, when time of Hajj, the season of Hijaz, they may stay here and at the beginning, Dhil Qaada, everyone must go to their homes because maybe a trouble through our Mediterranean area and it is going to be difficult for them and for our people here, from government. And then there maybe no planes coming going, no ships coming going, it is going to be difficult for them and for our people here.

Please you must look after your works, who works may go, no working people, adult people, they may go to their homes as their government looking after them. Therefore, I am making a caution for everyone not to be longer than 10 days. Because difficult condition maybe in Middle East and it is difficult for them to be here. Thank you, thank you. Everyone must look, care for their homes, for their families, for their works, must be!

They learnt here what it is necessary for them, and they must go back and they must try to make people to come to Islam. And they may do zikr there, and zikr preventing any bad thing or bad condition coming on them. And I am advising them also that they should have a country side place to be there, to live there, more than cities. Because through mountains, it should be like a seclusion for them. From beginning of Dhil Qaada upto Eid (festival) they may be also, they may intend seclusion, all of them. Therefore, they must try to go back to their homelands, homes, even to make one person into Islam, it is more valueble to them to be here one year or two years. They must try to do something for their people for Islam. And Islam it is for Allah Almighty. Thank you.

I don't like to be here lazy ones, no! They must try to bring more people as much as possible into Islam. And Europe, it is suitable season for Europeans to come in Islam. Thank you. I may keep you even two months, six months but it is not true to be here, you learned as much as possible something and you may go and you may look through people whome they should be wanting to come to Islam and to learn. Make that as much as possible you can do. Assalmu Alaikum.

Mawlana speaks in Turkish to a sister: They have who is the deputy in their countries, and without his permission they should not come

http://sufilive.com/Precautions_for_the_Upcoming_Months_when_Visiting_Sultan_ul_Awliya-3807.html

01 June 2011

Siapakah yang Dikatakan Bangkut?


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

26 Mei 2011 Lefke, Siprus

Shuhbah sebelum Khatm



As-salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Saya pikir sudah terlambat untuk memulai shuhbat, jadi kita akan langsung mulai dengan dzikrullah, kareana shuhbat akan memerlukan waktu yang lama, jadi mungkin setelah tujuh tahun lagi? Allah Maha Mengetahui.

Allah (swt) menurunkan sebuah hadis kepada Nabi-Nya (s) yang akan saya sebutkan, dan akan langsung dimulai.

وعنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون ما المفلس ؟ . قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . فقال إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي وقد شتم هذا وقذف هذا . وأكل مال هذا . وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار . رواه مسلم


Nabi (s) bertanya pada Sahabat (r), man al-muflis, “Siapakah orang yang bangkrut?” Mereka berkata, “Sudah jelas, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang atau harta kekayaan.” Nabi (s) memandang mereka dan bersabda, laysa man laa `amal lahu, " yaitu orang yang tidak mempunyai amal. Para Sahabat (r) terkejut, karena Nabi (s) duduk dengan mereka, (artinya hadis itu langsung tertuju pada mereka). Dan mereka berkata, wa in saama wa in shalla, "Walaupun orang itu melakukan salat dan puasa?" Dan Nabi (s) bersabda, "Bahkan jika ia salat dan berpuasa."

Apa yang kita bawa pulang dari hal ini? Segala sesuatu yang kita dengar, kita harus membawanya ke rumah dan memikirkannya, malam ini. Itu berarti seseorang melakukan salat dan puasa, namun tetap saja ia tidak mempunyai amal! Itu adalah hal besar. Apa yang dimaksud oleh Nabi (s) adalah, mengapa orang itu kehilangan amalnya? (Ia kehilangan amal itu) karena terlalu banyak melakukan ghibah, gosip di antara umat. Banyak sekali orang yang bicara saling menentang satu sama lain, dan mereka tidak saling menyukai; mereka bicara tentang seseorang, tetapi apa yang mereka katakan adalah tidak benar. Ketika rumor itu menyebar, setiap orang yang berada di tempat yang jauh mulai percaya dan kemudian turut menyebarkannya lebih jauh, kemudian Setan mengambil mereka seperti angin dan itu menjadi kenyataan.

Orang (yang bangkrut) itu terlibat dalam menyebarkan tuduhan palsu yang merugikan saudara Muslimnya, jadi ia kehilangan amalnya. Semoga Allah (swt) mendukung kita dan melindungi kita dan memberi kita waktu yang berharga bersama Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani, dan semoga Allah memberinya usia yang panjang dan memberi kita usia yang panjang!

[Khatm]

Minggu depan, Kamis adalah 1 Rajab, dan malam itu akan menjadi Laylat al-Raghaa’ib dan insyaa-Allah Mawlana mungkin akan menghadirkan rambut Nabi (s). Tetapi yang paling penting, kadang-kadang kita dibolehkan untuk mengatakan sesuatu dan kadang-kadang kita tidak boleh mengatakan sesuatu, tetapi seluruh bagian dari sana ke sana (dalam maqam Mawlana Syekh) adalah bagaikan pusara Nabi (s), dari sisi ini ke sini, dan kita telah diberi kehormatan untuk melakukan ziarah kepada Nabi (s)! Itu terjadi dan sungguh terjadi, dan kadang-kadang itu terjadi, dan kita mempunyai izin untuk mengatakannya, dan kadang-kadang kita tidak mempunyai izin. Siapa pun yang berada di dalam majelis ini, pada malam ini melihat Nabi (s), dan itu artinya ia memasuki guanya dan memasuki lengannya, dan itu artinya ia berada di bawah syafaatnya!

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.


30 July 2009

Mengingat Mati dan Menghormati Ahli Kubur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Suatu ketika ada sekelompok orang yang membangun sebuah hotel besar bersebelahan dengan sebuah masjid. Ketika hampir selesai, mereka berkonsultasi dengan seorang ahli Yahudi, tentang bagaimana sebaiknya menjalankan hotel itu.  Mereka datang lengkap dengan foto-foto lokasi hotel. Ketika melihat foto-foto tersebut, si Yahudi mengatakan bahwa mustahil hotel itu dapat memberi keuntungan, karena letaknya tepat di sebelah masjid. Menurut sang ahli, dua hal yang berlawanan tersebut tidak mungkin saling mendukung-–karena sebuah hotel harus mengandalkan tiga hal demi keuntungannya, yaitu: judi, minuman dan seks. 

Para tamu hotel yang sedang tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa itu akan mendengar panggilan Azan selama lima kali dalam sehari.  Mereka akan kembali teringat Tuhannya dan lari meninggalkan hotel.  Bagaimana mau bersenang-senang dengan segala kemaksiatan bila masjid sebelah mengingatkan untuk menyembah Tuhan?  Sayangnya, manusia abad dua puluh memohon agar bisa melupakan Sang Pencipta mereka.  

Di kota-kota tua, kompleks pemakaman mengelilingi masjid-masjid.  Namun pemerintah sekarang ini mencegah pemakaman seperti itu, dengan alasan membuat lingkungan menjadi tidak sehat.  Mereka lalu meminta penguburan diharuskan beberapa ratus kilometer jauhnya dari kota.  

Mengatakan bahwa lingkungan menjadi tidak sehat adalah kebohongan besar.  Padahal dulu makam-makam diletakkan di taman di depan rumah.  Mereka akan mengatakan, ”Ini makam ayahku, yang di sana makam bibiku, lalu yang di sini makam ibuku.”  Ini bukan hanya mengingat para leluhur mereka, tetapi juga mengingatkan akan kematian mereka sendiri, mengingat Tuhan mereka dan juga adanya kehidupan akhirat. 

Wahabi adalah jenis lain dari kaum Iblis, mereka akan memakamkan di dekat rumah atau masjid, tetapi tidak mengizinkan ada tanda di makam tersebut.  Ketika saya bersama seseorang yang ingin berziarah di makam ayahnya di dekat Masjid Dehiwela,  Sri Lanka-–ternyata dia tidak tahu di mana tepatnya makam ayahnya, karena tidak ada tanda atau nisan.  Dia mengatakan ada sekumpulan manusia Iblis yang mencegah dibuatnya tanda-tanda atau nisan.  Mereka ini adalah para penyangkal adanya akhirat.  

Imam-imam kita yang tak pernah bimbang akan syariat memiliki hikmah akan penulisan nama orang yang meninggal pada batu nisan.  Para pengunjung makam dapat membacakan Fatiha bagi para ahli kubur.  Penulisan itu sebagai sebuah pengingat terhadap mereka yang telah meninggal.  Namun kaum Wahabi menyebut hal itu sebagai syirik.  Semoga bebatuan menimpa kepala mereka yang mengatakan bahwa penulisan nama-nama orang tua mereka di batu nisan sebagai syirik dan bid’ah.  Suatu ketololan dari para kaum Iblis. 

Bila mereka tidak menandai makam-makam itu, mereka bisa terjatuh ke dalam sesuatu yang makruh – yaitu menginjak-injak makam-makam yang tidak terlihat keberadaannya – seperti yang saya lihat di pemakaman Dehiwela.  Bukan hanya tidak menghormati, hal itu juga mengganggu mereka yang di makamkan di situ.  Melangkahi sebuah makam bisa diibaratkan berjalan di atas perut wanita yang sedang hamil. 

Rasulullah SAW mengajari sebuah doa bagi mereka yang mengunjungi makam, Subbuhun Quddusun Rabbul Malaaikati Wa Ruh, Subbuhun Quddusun Rabbul Malaaikati Wa Ruh, Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaaikati Wa Ruh.” Ketika kalian membaca tasbih ini saat memasuki makam, maka barakah akan turun mengayomi ahli kubur yang dituju, dan penghuni makam yang lain akan berharap kalian juga berkenan mendekati makam-makam mereka.  

Ribuan sahabat dimakamkan di Jannatul Baqi dan Jannatul Mualla, tetapi orang-orang melangkahi makam-makam itu tanpa adab sama sekali.  Dan kemerosotan moral ini telah berjalan selama 50 tahun terakhir dalam dunia Islam.  Semoga Allah SWT menjauhkan ide-ide buruk seperti itu dari Hijaz.  Orang-orang yang lalai itu mengira mereka telah melakukan kebaikan, padahal yang dilakukan adalah hal terburuk. 

Wa min Allah at tawfiq

08 June 2009

Sampai Mereka Mengubah Diri Mereka Sendiri

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Masjid Aleem Siddique, Singapura

27 Januari 2005

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ass
alaamu `alaykum wa rahmatullaahi wa barakutuh

Kita berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW.  Saya bukan seorang pengajar. Pengajar adalah orang-orang yang menulis dan berpikir banyak dengan pikiran-pikirannya.

Nabi kita SAW bukanlah seorang pengajar.  Seorang pengajar berarti kalian membaca apa yang orang-orang tulis dan mencoba untuk menghilangkan, menempelkan dan memberikan sesuatu agar orang-orang menjadi setengah tertidur, setengah terbangun, dan setengah berpikir tentang yang lain.

Namun Nabi SAW pun bersabda,  ad-diinu nasiha – Agama adalah nasihat.  Yang terpenting adalah bukan nasihat untuk kalian yang didahulukan, tetapi nasihat bagi yang berbicara. Saya harus menasihati diri dulu dan mengingatkan diri sendiri atas apa yang Nabi kita SAW ajarkan lewat Islam.  Jika saya merasa lebih dari siapa pun maka nasihat itu pun menjadi tak berarti. 

Nasihat saya menjadi seperti nasihat Iblis.  Nasihat Iblis adalah tak bermakna, mereka dikutuk karena hal ini.  Mereka datang dan berbisik kepada Nabi Adam AS dan berkata, “Allah SWT tidak memberimu izin untuk makan dari pohon itu karena hal itu akan membuatmu abadi.”  Maka beliau pun memakan apa yang ada pada pohon itu.

Nasihat itu bukan untuk kita karena hamba ini belum matang.  Kita belum mencapai kematangan.  Dulu ada seorang Syekh yang sering menjadi guru di tarbiyyah. Syekh at-Tarbiyyah adalah seseorang yang meningkatkan tingkat pemahaman kalian. Artinya dia mengajari kalian disiplin.  Beliau mengatakan pada murid-muridnya, “Aku akan mengirim kalian ke kuburan.” Itu adalah kuburan ulama. Dia pun ke sana dan melihat seorang laki-laki di gerbang menunggunya.

Keduanya membuka gerbang dan memasukinya, kadang-kadang mereka meletakkan kertas-kertas untuk memberitahu bahwa waktunya telah habis.  Saya tidak tahu apakah benar seperti itu, itu kertas tilang untuk mobil...

Lalu dia pun mengirim murid-muridnya ke kuburan itu dan menemui para ulama.  Mereka pun membuka gerbang dan memasukinya.  Dia pun melihat kuburan seorang alim yang pertama di sana.  Penjaga pintu berkata pada murid yang datang, “Subhanallah, laki-laki ini meninggal muda. Dia meninggal saat belum mencapai umur 1 tahun.”

Murid itu pun memandangnya dan berpikir, ”Apa ini? Bagaimana mungkin seorang alim yang meninggal ini berumur 1 tahun? Aku mengenalnya, beliau pernah bersama Syekhku dan beliau meninggal saat berusia 80 tahun.”

Namun dia tidak berkata apapun karena rasa hormat, disiplin dan adab.  Islam adalah etika.  Islam tidaklah kasar dan jahat.

Nabi SAW sangat lembut dalam perilaku, dalam khutbah-khutbahnya, dan dalam bergaul dengan sahabat-sahabatnya.  Nabi SAW bukanlah seorang yang keras.  Beliau datang dengan para sahabat ke Mekah dan Abu Sufyan berkata,Siapa pun yang memasuki rumah Abu Sufyan selamat.” 

Nabi SAW pun tidak membalasnya.

Kita tidak seperti itu.  Kita ini berhaluan keras.  Kita adalah orang-orang berwatak keras.  Kita melakukan balas dendam hanya untuk masalah-masalah kecil.  Pergilah keluar dan jika kalian tidak menemukan sepatu kalian di tempatnya, kalian akan marah.  Mengapa harus marah?  Ambil sepasang sepatu yang lain dan pergilah.  Pecahkan masalah tanpa bertengkar.   Mereka melakukan itu.

Mereka tidak mengatakan, “Ini pencurian, Saya tak mau melakukannya.  Saya akan pulang dengan telanjang kaki.” Mereka tidak berpikir, “Jika orang itu tidak membutuhkan sepatu saya, Allah SWT tak akan mengirim dia untuk mengambilnya sebagai sedekah dari saya.”

Dan semua orang akan tenang.

Saya mempunyai seorang guru dan kami mempunyai sebuah mesjid besar di London, di mana mereka mempunyai sebuah kotak amal.  Letaknya di dinding, dan kami tidak mengumpulkan sumbangan dengan berkeliling.  Masjidnya besar dan mungkin ada 30-40 kotak amal di seluruh bagian masjid. 

Suatu hari mereka datang dan melapor pada Syekh, Satu kotak amal rusak dan uangnya telah diambil.”  Mereka marah.  Beliau pun berkata, “Mengapa?  Jika pencuri itu tidak membutuhkan uang itu, dia pun tidak akan datang dan mengambil uangnya, maka biarkan semua kotak amal  terus terbuka dan siapa pun yang ingin mengambil bisa datang dan segera pergi.”

Mulai saat itu, kotak-kotak itu dibiarkan terbuka.  Mereka tertutup namun tidak terkunci.  Sangat memungkinkan untuk mengambil semua uang di dalamnya dan lalu pergi.  Inilah etika yang islami – agar bisa membuat pencuri merasa malu terhadap dirinya sendiri.  Saya tahu kalian di sana, ambillah.

Islam adalah rasa. Bukan sebuah pengajaran yang siap dengan berbagai lembar halaman untuk dibaca. Pengajar tidak mengerti apa yang ditulis, dan tak seorang pun mengerti apa yang dia katakan. Benar begitu? Ya, Pak. Belajar...? Menghormati.

Itulah mengapa orang alim yang pertama dikatakan Meninggal ketika umurnya 1 tahun.” Mereka menuju kuburan selanjutnya dan dikatakan,Yang itu, saya rasa belum 2 tahun sudah meninggal. Yang lain 6 tahun.  Yang lainnya lagi 10 tahun.  Tak satu pun dari mereka yang mencapai umur matang.”

Yang lain berkata bahwa dia meninggal pada umur 10 tahun, yang lain umurnya 15.

Kedewasaan, apakah itu?  Tak satu pun pernah mencapainya.  Murid itu berpikir dengan heran, “Apa yang dikatakan orang asing itu?”  Namun karena dia memiliki disiplin, dia pun tidak membantah.  Saat ini kita selalu saling membantah.

Saat saya tanya Mohammad Nassir, “Apa topik hari ini?” Jawabnya, “Sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” 

Dalam Bahasa Arab,  Man syabba `ala syay syaaba `ala syay. Artinya, “Barangsiapa yang dibesarkan dengan sesuatu hal, akan terus seperti itu hingga rambutnya menjadi putih.” Seperti saya, berambut putih.  Adakah di sini yang berambut putih?  Saya tak bisa bilang karena semuanya telah bercukur.

Jadi bagaimana kalian akan berubah? Allah SWT berfirman, Innaka laa tahdii man ahbabta wa laakin-allaaha yahdii man yasyaa-u wa huwa a`lamu bil-muhtadiin. 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah SWT memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah SWT lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. [28:56]

Perubahan berasal dari Allah SWT.  Dari atas sana.  Kita belajar disiplin dan hormat, kita ikuti tuntunan Nabi SAW dan kita akan selamat.”

Murid itu pun kembali pada syekhnya dan beliau pun bertanya, “Apakah engkau pergi ke pemakaman?” “Ya”

Apakah engkau melihat keanehan?” “Ya, seorang laki-laki  datang dan mengatakan padaku kalau orang alim yang meninggal itu berumur 1 tahun, ada yang berumur 2 tahun, dan ada yang 10 tahun.”

Syekhnya menjawab, “Anakku, orang asing itu - aku kirim untuk mengajarimu bagaimana mengubah dirimu sendiri. Engkau mengunjungi seorang alim yang telah banyak umurnya, namun mereka biasa berkata sesuatu untuk "konsumsi lokal", mereka berkata dengan bibirnya bukan dengan hatinya. Mereka tidak dewasa. Mereka matang dalam belajar, namun tidak matang dalam af'al.”

Ada tahap belajar aqwaal, dan juga af'al.  Aqwaal adalah apa yang kalian katakan pada setiap orang.  Afa'al adalah apa yang kalian perbuat.  Artinya, kalian tidak mengubah diri sendiri, kalian berbicara dengan mulut tetapi tidak melakukan apa yang kalian katakan.

Itulah mengapa kalian meminta saya untuk mengangkat topik ini: innallaaha laa yughayiru ma bi qawmin hatta yughayiruu maa bi-anfusihim.  Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mau mengubah diri mereka sendiri. [13:11]

Mengubah diri adalah suatu pengalaman yang paling berat bagi seorang hamba yang akan melaluinya.  Karena saat Jibril AS datang pada Nabi SAW dan bertanya padanya tentang agama, beliau menggolongkannya menjadi tiga: Islam, Iman, dan Ihsan.

Jika Islam sudah cukup, 5 rukun Islam; mengapa Nabi SAW harus menyebut Iman? Jika Iman sudah cukup, mengapa Nabi SAW masih menyebut Ihsan?

Al-ihsan an-t'abud Allah ka-annaka tarah. Kesempurnaan karakter adalah dengan menyembah Allah SWT seolah-olah kalian melihat Dia, dan jika kalian tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihat kalian.

Bayangkan jika seseorang dengan sebuah kamera dan mengatakan akan menampilkan di TV dan mengambil gambar saat kalian sedang salat.  Apa yang kalian lakukan? Kalian akan berusaha khusuk.  Karena kamera ada di sana. Karena kalian akan ditampilkan di TV.  Kalian mencoba yang terbaik dan sebelumnya kalian berkata, tunggu, tunggu, aku akan pakai baju yang terbaik.  Seperti dia yang memakai baju ala barat.

Datang ke masjid dengan memakai baju, baju yang di sunnahkan untuk dipakai.  Kita harus membuat lelucon agar orang-orang sedikit gembira. Saat kamera ada, “Allaaaaahuuaa akbar.” Namun saat kamera tidak ada  “Allahu akbar.”

Apa yang kalian pikir tentang kamera Allah SWT? 

Malaikat-malaikat Allah SWT yang dikirim untuk memeriksa kita di kanan dan  di kiri.  Mereka adalah kamera surgawi, bukan kamera bumi. Mereka bukan mendeteksi gerakan kalian saja seperti yang dilakukan oleh kamera dunia namun mereka mendeteksi maksud kita, kekhawatiran kita, gagasan-gagasan bagus dan keragu-raguan yang buruk.

Bagaimana kalian bisa menipu di sana?  Inilah tingkat al-Ihsan.  Jadi kalian berada dalam kawasan Ilahi. Kalian berada di antara (sesuai yang di katakan Nabi SAW), namun kita tidak melihatnya, karena kita buta.

Kalian berada di antara ayd ar-rahman, di antara Tangan-Tangan Yang Maha Pemurah berdiri di sana dan malaikat-malaikat Allah SWT yang mengamati kalian. Bagaimana seharusnya salat kalian?  Itulah yang dimaksud dengan Islam, Iman, dan Ihsan.

Islam adalah mengatakan Allahu akbar, dan walaupun kalian di Mekah dan Madinah, semua hal masuk dalam hati kalian.

Lebih dari itu, Allah SWT berfirman dalam hadis pada Nabi SAW,  Al-Ihsan an t'abud Allah ka-annaka tarah.  Beribadahlah pada Allah SWT seolah-olah kalian melihat-Nya.

Dan yang pasti kalian tidak bisa melihat-Nya di dunia ini.  Untuk ini Nabi SAW melanjutkan, fa in lam takun tarah fa innahu yaraak.  Dan bagaimana kalian dapat mengatakan Allahu akbar jika di dalam hati kalian memusuhi saudara muslim lainnya.

Begitu masuk salat, semua hal buruk masuk dalam pikiran, tentang menyakiti  tetangga kalian, tentang bunga bank yang masuk dalam tabungan kalian, dan tentang wanita cantik yang tinggal di sebelah rumah.

Inilah yang Syekh berusaha mengajari kalian. Para ulama meninggal, namun mereka belum mencapai kedewasaan.

Lalu dia mengirim murid itu ke kuburan lainnya dan dia melihat orang asing yang sama sedang berdiri di sana.  Laki-laki itu berkata, “Yang itu meninggal saat berusia 50 tahun, Subhanallah yang itu meninggal saat usianya 100 tahun.  Dan yang itu berusia 200 tahun,  yang di sana usianya mencapai 300 tahun.”

Dia pun kembali pada Syekh dan Syekh berkata, “Ya, yang itu telah meninggal dan mencapai kedewasaan.”  Ada 2 tipe ulama: 'alimun jahl, orang terpelajar yang tidak bertindak pada apa yang mereka pelajari dan 'alimun 'amil – mereka yang telah Allah SWT berkahi lebih dan lebih lagi.

Renungkan apa yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dan bagaimana cara untuk mengangkat kalian mencapai kesucian diri, dengan merenung melalui muraqabah pada Allah SWT, bagaimana kalian menghabiskan waktu dengan mengingat-Nya dengan dzikrullah.

Aladziina amanuu wa tathma-innu quluubuhum bi dzikrillaahi alaa bi dzikrillaahi tathma-innul-quluub – (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT.  Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah SWT-lah hati menjadi tenteram. [13:28]

Perenungan tersebut, bertafakur selama satu jam, kalian akan diberi pahala seperti kalian beribadah selama setahun.

Jika kalian seorang pengusaha, saya tidak tahu berapa banyak mereka di sini, berapa banyak waktu yang kalian habiskan untuk menata keuangan agar baik setiap harinya.  Bukan hanya itu, kalian menyewa akuntan untuk memeriksa apakah ada kesalahan atau tidak.

Mengapa?  Karena kalian takut pegawai pajak datang dan mengauditnya, jika kalian berbuat salah, maka mereka akan menghukum kalian.

Tidakkah kalian berpikir bahwa Allah SWT akan mengaudit kalian juga?

Fa man ya`mal mitsqaala dzarratin khayray-yarah. Wa man ya`mal mitsqaala dzarratin syarray-yarah.  Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. [99:7-8]

Allah SWT akan menanyakan pada kita sekecil apa pun yang kita lakukan, tiap kebaikan dan kejelekkan yang kita lakukan.

Kemudian bagaimana?  Dia akan mengampuni kita.  Karena kita semua akan berbuat dosa kecuali Nabi SAW yang tidak mempunyai dosa.

Qul yaa `ibaadiya alladziina as-rafuu `ala anfusihim laa taqnathuu min rahmatillaahi inna Allaha yaghfirudz-dzunuuba jamii`an innahu huwa al-ghafuuru 'r-rahiim

Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa  semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [39:53]

Allah SWT akan mengampuni semua dosa namun  apakah kita menyesalinya?  Kita pulang ke rumah, saya tahu sebagian orang akan pulang.  Beberapa orang akan salat 2 rakaat di rumah selesai salat `Isya berjamaah. Lalu, “Aku mau nonton TV melihat berita.” Setan sedang datang menghampirinya. Berita sih tidak apa-apa.  Teknologi membuat kalian mengetahui apa yang sedang terjadi, seperti gempa kemarin.

Aku mau nonton saluran lain,” kemudian ada 4 - 5 saluran.  Kalian mulai berpindah dari satu saluran ke saluran lainnya, lalu saat kita melihat seorang wanita cantik, kita pun berhenti dan mengatakan, “Yuk, kita tonton.”

Kita terjatuh dalam dosa.  Itulah mengapa Allah SWT mengajarkan Nabi SAW untuk mengatakan, “laa taqnathuu min rahmatillaah.”  Jangan putus asa atas ampunan Allah SWT.  Allah SWT meminta kita untuk berubah.  Jika kita merubah diri dengan bertobat atau menyesalinya, kalian tidak bisa merubah diri kalian menjadi sempurna.  Tak seorang pun sempurna.

Saat malam itu kalian bertobat,  esok hari adalah hari baru. Allah SWT akan mengampunimu.  Salatlah 5 waktu.  Itulah perubahan kita. Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. innallaaha laa yughayiru ma bi qawmin.  Itulah perubahan kita untuk bertobat.  Saat kalian bertobat, Allah SWT mengampuni kalian dan kalian menjadi manusia yang baru terlahir.

Namun perubahan keseluruhan di segala penjuru dunia sebagai kaum muslim tidak akan terjadi, karena Nabi SAW, saat `Aisya RA menanyakan tentang umat muslim, beliau menjawab,Kita adalah umat an-marhuma.  Umat ini adalah umat yang diberkahi.”

Aisya RA bertanya, “Bagaimana bisa,  ya Rasulallah SAW?” Beliau menjawab, “Karena tidak ada hukuman di Akhirat. Hukuman itu ada di dunia ini; kelaparan, gempa, pembunuhan.” Dan ini adalah sebuah proses untuk membersihkan mereka di dunia dan mengangkatnya ke surga saat Hari Pembalasan nanti.

Mereka tidak akan dihukum karena telah dibersihkan di dunia. Maka Allah SWT menimpakan segala macam kesusahan pada kita. Lihatlah saat ini kita paling lemah di dunia. Mereka bertanya, begitu lemahnya kita dan tak ada yang mampu kita lakukan.

Suatu saat ada orang non-muslim yang datang pada Nabi SAW dan berkata, “Ya Muhammad SAW!” Mereka tidak mengatakan “Ya Rasulallah SAW!”

Kata mereka, “Saat kami berdoa, tidak ada pikiran negatif pada hati kami.  Kami terfokus pada Tuhan kami.  Tetapi yang kami tahu dari sahabat-sahabatmu bahwa saat mereka beribadah, banyak gangguan dalam pikiran mereka.  Artinya agamamu tidak baik, milik kamilah yang lebih baik.” 

Nabi SAW pun menoleh pada Sayyidina Abu Bakar RA, “Jawablah mereka.”

Sayyidina Abu Bakar RA menjawab, “Jika seorang pencuri ingin merampok dan dia mempunyai pilihan untuk pergi ke istana atau ke kandang, ke mana dia akan pilih?”

Tentu ke istana.” Jawabnya.

Hati kami seperti istana yang penuh dengan Iman pada Allah SWT dan Nabi SAW.”

Kandang hanyalah sebuah kandang, isi kandang ada di sana. Dia ingin datang ke istana karena lebih banyak batu mulia di sana.

Itulah mengapa hati para muslim di bawah serangan yang berat.  Kita berada di bawah kesulitan besar karena seluruh dunia melawan kita.

Mereka melawan kita untuk apa?  Untuk sebuah alasan yang sederhana: karena kita tidak saling setia.  Kita tidak berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat citra agama kita menjadi baik.

Adalah tugas kita untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang damai, agama Allah SWT, sebuah pesan surga.  Pesan surga bukanlah pesan yang kejam, kasar dan merusak. Islam adalah pesan cinta dan toleransi.  Adalah kewajiban kita untuk merubah pesan yang sebagian kaum muslim telah diberi sebutan (kejam) itu.

Saya senang saat tiba di Singapura,  melihat muslim  Singapura dan yang lain, bangsa Cina yang hidup berdampingan dengan damai, tak ada gangguan.  Saya ingin melihat setiap negara membawa kembali  nama agama kita sebagai agama cinta, sebagaimana yang dikatakan Nabi SAW.

Saya pernah bercerita tentang seorang Badui, yang datang pada Nabi SAW saat salat Jumat.  Dia datang dan berdiri di pintu masjid dan berkata, “Kapan Hari Kiamat itu, ya Muhammad SAW?”

[Mengapa dia bertanya tentang Hari Kiamat?  Apakah kita menanyakan tentang Hari Kiamat?  Tak seorang pun dari kita yang menanyakan hal itu.   Betapa orang Badui lebih baik dari kita yang menyebut diri kita sendiri sebagai kaum beradab, kaum modern.  Kita tidak menanyakan saat kiamat.  Apa yang kita tanyakan?  Kapan saatnya berdisko? Yang kita tanyakan adalah nafsu.]

Nabi SAW tidak menjawab. Dia bertanya lagi. Nabi SAW meneruskan berbicara pada sahabat-sahabatnya.  Saat Badui itu bertanya untuk yang ketiga kalinya, Jibril pun datang dan berkata, “Jawablah dia.”

Walaupun hanya seorang Badui, Nabi SAW menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari itu?  Itu adalah perjalanan yang panjang.  Apa yang akan engkau persiapkan untuk hari itu?”

[Kita harus bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang kita siapkan untuk hari itu.  Seorang Badui yang tak tahu tentang Islam,  kaki dan badannya telanjang. Apa yang dia jawab?]

Dia menjawab dengan sederhana, Cintamu, ya Muhammad SAW adalah cukup untukku.”  Dia tidak tahu apa-apa.  Lalu apa yang Nabi SAW katakan, “Itu sudah cukup.”

Badui itu pun bahkan tidak memasuki masjid dan salat.

Sayyidina Abu Bakar RA bertanya pada Nabi SAW, “Apakah ini, ya Rasulallah SAW?”  Nabi SAW berkata, “Yuhsyharul maru ma man ahbabt.”  Seorang manusia akan dibangkitkan bersama yang dicintainya.”

Dengarlah firman Allah SWT, “Qul in kuntum tuhibbuuna Allaha fat-tabi`uunii yuhbibkumullahu... Katakanlah: Jika engkau mencintai Allah SWT, ikutilah aku; niscaya Allah SWT akan mencintaimu...” [3:31]

Itulah perubahan yang harus kita lakukan, yaitu: untuk mencintai Nabi Muhammad SAW melebihi cinta kita pada keluarga dan anak-anak kita.

Adakah seseorang akan mengacungkan tangan dan berkata, Ya saya mau.” Jika benar, maka acungkan tangan kalian.  Saya tanyakan masalah itu pada diri sendiri, “Apakah saya mencintai Nabi SAW melebihi cinta pada anak perempuan saya dan keluarga saya?”

Jika anak laki-laki kalian sedang sakit dan demamnya mencapai 42 atau 43°C, sementara dia masih kecil; apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian akan berada di sisinya sepanjang malam, memeriksa temperaturnya.  Kalian tidak bisa tidur.  Tidurkah kalian bila anak-anak kalian sedang sakit? Tidak, kalian mungkin ke rumah sakit dan menungguinya di sana.

Apakah kalian bangun sepanjang malam bersama Nabi Muhammad SAW dan memujinya?  Lalu cinta yang seperti apa yang sedang kalian bicarakan?  Lihatlah bagaimana cinta kita adalah palsu.

Perhatikanlah, buah-buahan plastik tidak ada rasanya.  Cinta kita pada Nabi SAW harus diubah dari plastik menjadi sesuatu yang segar.  Namun ada beberapa orang yang cintanya pada Nabi SAW melebihi cinta pada anak dan keluarganya.  Merekalah yang paling jujur dan alim di antara kita.

Mina al-mu’miniina rijalun shadaquu ma `ahaduu Allaaha `alayhi fa minhum man qadhaa nahbahuu wa minhum man yantazhiru wa maa baddaluu tabdiila

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT; maka di antara mereka ada yang gugur.  Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).  [33:23]

Allah SWT menggambarkan mereka dalam kitab suci al-Quran sebagai orang-orang yang menepati janjinya pada Allah SWT di Hari Perjanjian; dan beberapa di antaranya telah meninggal, sementara sebagian dari mereka sedang menunggu dan mereka tidak pernah berubah.  Mereka adalah orang-orang yang lurus.

Wahai muslim, saya tak akan berlama-lama tentang itu.  Mereka itu ada di antara kita.  Temukan dan belajarlah dari mereka. Jangan katakan bahwa di dunia kalian tidak menemukan orang seperti itu.  Mereka bukan seperti ulama yang kalian tahu.  Mereka adalah `alimun `amil, seorang alim yang bertindak atas apa yang telah dia pelajari.  Itulah mengapa Allah SWT menggambarkannya dalam al-Quran.

Alaa inna awliya-Allahi laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanuun – Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah SWT itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  [10:62]

Di mana para awliya sekarang ini?  Lihatlah mereka.

Ya ayyuha alladziina amanuu ittaquu Allaha wa kuunuu ma'a as-shaadiqiin - Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.  [9:119] 

Bersamalah dengan orang yang benar dan dapat dipercaya. Carilah mereka dan bergabunglah dengan mereka.  Kalian akan belajar dari mereka dan kalian akan berubah.

Semoga Allah SWT membuat kita mampu melihat salah satu awliya-Nya.  Semoga Dia membuat kita mampu melihat salah satu dari hamba-hambanya yang jujur.

Semoga Allah SWT membawa kita pada spiritualitas Nabi Muhammad SAW yang membuat kita mampu merasakan kehadirannya, merasakan keharumannya, merasakan cintanya, merasakan beliau, bersama beliau setiap saat dalam kehidupan kita.

Bi-hurmatil habib, bi hurmatil-fatiha.